SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
A MOMENT


__ADS_3

Berita penembakan yang terjadi di salah satu sekolah membuat semua orang kembali dikejutkan. Bagaimana sistem keamanan sekolah di sebuah negara yang dikatakan makmur tidak membuat salah satu warganya nyaman.


Seorang oknum mengambil senjata dari tas nya, menembaki beberapa orang. Tetapi tiga pria bertubuh tegap dan disinyalir bertugas sebagai pengawal menggagalkan aksi tersebut hingga membuat korban termasuk pelaku. Sayang salah satu pengawal yang menggagalkan penembakan tewas, sedang dua pengawal yang membantu terluka parah termasuk pelaku penembakan. Kasus kini ditangani pihak kepolisian setempat.


Markas SaveLived mengibarkan bendera setengah tiang, baik perusahaan di Eropa juga kantor yang berpusat di Indonesia. Farenheit Lockman gugur dalam tugas. Semua pengawal yang bernaung di bawah perusahaan SaveLived menggunakan bandana hitam di lengan kanan mereka. Virgou, Gomesh, Budiman, Dahlan dan Gio sebagai ketua teratas memimpin upacara penghormatan terakhir bagi pengawal yang gugur.


Rion, Darren, Satrio, Langit dan Reno turut hadir, begitu juga Azizah. Sebagai pelopor pengawal wanita pertama, Azizah memberi rangkaian bunga berbentuk bulat yang bertuliskan “RIP” di foto pengawal yang gugur. Wanita itu juga mengangkat sebelah tangannya memberi hormat lalu tegap dan kembali ke barisannya. Bart, Bram dan Herman juga Remario hadir sebagai tamu kehormatan.


“Saya selaku pendiri SaveLived mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada kalian semua yang mau berdedikasi tinggi pada klien yang membayar kalian. Memang sebagai pengawal, kita layaknya seorang prajurit yang rela mati demi keselamatan negara kita,” ujar Virgou memberi pidatonya.


“Saya juga akan memberi gelar kehormatan pada mendiang Farenheit Lockman sebagai “Pahlawan Pengawalan pertama”.” lanjutnya. “Di sini juga tertulis di surat wasiat Farenheit jika semua reward dan gaji serta bonus ia sumbangkan ke badan amal penyitas kanker,”


Upacara penghormatan selesai, semua kembali bekerja sesuai prosedur yang berlaku. Semua pengawal yang ada di Eropa memakai rompi anti peluru. Bahkan Virgou menaikan pembayaran mereka karena taruhannya adalah nyawa. Kini mereka semua kembali ke kediaman pria sejuta pesona itu.


Kedatangan Widya, Lastri dan Najwa bersama semua anak-anak membuat penuh mansion besar itu. Lastri memang sudah punya rumah sendiri. Tetapi itu sangat jauh dan memiliki waktu tempuh dua jam. Orang tua dari Lastri juga datang untuk menengok cucu mereka.


“Masha Allah Mama, Papa!” seru Khasya pada orang tua dari kaka iparnya itu.


“Kenapa nggak nunggu aja, kami pasti kesana kok,” lanjutnya sambil menuntun dua sepuh itu duduk di sofa.


“Tidak apa-apa. Biar kami juga berolah raga,” ujar Leni,


“Bunda ini uyut Leni kan?” tanya Radit mengingat siapa yang datang.


“Iya sayang, kamu Radit kan?” tanya Beni memastikan ingatannya.


“Iya uyut,” jawab Radit tersenyum.


Ayah ibu dari Puspita juga hadir, mereka para orang tua mengobrol. Duo Bara dan Arsh yang paling kepo dengan percakapan orang tua berusaha mencuri dengar. Hal itu diketahui Rasya. Remaja mau tujuh belas tahun itu tentu mengajak tiga bayi paling rusuh itu pergi.


“Nggak boleh nguping pembicaraan orang tua ya,” larangnya.


“Ata’ pita banya inin pahu zaja!” ujar El Bara kesal.


“Nggak boleh! Pemali!” sahut Rasya.


“Lamali?” ulang Arsh.


“Pa’a lamali Ata’?” tanya Al Bara ingin tahu.


“Pe-ma-li, bukan lamali,” ralat Rasya.


“Biya patsutna ipu! Pa’a altina?” sahut El Bara kesal.


“Oteh, artinya itu tidak baik, tidak etis atau bisa juga tidak sopan,” jawab Rasya.

__ADS_1


“Sadhi yan pana yan peunel?” tanya Al Bara.


“Semua benar sayang,” jawab Rasya gemas.


Ketiga bayi tampan itu mengangguk tanda mengerti. Mereka pun bermain bersama. Arsh juga dekat dengan Arfhan, begitu juga Billy dan Bastian. Billy dua tahun di atas Arfhan sedang Bastian seusia Samudera. Mereka kini menikmati libur mereka.


“Kak Diba, katanya kafe bayi udah buka ya?” tanya Billy.


“Iya Baby,” jawab Adiba.


“Boleh datang nggak sih, mau lihat serunya para bayi ngobrol,” pintanya.


“Boleh dong,” sahut Adiba.


“baby Bariana,” panggilnya kemudian.


“Pa’a Ata Diba?” sahut bayi cantik itu.


“Mau nggak jadi penerjemah bahasanya Baby Yiya, Baby Arsh, Baby Zizam, Baby Fael, Baby Angel, Baby Izzat,” pinta Adiba.


“Poleh,” angguk Bariana.


“Makasih Baby cantik,” ujar Adiba senang bukan main.


“Pani pilo?” tanya Bariana.


“Baby minta bayaran sayang,” sahut Nai.


“Oh ... hahahaha!” Adiba tertawa renyah.


Satrio tersenyum indah mendengar tawa Adiba. Rion memperhatikan bagaimana remaja yang berdiri di sisinya memandang Adiba dengan tatapan lain. Rion memang polos, namun ia sangat tau arti dari pandangan Satrio pada Adiba. Pria itu pun tersenyum.


“Ehem ... dia masih kecil Baby,” peringatnya.


“Kak,” rengek Satrio.


“Nggak boleh, sebelum kamu cukup umur!” tekan Rion tegas.


“Iya Kak, Trio juga nunggu Adiba sampai siap pada waktunya kok,” ujar remaja itu jujur.


Satrio menutup mulutnya setelah sadar jika ia mengungkap sesuatu yang ia sembunyikan selama ini. Rion masih mencerna perkataan adiknya itu, ia melihat Adiba. Ketika melihat ibu jari adik iparnya, barulah ia paham. Tentu Rion tahu benda yang melingkar di jempol Adiba.


“Itu cincin Ayah,” ujarnya menatap sengit pada Satrio.


“Kak,” rengek bayi raksasa itu.

__ADS_1


Satrio sudah lebih besar tubuhnya dari Rion. Cita-citanya seperti Gomesh terwujud.


“Kakak loh yang tau perasaan Trio pada Diba, selain Bunda tentunya,” ujarnya lirih.


“Baby, pokoknya kalian fokus sama cita-cita dulu ya. Kakak melarang penuh untuk berpacaran!” peringat Rion.


“Iya Kak, emang gitu kok. Trio juga nggak mau berbuat dosa. Tapi, Trio mau hanya Adiba yang jadi istri Trio,” sahut remaja itu tak kalah tegas.


Rion hanya bisa menghela napas panjang. Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu berharap jika jodoh adik iparnya adalah Satrio. Pria itu tak akan kesulitan jika Adiba bersuamikan Satrio.


“Semoga Allah melanggengkan semuanya ya Baby,” doanya penuh harap.


“Aamiin,” sahut Satrio mengamini.


Suasana duka memang masih bergelayut di muka para pengawal. Tetapi tawa anak-anak menghibur mereka semua. Juno tak berhenti mengusili semua bayi sampai protes. Bahkan pria tampan itu kena pukulan dari Fael.


”Hacepetapecahabetracahmsndhsnndbdhddmdhkbuux!” oceh bayi tampan itu.


Layla mentertawakan suaminya yang kena pukul. Juno berdecak pada istrinya dengan lirikan penuh rencana. Layla berlindung di balik tubuh Arsh.


“Baby tolong Umi, Papa mau makan Umi,” ujarnya.


“Papa!” panggil Arsh galak.


“Iya Baby,” sahut pria itu gemas pada istrinya.


“Nan ya ... lamali!” nasihat Arsh sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


“Apa yang lemari Baby?” goda Juno.


“Papa ... belusmsunhdundmabsnabeumskdjneblsdnk!” oceh bayi tampan itu sampai ngences.


“Baby ... teunapa balah-palah?” tanya Ari.


“Ata’ huuuu ...” Arsh berdrama memasang muka sedihnya.


“Papa No hahat,” adunya.


“Papa tenapa nanat teusil pidandutin?” tanya Ari sambil melipat tangannya di dada.


Layla sampai gemas mendengar bahasa yang digunakan para bayi. Ia ingin sekali mengigit pipi chuby milik Ari dan bayi lainnya. Perlahan ia mengusap perutnya yang masih rata, di dalam ada janin berusia lima minggu. Ia berharap anaknya nanti seberani dan sepintar anak-anak atasan suaminya.


“Papa buntin nanat sisilan,” sahut El Bara menimpali perkataan Ari.


Bersambung.

__ADS_1


Nah kan ... dikatain lagi nanat sisilan.


Next?


__ADS_2