SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KEJADIAN


__ADS_3

Rion menemui Virgou, sayang pria dengan sejuta pesona itu sangat sibuk dengan pembukaan pasar terbesar yang ia kelola.


"Mommy, Daddy mana?" tanya Rion di suatu sore.


"Daddy pergi ke daerah x, Baby," jawab Puspita.


Puspita dan Khasya sudah tak lagi menangani perusahaan Tridhoyo SaveAcounting, karena Dimas, Affhan dan Maisya yang mengelolanya.


"Kenapa cari Daddy?" tanya Puspita.


"Ion mau bicara sesuatu," ujarnya.


Rion pamit untuk pergi ke wilayah x. Ia tau lokasinya, tak jauh tempatnya dengan rumah yang ditempati oleh gadis yang sudah satu minggu ini berkomunikasi dengannya.


"Hati-hati Baby!" sahut Puspita ketika Rion pamit menyusul Virgou.


Pemuda itu naik mobilnya bersama, Langit, Ricky dan Lucky. Lucky yang menyetir. Hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke lokasi.


Banyaknya wartawan di sana. Virgou ditemani oleh David dan juga Satrio. Lapangan pekerjaan dibuka untuk umum.


"Jadi tuan, apa konsep pasar ini sama dengan pasar yang seperti kita ketahui, bisa nawar barang tertentu?" tanya salah satu wartawan..


"Tunggu sebentar, putra saya yang lain datang," sahut Virgou.


Pria itu melihat Rion berjalan diapit oleh Langit dan Ricky. Sedang Lucky memarkirkan mobilnya. Banyak penjaga menahan para wartawan yang ingin mendekati Rion.


"Daddy," panggilnya.


"Duduk di situ Baby," pinta Virgou.


Rion duduk di sebelah David. Pemuda itu akan mengikuti acara ramah tamah dengan wartawan sekaligus pembukaan besok lusa.


"Ya, tadi benar sekali. Saya memang mengkonsep pasar ini sama dengan pasar yang kita ketahui, ada penawaran harga yang sesuai. Tetapi saya tekankan jika harga di sini sama dengan harga di pasar!" jawab Virgou panjang lebar.


"Tuan, semua gedung dan perusahaan memiliki manager sendiri. Apa di sini juga memiliki manager?" tanya Wartawan.


"Tentu ada. Struktur organigram perusahaan sama dengan lainnya. Ada Humas, HRD dan juga keuangan dan administrasi!' jawab Virgou lagi.


"Apa sistem pembayaran sama dengan pasar yakni bayar restibusi setiap hari seperti yang kita kenal di pasar-pasar?"


"Tidak, di sini sama seperti di mall hanya saja harga pasar. Jadi pegawai ikan, daging dan lainnya. Sama dengan pedagang pasar, dengan membayar dagangan di kiosnya," jawab Virgou.


"Tetapi apa itu tidak membuat lebih ribet?" tanya Wartawan.


"Tidak! Karena pembayaran sama dengan di kasir, jadi semua terdata di kontrol pusat!" jawab Virgou.


Usai tanya jawab dan ramah tamah. Virgou membuka pasar sementara dengan diskon harga. Banyak antusiasme masyarakat dengan pasar tersebut. Selain bersih juga dijamin keamanannya.


Rion bersama Satrio sedang David bersama Virgou. Gomesh dan pengawal yang lain menjaga mereka berempat dari bidikan pengunjung yang histeris melihat ketampanan keempat pria itu.


"Baby ngapain kamu ke toko Emas?" tanya Rion.


"Mau beli mahar untuk calon istri," jawab Satrio asal.


"Baby!" tegur Rion.


"Kakak, nggak apa-apa kan bukan bersiap dari sekarang," sahut Satrio.

__ADS_1


Rion akhirnya diam. Tentu ia tak bisa melarang adiknya membeli emas, selain harga stabil, juga kadarnya tidak turun.


"Beli emas murni Baby, agar tidak ada penyusutan," saran David.


"Oteh, Papi," sahut Satrio.


"Koh!" panggilnya.


Sosok bermata sipit melayani Satrio. Remaja itu membeli emas batangan seberat seratus sebelas gram.


"Maunya seratus gram satu, sepuluh gram satu dan satu gram satu gitu loh Koh!" pinta pemuda berusia mau sembilan belas tahun itu.


"Iya Koh juga ngerti. Mau di simpen di kotak beludru nggak?" tawar pria mata sipit itu.


"Boleh Koh!" sahut Satrio senang.


Tiga keping emas berbentuk bulat dengan berat yang sesuai keinginan Satrio diletakkan di dalam kotak kecil beludru warna merah.


"Daddy, bagus nggak?" tanya Satrio senang bukan main.


"Bagus Baby," jawab pria itu.


"Mau beli kalung juga Koh!" ujar Satrio.


"Yang beratnya lima gram!" lanjutnya.


Satrio menghitung berapa perempuan yang ada di rumah. Dua puluh kalung bandul sederhana dibeli oleh Rion dengan uangnya sendiri.


"Kakak nggak beli?" Rion menggeleng.


"Loh, Baby balik lagi?" tanya Puspita.


"Memang kenapa?" Virgou balik bertanya.


"Tadi Baby nyusul karena mau ngomong sesuatu sama Daddy, apa sudah?" jawab Puspita sambil bertanya.


"Mau ngobrol apa Baby?" tanya Virgou.


"Dad, bisa kita bicara sebentar?" pinta Rion pada akhirnya.


Keduanya kini di ruang kerja Virgou. Rion mengungkap keinginannya.


"Jadi gitu Dad," ujarnya mengakhiri.


"Siapa yang kau rekomendasikan itu?"


"Temen Ion,"


"Temen dari mana?" tanya Virgou gusar.


"Daddy, please!" pinta Rion.


"Dia orang jauh, kau tanyakan dulu kesediannya, apa mau mengulas riset di sini?" tanya Virgou.


Rion terdiam. Ia memang belum bertanya pada gadis yang mengusik pikirannya. Virgou kesal dengan sikap playboy Rion yang mulai kelihatan ini. Pria itu tak mau Rion mengikuti jejaknya.


"Tanya kan itu dulu pada temanmu, jika dia bersedia maka boleh bertemu denganku!" sahut Virgou.

__ADS_1


"Oteh Dad, thanks!" sahut Rion dengan senyum lebar.


Pemuda itu pun bangkit. Ia ingin segera bertemu dengan Sahira, gadis bermata hijau yang telah memikat pikirannya.


"Mau ke mana kau?" tanya Virgou gusar yang melihat Rion buru-buru keluar.


"Pergi dulu Dad .. bye!" jawab Rion tanpa salam.


"Rion!" panggil Virgou marah.


Namun tubuh pemuda itu telah melesat meninggalkan ruangan. Virgou marah luar biasa, ia tak suka sikap Rion yang tak acuh dengan adab yang selama ini dipegang teguh oleh keluarga.


"Rion!" teriak Virgou memanggil pemuda itu.


"Ada apa Dad, Kak Ion udah naik mobil bahkan melarang, Kak Langit, Kak Ricky dan juga Kak Lucky ikut," jawab Satrio.


"Langit!" bentak Virgou.


"Tuan!" sahut pria itu.


"Susul Tuan mudamu!" titah Virgou.


Langit segera mengerjakan perintah tuannya. Ricky dan Lucky mengikuti ketua mereka, ketiganya menggunakan motor yang dibonceng oleh para pengawal Virgou.


"Anak itu!" keluh Virgou.


"Sabar Dad!" sahut Puspita menenangkan suaminya.


Sementara itu Rion melajukan kecepatan mobilnya sedang. Ia merasa harus segera menemui Sahira, agar bisa bekerja di Indonesia.


"Mudah-mudahan dia mau," gumamnya.


Rion tentu bisa melacak keberadaan rumah Sahira. Gadis itu sendiri yang mengatakan di mana alamatnya. Keduanya bertukaran nomor ponsel.


"Telepon dia dulu kali ya?" gumam Rion menepikan mobilnya.


"Halo Sahira!" ujarnya langsung ketika sambungan telepon diangkat.


".....!"


"Apa kau ada di rumah?"


"......!"


"Baik, aku susul di sana ya," ujar Rion lalu menutup sambungan telepon setelah mendapat jawaban dari Sahira.


Tok! Tok! Tok!


"Buka Tuan muda. Tuan Virgou meminta saya memecahkan kaca jika tetap dilarang ikut!" sahut Langit setengah mengancam.


Rion berdecak. Ia tak akan bisa lepas dari penjagaan ayahnya satu itu. Dengan muka ditekuk, Rion membuka pintu dan ia pindah posisi. Tak lama, mobil itulah bergerak ke arah di mana ia akan bertemu Sahira.


bersambung.


aduh Rion ... kok jadi nyebelin sih?


next?

__ADS_1


__ADS_2