
Delapan jam menunggu, Putri sudah melakukan apapun agar bayinya lekas lahir. Tetapi sepertinya janin dalam perutnya masih belum ingin keluar.
"Bang ... sakit Bang!" rintihnya kesakitan.
Jac mengusap punggung perut istrinya. Pria itu sedih bukan main melihat perjuangan Putri yang ingin melahirkan putranya. Ya janin putri berjenis kelamin laki-laki. Sudah dua malam Putri tak bisa tidur. Perutnya kram dan kencang. Pinggangnya seperti remuk redam.
"Aku berjanji ini adalah anak kita terakhir sayang," ujar Jac tersedu.
"Ih ... nggak mau ... aku mau anak banyak!" tolak Putri langsung.
"Sayang, aku menderita melihat kau kesakitan seperti ini," sahut Jac sedih.
"Aku ingin anak banyak Sayang ... hiks!" rengek Putri.
"Sayang,"
"Aarrrgghh!" pekik Putri kesakitan.
Arimbi sudah siap, gadis itu juga menunggui salah satu kakak ipar, sepupu atau apapun Arimbi tak peduli. Yang ia peduli Putri adalah salah satu bagian keluarga mereka.
"Ayo Ibu, saya lihat dulu!" pintanya.
"Aarrrgghh!" pekik Putri lagi.
Jac buru-buru meletakan istrinya di ranjang khusus itu. Kedua kaki Putri ditopang di alat kasur, hingga membuat ia mengangkang.
"Ya, sudah sempurna Ibu. Kita mulai atur napas ya!" seru Arimbi ketika merogoh mulut rahim Putri.
"Tarik napas Bu ... sekarang mengejan!" pinta Arimbi.
Putri mengejan sekuat tenaga. Jac berada di sisinya memberi semangat.
"Ayo dorong terus sayang!" pekiknya.
Sementara itu di hunian mewah milik Rion, semua menunggu. Para bayi yang biasa rusuh mendadak tenang seakan menanti kehadiran anggota. baru. Di Eropa juga terjadi persalinan istri dari Frans. Lastri harus operasi cesar untuk mengeluarkan dua bayinya yang prematur.
Gomesh baru mendarat ketika matahari terik. Bastian bersamanya dengan wajah lelah.
"Baby kamu lapar?' Bastian mengangguk.
"Mau bakso telur," pintanya.
Gomesh mengajak ke sebuah kedai bakso. Pria itu juga kelaparan, bukan tidak diberi makan di pesawat tetapi porsinya kurang.
"Mang bakso spesial dua mangkok ya. Saya minta ketupat!" pesan pria raksasa itu.
Dua mangkok bakso terhidang bersama ketupat. Bastian langsung menaruh sambal di mangkok begitu juga Gomesh. Kedua pria beda usia itu penyuka makanan pedas.
"Minumnya jus jeruk hangat! pinta Gomesh lagi.
Dua jus jeruk hangat tersedia. Tak lama makanan habis begitu juga minumannya. Gomesh membayar makanan itu dan mengajak Bastian pulang.
"Ayo Baby,"
"Eh ... Papa ... kita nggak bawa oleh-oleh?"
Gomesh menepuk keningnya. Ia lupa membeli sesuatu untuk semua perusuh. Mereka akhirnya pergi ke sebuah mall dan membeli beberapa baju dan sepatu. Dirasa cukup, mereka pun akhirnya benar-benar pulang.
Sampai rumah Rion keduanya disambut dengan kabar gembira. Kelahiran dua bayi Lastri yang keduanya adalah perempuan dan kelahiran bayi laki-laki milik Jac.
"Papa pulang!' pekik Bomesh dan Domesh langsung memeluk ayah mereka.
"Papa!" pekik Bariana.
__ADS_1
Pria raksasa itu mencium semua buah hatinya. Hal itu membuat Harun marah.
"Papa eundat sium Alun pulu?"
"Ah ... Baby kau belakangan saja. Karena Papa mau cium kamu lama!" ujar pria itu usil.
"Oh ... ya pudah!" sahutnya membuang muka.
Gomesh gemas, ia mengangkat tubuh batita itu tinggi-tinggi hingga terpekik. Harun tergelak ketika Gomesh menggelitik perutnya yang bulat.
"Papa ... Alsh pelum!' pekik Arsh marah.
Setelah mencium semua anak. Rion mendatanginya dan memeluk pria besar itu, setelah Rion Satrio dan lainnya.
"Aku kira kau tak mau kembali ke sini Gom!" sahut Virgou.
Pria itu menepuk bahu Gomesh kuat-kuat. Pria itu sampai meringis.
"Daddy janan putun Papa ... tan ipu syatit!" tegur Maryam.
"Huuu ... Daddy jahat Baby ... Papa disiksa," adu Gomesh tentu berdrama.
"Syini Papa ... syini!"
Maryam merentangkan tangannya dan memeluk pria raksasa itu. Virgou berdecak kesal dan mengacak rambut Gomesh.
"Daddy!" peringat Maryam galak.
Virgou pura-pura menangis. Hal itu membuat semua bayi mendekatinya.
"Balyam ... janan palah-palahin Daddy!" larang Arsyad.
"Atuh eundat palahin Daddy!" elak Maryam.
Dua pria itu langsung berhenti berdrama. Keduanya segera menurut jika Herman sudah seperti itu. Keduanya takut pada pria tua itu.
"Jadi adik-adikku sudah lahir?" tanya Gabe tak percaya.
"Iya sayang, adikmu dua-duanya perempuan loh," jawab Khasya.
"Telepon Bunda!" pinta Widya.
Mereka melakukan sambungan video. Wajah Frans begitu bahagia di sana begitu juga Lastri. Dua bayi cantik mirip Virgou, jangan salah Frans memang sangat mirip dengan pria dengan sejuta pesona itu.
"Oh ... Babies!' panggil Gabe.
"Sudah diberi nama?" tanya Khasya.
"Namanya Aisyahzaara Candara Dougher Young yang artinya kecantikan berbudi luhur dan yang satunya Tashiva Zaibunissa Dougher Young yang artinya surga yang cantik," jawab Frans.
"Panggilnya Baby Zaa dan Baby Nisa," lanjutnya.
"Mana, aku mau lihat cucu cantikku!' pinta Leon.
"Hai Babies," ujarnya menatap dengan binaran haru.
"Cantik sekali, mereka mirip kau Gabe," ujar Bart.
"Mirip aku!" sahut Virgou ketika melihat dua bayi cantik itu.
"Sabar ya sayang. Kita akan ke Eropa dua bulan setelah pernikahan Baby," ujar pria itu terharu tak memperdulikan Virgou.
"Iya Daddy, kemungkinan Najwa akan melahirkan di bulan itu," sahut Frans.
__ADS_1
Sambungan video call berakhir. Kini giliran Demian menelpon. Putra Jac lahir dengan selamat setelah tiga hari menyiksa ibunya.
"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Terra langsung.
"Ibunya sehat malah ingin punya anak lagi," jawab Demian di seberang telepon.
"Ah ... anak itu!" gerutu Bart kesal. "Tiga hari kita dilanda kecemasan!"
"Suruh Putri istirahat saja dulu yang cukup, urus anak dengan baik. Jika sudah sehat dan siap baru boleh hamil lagi!" sahut Terra memberi petuah.
"Iya Ma," sahut Demian lalu mengakhiri panggilan telepon.
"Alhamdulillah, semua berita baik kita terima hari ini," sahut Puspita lega.
"Alhamdulillah!" sahut semua juga lega.
"Ayo sekarang, kita tentukan kapan foto prewedding?" ujar Herman.
"Oh ya, apa sudah siap semua bajunya?" tanya Khasya.
Tak lama Bram datang bersama istrinya. Dua minggu lagi adalah photo prewedding Rion dan Azizah.
"Mah ... boleh nggak kalau background photonya panti?" pinta wanita itu hati-hati.
"Wah ... boleh juga tuh," celetuk Virgou.
"Oke kita ganti lokasi dan meminta para fotografer mencari spot terbaik di panti. Kita juga masukkan anak-anak panti. Siapa tau ada yang ingin mengadopsi anak-anak itu," ujar Bram menimpali.
"Ide yang bagus itu!" sahut Herman.
"Sayang ... bagaimana jika mereka kuadopsi semua?" lanjut pria itu meminta pendapat pada istrinya.
Bram dan Bart berdecak. Mereka juga ingin mengadopsi beberapa diantaranya.
"Aku saja yang mengadopsi mereka!" sahut Bart.
"Daddy, aku duluan yang punya ide itu!"
"Kau kalah cepat. Aku kemarin sudah mendaftarkan mereka dan memakai nama belakang Dougher Young!" tukas Bart yang tentu saja bohong.
"Jangan bohong Daddy," sahut Bram tak terima.
"Hei .. sudah-sudah!" lerai Kanya kesal.
"Kan banyak anak di panti lain yang bisa kita adopsi!"
Akhirnya ketiga pria itu diam. Namun diam-diam Bart benar-benar melaksanakan aksinya. Ia menelepon salah satu pengurus panti milik istri dari paman cucunya itu.
"Halo Bu Ratna, siapkan semua dokumen anak-anak panti. Aku akan mengadopsi mereka semua!"
"Apa Tuan tidak bercanda?"
"Saya serius Bu!"
"Alhamdulillah!" sahut Ratna di seberang telepon.
Wanita itu pun menyiapkan semua dokumen. Lalu mengatakan jika dokumen anak-anak lengkap. Tinggal mengesahkan mereka di dinas sosial setempat maka lima puluh anak yatim piatu itu sudah menjadi anak dari Bart sidiq Dougher Young.
bersambung.
Alhamdulillah.
Welcome Babies ... selamat Grandpa Bart jadi ayah angkat lima puluh anak yatim piatu.
__ADS_1
next?