SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ATHENA DEWI


__ADS_3

Dewi mempersiapkan keberangkatannya ke Rusia. Gadis berusia delapan belas tahun itu sangat cantik dengan rambut kemerahan, wajah Herman tercetak jelas di sana.


Exel menatap gadis itu penuh kekaguman. Gomesh ingin sekali mencongkel mata gelap milik pria tampan yang berusia dua puluh tahun itu.


Exel, pemuda tampan yang juga seorang CEO di sebuah perusahaan tambang di negara Afrika. Memilih merantau ke Indonesia bersama pamannya yang bekerja di perusahaan tambang permata milik Dougher Young.


Pemuda itu langsung melamar pekerjaan sebagai pengawal karena memang mengincar gadis-gadis cantik anak-anak pengusaha kaya raya itu


Dewa menatap pemuda yang memandangi adik kembarannya itu. Exel tentu langsung menunduk.


Dewa adalah remaja paling diam dibanding duo R. Rasya dan Rasyid masih mau beraksi. Sedang Dewa langsung bertindak tanpa mau merepotkan orang lain.


"Mau apa Pa?" tanyanya.


"Mau adikmu Baby," jawab Exel berani.


"Ck ... emang kamu punya apa?" tentang Dewa.


Exel diam, untuk pertama kalinya ia mendapat tekanan begitu besar dari Dewa. Remaja pria dengan tinggi 178cm. Kulitnya bersih berbeda dengan Dewi yang sedikit eksotik. Tinggi Dewi pun hanya sampai 169cm tak tinggi-tinggi. Sedang Kaila langsung melesat di 172cm.


"Dew ... ada yang mau sama kamu," ujar Dewa masih menatap Exel tajam.


"Bilang Ama yang suka aku Mas. Jangan ngarep!" sahut Dewi pedas.


"Kalau begitu Nona Ila ...."


"Kau mau kubunuh?" ancam Affhan tentu saja.


"Ih ... Ila belum mau nikah cepat ... Ila mau jadi kek Mama Terra!" sengit remaja cantik itu.


"Lagian Papa kok plin-plan sih. Mau Ama Bu'lek tapi mau juga Ama baby Il?!" sengit Rasya.


"Coret jadi mantu Yah!" seru Dewi santai.


Herman menghela napas. Exel hanya menunduk, ia lupa berhadapan dengan singa betina keluarga itu.


"Ayah," sesal pemuda itu.


Herman menepuk bahu pemuda itu. Ia juga kesal mendengar perkataan Exel yang cepat berpaling.


"Kami menganut kesetiaan Exel. Kau bisa tanya semua pria yang beristri di sini. Jika ia memilih satu gadis, maka hanya satu gadis itu yang ia incar," jelasnya.


"Baby ... nanti kau akan dikawal oleh Tiana ya!" ujar Herman.


"Iya ayah!" angguk Dewi setuju.


"Nanti dia datang, Sintya ... kau urus anak buahmu! perintah Herman.

__ADS_1


Sintya mengangguk, ia adalah kepala pengawal wanita di mansion pria itu. Satrio sedang merusuh bersama bayi-bayi lainnya.


Arimbi tengah dipangku sang suami yang mengelus perutnya yang belum kelihatan bentuknya.


"Dewi jaga diri ya Nak! ingat di atas langit masih ada langit!" peringat Dahlan.


"Iya Abi!" ujar Dewi menurut.


Gadis itu bertanding di kelas 60kg. Ia sudah memasuki perempat final. Lawannya adalah tuan rumah langsung.


"Lawan Dewi adalah Serena Levinsky, atlet peraih medali emas olimpiade dan juga bela diri tunggal," ujar gadis itu.


"Sayang, kau juga pemegang medali emas tahun lalu. Kau tak ikut tahun ini karena ujian," ujar Demian.


"Dew hanya menang selisih angka, dia kuat!" keluh gadis itu.


"Sudah ... yang paling penting. Kau membawa nama Indonesia di sana. Apapun yang telah kau perbuat, itu sudah membanggakan kami!" ujar Herman.


"Iya sayang, kau sering bertanding dengannya. Kau pasti menemukan kelemahannya," ujar Andoro.


Dewi mengangguk, ia sudah berlatih keras untuk itu. Gadis itu tidak mau pulang dengan tangan kosong.


Kejuaraan dunia yang baru pertama ia ikuti itu membuat adrenalinnya terpacu.


"Apa tak ada Daddy, Papa yang ikut Dew?"


"Ayah takut melakukan sesuatu jika memaksa ikut," Dewi tersenyum.


Gadis itu juga akan jadi grogi jika salah satu ayahnya ikut. Maka yang ikut hanya Tiana.


"Ayah ...Tiana sudah hadir!' lapor Brandon.


Seorang gadis cantik bertubuh tinggi hadir. Ia membungkuk hormat di depan Virgou, Bart dan Herman.


"Kau sudah siapkan pasport dan visamu?" tanya Virgou.


"Sudah Ketua!" jawab gadis itu masih membungkuk.


Faza merangkak dan berhenti di bawa tubuh melengkung gadis yang baru datang.


"Amuh spasa?" tanya bayi cantik itu.


Senyum lebar langsung terukir di bibir Tiana. Gadis itu memang sangat menyukai anak-anak, terlebih ia adalah anak sulung dari empat bersaudara. Tiga adiknya juga masih kecil. Tiana juga baru berusia dua puluh tahun.


"Assalamualaikum baby," sapanya ramah.


"Tegakkan tubuh Tiana. Kau boleh pergi ke kamar Dewi dan kau mengurusi dia besok!" perintah Herman.

__ADS_1


"Ayo sayang," ajak Khasya.


Tiana mengangguk, ia mengikuti langkah wanita yang ia dengar rumornya sangat baik hati itu.


"Ini kamar Dewi, kau boleh tidur di bawah ranjangnya, itu dobel bed ya!" ujar Khasya.


"Iya Nyo ...."


"Panggil aku bunda!" perintah Khasya lembut.


Netra lembut Khasya menenangkan Tiana. Gadis itu langsung teringat ibunya.


"Ini adalah perjalanan pertamamu kan sayang?" Tiana mengangguk.


"Tenang lah Nak. Dewi bukan gadis pembangkang. Terlebih kau lebih tua darinya," ujar Khasya menenangkan Tiana.


Gadis itu mengangguk tanda mengerti. Lalu ia membawa kopernya ke dalam kamar.


"Ibu ... tenang-tenang ya di sana. Kita kan memulai semuanya dan membuktikan pada mereka jika kita bisa!" ujarnya bermonolog sambil mengusap foto.


Satu wajah wanita tua dan tiga adik yang masih balita. Hidup di bawah garis kemiskinan. Tiana sekolah dengan beasiswa. Mendapat satu tawaran menjadi pengawal wanita di sebuah perusahaan dengan bayaran fantastis.


"Ini bayaran Tia untuk pertama kalinya. Bayar semua utang, sisanya bisa bayar sekolah adik-adik Bu!" ujarnya ketika mendapat bayaran pertama.


"Nak ... ini banyak sekali!" ujar sang ibu takjub.


"Tidak apa-apa Bu. Tia bekerja untuk kita bangkit lagi!"


"Kak?!" Tiana menoleh. Lamunannya buyar seketika.


Dewi masuk, Tiana berdebar ketika berhadapan dengan nona mudanya itu. Tatapan tajam Dewi dan ketenangan remaja itu membuat siapapun akan berpikir dua kali untuk mengganggunya.


"Aku Dewi, kakak boleh perkenalkan diri?" tanya Dewi lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Sini Kak!" ajaknya lalu menepuk sisinya.


"Kita kenalan dulu biar nggak slek ya!" ujar Dewi berseloroh.


Keduanya berkenalan, di sana Dewi dapat melihat lagi seorang anak yang menjadi korban ketidakpuasan seorang ayah.


"Jadi ayah kakak pergi demi pelakor?" Tiana mengangguk.


"Tenang kak, jangan menangisi manusia!" ujar Dewi.


"Manusia itu tak pantas di ratapi. Tetapi buktikan pada mereka. Jika kamu bisa berdiri sampai akhir!" semangat Dewi lagi.


Bersambung

__ADS_1


next?


__ADS_2