SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Bab 27 Puter Giling


__ADS_3

itu ilmu yang di pakai oleh si pengirim tersebut, sudah jelas memang di sini misinya, mau biar nurut kalian berdua apa yang mereka mau, tapi melalui perantara badan, mama kamu, dan yang di masukkan ke dalam mbak Rianti sendiri juga, agar mbak Rianti menjadi istilah orang baper, galau karena sikap keras kepala tiba – tiba mama mbak Rianti, padahal sebenarnya kalau yang saya lihat, yah sifat aslinya memang kadang keras kepala, tapi saya tahu, aslinya mama kamu enggak sampe segitunya juga kan, kekuatan di antara kalian, adalah kasih dan sayang, kalau mbak yang sebenarnya menurut saya bisa menghancurkan semua itu”, kata ustadz Firman.


“Besok pada saat pengobatan mbak ikut ke tempat saja”, kata ustadz Firman lagi.


“Dan kalau ada reaksi yang ciri – cirinya, tiba – tiba saja, mama mbak ngomongnya kayak marah sama mbak, enggak percaya sama anak sendiri, keras kepala, enggak mau dengerin mbak, dan keras kepala dengan orang lain lagi, dan hanya melihat kebaikan keluarga, bentak saja mama mbak, enggak masalah karena kalau mbak lawan sikap keras mama mbak mereka akan kalah, karena itulah kelemahannya”, saran ustadz Firman.


“Emang kita bentak orang tua itu anak durhaka, tapi ini bukan masalah anak durhaka, melainkan ini karena gangguan setan, yang bisa di hilangkan dengan cara seperti itu juga, dan nanti saya bantu besok mbak Rianti juga, karena itu, mulai malam ini, saya mau kasih info ke semua orang komplek terutama satpam kalau ada orang luar jangan di kasih masuk siapapun itu, karena saya tahu mereka pasti akan cekokin mama kamu, untuk nurut dengan kemauan mereka”, kata ustadz Firman.


“Iyah paham pak”, ! lirihku pelan sambil menghabiskan perlahan es kopi latteku.


“Mas, satu lagi es kopi latte yah, sama sama donut almond”, pesan Irfan.


“Oh yah saya cappuccino saja sama donut coklat”, timpal ustadz Firman.


“Jadi dua es kopi latte dan dua donut almond, juga satu cappuccino dan donut coklat”, karyawan tersebut mengulang pesanan kami semua.


“Iyah”, ! seruku.


“Oke”, katanya kemudian.


Karyawan yang laki – laki tersebut, akhirnya, berjalan ke arah dapur belakang, dan kami kembali membahas masalah pengobatan mama aku dan papa aku.


“Jasi besok gini saja kita jemput aja biar di bantu jalan ke tempat pengobatan jam 10, dan nanti itu terapi lagi jam 3 sore sampe jam 5 sore, jam 10 di rukiyah dan terapi, jam 3 di rukiyah dan di terapi lagi sampai jam 5 sore”, kata ustadz Firman.


“Siappp”, ! seruku.


Setelah selesai mengobrol, dengan ustadz Firman, setelah aku kembali ke Villa, aku yang satu kamar dengan Mbak Atin, aku melihat Mbak Atin menangis melihat sosok foto keluarganya di Hpnya, di tepi tempat tidur, aku mendekati dirinya dan mengusap pundaknya.


“Mbak Rianti, saya kangen sama ibu dan bapak, dan baru saja juga dapat kabar, bapak kena stroke juga, kayak mama mbak juga”, Mbak Atin mengadu padaku, air mataku ikut menetes, aku sudah tahu apa yang dia minta padaku, dan mungkin jalan terbaik, mama aku sendiri, sudah sangat terawat selama di tempat persembunyian di komplek pengobatan ini.


“Yah sudah mbak mau pulang kampung dulu”, kataku.


“Enggak masalah yang penting kita semua baik – baik saja di sini”, kataku lagi, aku mengambil tasku, dan memberikan uang padanya, dia tersenyum dan kemudian memelukku.


Keesokan paginya, Mbak Atin berpamitan untuk pulang kampung, dan selama tidak ada Mbak Atin, perawatan mama dan papa di tempat ini juga tetap berjalan dengan baik, papa juga di terapi dan di rukiyah untuk diabetes.


Tanpa sadar, waktu sudah berjalan memasukki awal bulan lagi, dan sekarang sudah, awal bulan Juli, tanpa terasa sudah sebulan, aku berada di tempat pengobatan ini, dan Mbak Atin, masih merawat bapaknya yang terkena stroke, dan entah kenapa, rasanya, aku jadi punya feeling, kalau sepertinya jangan – jangan permainan gaib mereka, juga menyerang, keluarga Mbak Atin, karena hal ini sama seperti apa yang aku alami juga dengan mamaku, yang terkena stroke.


Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, tanpa teras, dari sehabis sholat subuh, aku melamun di pinggir kolam renang, dan teguran mama aku dari belakang, yang duduk di kursi rodanya, juga papaku, sambil memegang alat bantu jalannya serta mama Vinda, juga Irfan, membuat aku menengok ke arah belakang.


“Yuk sarapan dulu”, ajak mamaku.


“Tuh Irfan tadi beli nasi goreng”, timpal papaku.

__ADS_1


Aku langsung menghampiri mereka, dan selama berada di Villa tempat pengobatan itu, biasanya kalau sedang berkumpul di ruang Tv keluarga, dan ketika sedang sarapan, tiba – tiba saja ada yang mengetuk pintu dari luar, aku yang membuka pintu, langsung berhadapan dengan laki – laki memakai gamis menegurku, namanya Ustadz Ridwan, dia adalah salah satu anak buah dari ustadz Firman.


“Yang kemarin di bicarakan sama Ustadz Firman, tentang masalah keluarga mbak, dan gimana ciri – ciri mereka, udah kita bahas juga di ruang para kiyai di sini, dan semua orang komplek di sini, kita semua sudah sepakat kalau ada orang luar, kita enggak akan kasih masuk siapapun itu, terus untuk mas Irfan di panggil oleh bagian admin pagi ini”, katanya memberitahukan informasi.


“Oke kita sarapan dulu yah semua”, kataku, dan kemudian menutup pintu kembali, lalu melanjutkan sarapanku.


“Fan, tadi orang dari ustadz firman, suruh kamu ke ruang admin, nanti sama aku aja ke sana”, kataku dan menyuap makananku.


“Ri, ini kesempatan kamu juga emas, untuk buat klarifikasi lagi akan semuanya, kepada publik, tapi untung publik enggak percaya gitu aja dengan fans gila Irfan itu, kamu di ajak ikut syuting wawancara Live Irfan nanti malam gimana, masalah mama dan papa, nanti mama nitip orang buat jagain gimana”, ? tanya mama Vinda.


“Yah oke”, jawabku mengangguk.


Aku mulai menghabiskan sarapanku, dan kemudian aku menemani Irfan ke ruang adminitrasi, rupanya, Mbak Sita di ruangan sana, ingin tahu cerita detail seperti apa permasalahannya saja, dan Irfan menjelaskan yang lebih jelas, agar dia bisa benar – benar bisa memahaminya, Mbak Ita ikut mengangguk mendengarkan.


“Berarti itu emang misinya, biar mereka tuh mau yang atur dengan cara pemaksaan juga, dan harus nurut, sudah jelas banget dari ciri – cirinya”, kata Mbak Sita.


“Makanya curi sertifikat juga kan”, katanya lagi kemudian.


“Iyah itu benar”, kataku mengangguk.


“Yah memang, Kiyahi Hasan, bilang ketua dari ustadz semua di sini, yang mengobati pasien yang di rukiyah juga di terapi di sini bilang, kalau Ibu Reina ini, masalahnya, adalah kekuatan gaibnya, itu adalah untuk mengadu domba dengan orang lain, dan enggak percaya sama anak sendiri, di buatnya kalau sudah ingat tentang keluarga mbak, atau di depan mereka, pas ketemu, itu Ibu Reina seperti orang yang keras kepala, enggak percaya sama orang lain, ngeyel semaunya sendiri, dan enggak percaya sama anak sendiri, enggak mau dengerin anak sendiri di depan keluarga mbak, dan dengan begitu senjata mereka bisa dengan mudah, mendzolimin Mbak Rianti dengan mudah, seolah Mbak Rianti sendiri, di buat tertekan oleh keadaan, mbak setan akan kalah, dengan keimanan dan doa yang kuat, saya percaya mbak anak yang sholehah, dan anak yang sholehah, yang bisa menolong orang tuanya, dari apapun, dan melawan orang – orang yang mau memecah belah kalian semua, untung saja, hal itu bisa mental sejak mamaku sholat dan papa kamu sholat kan setelah kena penyakit”, kata Mbak Ita.


“Yah sebenarnya, waktu itu sehat, emang kami semua belum sadar akan hal itu, namun pada akhirnya kami semua menyadari, yah pantas saja, permasalahan dengan,Irfan sendiri, adalah misi mereka, agar aku dan mama, juga papa, agar nurut dengan semua kemauan mereka, terus terang saya merasa tertekan emang, dan sangat sakit hati dengan kelakuan dzolim mereka semua, juga”, kataku panjang lebar.


“Sabar yah mbak, yang penting gini selama berada di sini, saya tahu Mbak Rianti ini sendiri kan penulis, butuh ketenangan suasana, dan ketenangan hati, juga kenyamanan, jadi di sini juga tempatnya, dan Villa yang mbak sewa sendiri juga yang udah bagus dari yang lain, agak lebih besar”, kata Mbak Ita lagi.


“Iyah mbak makasih yah mbak”, kataku mengangguk dan bersama Irfan, aku meninggalkan tempat tersebut, sambil berjalan kaki kami berdua mengobrol membahas tentang mama dan papa juga.


“Aku lihat selama berada di sini mama dan papa udah banyak perubahan juga, di banding di rumah Jakarta Selatan, apakah memang rumah sekalian saja di kosongkan dan kita jual, lagian secara dari keuangan kita butuh uang juga, karena papa kan enggak kerja lagi kayak dulu, sejak kakinya basah karena diabetes, yah soal itu emang udah banyak juga sih yang kering lukanya karena itu”, kataku dengan suara polos.


“Itu bisa, Insya Allah, nanti aku bantu cari pembeli, mungkin lebih baik begitu”, sahut Irfan.


“Tapi entahlah tiba – tiba saja, aku jadi terbayang akan sesuatu juga mengenai mereka”, Irfan kemudian, terdiam, dan menegadah ke atas, udara dingin yang menusuk membuatnya ingin memasukkan telapak tangan ke dalam kantong jaketnya.


“Kita sambil ngopi dulu yuk”, ajak Irfan.


“Oke”, aku menganggukan kepala.


“Kalau malam begini karena ini puncak juga Bogornya, jadi dingin juga udaranya, untung sama mama dan papa enggak ada masalah dengan udara di sini”, kataku lagi.


Aku dan Irfan berjalan ke arah Jco Donut dan Cofee, dan kemudian duduk saling berhadapan dan di sana Irfan menjelaskan maksud yang di ucapkannya baru saja tadi.


“Insya Allah papa kamu, dan mama kamu, tetap sehat dan selalu di berikan umur yang terus panjang Insya Allah, aku punya bayangan begitu, entah kenapa, tapi kita sama – sama berdoa dan menyerahkannya, hanya kepada Allah, dan semua hanya kehendak Allah saja, Rianti, apapun yang aku lihat, aku hanya serahkan saja kepada Allah, walau aku anak punya kelebihan bisa melihat apa yang orang lain enggak bisa lihat, tapi aku juga menyerahkan semuanya hanya kepada Allah atas apa yang tergambar walau abstrak kadang juga jelas, di mata batinku, kadang kalau itu buruk aku berharap melesat, tapi semua yang mengatur scenario kehidupan itu hanya Allah, anak indigo hanyalah orang yang di berikan kelebihan atas izin Allah, dan kalau Allah berkehendak, untuk di cabut, juga akan hilang, semua hanya sementara”, kata Irfan panjang lebar, entah kenapa, perasaanku sendiri tiba – tiba saja menjadi khawatir dengan mereka berdua atas pernyataan dari Irfan.

__ADS_1


“Ya Allah, aku mohon sekali lagi dengan sangat, tolong panjangkan umur orang tuaku Ya Allah, aku mohon berikan kesehatan yang tanpa batas, entah kenapa, aku jadi perasaan cemas, yang sangat berlebihan Ya Allah kepada keadaan mereka, aku tolong beri aku kekuatan atas semua cobaan, yang aku hadapi ini Ya Allah, aku mohon petunjukMu Ya allah, aku harus gimana Ya Allah, dan aku hanya minta jalan keluar dariMu Ya Allah, dari semua, apa yang aku rasakan ini, Ya Allah, aku hanya minta kepadaMu”


Ketika sudah selesai dari JCO dan donut, ketika sudah mulai waktu istirahat dan menjelang mau tidur, aku duduk bersama papa dan mama, yang sedang nonton Tv di ruang keluarga, dan rasanya aku ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada mama dan papa.


“Ma”, tegurku, pada mamaku.


“Papa”, tegurku juga pada padaku.


Dalam waktu bersamaan, Irfan juga lagi nonton Tv di ruang keluarga itu, dan melihat aku terlihat ingin mengajak mereka ngobrol, namun aku justru tiba – tiba saja menangis, Irfan yang duduk, di depan kami bertiga, dan yang sedang asyik nonton acara mistis, menoleh ke arah belakang, dan ikut duduk bersama kami bertiga.


“Rianti, sabarrrr Ri…, aku paham perasaan kamu sendiri udah tertekan dengan ini semua, tapi sekarang kamu di lindungi dan ini bukan di Jakarta, pengobatan mama dan papa kamu sendiri di sini juga enggak ada yang tahu, dan berjalan emang aku minta 3 bulan, atau 4 bulan di sini, tapi juga sambil ngurus masalah sertifikat kamu, aku baru saja mau telepon juga Rendy karena dapat kabar dia kehilangan jejak juga Elin, tapi ada saksi, teryata, Elin itu pergi dengan dua orang perempuan dan satu laki – laki, mungkin bisa saja Tania dan Desi, atau Mira, dengan Desi juga Om Hasan, sudah jelas hal itu, karena itu semua komplotan penjahat gila harta, yang sudah jelas itu orangnya”, kata Irfan panjang lebar.


“Jadi ada tetangga yang jadi saksi di perumahan Elin”, ? tanyaku.


“Iyah”, Irfan menganggukan kepala.


Dan kemudian, terdengar dari kamar Irfan ada bunyi telepon, dan Irfan masuk ke dalam kamarnya, aku yang penasaran akan pembicaraan mereka, aku mengikuti Irfan masuk ke dalam kamar, dan di dalam kamar rupanya memang sedang bicara juga dengan mama Vinda.


“Jadi begini Fan, kalau dari penyelidikan sudah pasti dugaannya, itu di bawa kabur itu, bukan lagi dengan Hasan, tapi dengan Mira, karena waktu itu kami selidiki memang mereka beli tiket untuk ke luar kota dan itu Palembang sana, dan saya sudah tahu, mereka semua yang akan berangkat kesana Irfan, cuma begini, saya juga curiga, kalau kalian itu di awasi masih mata – mata dari mereka, makanya kalau enggak perlu enggak usah keluar rumah, kalau emang ada syuting langsung pulang dan kalau perlu bilang sama orang di lokasi syuting, kalau ada orang itu enggak usah kasih masuk studio”, saran Rendy.


“Malam ini bukannya syuting yah wawancara sama kamu, sekalian saja bahas tentang fans kamu lagi Fan dan gimana persahabatan kita, biar orang luar sana, tahu, siapa yang busuk dan bau setan”, kataku pelan, Irfan hanya menoleh ke arahku, tapi dari raut wajahnya, dia memberiku tanda, kalau dia akan menanggapi apa yang aku bicarakan kepadanya.


“Ri, kita mau berangkat sekarang Ri, siap – siap dulu nanti kita bahas di mobil, Pak Reza juga udah siap – siap soalnya juga”, kata mama Vinda, aku menganggukan kepala, dan kemudian aku keluar dari kamar Irfan, lalu kemudian masuk ke dalam kamarku, aku memakai dress warna pink dengan lengan panjang dan roknya selutut, dan kemudian aku menyisir rambutku ke belakang, dan merapikannya serta merias wajahku, lalu menaruh tas di pundakku, barulah keluar kamarku lagi, di luar Villa juga sudah terlihat kalai Irfan sudah memakai kemeja biru dan siap masuk ke dalam mobil, sedangkan aku menyusul.


Aku duduk di belakang bersama mama Vinda, sedangkan Irfan bersama, Pak Reza, yang mulai menyalakan mesin mobil dan menuju ke lokasi syuting yang, rupanya juga tidak jauh dari tempat ini juga.


Arah jalan kami ke jalan Raya Bogor dan ke studio di sana, ketika sudah tiba di studio aku dan Irfan langsung bersiap untuk wawancara, di akhir pertanyaan, aku langsung berpikir ini kesempatanku untuk mengeluarkan semua unek – unek tentang keluarga, bahkan sampai menangis, aku menceritakannya, dan ketika waktu syuting selesai, air mataku masih menetes di dalam mobil.


“Ya Allahhhhhhhhhhh….., mereka benar – benar setan berbentuk manusia, yang pintar akan tipu muslihatnya juga, membuat aku menjadi seperti ini juga, mereka bukan menyayangi diri aku, tapi hanya mau harta dan harta, duit dan duit, dasar iblis, dajjal, keluargaku itu Ya Allah, aku berharap mereka semua di hancurkan oleh tobat, atas apa yang sudah di perbuat oleh aku dan orang tuaku juga”


“Ri”, tegur Irfan.


“Rendy mau ke Villa, aku kasih alamatnya cukup dia aja”, kata Irfan kemudian.


“Yang penting mulutnya enggak gampang keceplosan aja sama orang, jaga hati dan mulut, demi kebaikan bersama itu aja”, kataku lagi.


“Takut tuh orang lupa”, aku meneruskan kata – kataku.


“Yah aku tahu”, Irfan menganggukan kepala.


“Dia juga sudah paham sendiri hal itu”, Irfan menyambungkan ucapannya lagi.


“Mie rebus yukk”, ajak Irfan ketika

__ADS_1


Ketika melihat ada orang menjual Mie Rebus di pinggir jalan dan aku langsung menganggukan kepala.


__ADS_2