
Sudah lima hari mereka berada di kastil Dougher Young. Kini semua anak kembali menyusun baju-baju mereka. Seperti biasa, Rion memanfaatkan adik-adiknya menyusun pakaiannya. Kali ini Nai, Kaila dan Arimbi yang jadi sasarannya.
"Kak, ini ********** mau di masukin ke mana?" tanya Nai memegang benda segitiga milik kakaknya itu.
Tak ada risih atau malu, Nai sudah terbiasa bahkan alat kelamin pria dia juga sudah melihatnya, dirinya adalah dokter.
"Di selipin aja, baby," jawab pemuda itu santai sambil menjadi mandor bagi adik-adiknya.
Arimbi melipat baju-baju kotor kakaknya, sedang Kaila menyusun yang sudah dilipat ke dalam koper.
Bart hanya menggeleng saja melihat kelakuan cucunya itu. Lalu melihat Virgou yang santai duduk di sofa sambil menikmati kopi buatan Saf. Lalu, ingatannya melayang pada sosok Ben ketika masih hidup. Ben juga sama malasnya jika harus menyusun pakaian. Pria itu lebih praktis tak membawa apa-apa dan membeli di tempat di mana ia tinggal.
"Bahkan Ben jauh lebih buruk darimu Virgou. Dia meninggalkan tanggung jawab pada putrinya sendirian menanggung tiga anaknya," gumam pria tua itu.
Darren menatap kakeknya yang seperti mengoceh sendiri ketika melihat salah satu ayahnya yang duduk santai. Jujur dirinya juga sedikit malas jika berbenah. Tapi melihat istrinya yang begitu repot dengan pekerjaannya belum lagi para perusuh yang hanya mau diurus oleh Safitri. Membuat ia tak tega.
"Daddy nggak kasihan sama mommy!" tegurnya sambil mendaratkan bokongnya di sebelah pria beriris biru itu.
"Lalu kau di sini ngapain?" Darren mengerucutkan bibirnya.
Ia memeluk pria dengan sejuta pesona itu dan meletakan kepalanya di dada Virgou.
Sikap manja Darren membuat Rion juga ikut duduk dan bermanja pada salah satu ayahnya itu.
"Hei ... kenapa kalian manja!" tegur Demian.
"Minggir!" usirnya pada Darren.
"Hei!" seru Darren kesal.
"Astaga kenapa kalian jadi manja begini?" keluh Virgou kesal.
Bart menggeleng melihat tingkah dua pria dewasa dan satu pemuda yang berebut Virgou.
"Hei ... ada papa loh di sini!" sela Haidar berkacak pinggang.
"Papa ... dondon!" seru Arsyad merangkak dan merentangkan tangannya.
Pria itu menggendong bayi tampan itu. Arsyad mencium pipi Haidar dan membuat hati pria itu meleleh dan menciumi bayi itu hingga tergelak.
"Kau wangi baby," ujarnya lalu melupakan tiga pria yang bermanja dengan Virgou.
Aaima juga sibuk merangkak kemanapun dia mau. Bayi itu seperti Boss yang memerintah para pengawal mengambilkan apa saja yang ingin ia tahu.
"Ntu ... pa'a?"
Langit dengan sabar menjawab apa saja yang ditanya oleh bayi cantik itu.
Gabe sedih melihat semuanya akan kembali pulang. Ia ingin semua keluarganya berkumpul di sini bersama.
"Aku ingin kita berkumpul seperti ini dad," pintanya pada sang ayah.
Leon juga sedih. Ia tak kembali ke Indonesia. Pria itu tentu melanjutkan bisnis ayahnya bersama sang istri begitu juga Frans dan istrinya.
Leon akan menempati huniannya sendiri begitu juga Frans. Semenjak Gabe pulang membawa istrinya dan melahirkan banyak anak. Gabe diminta tinggal di kastil mereka. Sedangkan Leon dan Frans memilih menempati mansion yang memang telah mereka miliki ketika menikah dulu.
__ADS_1
Gabe memeluk Terra. Pria itu begitu sedih, begitu juga Widya. Hunian besar ini pasti kembali sepi.
"Aku ingin kita selamanya menjadi satu begini Terra," pinta pria itu.
"Kak, kita pasti berkumpul suatu saat, tanamkan rindu pada hati kakak agar kita segera bertemu dan tak akan berpisah selamanya," ujar Terra.
Widya ikut memeluk adik iparnya itu. Terra mencium suami istri itu.
Bart hanya melenggang saja. Pria itu tak membawa koper apapun. Bajunya sudah ada jika dirinya tinggal di kastil ini. Sedang di Indonesia, bajunya juga sudah ada banyak. Pria itu akan tinggal di manapun yang ia inginkan.
"Aku tak perlu pusing dengan koper dan segala macamnya. Di Terra, ada. Di Herman, ada Di Virgou, ada, Di Dav juga ada, di Darren juga ada, Lidya aku juga ada!" gumam pria itu santai.
Pria itu akan bergilir menginap di semua tempat yang ia inginkan.
"Daddy nggak ada baju di tempatku," ujar Bram seperti membaca pikiran Bart.
"Aku pinjam punyamu, lagi pula aku tak pernah mau lama jika tidak bersama semua anakku!" sahut pria itu.
"Aku juga anakmu, dad!" sahut Bram kesal.
"Kau bisa menginap lama di mansion Mas Herman, tapi tidak di mansion ku!" gerutu pria itu.
"Iya Daddy pilih kasih!" sela Kanya ikutan sebal.
"Hei ... aku tidak ...."
"Pokoknya, baju daddy juga harus ada di mansion ku besok!" titah Bram tak mau tau.
"Hei anak bodoh ... aku berani bertaruh, ibumu pasti datang dan akan menyusahkanmu!" ramal Bart.
"Apa mommy berkata itu sama daddy?" tanya Kanya antusias.
"Ah, aku kepikiran mau menikahkan kalian!" sela Bram tiba-tiba dan Bart memukul lengan pria itu hingga mengaduh.
"Daddy!" rajuknya kesal.
"Kau mau apa menikahkan ibumu yang usianya sudah lebih dari satu abad, anak kurang ajar!" dumal Bart kesal bukan main.
"Ah, daddy mau lebih muda?" celetuk Kanya makin membuat Bart kesal.
Pria gaek itu meninggalkan pasangan suami istri yang menyebalkan itu.
"Dad ... benarkan dugaanku!" seru Kanya menggoda pria tua itu.
Bram terkikik geli. Hal itu membuat Virgou penasaran apa yang mengganggu kakeknya itu.
"Pa ... kenapa grandpa wajahnya makin keriput?"
"Dia mau jadi sugar daddy," jawab Kanya asal.
"Apa?!" Virgou kaget bukan main.
"Grandpa jangan gila!" teriak pria beriris biru itu pada kakeknya.
Kanya menganga ia tak menyangka jawaban asalnya membuat Virgou marah. Bram berdecak pada istrinya.
__ADS_1
"Siapa yang gila anak kurang ajar!" sahut pria itu makin kesal.
Beruntung mereka menggunakan bahasa Inggris jadi para bayi tak mengerti apa yang mereka ributkan.
"Terra grandpa mau jadi sugar daddy!" adu Virgou.
"Apa!"
"Bocah sialan ... siapa yang mau jadi sugar daddy!" teriak Bart kesal bukan main.
Kanya hendak melarikan diri bersama suaminya. Virgou langsung menunjuk pasangan suami istri itu.
"Papa dan mama!"
"Kanya ... Bram!" teriak Bart marah.
Sedang Dominic dan Herman hanya menonton keseruan itu sambil menggeleng kepala.
"Ngalah-ngalahin perusuh!' dumal Herman tersenyum meledek.
Sedang para bayi menonton keributan yang terjadi. Harun mengajak para saudaranya berkumpul.
"Ipu wowan pewasa ladhi tenapa syih?" tanya Harun.
"Eundat pahu, meuleta pate pahasa wain," jawab Bariana.
"Seupeltina meuleta beuliputan bentab sudal dedi," sahut Arion.
"Sudal dedi? Pa'a ipu?" tanya Arraya bingung.
"Pidat pahu!' jawab Arion.
"Tundu bulu, pita pandhil Daddy judha tan?" tanya Azha disahuti anggukan semua saudaranya.
"Daddy beulalti papa ...," ujarnya lagi.
"Talo sudal pa'a?" tanya Arraya lagi.
"Teumalin mama pilan sudal ipu dula," jawab Arion.
"Tamu pahu balipana?" tanya Harun ingin tahu.
"Teumalin baid pilan sudal, atuh panya mama, yan bipilan baid pa'a," jawab Arion panjang lebar.
"Oh bedhitu," sahut semua kompak..
"Pasa lada papa dula syih?" tanya Bariana tak percaya.
"Buntin papa bawu puwat topi," jawab Harun.
"Butan, tata papan danten, dula ipu banis ... taya atuh," ujar Bariana genit.
"Baliana ... pejat tapan tamu pisa bimasutin ail!" seru Harun mengingatkan.
bersambung.
__ADS_1
bukan manis gula yang dicampur ke air baby ... 🤦😆
next?