SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KASIH SAYANG TULUS


__ADS_3

Maisya pulang langsung dikerubungi para perusuh paling junior.


"Ata' badhaipana tabalna?" tanya Della khawatir.


"Kakak baik Baby," jawab Maisya tersenyum indah.


Puspita menciumi putrinya itu. Maisya menggoda Alia hingga bayi cantik itu menangis.


"Baby," keluh sang ibu namun sambil tersenyum.


Alia berada digendongan Maisya. Affhan selalu berada di sisi saudara kembarnya itu.


"Gue udah nggak apa-apa," ujarnya menenangkan Affhan.


"Tuman kan Lo. Makan rujak diabisin sendiri!" gerutu Affhan kesal bukan main.


"Daddy," Mai merengek.


"Baby," peringat Virgou pada putranya.


"Daddy, Mai rakus. Makanya perutnya sakit!" sahut Affhan benar-benar kesal.


"Affhan yang nggak makan ikutan mules liat dia kesakitan kek kemarin!" lanjutnya sampai berkaca-kaca.


"Sorry," sesal Maisya.


"Eh ... udah jangan berantem. Perkara rujak doang!" tengah Puspita.


"Mom, bukan itu masalahnya. Affhan ikutan sakit padahal nyicip juga enggak!"


"Sayang, berarti kamu peduli sama saudara kamu baby," ujar Puspita menenangkan putranya yang terus mendumal panjang pendek.


Maisya menyesal dengan kelakuan kemarin. Virgou menenangkan putrinya itu.


"Nanti, Mommy suruh Mommy Mar buat rujak buah juga!" ujar Puspita yang tiba-tiba jadi kepingin rujak.


"Ommy jujat pa'a?" tanya Arsh.


"Rujak itu buah yang dipakai sambel kacang Baby," jawab Puspita gemas dengan bayi rusuh itu.


"Baby tuyun Baby!' pinta Gino pada Zizam.


Dzikra Ebtissam Starlight, bayi mau tujuh bulan itu memaksa untuk naik meja. Sean yang lebih dekat dengan bayi itu langsung mengangkatnya.


"Ata'!" pekik bayi itu marah.


"Eh ... ke kafe baby yuk!' ajak Adiba.


"Ntut!" Arsh langsung mengangkat tangannya.


"Ganti baju dulu Baby!" suruh Widya.


Para bayi berganti baju. Bariana akan jadi penterjemah bersama Della dan Rion. Tempat yang kini bangunannya lebih luas itu sedikit ramai pengunjung.


"Halo selamat datang!" sambut Andri selalu chef kafe tersebut.


'Kak Sinta mana Kak?" tanya Adiba.

__ADS_1


"Oh Sinta lagi nemuin suaminya yang bawa putrinya di situ!" jawab Andri sambil menunjuk wanita yang ditanya oleh Adiba.


"Oh, kalo sudah selesai, nanti suruh temuin kami ya Kak," pinta Diba lagi sambil tersenyum indah.


Satrio sangat kesal dibuatnya. Remaja itu menatap tajam sosok pemuda yang juga tampan.



Chef Andri Brata, 23 tahun.



Raden Mas Satrio Ardiya Triatmodjo, 19 tahun.


"Sayang, sabar ... Adiba juga tidak begitu memperhatikan Andri kan?" tenang Khasya.


Satrio mengangguk, Adiba baru mau enam belas di tahun ini. Satrio harus bersabar setidaknya Adiba lulus SMA. Kafe tampak ramai. Sean membawa semua saudara remaja ke kafe miliknya. Satrio menolak ikut, remaja itu takut Adiba gadis yang telah ia ikut malah kepincut sama sosok tampan yang tengah menyuapi Aisya.


"Sudah sana. Biar Adiba Bunda yang jaga!' suruh wanita itu.


"Bunda ...," rengek Satrio.


"Baby!" peringat Herman.


Akhirnya Satrio pun pergi. Adiba yang melihat remaja pria yang telah mengikatnya pergi sedikit sedih.


"Tenang sayang," Khasya buru-buru mendekati calon menantunya itu.


Haidar dan Virgou menatap Khasya. Lalu keduanya mendekati Terra.


"Apa benar jika Adiba sudah diikat oleh Baby Satrio?" tanya Haidar masih setengah tak percaya.


"Astaga ... kenapa istrimu ini Dar?" desis Virgou tak percaya dengan tatapan adik sepupunya itu.


"Ih ... Te nggak tau Kak!" sanggah wanita itu kesal.


"Sebegitu Baby Trio dekat Diba kamu nggak ngeh?" tanya Virgou sampai melotot.


Terra benar-benar polos. Wanita itu menganggap kedekatan Satrio dengan Adiba adalah hal biasa.


"Bukankah sesama saudara memang saling dekat?" tanyanya benar-benar polos.


"Astaga Dar. Aku lebih baik ke kafe milik Sean!" sungut Virgou benar-benar kesal sendiri.


"ih ... kakak ... beneran Te nggak tau!" teriak Terra dan Virgou berlalu bersama Gomesh.


Haidar menatap istrinya tak percaya. Semua wanita memilih tak mau ikut campur.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di kafe milik Sean. Semenjak menjabat sebagai vice CEO wakil dari Rion, Sean jarang ke kafe yang ia dirikan. Para remaja duduk di meja mereka secara berkelompok sesuai umur.


Maisya duduk bersama adiknya, Kaila, Dewi, Zheinra dan Davina.


Arimbi dan Nai tentu tak bisa ikut lagi. Keduanya berada di kafe bayi bersama suami dan mertuanya.


"Kak, di depan ada tukan kue pancong!" tunjuk Dewi pada Maisya.


"Mau?" Dewi mengangguk antusias.

__ADS_1


Maisya berdiri. Dua pengawal menghadangnya. Gadis itu kesal sekali. Juan, Herry, Anti, Sri dan Sania mengawal para remaja. Kali ini para pengawal ada juga yang perempuan.


"Mau beli itu Papa!" rengek Mai menunjuk tukang kue pancong.


"Baby, Kak Sean juga bikin sayang!" sahut Sean.


"Ya ampun Kakak. Masa rejeki tukang dagangan kecil Kakak ambil juga!" protes Kaila.


"Hmmm ... tapi ini sudah ada setengah tahun lalu Baby. Tukang itu kan jarang-jarang datang!" jawab Sean tak mau disalahkan.


Virgou datang bersama Gomesh. Mai tetap ingin beli kue pancong di tukang dagang kecil. Seorang pria tua tersenyum cerah ketika dagangannya dibeli.


"Udah satu harian keliling belum laku Neng," keluh pria itu.


"Saya borong deh Pak!"


"Bener Neng?" pria tua itu tak percaya.


"Iya Pak, bener!" jawab Mai dengan tersenyum.


Memang butuh waktu. Mai membagi persepuluh kue satu bungkusnya. Gadis itu membagikan pada tukang ojek yang lewat.


"Papa ... bayarin ya!" kedip Maisya pada Juan.


Juan tersenyum lalu mengangguk. Pria itu tentu tak keberatan untuk membayar semuanya terlebih itu untuk beramal. Virgou sudah sibuk di open kitchen dan memasak nasi goreng cinta, menu andalan kafe itu.


Semua bahagia. Para remaja bergosip seru. Tak ada yang berani dekat dengan keluarga super kaya itu. Semua sampai malam hari, tentu para bayi terlebih dulu pulang karena Adiba hanya buka sampai jam lima sore saja.


Semua pulang ke mansion Herman. Zhein mencoba menggendong Gino yang tertidur di sofa. Balita itu terkejut karena bukan tangan yang biasa menyentuhnya.


"Mommy!" rengeknya lalu turun dan menuju Maria.


Zhein sedih bukan main. Padahal sebisa mungkin ia perlahan menyentuh Gino. Karina pun demikian. Ia tak bisa menyentuh Dita, bayi satu tahun itu memilih digendong Rahma.


"Pelan-pelan saja sayang," ujar Khasya tak enak.


Kanya tentu sedih. Kasih sayang tulus memang harus ditampakkan sepasang suami isteri itu.


"Perlahan dekatkan hatimu pada mereka, ya," Kanya menenangkan putri dan juga menantunya.


Para remaja pulang dengan wajah lelah. Karina tentu menyambut putrinya. Zheinra memang dekat dengan sang ibu tetapi ketika berada di keluarga Terra. Gadis itu mencari keberadaan Layla.


"Umi Layla mana?"


"Sudah pulang sayang," jawab Karina.


Barulah Zheinra mau berada dipelukan sang ibu. Karina sedih bukan main. Cintanya kalah dengan ibu-ibu baru yang dikenal oleh putra dan putrinya.


"Mama Teyya!" pekik Raka lalu menguap.


"Hei ... sana sama istrimu!" tegur Haidar yang menggoda ponakannya itu.


"Mama," rengek Raka lucu.


"Sayang!" Terra memperingati suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


Kasih sayang tulus itu penting Mama Karina.


Next?


__ADS_2