SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MINGGUAN NAIK ANGKOT


__ADS_3

Pergi ke mansion Pratama menggunakan angkutan kota, semua remaja benar-benar melaksanakan niat mereka.


Cuaca masih pagi, semua antusias. Remaja dengan para yang sangat tampan dan cantik menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Kakak mau kemana kakak!" para calo menawarkan mereka angkutan yang tengah mangkal.


"Kota-Grogol ... kota-grogol!' pekik para calo dan kenek menyebut tujuan mereka.


"Kak, Mas, kita naik apa?" tanya Rasya.


Cuaca terik pagi ini. Kening mereka berpeluh, dada bidang tercekat dengan titik-titik basah yang membuat semua kaum hawa menelan saliva.


"Ganteng ... mau kemana ganteng?" tanya seorang waria berpakaian seksi.


Dewi, Kaila, Dewa, Rasya dan Rasyid sampai menyambangi pria yang menjadi wanita itu.


"Mas kan cowo! Kok pake lipstik?" tanyanya.


Gomesh, Budiman, Dahlan, Juno dan Felix yang menjaga mereka hanya bisa menghela napas panjang. Wanita jadi-jadian itu sampai malu karena para remaja yang parasnya tampan dan cantik itu menatapnya sedemikian rupa.


"Baby ... udah!' Kean dan Calvin menggandeng lima adiknya yang antusias melihat segala. Mereka berbagi angkutan kota, semua nampak antusias. Dewa membuka jendela agar angin menerpa wajah dan masuk ke angkutan itu.


"Subhanallah ... panasnya!" seru Setya mengipas tangannya.


"Baru naik angkot ya Mas?" tanya salah satu penumpang tersenyum remeh.


Setya hanya tersenyum. Felix yang bersama mereka menatap tajam pria yang meledek salah satu tuan mereka. Pria itu membuang muka karena takut.


Angkutan hanya berhenti beberapa kali untuk menurunkan penumpang. Akhirnya mereka pun turun di sebuah halte. Mereka telah sampai pada jalan menuju hunian kakek mereka.


"Ke dalam jaraknya lumayan loh!" ujar Gomesh.


"Sekalian olah raga Papa!' sahut Sean.


"Oteh!"


Mereka pun berjalan kaki, perumahan elit itu sedikit ramai. Banyaknya orang berpakaian serba hitam, menandakan jika Virgou menyerahkan semua anak buahnya menjaga.


"Ah ... nggak seru ya," celetuk Dewi sedikit kecewa.


"Nggak seru gimana Bu'lek?" tanya Kaila yang bergandengan tangan dengannya.


"Kirain naik angkot kek gimana. Sama aja, cuma panas ama bokong sakit nih," jawabnya sambil menepuk bokongnya yang sedikit ngilu.


"Tapi motornya serem-serem ya!" sahut Rasyid.


"Nyalip dah kek Valentino Rossi!" lanjutnya.


"Sayang nggak ada copet!" celetuk Dewi yang membuat semua saudaranya menoleh.


"Suka amat sih Baby ama copet? Emang kamu mau apain kalo ketemu?" tanya Satrio.


"Mau Dewi sleding Mas ... biar jatoh terus digebukin orang gitu. Seru keknya!" jawab Dewi semangat.


"Dek ... dek ... jangan punya hayalan itu ah!" peringat Satrio.


Satrio, Kean, Calvin, Dimas, Sean, Al, Daud, Maisya, Affhan, Raffhan, Setya, Devina, Zheinra, Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila yang hanya ingin naik angkutan kota. Mereka bergandengan tangan. Maisya yang begitu antusiasnya berjalan sampai nyaris terjungkal.

__ADS_1


"Papa!" pekiknya.


"Baby ... hati-hati!" seru Felix.


"Aduh!" keluhannya ketika menggerakkan kaki.


"Baby, kenapa?"


"Kaki Mai terkilir," rengek gadis itu sambil mengernyit sakit.


Kean langsung berjongkok agar adiknya naik ke punggungnya. Gadis itu tak ragu naik dan digendong oleh sang kakak.


"Dewi mau Mas!" rengek gadis itu.


Satrio pun menurunkan tingginya, Dewi sedikit meloncat untuk naik punggung saudaranya itu. Kaila dan Zheinra juga Devina mau digendong. Sean menggendong Devina, Sedang Zheinra digendong Budiman.


"Papa Felix gendong Kai!" pinta gadis kecil itu.


Felix pun menyediakan punggungnya untuk menggendong nona mudanya. Tak lama gerbang tinggi menjulang telah di depan mata.


Semua bermandi peluh. Pagar terbuka lebar. Semua ayah telah menanti dan terkejut ketika melihat semua anak perempuan digendong.


"Loh kok digendong?" tanya David.


"Sebenarnya Mai doang yang digendong Papi, tapi semua minta gendong!" sahut Al.


"Kenapa Baby Mai digendong?" tanya Haidar.


"Kakinya terkilir Tuan," jawab Budiman.


Semua anak gadis turun dari punggung pria yang menggendong mereka. Maisya diperiksa kakinya oleh Saf.


"Uma totok, ini sedikit sakit. Tahan ya," Mai mengangguk.


Trek! Auu! pekik Mai kesakitan.


"Hiks ... hiks ... Mommy ... sakit!" isaknya.


"Uh sayang," Saf mengusap jejak basah gadis manja itu. "Nggak apa-apa kok."


Mai diminta istirahat, jarang keluar rumah dan jarang bergerak membuat otot kaki Maisya tegang.


"Kakak sih mager kalo udah di rumah," ujar Kaila.


"Ya mau ngapain baby. Udah biasa di rumah aja," sahut Maisya yang masih merasa sakit kakinya.


"Kan bisa olah raga di kamar," sahut Satrio malas.


Maisya hanya cemberut, gadis itu memang malas gerak.


"Gimana naik angkot?" tanya Rion.


"Panas Kak!" jawab Dewi malas.


"Kirain naik angkot kek gimana gitu!" lanjutnya.


Rion tertawa, Adiba yang sudah tau bagaimana rasanya naik angkot tentu tak aneh lagi.

__ADS_1


"Seru kalo naik pas lagi pulang kerja atau pulang sekolah. Banyak orang naik dengan berbagai ekspresi bahkan ada yang pacaran juga di angkot loh!" timpal gadis itu.


"Pacaran di angkot?" tanya Maisya dan Dewi sampai membola matanya.


"Iya, pegang-pegang tangan, senderan kepala ke bahu. Yang cowok nyium kepala si ceweknya, padahal dua-duanya masih pake seragam putih biru," jawab Adiba.


Terra menggaruk kepalanya. Tercemar sudah otak anak-anak akibat pengetahuan Adiba. Tapi memang hidup di luar seperti yang Adiba alami itu benar-benar terjadi.


"Makanya Mama nggak mau kalian main di luar, ya karena begitu. Banyak pemandangan tak etis yang mesti kalian lihat!" sahut Terra tegas.


"Terus, Kak Diba nggak risih pas liat orang pacaran itu?" tanya Samudera.


"Yang ribut penumpang lain. Semua meminta pasangan itu turun dari angkot karena bermesraan," jawab Adiba.


"Oh ... jadi pacaran itu kek gitu?" tanya Sean baru tercerahkan.


Al dan Daud ikut mengangguk tanda mengerti, begitu juga Kean dan Sean. Sedang Rasya, Rasyid, Dewa dan Dewi memilih bermain bersama perusuh junior.


"Emang kamu kira apa Kak?" tanya Zheinra.


"Kirain yang buat merahin kuku itu!" jawab Sean.


Baik, Setya, Devina, Raffhan dan Zheinra menatap tak percaya pada Al, Daud, Sean, Kean dan Calvin.


"Iya ... kakak kira pacaran itu merahin kuku," sahut Calvin.


"Kemarin ada karyawati yang nangis-nangis karena putus ama pacarnya. Kakak sampai ngeri loh dengernya, kakak kira dia putusin kukunya gitu," lanjutnya bercerita.


Tentu semua orang tua menoleh pada Calvin. Remaja itu mengangguk membenarkan, ia benar-benar mengira jika salah satu karyawan Demian putusin kukunya.


Terra menggaruk kepalanya, sedang Demian sedikit kesal. Hanya penjelasan sederhana Adiba pada semua adik ipar, mereka jadi tau apa itu pacaran.


"Pacaran itu dilarang oleh agama karena mendekati zina. Kalian yang belum memiliki ikatan pernikahan baik secara agama sangat dilarang untuk berpacaran!" ujar Seruni.


"Lagian seru kali habis nikah terus pacaran," sambung Nai.


"Kalo gitu Mai mau nikah ah!" sahut Maisya antusias. "Biar bisa pacaran!"


"Baby!" peringat para ayah.


"Kamu masih kecil!" lanjut mereka melotot.


Maisya tertawa lirih, ia suka menggoda para ayah dan juga kakak laki-lakinya.


"Awas aja ada cowok yang kek kemarin ngasih-ngasih coklat bentuk love!" ketus Dimas setengah mengancam.


"Siapa yang berani kasih Baby Mai coklat bentuk love?" tanya Virgou, Haidar dan Herman gusar.


Mai dan Puspita menepuk keningnya.


"Baby!"


"Udah lewat Daddy, Papa, Ayah!" rajuk Maisya merayu tiga pria posesif itu.


bersambung.


ah ...

__ADS_1


masih satu ya Readers ❤️❤️ ba bowu!


next?


__ADS_2