SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
QURBAN


__ADS_3

Virgou menatap semua sapi yang ada di kandang, saking sibuknya mereka sampai lupa jika besok adalah hari idul Adha.


"Kau mau beli satu kandang sapi ini?" tanya Bart.


"Daddy Frans dan Daddy Leon nitip qurban di sini," jawab pria beriris biru itu.


"Berapa semuanya?" tanya Bart.


"Nggak sampai 20milyar," jawab Virgou enteng.


"Cukup buat kita semua?" tanya Bart lagi.


"Kata ustad sih, satu ekor untuk satu keluarga juga nggak apa-apa," Bart mengangguk tanda mengerti.


Satu kandang sapi jenis premium dibeli oleh Virgou. Juragan sapi sampai menitik air mata haru ketika semua sapi terjual tanpa ada penawaran sama sekali.


"Saya bonusin dua kambing, mister!" ujarnya dengan wajah cerah.


Azizah bersama enam adiknya juga sedang melihat-lihat sapi. Ajis mengingatkan kakaknya memotong kurban untuk kedua orang tuanya.


"Untuk Apak dan Amak kak,"


"Ini ada satu sapi harga 23juta berat 489kg,"


"Kak yang ini!" tunjuk Ajis pada sebuah sapi.


"Nah kalo yang itu harga 84 juta, beratnya 687kg bisa lebih itu," ujar peternak sapi.


"Mau itu dik?" Ajis mengangguk.


"Beli pak!"


Pria itu mengangguk dengan senyum lebar.


"Kirim ke masjid Al-Huda di xx ya," ujar gadis itu.


Virgou dan Bart yang ada di sana melihat keberadaan Azizah dan enam adiknya.


"Zah!" panggilnya.


"Tuan!"


"Daddy ... Alim beli sapi!" lapor bocah itu senang.


Virgou tersenyum mendengarnya, pria itu mengelus kepala para bocah. Semua mencium punggung tangan Bart dan Virgou. Azizah juga melakukan hal yang sama.


"Kau naik apa ke sini Zah?" tanya Virgou.


"Naik taksi online tuan!"


"Nanti ikut aku ya," Azizah mengangguk.


Sapi terbeli. Masjid Al-Huda milik Virgou sudah rampung dan digunakan untuk umum.


Dua puluh lima sapi dan delapan kambing. Azizah menyerahkan sapi dengan atas nama ayah ibunya yang telah meninggal dan tujuh anaknya.


"Ini keluarga Sabeni ya?" Azizah mengangguk.


Air mata haru menetes di pipinya. Sepanjang ia bekerja, jangankan sapi, seekor kambing saja Azizah tak mampu membelinya.

__ADS_1


"Nak,"


Bart mengelus kepala gadis itu dan merengkuh gadis itu dan mengecup keningnya. Azizah menangis.


"Alhamdulillah nak ... bersyukurlah,"


"Alhamdulillah ya Allah ... alhamdulilah ... hiks ... hiks!"


Enam adik Azizah dipeluk oleh Virgou. Adiba, Ajis, Amran Alim, Ahmad. Aminah digendong oleh pria itu. Mereka juga terharu. Untuk pertama kali mereka berqurban.


"Sepanjang kakak bekerja, kami hanya bisa qurban perasaan," seloroh Adiba.


Virgou terkikik geli, sedang Bart tersenyum lebar.


"Ada-ada aja kamu, nak," ujarnya.


Mereka pun pulang ke mansion Virgou. Enam adik Azizah tercengang melihat rumah besar itu.


"Ini rumah apa istana?" tanya Amar kagum.


Virgou mengecup pucuk kepala bocah itu. Mereka turun dan langsung masuk. Anak-anak langsung membaur bersama yang lain setelah mencium punggung tangan semua orang dewasa.


"Kamu sudah jalan-jalan padahal kakimu belum begitu sembuh?" Khasya begitu cemas dengan keadaan gadis itu.


"Saya sudah lebih baik Bunda," sahut Azizah.


Satrio mendekati gadis itu dan menggandengnya. Herman, memarahi putranya.


"Tapi kak Azizah kan calon Satrio, yah!" sahut remaja itu.


"Jangan gandeng-gandeng, nanti saja kalo sudah menikah!" sahut Haidar.


"Satrio belum dewasa. Bagaimana dia mau jadi suami!"


"Saya juga belum mau menikah sekarang tuan!" sahut Azizah.


''Kakak ... Satrio siap lahir batin kok!" sahut Remaja itu.


Rion menjitak kepala adiknya. Satrio meringis, remaja itu memang belum bisa jadi suami. Tanggung jawab pada dirinya sendiri saja belum sanggup.


"Sana kamu," usir Rion.


"Tunggu tiga tahun lagi deh, pas usia dua puluh tahun baru nikah," ujar Virgou.


Rion mendengkus kesal mendengarnya. Ia menatap gadis yang hanya diam saja.


"Kenapa kau diam saja?!" sergahnya gusar.


"Hidup saya sudah ada di tangan Tuan Virgou," sahut gadis itu.


Virgou tersenyum puas mendengarnya. Haidar menepuk bahu gadis itu. Mereka menginap di villa bertingkat tiga yang dibangun Virgou di dekat masjid. Mereka akan menyambut hari raya idul Adha di masjid Al-Huda.


Pagi menjelang, semua bersiap ke menuju masjid. Semua mengenakan baju terbaik mereka. Yang perempuan menuju shaf perempuan sedang laki-laki berada di shaf paling depan.


Semua shalat ied dengan khusyuk. Pengurus masjid yang ditunjuk Virgou, ada lima puluh orang yang menjadi panitia qurban. Dav, Haidar, Demian dan Jac ikut menjadi panitia. Mereka bagian menguliti hewan yang telah disembelih. Banyak warga berdatangan. Pengamanan dilakukan oleh pengawalan yang diketuai, Gomesh, Budiman dan Dahlan juga Gio.


Dahlan juga berkurban satu ekor sapi juga, begitu juga Gio.


"Mama ... ipu pasi na bitopon ... huuuwwaaaa!" Bariana menangis ketika melihat seekor sapi disembelih.

__ADS_1


"Mama ... dalahnya panyat!" seru Harun.


"Pat ... pita paca pa'a talo bawu peumbelih lewan?" tanya Azha.


Arraya juga takut-takut ketika melihat sapi yang disembelih.


"Wah ... Mama ... lada tambin bawu tabul!" teriak Harun.


Seekor kambing nyaris melarikan diri dari penjagalan. Beberapa orang langsung menggendong kambing tersebut dan menidurkannya. Lalu terdengar suaranya ketika dipotong.


"Terakhir sapi dari keluarga Sabeni Almarhum!"


Sapi itu melenggang tanpa dituntun, semua berdecak kagum. Bahkan ketika sapi tersebut merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di balok pemotong.


Ajis, Amran, Alim dan Ahmad bertakbir ketika sapi mereka hendak dipotong. Adiba dan Aminah menangis.


"Sampai jumpa nanti di akhirat ya sapi!"


Azizah terharu melihat betapa gagahnya sapi yang ia beli ke tempat penjagalan. Ia berkali-kali mengucap syukur bisa berqurban tahun ini.


Sapi sudah terpotong. Daging mulai dibagikan. Banyak warga mengantri agar dapat daging. Para panita membaginya secara adil.


"Dahulukan warga dulu!" ujar Demian.


"Tapi panitia juga mau, pak!" sahut salah satunya.


"Ini banyak loh! Pasti kebagian!" sahut Demian lagi.


Daging sudah dibagikan, malah berlebih dan harus dibawa ke desa sebelah agar rata. Para panita juga kebagian hingga tiga kilo seorangnya.


"Kak, kita bikin rendang ya!" pinta Adiba pada kakaknya.


"Oke dik!" sahut Azizah.


Semua pun pulang membawa daging kurban yang banyak. Demian dan Darren memberikannya pada Puspita.


"Mommy aja yang masakin ya!" ujar dua pria itu.


"Kita dapat kambing mau diapain?" tanya Jac.


"Kita sate aja!" sahut Sean.


Para pria mengolah kambing untuk di sate. Azizah menghaluskan bumbu agar daging kambing tidak bau dan lembut ketika dimakan.


"Pesta daging kita?!" seru Ditya.


Semua sibuk dengan olahan mereka. Bram dan Kanya datang mereka membawa sayur gulai dan juga lontong. Anak-anak yang sudah lapar sudah ribut ingin makan.


"Oma lapan!" teriak Bariana.


"Sabar baby," sahut Kanya memotong lontong ke dalam piring.


Bart, Bram dan Kanya menyuapi semua anak-anak. Usai makan semua anak disuruh untuk tidur siang. Olahan daging masih lama, jadi semua menunggu hingga matang..


Bersambung.


Othor mengucapkan selamat hari raya idul Adha 🙏🙏


ba bowu readers ❤️😍😍

__ADS_1


next?


__ADS_2