
Hari berlalu begitu cepat. Labertha kini sudah bersiap Kanya dan Terra merapikan baju perempuan itu di kopernya dibantu oleh beberapa maid.
"Mommy nggak ingin perusahaan dipindah ke sini?" tanya Kanya.
Labertha menggeleng, perusahaannya banyak bekerjasama dengan banyak perusahaan di Eropa ketimbang di Asia. Perempuan itu juga sulit beradaptasi dengan cuaca di sini.
"Sayang, makam papamu ada di sana," ujar Bertha mengingatkan.
Kanya sedih ditinggal oleh mertuanya itu. Ia sudah jarang ke Eropa, terlebih ia tak mau meninggalkan cucu-cucunya terlalu lama. Ia pun mencium mertuanya tersebut. Terra juga mencium nenek dari suaminya itu.
"Terima kasih sayang, kau datang ke tengah-tengah kami dan menghadirkan banyak anak," ujar Bertha dengan senyum tulus.
"Sama-sama Grandma, Te juga bahagia mendapat Mas Haidar sebagai suami Terra," ujar wanita itu.
Labertha menemukan cinta besar pada Terra. Ia melihat kalung pemberiannya pada Kanya dulu. Ternyata menantunya memilih Terra yang memakaikannya ketimbang putrinya sendiri. Terra juga memakai kalung inisial namanya dengan berlian merah jambu. Bertha mencium kening Terra lembut, ia yakin Terra akan memberikan kalung pada salah satu putri atau menantunya nanti yang ia sayang.
"Kau nanti punya banyak menantu, cucu dan cicit sayang," kekehnya.
Terra merajuk pada wanita itu. Ia sendiri tak menyangka akan punya banyak anak, dan ia bersyukur dengan hal itu.
"Sehat terus ya grandma," pintanya.
"Doakan saja sayang," sahut Labertha lirih.
Sky dan Bomesh sedih melihat buyut mereka pulang. Keduanya memang sangat suka dengan kehadiran wanita renta itu. Mereka takjub dengan jumlah usia Bertha yang banyak.
"Apa uyut nggak bisa tinggal di sini kakek?" tanya Sky pada Bram.
"Tidak sayang, uyut ada yang harus dia urus di Eropa," jawab Bram.
Rion juga sedih dengan kepulangan wanita renta itu. Ia merasa jika hari ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Labertha.
"Memang graidma kapan berangkat?" tanya Rion.
"Besok pagi sayang," jawab Bram.
"Nggak mau beli oleh-oleh untuk dibagikan di sana?" tanya Rion lagi.
Bertha menepuk kening ia lupa membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.
"Ion mau nganter gaidmom beli oleh-oleh," tawar pemuda itu.
"Tidak, aku terlalu lelah untuk berjalan-jalan lagi, kau belikan saja apa yang unik, tolong," ujar Bertha menolak ajakan Rion dan malah meminta pemuda itu yang membeli oleh-oleh untuknya.
"Oteh graidmom!" sahut Rion antusias.
Pemuda itu membawa semua anak laki-laki untuk pergi ke mall.
"Syad ntut!" teriak bayi yang mau ditinggalkan oleh semua saudaranya itu.
Arsyad memang ditinggal di sini bersama Ditya dan Radit. Terra mengurusi semua anak bersama Maria.
"Ayo baby," Kean mengakut bayi itu.
__ADS_1
Aaima belum datang, bayi itu di tempat kakek dan neneknya. Dipto dan istrinya juga mau direpotkan cucu mereka.
Semua anak laki-laki pergi. Tinggal anak perempuan, Nai, Arimbi, Maisya, Dewi, Kaila, Arraya dan Bariana.
"Pita eundat temana-mana?" tanya Bariana.
"Di rumah aja ya, temenin mama," rengek Terra.
Semua anak gadis tampak sedikit menghela napas, tapi mereka menuruti ibu mereka. Hal ini membuat Kanya iba.
"Te," tegurnya.
Terra memeluk semua anaknya. Ia akhirnya memperbolehkan putrinya jalan-jalan.
"Makasih ma," sahut semuanya senang.
"Tapi kalo besok baby Aaima datang, kalian ajak lagi ya," pinta Kanya mengingatkan.
"Oteh Oma!" sahut semuanya.
Bariana dan Arraya paling senang. Mereka memakai celana overall dan kaos juga sepatu. Nai memilih kereta dorong kembar untuk dua adiknya itu. Mereka di kawal oleh Reno, Langit dan juga Juan.
Sesampainya di mall, Rion meminta semua adiknya bergandeng tangan.
"Sky, Bomesh!" peringat Rion.
Kean bersama Samudera dan Benua, Remaja itu meminta Samudera dan Benua untuk memperhatikan dua adiknya yang luar biasa itu. Sedang Ditya dan Radit bergandengan dengan Affhan dan Dewa juga Daud serta Calvin. Lalu Arsyad digendong Sean, Harun digendong Al, Azha dan Arion digendong Rion.
"Ih kak, coba bawa kereta dorong!" ucap Ditya mengingatkan.
Pemuda itu membeli dua kereta bayi kembar untuk empat bayi. Usai membayar, Rion langsung meletakkan Arsyad dan Arion di dalamnya. Lalu Sean meletakan Azha dan Al meletakan Harun.
Rion mendorong kereta berisi Arsyad dan Arion sedang Al mendorong kereta berisi Harun dan Azha. Keduanya berada di belakang sedang Sean memilih menggandeng Sky dan Bomesh.
"Belikan graidmom oleh-oleh makanan, menurut kalian apa?" tanya Rion pada adik-adiknya.
"Jomblo eh ... combro!" jawab Kean.
Rion berdecak mendengarnya. Ketampanan mereka tentu menjadi pusat perhatian. Banyak gadis dan perempuan menyapanya.
"Tuan, coba sini tuan. Ini adalah kosmetik bagus untuk semua genre, wajah anda akan kinclong dan glowing ala K-Pop," tawar salah satu pramuniaga cantik pada Kean.
"Nggak ah mbak, nanti takut pada ngaca di muka saya," tolak Kean lagi.
Calvin terkekeh mendengar seloroh saudara kembarnya itu.
"Wah ... embatna pule yaa?" tunjuk Harun pada salah satu pramuniaga yang berkontak mata biru dan rambutnya pirang.
"Rambutnya di cat sama matanya pake lensa kontak warna biru baby," sahut Radit.
Sean terkikik geli mendengar kejujuran Radit. Rion membiarkan adik-adiknya.
"Kak, belikan ongol-ongol aja uyut!" usul Samudera.
__ADS_1
Mereka menghiraukan para pramuniaga cantik tadi.
"Bukan ongol-ongol tapi dodol, baby," ralat Al.
"Nah itu maksudnya!" sahut Samudera.
"Ya sudah, beli saja," sahut Rion.
Mereka masuk ke sebuah toko yang menjual aneka dodol. Para bayi ingin mencoba. Arsyad sangat ribut ingin juga mencicipi dodol.
"Wah, beli satu kotak buat cicip, yang rasa duren," ujar Sean lalu mengambil satu kotak sedikit besar lalu membayarnya.
Ia mencicipi lalu gigitannya ia berikan pada Arsyad.
"Enak?" Arsyad mengangguk.
"Nat!" sahutnya.
"Beli sepuluh rasa duren, sepuluh yang biasa baby," ujar Rion.
"Beli yang kiloan lebih murah mas," ujar pelayan toko.
"Rasanya sama," lanjutnya memberitahu.
"Iya beli semua dodol dengan berat seperempat aja ya," pinta pemuda itu.
Pelayan itu senang bukan main. Ia melayani dengan ramah dan membungkus apa saja yang ditunjuk anak-anak yang sangat tampan itu.
Usai membeli dodol. Mereka beralih ke makanan keripik. Lagi-lagi Arsyad ribut ingin mencicipi. Sean kembali menggigit dan sedikit mengunyahnya lalu baru diberikan pada bayi tampan itu.
"Enak?"
"Nat!" angguk Arsyad.
Usai membeli makanan asli Indonesia. Semua bergerak ke area boneka atau cenderamata. Mereka ke toko ukiran.
"Kak becak?" tunjuk Ditya pada sebuah miniatur becak.
"Eh lucu juga ya, kalo itu buat hadiah pada kolega di gala dinner," ujar Rion.
"Ambil lima baby," titahnya lembut.
Para pelayan begitu antusias. Rion melihat satu miniatur kapal perang Dewa Ruci dari perak.
"Saya mau ini!" teriak Rion menunjuk kapal itu.
"Baby ini kamu loh," ujar Rion semringah pada Dewa.
Dewa tersenyum lebar. Mereka akhirnya pulang ke mansion setelah membeli beberapa oleh-oleh.
bersambung.
nah ... tumben Sky dan Bomesh nurut nggak ilang.
__ADS_1
next?