SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HEBOH


__ADS_3

Pertengkaran itu tentu membuat seluruh bayi heboh. Para pengawal hendak menutupi mata suci mereka dengan menghalangi pandangan semua bayi.


"Apah mindhil!" pekik Zaa marah.


"Babies ... ayo masuk!" ajak Seruni.


"Katanya mau nengok Ibu!" lanjutnya.


"Banti pulu Mami ... piluan lada yan selu!" tolak Aaima.


"Nia ... kasihan Lita, putri kita!" teriak pria yang berseteru dengan istrinya itu.


Exel kesal karena tampaknya sepasang suami istri itu tak kenal lokasi. Memang pagar rumah orang tua dari putri bukan tembok tinggi tetapi pagar besi yang tentu semua orang di dalam dapat melihat keluar begitu juga sebaliknya.


"Pak Bu, tolong jangan ribut di sini!" peringat Exel.


Pria itu membawa sang istri masuk dalam rumah. Wanita itu tampak menangis. Hingga semua jalanan yang tadi ramai orang sibuk menonton drama gratis, jadinya kembali lengang.


"Ayo Babies!" ajak Seruni lagi.


Akhirnya anak-anak masuk walau masih heboh dengan kejadian di luar lagi.


"Ini masih mending Bu," ujar Maria pada Nania, ibu dari Putri.


'Domesh, Bomesh dulu juga menelan mentah-mentah keributan apapun yang ada di sekitar rumah. Kami dulu tinggal di padat penduduk," lanjutnya.


"Aaima dan Zizam suka terbangun jika ada tetangga ribut. Makanya Jac jarang membawa anak-anak main begitu juga Septian," jelas Nania.


Setelah menjenguk dan mencium Putri. Semua anak-anak keluar kamar. Jac mengikuti mereka.


"Ma, bawa apa?" tanya pria itu.


'Ini bawa makanan. Kami harap kamu tak keberatan jika semua anak-anak nanti akan kemari," ujar Terra.


"Nggak masalah Ma!" sahut Jac cepat.


"Putri sepertinya kelelahan ya?" Jac mengangguk.


"Iya Ma," jawab Jac.


"Ya sudah, biarkan dia istirahat ya," ujar Terra.


Jac mengangguk. Anak-anak memilih duduk di lantai mereka mengobrol. Para bayi dan balita bercampur bahasa mereka.


"Izam suta pihat yan padhi?" tanya Izzat.


"Talo tesyini aja sih!" jawab Zizam santai.


"Yan palin selin wowan palotean!' lanjutnya.


"Basti banyi dandut!' sahut Maryam menerka.


"Biya ... ladhuna banat woh!" sahut Zizam lagi.


"Meuleta padhi sadhi beulselai pidat ya?" tanya Aaima tiba-tiba.

__ADS_1


"Tata Mama selai ipu sesenis pumpu dapul!" sahut Lilo.


"Pati teunapa dala-dala pumpu dapul meuleta beulantem tayat dhitu?" tanya Maryam tak mengerti.


'Sudah ... janan omonin wowan tuwa ... pidat bait!" sahut Della.


"Ata' basa pidat peusanalan?" tanya Fathiyya menyindir.


"Butan peunasalan. Pati meuleta padhi beulantem tan?" semua mengangguk.


"Nah itu altina ada sesuatu yan pidat pait teulsadhi!" lanjutnya.


"Meuleta basti bunya basalah seundili!'


"Tundhu pulu Ata' ... Mama pama Papa eundat peulnah beulantem tayat dhitu woh!" sahut Al Bara mulai mendebat.


"Papa Mama judha wowan puwa tan? Pa'a meuleta pidat buna basalah?" lanjutnya mengintrogasi.


"Pestiap wowan puwa basti meumiliti sala teulsendili ... pita nanat teusil pidat atan meunelti!" jawab Della begitu bijak.


Nania tersenyum. Della menjadi penengah bagi pada bayi yang super kepo dan heboh itu. Walau kadang dia juga suka ikut-ikutan jika rasa penasarannya tak terobati.


"Pati Ata' ... tatana wowan pewasa ipu pisa pijatsana talam beulenesaitan basalahna? Walu teunapa meuleta basih laja bibut?" tanya Fatih kini.


Della menggaruk kepalanya, Luisa mencium bayi itu. Dua bayinya tengah asik mendengarkan kakak-kakaknya beradu argument.


"Della benar sayang. Setiap orang dewasa pasti memiliki cara sendiri untuk membuat mereka dewasa. Kami tidak pernah memperlihatkan pada kalian jika kami tengah berseteru," jelas Luisa.


"Pa'a Netnet suta bibut dala-dala pumpu dapul?" tanya Arsh bingung.


"Kok bumbu dapur baby?"


Luisa tersenyum lebar. Ingin ia jelaskan tetapi, ia rasa tak perlu. Anak-anak akan terus bertanya karena rasa penasaran mereka yang begitu tinggi.


"Atuh peunasalan woh!' sahut Dita tiba-tiba.


"Peunasalan teunapa Paypi?" tanya Seno.


"Beumana teunapa meuleta suta seutali pilan selaitan atuh? Badahal selai ipu lada di dapul tan?"


"Ata'!" Zaa datang entah dari mana.


Bayi cantik itu membawa serai. Rupanya bayi cantik itu bertanya perihal bumbu dapur dengan sebutan "selai".


"Tata Mbat Neno imi banana selai!' ujarnya.


"Banya talna imih?" tanya Aisya setengah tak percaya.


Semua ibu tersenyum lebar. Anak-anak lain berdatangan. Rumah besar itu jadi ramai manusia.


"Ata'!' seru Chira melempar sendok pada Kean.


"Apa aunty baby?" goda pemuda berusia dua puluh satu tahun itu.


"Jangan goda bibi kecilmu sayang!" peringat Khasya.

__ADS_1


Kean cemberut, ia memang suka menggoda bibi dan paman kecil mereka itu.


"Amah ... Vava au loti dolen don!" pinta Alva pada ibunya.


"Bibu sayang, bukan Mama!" ralat Dinar.


"Pa'a pedana Bibu?" tanya Della.


"Tidak ada tapi, Bibu ya jangan Mama,'' pinta Dinar lagi pada salah satu putranya itu.


Alva mengangguk, ia memang suka memanggil ibunya dengan sebutan lain dibanding Bibu.


Usai makan siang anak-anak pulang, Aaima dan Zizam tentu ikut semua saudara mereka. Jac malah membiarkan dua anaknya ikut dibanding tinggal di rumah.


"Bang!" rengek Putri.


"Sayang ... itu lebih baik dibanding mereka menonton drama gratis dari tetangga kita!" ujar Jac lagi.


Putri menghela napas panjang. Wanita itu jika sakit berada di rumah ibunya karena Jac tak bisa mengurusnya.


Di dalam perjalanan pulang anak-anak bernyanyi.


"Janan peulnah tatatan pahwa sintatuh banyalah puntutmu ... jita tau peulnah membadhina ...."


"Tu meyanis ... peumpayantan ... peutapa tesamna dilimu pada dlituh ... tauw duwa tan sintah imih ... tauw peuldhi peulsamana .. huwwwooo ... tu beunayis ....!"


Nyanyian anak-anak jadi obat penghibur para orang tua. Dari jaman Domesh masih bayi lagu itu sering dinyanyikan


Mansion Herman jadi tujuan mereka. Pria itu akan berembuk dengan para orang tua untuk mengikat Adiba.


"Adiba sudah lulus, usianya juga sudah matang. Aku akan melamar adikmu untuk jadi menantuku Azizah!" ujar Herman.


Azizah diam, Adiba memang sudah berusia delapan belas tahun, Ajis berusia enam belas tahun. Remaja itu sudah bisa jadi wali kakaknya nanti.


"Kami akan mempersiapkan semua Ayah!" sahut Rion menimpali.


"Baik, Ayah akan lamar Adiba setelah kelulusannya dua bulan mendatang ya!' ujar Herman. lagi.


Azizah mengangguk. Adiba hanya mengikuti kemauan semua keluarga. Ia telah benyak berhutang budi pada keluarga ini.


Cincin yang mengikatnya kini berpindah di jari manisnya. Satrio telah menggantinya dengan yang baru.


"Baby Satrio juga sedang banyak pekerjaan!" sahut Virgou.


"Aku mau dia mengurus semuanya sampai selesai!' lanjutnya.


Herman hanya menghela napas panjang. Pria itu mengangguk. Virgou juga sudah pensiun. Ia menyerahkan semua pekerjaan pada Satrio, David, Fabio dan Pablo.


"Oh ya ... bagaimana dua kembar tak sedarah itu ... apa berhasil mendekati kepala sekolah anak-anak?"


Virgou hanya diam, pria itu tak bicara banyak tentang dua anak buahnya itu.


"Nanti saja ... biar mereka sendiri yang cerita," ujarnya menjawab.


Bersambung.

__ADS_1


Eh ... masih ada toh? Ya kan belum 600 episode?'


next.


__ADS_2