SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RENCANA LAMARAN


__ADS_3

Dua hari sudah Rion dan Al berada di luar kota. Keduanya pulang dengan keberhasilan gemilang.


"Jadi tender kita sudah berjalan dan tak ada hambatan?" tanya Bram.


"Tidak ada Kakek, semua sudah sesuai dengan SOP yang berlaku, tanah sudah dibebaskan sesuai harga pasaran," jawab Rion.


Bram mengangguk, ia sangat puas. Sebentar lagi ulang tahun Rion yang ke dua puluh dua tahun.


Bram menatap pemuda itu yang makin lama makin tampan saja. Ia yakin banyak gadis histeris di luar sana jika melihatnya.


"Kau sudah besar Baby," ujarnya penuh haru.


"Tentu Kakek, jika kecil saja itu perlu dipertanyakan," jawab Rion memutar mata malas.


Bram terkekeh. Haidar datang dan mengajak semuanya makan siang bersama di kantin perusahaan milik istrinya.


Al menggandeng kakeknya dengan manja. Remaja itu masih saja polos. Satu-satunya yang tidak berebut Azizah.


"Semuanya menginginkan Kak Azizah jadi istri. Kasihan, nanti dia bingung memilih siapa suaminya," sahutnya beralasan.


"Tapi kalo Kak Azizah milih Al jadi suaminya juga nggak nolak sih!" lanjutnya.


Semua berdecak mendengar perkataan remaja itu. Rion sedikit kesal pada semua adik-adiknya.


"Kak Azizah itu milik Kak Ion. Jadi kalian minggir ya!" sahutnya galak.


"Makanya cepet nikahin Kak Azizah. Biar salah satu dari kita nggak merebutnya!" sahut Al dan langsung diberi jitakan dari Rion.


"Papa Kak Ion nih!" adunya.


"Weee!" ledek Rion.


"Papa!" rengek Al.


'Baby, jangan ganggu adiknya ah!" tegur Haidar pada akhirnya.


Mobil sudah sampai halaman kantin perusahaan Terra. Mereka pun masuk ke sana. Sebuah ruangan diciptakan untuk kedatangan semua keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan juga Starlight.


Azizah duduk di sana didampingi Dinar yang tengah mengandung tiga bulan. Wanita itu tak mengalami trimester pertamanya karena Dominic yang merasakannya sampai sekarang.


"Daddy nggak apa-apa?" tanya Lidya melihat wajah pucat Dominic.


"Daddy nggak apa-apa sayang," jawab pria yang selalu membawa minyak angin kemanapun.


"Aku jadi ingat kau Dar," sahut Virgou pada iparnya.


"Ya, aku juga seperti itu dulu. Tapi tak separah Dominic yang harus membawa minyak angin kemanapun," kekeh Haidar meledek besannya itu.


"Hei ... sudah ... jangan kebanyakan berjanda eh ... bercanda!" sahut Herman.


Semua mengerucutkan bibirnya. Virgou dengan santai merangku lengan paman dari Terra itu dan meletakkan kepalanya di bahu pria itu. Herman tak keberatan sama sekali. Haidar dan Budiman sampai berdecih melihat itu.


"Manja!" sindir mereka iri.


"Hei ... apa sudah bertengkarnya?" kini Khasya mulai kesal pada para pria.

__ADS_1


"Bunda ... Kak Virgou!" adu Haidar dan Budiman bersamaan.


"Astaga, apa kau kurang kasih sayang?" gerutu Bram kesal pada dua pria itu.


Hanya David, Demian, Jac dan Darren yang santai. Mereka tak mempermasalahkan hal itu. Rion dan Azizah jadi penonton. Terra serta Puspita memutar mata malas.


"Oke ... kita mulai ya," ujar Herman.


"Azizah, kita berkumpul di sini memang memiliki tujuan tertentu yakni melamar kamu untuk putra kami Rion Permana Hugrid Dougher Young," jelasnya panjang lebar.


"Kami di sini untuk mengatakan jika berencana melamarmu secara resmi seminggu lagi di panti, bagaimana menurutmu?" lanjutnya.


Azizah tertunduk. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Jari jemarinya saling menaut karena berkeringat.


"Saya ... saya hanyalah anak yatim piatu, adik saya banyak. Apa Tuan eh Ayah tidak keberatan dengan banyaknya keluarga saya?" tanya gadis itu merendahkan diri.


"Kami tidak keberatan!" jawab semua orang kompak.


Azizah nyaris meruntuki perkataannya barusan. Tentu saja mereka tidak keberatan dengan jumlah adik yang dimiliki Azizah. Mereka adalah orang-orang yang berkantung delapan kali lipat lebih tebal di banding kantung orang biasa.


"Azizah, jangan khawatirkan adik-adikmu. Mereka tetap akan bersamamu, terlebih semuanya masih membutuhkan dirimu sebagai kakaknya. Adanya Rion sebagai suami adalah membantu meringankan bebanmu, Nak!" ujar Bart kini bersuara.


"Jadi bagaimana? Seminggu lagi kami akan melamarmu untuk adik dan anak kami Rion!" tekan Virgou.


Gadis itu menenangkan hatinya. Ia pun mengangguk perlahan.


"Jangan mengangguk Zah!" tekan Virgou lagi.


"Apa mesti aku ingatkan jika kau akan menuruti semua perintahku?" lanjutnya.


"Bagus!" sahut semuanya puas.


Rion bernapas lega. Gadisnya berkenan dilamar seminggu kemudian. Ia akan mempersiapkan diri juga.


"Ma, Pa boleh bawa Azizah lihat-lihat rumah nggak?"


"Nggak!" jawab semuanya membuat Rion cemberut.


"Jangan pikirkan itu dulu Baby. Selama belum resmi. Kami semua melarangmu berdekatan dengan Azizah!" tekan Herman.


"Ayah!" rengek pemuda itu.


"No Baby, oteh!" sahut Haidar mendukung perkataan Herman.


"Oteh!" sahut Rion menurut.


Akhirnya mereka makan siang bersama. Rion selalu mencari cara agar menyentuh gadis itu. Sama seperti kemarin.


Usai makan mereka pun kembali bekerja. Budiman sedikit menghela napas panjang. Ia masih tak menyangka bayi yang dulu sering mengganggunya kini akan melanjutkan hidup dengan menikah.


"Tuan, kenapa tidak membiarkan Baby berkencan?" tanyanya pada Bart.


"Kenapa?"


"Ck ... dia mau balas dendam karena delapan kali acara kencannya dirusak oleh Baby," sahut Virgou dengan seringai jahil.

__ADS_1


"Tentu, aku ingin sekali mengganggu kemesraan mereka berdua. Aku yakin Tuan Gabe setuju!" sahut Budiman kesal.


"Eh lucu juga ya, kalau kita semua gangguin kencannya Baby?" celetuk Puspita terilhami.


"Tapi aku sudah melarang mereka untuk tidak bertemu sebelum mereka sah!" sahut Herman.


"Ah ... Ayah mah nggak seru!" omel Budiman cemberut.


"Eh ... apa katamu tadi?" tanya Herman kesal.


Pria itu mengapit leher Budiman hingga membuat pria itu merengek meminta tolong pada Khasya.


"Bunda ... tolongin!"


"Mas ... jangan gitu ah!" peringat wanita itu.


Hal itu membuat Herman kesal dan melepaskan Budiman. Semua terkekeh melihatnya Terra langsung menggelayut manja pada pamannya itu.


"Te sayang Ayah!" ujarnya lalu mengecup pipi pria tua itu.


Semua pun masuk mobil masing-masing dan pergi ke perusahaan mereka. Rion masih di sana di kantin. Para orang tua lupa dengan pasangan yang sebentar lagi resmi ini.


"Zah!"


"Mas Baby," sahut Azizah dengan senyum merekah.


"Kau mau kan menerima aku yang seperti ini?" tanya Rion.


Azizah tak mengerti maksud pemuda tampan itu.


"Maksud aku. Aku masih muda kemungkinan kelakuanku manja dan keras kepala, mau tidak kau mengerti akan hal itu?"


Azizah menatap netra coklat terang di depannya. Rion memang sudah berusia dua tahun lebih tua di banding dirinya. Tetapi soal watak dan sikap, Azizah jauh lebih dewasa ketimbang Rion. Gadis itu mengangguk.


"Aku yakin, Mas Baby pasti akan dewasa seiring tanggung jawab yang diemban nantinya," ujar gadis itu.


"Iya, aku akan mengingat itu. Makanya ketika aku lalai, tolong ingatkan aku. Oteh?"


"Oteh!" sahut Azizah dengan senyum lebar.


Tangan Rion menggenggam tangan gadis itu erat. Lalu perlahan ia mengangkat dan hendak mengecupnya.


"Baby!" Rion berdecak kesal.


"Apa Baba!"


"Baba hanya bilang ... Mas Baby dipanggil Papanya tuh!" tunjuk Budiman.


Rion menoleh. Semua orang tuanya ada di sana menatap gemas dirinya, rupanya mereka ingat jika meninggalkan Rion di kantin bersama Azizah. Bayi besar itu menggaruk kepalanya.


"Kan cuma cium tangan doang ... belum cium bibir!" sahutnya.


bersambung.


Et dah Baba🤣🤣🤣

__ADS_1


next?


__ADS_2