
Dewi, Dewa, Kaila dan duo R berulang tahun ke tujuh belas. Herman, Virgou dan Haidar ingin merayakan ulang tahun anak-anak dengan meriah.
"Kalian sudah besar ya," ujar Puspita haru sambil mengusap pipi Kaila.
Gadis itu makin cantik. Tinggi 170cm dengan berat 75kg. Memang Kaila bertubuh sedikit berisi ditunjang dengan dada dan bokong padat. Kaila akan jadi gadis yang sangat seksi jika berpakaian yang menunjang proporsi tubuhnya.
"Mommy, Ila nggak mau dirayain ultahnya," rengek gadis cantik itu.
"Mommy nggak bisa larang Daddy sayang," ujar Puspita yang terus melabuhkan ciuman di wajah sang putri.
"Heh, ayo sekolah!" teriak Virgou yang sudah siap dari tadi.
Kaila pun merengek manja. Tak lama Dewi datang dengan wajah tertekuk. Dewa hanya bisa menghela napas dengan saudara kembarnya itu.
"Kenapa Baby?" tanya Virgou.
"Bu'lek kenapa?" Kaila ikut menanyakan hal yang sama.
"Tadi dimarahin ayah," adu Dewa.
Virgou tersenyum lebar mendengarnya. Ia memberi kecupan untuk duo De itu. Mereka akan mendatangi rumah Terra menjemput duo R.
"Papa minta uang yang banyak Pa!' tiba-tiba Dewi menengadahkan tangan kepada Haidar ketika sampai rumah Terra.
"Hei ayahmu kaya Nak!" sahut Haidar.
"Pa!" peringat Terra..
"Ya udah nggak jadi. Biar Dew cari sendiri!' ketus Dewi langsung ngambek.
"Eh ... maaf-maaf-maaf!' Haidar langsung memeluk dan merayu Dewi.
Tapi ternyata gadis itu sedang mood tak bisa diajak bercanda. Dewi menolak uang pemberian Haidar.
"Nggak usah Pa!"
"Baby, tadi Papa bercanda," ujar pria itu dengan nada menyesal.
"Tadi juga De becanda Pa," sahut Dewi dengan senyum dipaksakan.
Terra marah pada suaminya. Wanita itu terus membujuk Dewi. Tapi keras kepala Terra dan Herman menurun pada sosok cantik itu.
"Nggak apa-apa Ma, Dewi nggak apa-apa. Tadi juga minta uang hanya bercanda!" ujar Dewi santai.
Akhirnya mereka pun pergi ke sekolah. Haidar juga pergi dengan perasaan bersalah.
"Sayang, Grandpa lapar!" teriak Bart ketika masuk setelah memberi salam.
"Wuyuy ... papal, Alsh uda papal!" pekik Arsh tak mau kalah.
Tak lama semua bayi berkumpul. Mereka sarapan. Hanya Zizam, Izzat, Zaa, Nisa, Chira, Aarav, Aaric, Alvan dan Sena yang masih menyusu.
"Aah!" pekik Zizam membuang botol susunya.
Bayi itu menangis, ia belum kenyang dengan susu yang diberikan. Seruni mendatangi bayi tampan itu.
__ADS_1
"Mau biskuit Baby?"
"Eehek!' Zizam mengangguk.
Seruni gemas bukan main. Putrinya Aliyah Rinjani sedang berusaha naik atas meja bersama kakak panutannya Arsh. Wanita itu membiarkan bayinya karena ada banyak ibu di sana yang perhatian dengan semua bayi.
"Eh boleh nggak sih dikasih biskuit yang dicairin. Baby Zizam belum kenyang nih?" tanya wanita itu.
"Kasih satu biskuit aja sayang," ujar Dinar.
Seruni menghancurkan satu biskuit dan diberikan pada Zizam. Dengan lahap bayi itu memakan apa yang diberikan Seruni.
"Amih!' pekik semua bayi yang ternyata juga mau diberi biskuit.
"Astaga, kalian baru empat bulan Babies!" kekeh wanita itu gemas.
"Hmpereerrrrr!" sembur para bayi berceloteh.
Layla, Rahma ikut menyuapi para bayi. Jangan tanya putra dari Rahma ada di mana. Bayi usia sama dengan Arsh itu juga sudah berada di atas meja membantu mengacaukan pekerjaan para ibu.
"Baby, kenapa kau seperti kakakmu?" keluh Maria gemas dan menciumi bayi yang ada di atas meja.
"Ommy ... Alsh antu Ommy!" seru bayi tampan itu lalu menuang tepung ke lantai.
Terra membiarkan kekacauan itu. Ia sengaja membiarkan anak-anak meluapkan ekspresi mereka.
Sedang di sekolah. Dewi sedang memikirkan cara bagaimana mendapat uang. Gadis itu memang jarang diberi uang oleh ayah dan ibunya. Herman merasa tak perlu memberikan uang karena selalu diberi bekal yang cukup.
Khasya tak membiasakan anak-anak jajan diluar. Karena sehabis sekolah mereka harus pulang ke rumah.
"Hmmm?"
Rupanya Dewi masih dalam lamunannya. Bel istirahat berbunyi. Gadis itu ingat ketika di Prancis waktu itu ia membuka jasa lukis untuk orang-orang.
"Gue mau cari duit!" ujar gadis itu.
"Biar apa?" tanya Rasya gusar.
"Aku nggak ijinin!" lanjutnya posesif.
"Ih!" seru Dewi kesal.
"Nggak Bu'lek. Kita nggak mau ikut dimarahin gara-gara ide Bu'lek!" sahut Rasya tegas.
"Aku cuma mau buka jasa lukis biar dapat uang!" jelas Dewi.
"Buat apa sih Bu'lek?" tanya Kaila.
"Kan tinggal minta ayah," lanjutnya dengan kening berkerut.
"Emang kamu mau apa?" tanya Dewi dengan helaan napas panjang.
Dewi diam, ia juga bingung ingin apa uang yang akan ia dapatkan nantinya.
"Entah lah, gue mau pegang duit aja," sahutnya menjawab..
__ADS_1
Kaila, Rasya, Rasyid dan Dewa hanya menggeleng melihat tingkah saudara seumuran mereka itu.
"Kalau mau jajan, ikut kita," ajak Rasyid dengan alis naik turun.
"Rasya, Rasyid, Dewa. Selamat ulang tahun!"
Tiba-tiba segerombolan anak perempuan datang membawa kue kecil. Mereka menoleh. Senyum lebar terukir di bibir Dewa. Memang semua anak perempuan mengidolakan mereka bertiga. Ketampanan Duo R dan juga Dewa sangat terkenal hingga ke sekolah sebelah.
"Eh kalian dari sekolah Bina Nusantara ya?" tanya Rasya ramah.
"Ih ... iya bener!" seru gadis pembawa kue.
Kue diterima bahkan mereka bernyanyi happy birthday bersama. Kado-kado cantik diterima oleh ketiga remaja tampan itu dengan bingkai senyum indah.
"Kita boleh gitu nggak?" tanya Kaila.
"Nggak!" seru Dewa, Rasya, Rasyid bahkan Dewi kompak.
Kaila cemberut. Ia merasa tidak adil, tetapi melihat bu'leknya yang menatap horor dirinya membuat Kaila takut.
Dewi memang gadis paling galak diantara semua anak perempuan keluarga Triatmodjo, Dougher Young dan Pratama itu. Mungkin Bariana adalah anak perempuan tergalak nomor dua setelah Dewi.
Akhirnya jam pelajaran berakhir. Semua keluar kelas setelah guru mereka. Duo R dan De serta Kaila ikut keluar. Dewi menggandeng Kaila. Duo R digandeng di sebelah kanan dan kiri Dewa.
"Udah kek orang nyebrang aja gandengan!' ledek salah satu siswa.
Jangan salah, walau mereka bertiga banyak penggemar. Kelima remaja itu juga banyak musuhnya.
"Ngiri ya?" Kaila membalas ledekan murid satu sekolah itu.
"Dih ... ngapain gue iri ama kalian!" seru siswa itu sewot.
Dewi menarik lengan sepupu ponakannya itu. Ketika sampai gerbang tiba-tiba bunyi deru motor terdengar.
Empat pengawal yang menjaga lima remaja langsung bertindak cepat melindungi anak-anak atasan mereka. Kelimanya langsung digiring ke mobil.
"Mana yang namanya Dewa!" teriak salah satu siswa tanpa helm dan memegang penggaris panjang dari besi.
Aksi mereka langsung dilaporkan oleh ketua pengawalan. Tak butuh waktu lama sepuluh anak sekolah itu dibawa secara paksa oleh Deni dan tim.
Mobil yang membawa lima remaja langsung ke rumah Terra. Di sana semua orang tua sudah khawatir.
"Babies!' Khasya memeluk semua remaja.
"Kalian nggak apa-apa?" semua menggeleng walau masih shock.
Sore menjelang, kue besar sudah dipotong. Dewi menyuapi Herman dan Virgou, sedang Kaila menyuapi Haidar dan David. Dewa menyuapi Andoro dan Gabe, Rasya menyuapi Dominic dan Jac. Sedang Rasyid menyuapi Remario dan Bart.
"Papa biar Setyo yang suapin!" Setyo adalah salah satu anak angkat Bart yang ulang tahunnya sama. Frans dan Leon senang disuapi adik angkatnya.
Bersambung.
Ah ... happy sweet seventeen Kaila, Dewi, Dewa, Rasya dan Rasyid!
next?
__ADS_1