SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
ATHENA DEWI 2


__ADS_3

Dewi berangkat hanya berdua saja dengan Tiana. Herman benar-benar melepas putrinya. Khasya memeluk Dewi dan menciuminya.


"Jaga baik-baik dirimu Nak. Jangan lupa sholat dan jangan sombong. Ingat kata abimu, di atas langit ada langit,"


Dewi mengangguk, gadis remaja itu tenggelam dalam pelukan hangat ibunya. Jangan tanya Herman ada di mana. Pagi-pagi buta ia dan Kean sudah pergi ke luar kota.


Kean benar-benar menyita perhatian pria tua paling di sayang di sana. Satrio juga sudah pergi karena Virgou menyuruhnya, bayi raksasa itu pergi bersama Pablo dan Gomesh.


Dewi pergi berdua bersama Tiana, supir mengantar mereka ke bandara pribadi milik Bram. Sampai di sana, ternyata Virgou dan Bram juga Bart serta Kanya hadir.


"Daddy, Grandpa, Kakek, Oma?" Dewi tersenyum lebar.


Gadis itu langsung berada dalam pelukan Virgou. Pria yang juga ikut membentuknya. Tentu saja, sebagai mafia yang pasti tau bagaimana bakat seseorang.


"Daddy ikut?" Virgou hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dewi.


Dewi merengek manja. Kanya mencium gemas gadis paling kuat dan paling berani dalam mengambil keputusan sendiri itu.


"Kau berbeda dengan anak-anak lainnya sayang. Kakek mau kau juga jadi penerus perusahaan Kakek!" ujar Bram.


"Enak saja, aku sudah mencalonkan dia jadi CEO di perusahaanku Pa!" putus Virgou.


"Dia akan jadi penerus BlackAngel ku!' lanjutnya tegas.


"Anak sialan. Kau mau buat dia jadi mafia sepertimu?!' teriak Bart kesal.


"Iya lah ... dia harus jadi yang terkuat. Semua anak-anakku memang kuat, tetapi Dewi adalah harapanku meneruskan pergerakan dunia bawah tanah," jelas Virgou.


"Athena BlackAngel!" lanjutnya sambil menyemat nama dunia hitam putri dari pamannya Terra ini.


Dewi tersenyum, ia memang akan terjun langsung ke dunia yang membesarkan nama salah satu pria kebanggaannya itu.


"Dewi mau seperti Daddy dan Ayah!" ujarnya tegas.


Tiana yang ada di dekatnya merinding ketika Dewi mengatakan keinginannya. Baru kali ini sebuah aura begitu kuat dan sangat mendominasi ia rasakan.


"Daddy hanya ingin kau jadi dirimu sendiri baby," ujar Virgou lembut.


Gadis itu pun berangkat dengan pesawat pribadi bersama Tiana. Bart menepuk bahunya Virgou.


"Boy ... kita susul yuk!' ajaknya.


"Oteh!' angguk Virgou.


"Ikut!" sela sepasang suami istri yang sudah lanjut usia itu.


"Ah ... Oma jangan lah ... nanti nangis pas Dewi kena pukul lagi!" larang Virgou sambil mencibir.


"Nanat sisilan!" geram Kanya.

__ADS_1


Virgou tertawa mendapat pukulan gemas itu. Akhirnya empat orang itu menyusul Dewi ke Rusia.


Sampai di negara pecahan uni Soviet itu hari telah malam. Dewi dan Tiana disambut wakil duta Indonesia. Mereka langsung dibawa ke sebuah hotel bintang dua.


Jangan harap fasilitas terbaik, Dewi hanya sebagai peserta yang tak dijagokan bahkan dengan bangsanya sendiri. Gadis itu seperti mengangkat bendera sendirian di rumah orang.


"Kak!" panggilnya pada Tiana.


"Ya Nona Baby!" Dewi berdecak mendengar panggilan itu.


"Kakak harus buktikan pada ayah kakak, jika kakak baik-baik saja tanpa dia!" ujar Dewi tegas.


"Kakak hanya butuh dia sebagai wali nikah saja," lanjutnya.


"Apa bisa? Ayah ... eum ... maksud Pak Pram tak mau tau dan tak mau diganggu bahkan jika menikah nanti. Kakak disuruh cari wali hakim," tanya Tiana.


"Ah ... kalau begitu santai saja!" sahut Dewi.


Ia menggandeng pengawal baru itu. Tubuh Dewi memang lebih pendek dari Tiana. Namun sikap dan pembawaan Dewi yang dewasa karena ia adalah seorang Bu'lek.


Sampai di hotel yang jauh dari terkesan mewah. Mereka turun dan lalu dibiarkan begitu saja oleh duta.


"Apa seperti ini pelayanannya?" Dewi tertawa lirih mendengar pertanyaan bodyguardnya itu.


Setelah mereka check in. Dewi sholat isya yang nyaris tertinggal lalu ia tidur.


Pukul 09.00 setempat keduanya pergi ke sebuah gedung. Ternyata bukan hanya Dewi yang tinggal di hotel itu tapi beberapa kontingen lain yang sama besar peluangnya untuk kalah.


Mereka sampai pada sebuah gedung besar dengan berbagai atraksi seni. Tiana didaftarkan sebagai pelatih dari Dewi. Karena Dewi memang mendaftar sebagai tim independen atau hanya seorang diri tanpa mengangkat satu Dojo tertentu.


Sampai di dalam, mereka duduk di kursi-kursi berderet. Rombongan negara yang tak dijagokan ada diurutan paling belakang.


"Selamat pagi penggiat olahraga bela diri seluruh dunia! Selamat datang di acara pertarungan murni peringkat master bela diri satu-satunya!" seru pembawa acara tentunya dalam bahasa Rusia.


Rombongan atlet tuan rumah berada di urutan terdepan berjajar dengan rombongan terkuat, seperti China, Korea dan juga Amerika serta Eropa.


Dewi berada di urutan paling belakang bersama negara timur tengah lainnya juga Afrika.


"Hai!' sapa salah satu peserta di sebelah Dewi.


"Hai!" sahut Dewi.


"Where are you from?" tanya peserta berjenis kelamin laki-laki itu.


"I'm from Indonesia, how about you?" jawab Dewi sekaligus bertanya.


"I'm from west Afrika!" jawab pria itu.


"Really?" tanya Dewi tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau heran orang Afrika berkulit putih?" tanya pemuda tampan itu. (Othor ganti bahasa jadi bahasa Indonesia ya).


"Ya ... with your green eyes? Aku nggak percaya kamu dari Afrika!" jawab Dewi.


Pemuda itu menatap gadis yang sangat menarik perhatiannya. Aura Dewi begitu kuat walau duduk bersama mereka. Bahkan beberapa kali kamera menyoroti wajah cantiknya.


Acara pun dilanjutkan dengan acara makan bersama. Lagi-lagi tim dari negara yang tak dijagokan berada di deretan paling buruk view-nya, walau tetap dalam satu gedung.


"Ck ... apa kami memang benar-benar kalah?" decak kesal beberapa kontingen peserta.


"Memang tujuannya itu!' sahut Dewi.


Semua menoleh pada Dewi. Mereka penasaran kenapa Dewi bisa berkata itu.


"Apa ... apa kau mencium suatu kecurangan terselubung di sini?" tanya salah satu perempuan bertubuh tinggi.


"Tentu saja!' angguk Dewi.


"Mereka menekan mental kita dari awal agar menyerah karena tak dianggap sama sekali!" lanjutnya.


Semua tentu mendengarkan gadis itu serius. Dewi tentu menggunakan bahasa umum yakni bahasa Inggris. Beberapa peserta yang tidak mengerti menggunakan alat translate yang disediakan.


"Ah ... aku yakin itu!' sahut lainnya setuju.


"Kita ditekan dengan didudukkan urutan paling belakang! Hanya melihat kemeriahan dari jauh dan ditempatkan di hotel yang jauh dari kesan mewah!" lanjutnya.


"Aku menginap di losmen!" celetuk salah satu peserta.


Semua tertawa lirih, mereka tiba-tiba menguatkan satu dan lainnya.


"Well biar saja. Kita beri perlawanan yang luar biasa. Walau kita kalah, tapi mereka pasti tak akan menang mudah!" sahut Clark, peserta dari Zimbabwe.


Pria berkulit hitam pekat itu mengingatkan Dewi pada salah satu sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam yakni Bilal bin Rabah al-Habasyi.


"Nanti malam kita berjuang. Kalah tanpa muka atau kalah dengan bangga!" ujarnya lagi.


"Jangan begitu motivasinya!" kilah Dewi tak setuju.


"Datang bawa muka, pulang bawa piala!" lanjutnya semangat.


"Ayo kita berjuang sampai titik darah penghabisan!" seru lainnya lagi.


Semua menumpuk telapak tangan mereka. Lalu sama-sama mengangkat ke atas dan berteriak.


"Kita menang!"


bersambung.


Datang bawa muka, pulang bawa piala!

__ADS_1


bravo baby Dew!


next?


__ADS_2