
Virgou meminta semua pulang ke rumah. Bart juga dipaksa olehnya untuk pulang. Deta sudah siuman.
"Pa ... Deta nggak nyuri uang itu Pa!" ujar Deta dengan air mata dua pipi.
"Iya Nak. Papa Percaya, Deta bukan pencuri!' tekan Bart ikut sedih.
"Biar Papa pulang ya. Kamu Daddy yang temani," ujar Virgou.
Semua pun pulang ke rumah. Virgou memilih tinggal dan bersama Deta yang terguncang jiwanya. Ia juga merebahkan dirinya di ranjang yang sama, memeluk tubuh Deta yang mulai berisi.
"Sayang mau denger cerita nggak?" tanya Virgou lembut.
"Cerita apa Daddy?" tanya Deta lirih.
"Sini sayang, peluk Daddy," pinta pria itu lirih.
Deta tidak ragu memeluk Virgou. Pria itu juga tak pernah memberi batasan pada semua anak angkat kakeknya itu. Ia memberikan kasih sayang pada sosok kecil yang tubuhnya sedikit gemetaran itu.
"Pada suatu hari petani mendapati sebagian kebunnya rusak. Di sana terdapat seekor kera yang tengah sibuk menanam kembali tanaman yang rusak itu. Petani yang marah memukuli hewan malang itu," ujar Virgou mulai bercerita.
"Keranya nggak lari Daddy?" tanya Deta lirih.
"Tidak sayang, karena ia merasa tidak bersalah," jawab Virgou.
"Tetapi petani itu menemukan bukti kuat jika kera itu adalah yang merusak semua tanamannya," jawab Virgou kembali bercerita.
"Hingga akhirnya, kera itu tewas di tangan petani. Petani itu puas karena telah menghukum pelakunya setimpal," lanjutnya lagi.
"Petani kembali memugar tanamannya. Hingga waktu panen ia kembali mendapatkan semua tanamannya rusak, sayang tidak ada satu hewan pun di sana," petani itu marah luar biasa.
"Kenapa tanamanku malah hancur semua! Begitu pekik petani."
Virgou terus bercerita sedang Deta mendengarkan dengan seksama.
"Padahal aku sudah menghukum pelakunya dan mati! Lanjut petani itu putus asa," Virgou masih terus bercerita.
"Hingga petani kembali menanamnya. Kali ini ia bertekad akan menjaganya sampai panen. Ketika panen, petani terbangun di malam buta. Ia mendengar bunyi berisik di kebunnya. Ia segera mengambil senter dan tongkat panjang. Di sana ada tiga ekor babi yang merusak kebunnya. Petani mengusirnya, salah satu babi berhasil ditangkap. Ternyata babi itu ada luka bekas pukul di tubuhnya,"
"Petani ingat jika di sekita kera waktu itu ada tongkat panjang. Petani itu menyesal seumur hidup, karena dia menghukum binatang yang justru menjaga kebunnya," Virgou mengakhiri ceritanya.
Deta menguap lebar. Bocah itu sepertinya mengantuk, Virgou mengecup pucuk kepala bocah itu dengan lembut.
"Tidur lah sayang. Biar Daddy yang akan membereskannya untukmu," ujar pria dengan sejuta pesona itu.
Pagi menjelang, semua masuk sekolah. Keluarga bergantian mengunjungi Deta yang belum boleh sekolah oleh Lidya. Kondisi bocah itu belum stabil.
Kini di kelas Deta, semua masuk, Azlan memberikan sepucuk surat keterangan pada guru jika Deta sakit.
"Deta sakit apa?" tanya guru yang tidak tau dengan apa yang terjadi kemarin.
"Tidak tau Pak, kemarin Deta pulang dan langsung pingsan," lapor Azlan.
__ADS_1
Semua pun kembali belajar dengan giat. Doni melirik bangku Deta yang kosong. Ada rasa bersalah dalam hatinya, tetapi bayang-bayang sepeda melintas di kepalanya. Bocah itu menggeleng pelan dan kembali fokus pada pelajaran.
"Nggak jajan Don?" tanya Joko.
"Nggak ah, masih mau nabung," tolak bocah itu.
"Ya udah, aku mau jajan dulu ya," Doni mengangguk.
Ia kini sendirian di kelas, menghela napas panjang. Semua rencana yang ia susun berantakan karena Deta tidak masuk.
"Masih kurang seratus ribu lagi," gumamannya.
Doni membuka bukunya, satu selipan uang lima ribu kali ini ada noda minyak di sana.
Doni selalu melihat Deta mengantungi uang lima ribu. Uang itu begitu ketara di pandangan Doni. Terlebih Deta sering melihat benda berbentuk lembaran itu.
"Maaf Deta, aku butuh beli sepeda, aku cape jalan kaki ke sekolah tiap hari. Terlalu jauh," gumamnya lirih.
Kali ini ia rela tidak jajan. Ia yakin Deta akan kembali belajar lagi nanti.
"Tunggu dua hari dia masuk, baru deh bilang uangku hilang lagi!" ujarnya sangat ringan.
"Ternyata uang kamu kemarin itu tidak benar-benar hilang Don?"
Bocah itu terkejut bukan main. Ia tak sadar jika Joko sudah kembali dari kantin untuk jajan.
"A-apa maksudmu?" ucap Doni terbata.
"Tapi kemarin dia nyuri, kau kan juga saksinya waktu itu!" kilah Doni.
"Memang aku bilang begitu karena kau yang menuntunku berkata seperti itu!" sahut Joko lalu melipat tangannya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya!" teriak Doni tak terima.
Joko tak bisa berkata-kata, bocah itu memilih diam dan kembali menuju bangkunya. Doni bersungut-sungut, ia menepuk pelan mulutnya yang berbicara sembarangan.
Tak lama Doni berjalan pulang ke rumah. Di depan rumahnya ada sepeda yang selama ini ia inginkan. Bocah itu langsung semringah, ia berlari dan langsung mengelus benda yang selama ini ia inginkan.
"Kau suka Nak?" tanya seseorang dengan suara berat.
Sosok dengan mata biru yang mempesona, membuat Doni sedikit tertegun. Virgou mendekati bocah itu. Ia mengelus sayang kepala anak yatim itu.
"Sepeda ini akan jadi milikmu, asal kau mau jujur," ujar pria itu melanjutkan.
"Ju-jujur apa Mister?" tanya Doni takut-takut.
"Jujur jika bukan Deta yang mengambil uangmu," jawab Virgou santai.
"Mister siapanya Deta?" tanya bocah itu langsung mawas diri.
Virgou suka dengan anak-anak yang berani dan sigap. Ada potensi besar yang ditunjukkan Doni ketika berhadapan dengan Virgou.
__ADS_1
'Aku suka anak ini. dia punya gestur waspada yang sangat baik dan otak yang cerdik dan licik. Dia bisa mengelabui dunia dengan kelicikannya,' gumamnya dalam hati.
"Nak, aku bisa memperlihatkan satu bukti jika Deta bukan pencuri dan aku akan menjebloskanmu dalam penjara karena berbohong!" ancam Virgou.
"Mister siapanya Deta?!" teriak Doni membentak pria tampan di depannya begitu berani.
"Aku ayah angkat Deta!"
Jawaban tegas Virgou dan tatapan tajam pria itu tentu membuat siapapun ciut nyalinya, terlebih Doni hanya anak kecil.
"Kemari Nak,"
Virgou menarik Doni dalam pangkuannya. Bocah itu tidak berontak, karena Virgou menariknya dengan lembut. Pria itu memprihatikan sebuah tayangan video di mana di sana jika Deta tidak mengambil uang Doni. Justru Donilah yang merampas uang Deta dengan menuduhnya pencuri.
"Bagaimana?" tanya Virgou.
"Mister ...."
"Nak, dengar sayang. Mendiang ayahmu pasti sedih jika kau berdusta seperti ini," ujar Virgou memberi pengertian.
Pria itu menceritakan keadaan Deta sekarang, bagaimana kejadian masa lalu ayah dari Deta yang tewas akibat orang-orang yang meneriakinya sebagai pencuri padahal tidak sama sekali.
"Nak, jangan Bebani ayahmu dengan dosa yang kau lakukan sekarang,"
Virgou mengecup pelan kepala anak yatim itu. Doni tertunduk, ia merasa begitu bersalah. Virgou menurunkan bocah itu.
"Mister ... Doni mau ngunjungi Deta boleh?" pintanya memohon.
Air mata penyesalan tergambar jelas di sana. Pria dengan sejuta pesona itu mengangguk.
Doni secara berani mengakui kesalahannya di depan Deta. Ia benar-benar meminta maaf pada temannya itu.
"Bagaimana sayang. Apa cerita Daddy tadi malam membuatmu mengerti?" Deta mengangguk.
"Deta maafin Doni. Sudah cukup jika kita yang tau jika Doni salah. Tidak apa-apa, pasti semua baik-baik saja nantinya," ujar Deta begitu bijak.
Doni memeluk Deta ia meminta maaf sekali lagi. Kini ia pulang dengan tenang. Sepeda impiannya sudah ia miliki.
"Makasih Daddy Vir," ujar Deta memeluk pria sejuta pesona itu.
"Anytime dear," ujar pria itu mengecup kepala Deta.
Keduanya terlelap dalam satu ranjang. Lidya datang ke kamar itu melihat salah satu pria kesayangannya terlelap. Ia mengecup pelipis Virgou penuh kasih sayang.
"Ba bowu Daddy," ujarnya lirih.
bersambung.
Ba bowu Daddy 😍😍😍
next?
__ADS_1