
Gino, Seno, Verra dan Dita menolak untuk bertemu dengan ayah mereka. Ketakutan itu masih ada. Lilo yang masih di rumah sakit juga tak mau bertemu dengan ayahnya.
"Nak, jangan begitu," ujar Khasya pada Gino yang benar-benar tidak mau pergi.
"Bunda ... Gino nggak mau diambil Papa ... hiks ... Gino nggak mau!' rengek bocah tujuh tahun itu.
"Kalian nggak kangen?" tanya Rahma ingin tahu.
"Nggak ... malah Gino lupa sama wajah mereka," aku Gino.
"Ma ... nggak mau ketemu ya Ma," rengek bocah itu lagi.
Virgou lalu menunjuk pengacara. Keengganan Gino bertemu ayahnya jadi sorotan pihak terkait. Mereka mengira jika keluarga Dougher Young mempengaruhi akal murni anak-anak di bawah usia itu.
"Anak-anak takut karena kekerasan yang dialami mereka!' ujar pengacara yang ditunjuk Virgou.
Bukti konkrit bahkan pihak pengadilan dan beberapa petugas medis yang dulu mendatangi Lidya ikut bersaksi betapa dahsyat kekerasan yang dialami kelima anak itu.
"Jadi penolakan anak-anak karena mereka takut jika kembali pada ayah mereka dan kekerasan itu dirasakan lagi!"
Pihak pengadilan tak bisa berbuat banyak. Para ayah dari Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita menuntut balik.
"Mereka orang kaya masa tidak bisa menyembuhkan rasa trauma mereka?!" ujar pengacara dari Prapto ayah dari Gino.
"Kami juga punya hak dalam tumbuh kembang anak itu!" lanjutnya.
"Hak apaan?" sengit Virgou.
Pria dengan sejuta pesona itu menyesal tak membuat tiga pria berengsek itu ke laut lepas. Terra juga menyesal, lalu ia melirik Zhein yang sedih.
"Kak," ujarnya menenangkan pria itu.
"Mestinya aku yang maju karena mereka ada darahku di sana!' ujar pria itu menghela napas panjang.
Zhein pun diminta menjadi saksi. Hak asuh Gino dan empat adiknya jadi perbincangan dan perdebatan.
"Saya menyerahkan mereka pada dokter Lidya Dougher Young karena mereka lebih dekat dan langsung diawasi oleh yang ahli!' jelas Zhein bersaksi.
"Lagi pula mereka juga tak pernah mendapat kasih sayang orang tuanya!" lanjutnya.
'Setiap perkumpulan keluarga anak-anak itu diciptakan untuk menerima uang dari kami!' lanjutnya bersaksi.
Ayah dari Gino menatap kosong kursi di depannya. Menekan rasa sakit di dada, lalu ia terbatuk.
"Nak ... papa mau mati ... apa kamu nggak mau lihat papa mati?" monolognya dalam hati.
__ADS_1
Sedang di rumah Terra, Dinar membujuk Gino dan adik-adiknya untuk mau bertemu walau sekali saja.
"Nanti kalo mereka ambil Gino gimana Bibu?" tanya bocah itu.
"Tidak akan sayang. Kan, mereka dalam tahanan dan tidak akan mengambil kalian," ujar Dinar lagi.
"Iya Baby, kakak Lana dulu juga nggak mau ketemu sama bapak kakak karena dia meninggalkan kami," ujar Lana memberitahu.
"Iya sayang, ketemu saja. Nanti kita akan temani!' ujar Benua.
"Biya ... pita peumua itut!' ujar Arsh lalu mengacungkan kepalan tangannya.
Akhirnya Gino mau menemui ayah kandungnya. Setelah tiga tahun berlalu mereka dipertemukan.
Gino menatap pria yang menjadi ayah biologisnya. Pria itu begitu kurus.
"Nak ... boleh papa minta peluk?!" Prapto merentangkan tangannya.
Gino bergeming, tampak keengganan tergambar di wajahnya. Pria itu menangis sedang. Aldo dan Heru juga ingin sekali memeluk anak-anak.
'Ngapain anda mau meluk saya?" tanya Gino datar.
"Nak!' peringat Herman.
"Iya kenapa juga mesti minta peluk sekalang?" sahut Seno setuju.
"Nak ... aku minta maaf sebagai Papamu. Memang papa jahat ... papa ...."
"Kan emang jahat ... apa baru sadar sekarang?" tanya Gino menyindir.
'Nak ... hiks ... hiks!" Prapto menangis.
"Nak, jangan seperti itu. Peluk ayahmu dan maafkan dia," ujar Khasya sedih.
"Kami tidak pernah mengajari kalian membenci siapapun terutama ayah kalian," lanjutnya.
"Gino ... papa mau mati Nak ... Papa mau mati!" teriak Prapto.
"Papa kena kanker hati butuh donor hati. Apa kamu mau Nak?"
"Dasar pria gila!' teriak Zhein murka.
Prapto menangis, Heri dan Aldo ikut sedih. Pria itu memang butuh donor hati. Tapi tak menyangka Prapto meminta putranya menjadi pendonor.
"Aku menolaknya!" teriak Zhein.
__ADS_1
Prapto dan dua adik iparnya digiring kembali ke sel. Sementara anak-anak dibawa pulang. Sepanjang perjalanan Gino memikirkan perkataan ayahnya tadi.
"Apa Gino harus donorin hati Gino buat Papa?" tanya bocah tujuh tahun itu.
"Tidak Nak!" ujar Fio tentu tak setuju.
Sampai mansion, Dinar menyesal membujuk Gino bertemu dengan ayahnya. Ia tak menyangka jika pria itu malah meminta Gino menjadi pendonornya.
Semua orang tentu menolak permintaan Prapto.
"Aku yakin jika ada pendonor lain. Tapi jangan Baby Gi!" tekan Demian.
"Iya juga nggak setuju Mas!" ujar Lidya.
"Walau hati anak kecil bisa berkembang sesuai usia tapi tetap saja hatinya akan cacat karena pengurangan itu," lanjutnya.
"Jangan pikirkan ya sayang. Kak Daud akan mencoba treatment dan pendonor lain ya," ujar Daud.
"Iya Kak," angguk Gino.
Virgou memijit kepalanya. Ia mengira Prapto berubah setelah banyak disiksa di penjara. Tetapi pikiran pria itu malah ingin mencelakakan putranya sendiri.
"Dia sepertinya meminta nyawa Baby untuk hidupnya!"
Virgou mengepal erat tangannya. Sudah lama ia tak membunuh orang. Tetapi, ia sangat takut akan dosa.
"Dosaku sudah menggunung. Aku tak mau membunuh lagi!" lanjutnya.
Sementara itu Prapto tampak tercenung, ia begitu menyesal meminta hati putranya. Setelah tiga tahun mendekam dan mendapat banyak tekanan sesama napi. Ia sedikit berubah.
"Tapi itu jadi bakti dari seorang anak kan?" ujarnya ingin lepas dari rasa bersalahnya.
"Aku yakin Gino pasti mau jadi pendonor hatinya. Aku masih ingin hidup!" ujarnya lagi.
Prapto menutup kasih sayangnya sebagai ayah. Ia masih ingin hidup. Walau ia tau seumur hayatnya berada di jeruji besi.
"Ayo Nak ... kamu anak baik. Kamu pasti mau berbakti pada orang tua!" lanjutnya bergumam.
Bersambung.
Prapto gila!
selamat berbuka puasa Readers ❤️😍❤️❤️❤️
next?
__ADS_1