
Luisa masih berada di ruangan operasi. Wanita itu harus melakukan cesar untuk mengeluarkan janin dalam perutnya. Saf yang menenangkan wanita itu.
"Mama nggak mau operasi. Dulu Langit Mama lahirkan normal!' pinta Luisa memohon..
"Ma, maaf. Kami harus mengoperasi cesar. Nurut ya," pinta Saf juga tak kalah memohon.
Di rumah Terra, Dinar menyuruh semua anak berdoa untuk Luisa yang tengah berjuang.
"Netnet au lahinan?" tanya Dita dengan mata bulat.
"Ya Allah, pudah-pudahan Netnet bait-bait syaja!' doa Della penuh harap.
'Yut pita peuldoa yut!' ajak Bariana.
Semua anak berkumpul. Mereka sampai membentuk lingkaran dan mulai berdoa.
Para perusuh senior pun ikut bergabung. Langit pun membawa istrinya pergi menuju rumah sakit. Reno langsung pulang ketika mendapat kabar itu.
"Gimana ada kabar?" tanyanya.
"Papa salam dulu!" peringat Bomesh protes.
"Ah ... maaf Baby, assalamualaikum!"
"Wayaytumsayam!" sahut perusuh junior membalas salam.
"Belum ada kabar Kak," ujar Arimbi.
"Sudah ayo kita berdoa!" ajak Rion.
Pria itu juga cemas. Ia mengusap terus perut istrinya, ia tak mau jika sang istri melahirkan sebelum waktunya.
Begitu juga Gio dan Juno. Gisel ditenangkan oleh Dinar, perempuan itu juga tengah mengandung dan kini jadi ikutan mulas gara-gara melihat Luisa tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit.
"Bibu!" rengek wanita itu.
"Sabar sayang!" Dinar mengecup perut Gisel hingga tenang.
Beni, Leni, Sriani, Feri dan Mia pun datang. Mereka juga shock mendengarnya. Kini semua pun menanti kabar dengan cemas
Langit sampai di rumah sakit. Ia nyaris melupakan istrinya jika saja tak melihat Virgou datang bersama Gomesh.
"Mana Nai?"
"Daddy!" Nai turun dari mobil.
"Maaf sayang," ujar Langit masih kalut.
Virgou memaklumi, kini mereka pun pergi ke ruangan di mana semua orang tengah menunggu.
Andoro menatap layar lebar. Istrinya tengah mendapat penanganan. Pria itu menangis ketika melihat secara langsung bagaimana perut istrinya dibedah sedemikian rupa.
Selapis demi selapis jaringan kulit disobek dengan pisau. Langit nyaris pingsan melihatnya. Nai menenangkan suaminya. Wanita muda itu tentu sudah biasa melihat hal itu.
Satu jam berlalu. Satu bayi keluar dengan tubuh sedikit biru, begitu kecil. Saf langsung menangani bayi itu. Hanya sebentar suara tangisan kencang keluar dari mulut sang bayi.
Andoro memeluk putranya. Satu kehebohan terjadi di ruang operasi. Salah satu dokter menunjuk angka satu.
Satu bayi lagi keluar dan begitu kecil. Bayi itu langsung menjerit ketika terkena udara dingin.
"Adikmu dua Nak ... adikmu dua!" teriak Andoro.
Dua puluh menit kemudian sepasang bayi berada di inkubator. Andoro menatap buah hatinya dengan binaran mata bahagia. Langit merebahkan diri di sisi ibunya.
"Mama ... i love you!" ujarnya lalu mengecup pipi sang ibu.
__ADS_1
Luisa sudah sadar, ia ingin sekali menyentuh sepasang bayinya.
"Mama mau gendong sayang!" pintanya.
"Nanti ya Ma," ujar Nai lalu mengecup mertuanya..
"Si Princess tidak terdeteksi, ia kecil sekali," ujar Saf begitu takjub akan kehadiran si mungil.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Andoro tanpa melihat Saf.
"Alhamdulillah dua-duanya baik-baik saja Pa," jawab Saf.
"Alhamdulillah!'
Bart, Haidar, Terra, Budiman, Darren, Virgou dan Gomesh begitu senang melihat bayi-bayi itu.
"Hai Boy ... girl!' sambut Virgou.
Pria sejuta pesona itu menyentuh bayi laki-laki kemudian yang perempuan. Keduanya tampak menggeliat lucu.
"Kau kecil sekali girl!' Virgou mengusap badan bayi yang hanya setengah lengannya itu.
"Boy beratnya hanya 1,9kg tinggi 44cm sedang yang girl hanya 900 ons tinggi 27cm," jawab Saf.
"Kecil sekali," ujar Gomesh.
Ia melihat tangannya yang besar dan membandingkan pada bayi perempuan. Hal itu membuat Bart kesal.
"Anak sialan!"
Pria itu memukul Gomesh hingga mengaduh.
"GreatPa!" peringat Nai.
"Baby, buyutmu galak!" adu Gomesh pada Nai.
"Hei kenapa kalian ribut!" seru Andoro kesal.
"Kau berani memarahiku!" sungut Bart.
"Buyut! Tenang ya, ini rumah sakit," Nai menenangkan buyutnya itu.
Bart mendumal panjang pendek. Andoro mulai bingung menamakan bayinya.
"Namanya siapa ya?"
"Mega dan Angkasa!" sahut Bart.
"Jangan Angkasa dan Mega tapi aku kurang suka" sahut Andoro.
"Auzora yang artinya langit yang luas?!" seru Haidar.
"Wah bagus itu, jadi Auzora Kamila Dewangga!" sahut Budiman.
"Indah sekali namanya," ujar Luisa setuju.
"Lalu boy kita beri nama Davendra Putra Clementino Dewangga!' sahut Haidar lagi tak mau kalah.
"Baik, Baby Zora dan Baby Vendra !' putus Andoro.
Semua bertepuk tangan. Luisa tersenyum, ia membayangkan kehebohan terjadi ketika dua anaknya itu besar nanti.
Kini ruangan exclusive itu sepi dari manusia. Saf membantu Luisa menyusui anak kembarnya.
"Sayang," Andoro datang membawa makanan.
__ADS_1
"Papa, Mama belum boleh makan dari luar ya!' peringat Saf.
"Ini buah sayang," ujar Andoro.
"Belum boleh Papa," ujar Saf lagi.
Akhirnya wanita itu membawa makanan ke luar dan membagikannya pada orang lain. Suster datang membawa makanan khusus untuk pasien. Masa pemulihan tentu harus diperhatikan. Selama lima hari kedepan Luisa harus istirahat total.
Semua orang bernapas lega. Akhirnya apa yang mereka takutkan tidak terjadi. Kini tinggal menyambut kedatangan keluarga baru.
Hari yang ditunggu pun tiba. Rumah Nai penuh dengan manusia. Andoro belum bisa menemukan hunian untuk ia dan istrinya.
"Sadhi Paypi dada wuwa?" tanya Rinjani dengan menunjuk tiga jarinya.
"Ipu tidha Paypi, talo duwa bedini!" Della membetulkan jari bayi belum satu tahun itu.
Aliya Rinjani akan berulang tahun bulan depan. Bayi itu belum bisa melipat tangannya. Della menghela napas.
"Oteh lah!" sahutnya pasrah.
Yang ditunggu tiba. Semua heboh, persembahan tarian dari para perusuh menyambut dua anggota baru.
"Belpom hom paypis!' seru semua bayi menari hula-hula.
Andoro tersenyum lebar. Luisa terharu. Ia melihat satu tulisan di sehelai kain, "Belpom hom Paypis!"
"Pepom bom paypis!' Arsh ikut menari.
"Anah payina?" tanyanya langsung.
Dua bayi dalam keranjang. Semua perusuh mengelilingi bayi kembar itu. Semua menciumi keduanya.
"Walo Paypi atuh Ata'Alsh ... ah atuh Apan Alsh!' Arsh memperkenalkan diri sebagai Abang.
"Ah butan ... atuh Apan Saji Paypi Alsh!' ralatnya.
Luisa gemas mendengar itu. Ia meminta suaminya mengangkat Arsh dan menyembur perutnya. Semua bayi ingin diperlakukan sama. Andoro tentu kualahan karena begitu banyak bayi.
"Hei ayo. Biarkan Kakek istirahat ya!" ujar Khasya.
Dua bayi sudah tampak besar. Vendra dan Zora sangat rakus menyusu. Luisa sampai kualahan menangani bayi kembarnya itu.
"Dibantu sufor ya Ma," ujar Andoro iba melihat istrinya kepayahan.
"Iya deh Pa, soalnya air susu Mama juga nggak cukup," ujar Luisa.
"Air susu Mama banyak kok!' seru Saf sedikit tidak setuju.
"Angkat tangan Mama!" perintahnya.
Luisa ragu mengangkat tangan. Saf tak sabar lalu mengangkat tinggi-tinggi tangan Luisa. Ia memberi pijatan sekitar ketiak lalu merambat ke dada. Pijatan terus dilakukan selama sebelas menit.
"Enak sekali!" puji Luisa merasa nyaman.
"Nah, sekiranya asi mama udah banyak. Jadi nggak perlu sufor ya!" ujar Saf lalu meninggalkan keduanya.
Cairan keluar dari pucuk dada Luisa, ia merasa hangat. Andoro hanya terbengong.
"Apa dia sehebat itu?" tanyanya.
"Sepertinya menantu dari Dougher Young bukan orang sembarangan!" lanjutnya berdecak kagum.
"Makanya, putra kita beruntung mendapat salah satu keturunan mereka!" sahut Luisa tak kalah kagum.
Bersambung.
__ADS_1
Dougher Young gitu loh!
next?