
Berhubung memakai bahasa Prancis dan bahasa Indonesia jadi othor jadiin satu bahasanya yakni bahasa Indonesia, othornya males translate 🙏.
"Ah dia tak mengerti bahasaku," kekeh wanita itu.
"Sorry grany, biar Saf terjemahin, perkenalan nama saya Safitri, saya istri Darren ...."
Safitri memperkenalkan dirinya dengan bahasa Prancis dengan baik. Darren tersenyum bangga. Mereka lupa jika Maria bisa mengerti bahasa yang sama. Berta tentu tau siapa itu Darren, Bram telah menceritakan semua, ketika cucunya hendak menikahi gadis dengan tiga adik yang memanggilnya mama.
"Mana Terra," tanyanya ketika Saf usai menerjemahkan bahasa Bariana.
Terra maju dengan senyum cantiknya. Wanita itu merentangkan tangan, Terra datang dan memeluknya.
"Kau membuat keturunan Hovert Pratama tidak pupus sayang," ujarnya berterima kasih.
Usai berkenalan mereka diminta untuk beristirahat. Semua memakai kamar mereka sendiri-sendiri, pada maid memandu mereka menggunakan kamar yang mana.
Para bodyguard di tempatkan di paviliun khusus kecuali Gomesh, Budiman dan Gio.
Di kamar Putri berdecak kagum ketika melihat balkon yang mempertontonkan taman bunga lili. Jac menidurkan bayinya setelah disusui sang istri.
"Beruntung sekali aku bersahabat dengan Lidya," gumam wanita itu masih tak percaya.
Jac memeluknya dari belakang. Ia juga bersyukur Lidya berteman dengan Putri, jika tidak. Mungkin pria itu masih betah melajang.
Sedang di kamar Aini, dua adiknya telah merebahkan dirinya di kasur empuk di kamar lain. Para anak-anak yang sudah besar dipisah dengan ayah dan ibu mereka. Kecuali yang masih menyusu. Gio memeluk istrinya yang menangis haru.
"Apa kau menyesal tak menikahi Darren waktu itu?" tanya pria itu berhati-hatilah.
"Mas!"
Aini berbalik dan memandang kesal pada suaminya.
"Aku malah bersyukur kau adalah suamiku sekarang dan selamanya!" peringat sang istri tak suka.
Gio meminta maaf, ia memeluk istrinya dan menyesali apa yang ia ucapkan barusan.
Sementara itu para bayi mulai bergosip ria. Mereka memang tidak ada lelahnya. Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana memang belum ingin tidur mereka memilih bersatu dan tak mau ikut dengan kakak-kakak mereka.
"Kak Sky dan Kak Domesh ikut kalian dong," pinta sang kakak memohon.
"Baitlah!" angguk Bariana.
Akhirnya raja perusuh bersatu dengan anak buahnya. Tentu saja hal itu membuat semua orang dewasa begitu penasaran dengan apa yang diobrolkan oleh bayi-bayi super itu. Terlebih ada ketua mereka di situ.
__ADS_1
"Ata' Spy ... padhi pihat Om Pahlan yan biatin lamudali syantit padhi eundat?" tanya Azha dengan nada tak suka.
"Eundat eh enggak, kan kita di kulsi yan peda," jawab Sky.
"Atuh pihat!" sahut Harun yang memang bersebelahan dengan Azha.
Sedang Bariana, Arraya dan Arion hanya menyimak karena beda kursi. Azha masih kesal.
"Memang tenapa baby?" tanya Domesh mulai terkontaminasi bahasa bayi.
"Om Pahlan lilit-lilit Ata' lamudali syantit ipu, badahal atuh budah puluan woh bihatna!" sahutnya kesal.
"Memana tenapa talo Om Bahlan lilit-lilit Ata'lamudali?" tanya Arraya bingung.
"Pidat poleh !" seru Azha protes.
"Memana talo tamu puluan mawu napain?" tanya Arion kini.
Kali ini Azha yang diam. Ia juga tak tau apa yang ia lakukan karena ia yang pertama melihat pramugari cantik itu.
"Atuh tan syuta!" sahutnya masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Talo tamu syuta tlus Ata'lamudali ipu syuta judha eundat?" tanya Bariana kini.
"Padhi Ata' lamudali pilan atuh baby danten!" jawab Azha, "pelalti Ata' syuta don!"
"Temalin Ata' Izah pilan tamu danten judha, telus Ata' yan jadha pensin judha pilan, ipu beulalti Ata' ipu meunholmati tamu," lanjutnya.
"Nah ipu beulneul!" sahut Harun membenarkan.
"Meulata tan halus lamah talena peuteljaan, butan beditu Ata'?" lanjut bayi bermata biru itu.
Azha menggaruk kepalanya hingga rambutnya berantakan. Bayi itu masih yakin jika semua gadis cantik pasti menyukainya.
"Basti Ata' Spy pilan beditu talena eundat lada yan pilan baby danten!" ujarnya berasumsi.
"Tata spasa, banat tot yan pilan beditu!" seru Sky tak terima.
"Hei ... kenapa ribut?" Rion masuk menyembulkan kepalanya di pintu.
Para bayi diam. Rion menanti, karena tidak ada yang berdebat lagi, ia menutup pintu.
Semua kesal pada pemuda itu. Bart, Bram, Kanya, Terra dan semua orang dewasa ingin mendengar perdebatan tak bermuara itu.
__ADS_1
"Baby," keluh semuanya.
"Ayo bobo semua, nanti pada sakit karena masuk angin!" titah Rion enteng.
Semua mencebik kesal. Rion mendorong satu persatu bahu para orang dewasa yang masih mau menguping pembicaraan para bayi perusuh itu.
"Jangan nguping pembicaraan orang lain!" tegur pemuda itu sok bijak.
"Baby!" semua memperingati bayi besar itu.
Rion terkekeh mendengarnya, walau akhirnya semua menurut perintah Rion agar para orang tua beristirahat. Sepertinya para perusuh itu juga sudah tidak lagi bersuara. Rion membuka pintu lagi, semua tampak tertidur saling menindih satu dengan lainnya.
Rion masuk dan membenahi mereka, bayi dimasukkan dalam boks masing-masing. Sky dan Domesh masih muat dalam boks. Pemuda itu menciumi para perusuh penuh kasih sayang.
"Met bobo babies," gumamnya sambil tersenyum.
Sore hari mansion besar itu penuh dengan suara para perusuh yang bernyanyi. Tentu Laberta tak mengerti apa yang dinyanyikan para bayi, tapi ia tertawa karena ia memang merasa lucu.
"Pita mawu selan nini pua ... pati tatut," bisik Azha.
"Eundat pa'a-pa'a, pial nini beultawa," ujar Harun.
Berita kedatangan Dougher Young memang menggemparkan. Mansion mewah itu makin ketat penjagaannya. Terlebih tak bisanya para paparazi memotret ke dalam bangunan dengan tembok tinggi dan kokoh itu. Para bodyguard telah memasang kaca pemantul cahaya, jadi para pemburu foto itu tak bisa membidik atau menjepret gambar apapun di sana.
"Sial penjagaannya ketat!" dumal paparazi.
"Benar sekali, memang penjagaan mansion sangat ketat dari biasanya,” ujar salah satu paparazi.
Mereka pergi dengan tangan kosong. Para pemburu berita sering mengintip dan memandang mansion mewah itu dan memberikan keberadaan empat keluarga besar dengan kekuasaan bisnis yang tidak main-main.
Labertha menghela napas ketika mendengar laporan dari ketua pelayan. Wanita tua itu masih kuat posisinya dalam kancah perbisnisan. Namanya masih sangat dihormati oleh para pebisnis lain.
"Katakan pada para pemburu berita, akan ada konferensi pers. Aku akan mengumumkan seluruh keturunanku!" titahnya.
"Baik Nyonya Besar!" sahut seorang pria membungkuk hormat.
Labertha mengangguk dan menyuruh ajudannya itu pergi. Wanita itu kembali meneropong apa yang terjadi di luar. Ia menggelengkan kepalanya dengan usaha para pemburu berita itu.
"Gigih sekali mereka!" seru mereka.
Walau ia memuji kecerdasan para bodyguard yang kembali mematahkan usaha mereka untuk memfoto mansion miliknya.
"Tak salah Savelived memperkerjakan pria-pria pintar di sana," pujinya.
__ADS_1
Bersambung.
next?