
Hari beranjak malam. Semua anak sudah mulai kelelahan dan tidur di kamar mereka masing-masing. Para orang tua berkumpul di ruang tengah.
"Ma, Pa ... semuanya. Raka tidur duluan ya," pamit pria itu.
"Iya sayang, istirahat lah!" ujar Dominic.
Pria itu mengajak istrinya masuk dan istirahat di kamar. Virgou masih betah duduk dan melihat acara televisi. Melihat perkembangan ekonomi Eropa yang begitu-begitu saja.
"Ck ... nggak ada yang seru," celetuknya bosan.
"Berita kini tak seperti dulu. Media lebih sering meliput skandal dibanding peristiwa ekonomi. Seperti kemarin pemerintah mengalami inflasi besar akibat gempa bumi yang terjadi di dua negara sekaligus," sahut Dominic.
"Mereka protes ketika tiba-tiba semua tarif instalasi listrik, bahan bakar minyak merambat naik," lanjutnya.
"Ya, kalau sudah begitu kita harus lebih keras bekerja," sahut Haidar.
"Sebenarnya kenaikan harga-harga memang memberatkan. Mestinya dari sekian dolar kita bisa mendapat tiga barang, kini hanya satu saja," sahut Bram.
"Ya ... mau diapakan lagi. Dunia makin modern. Kebutuhan pokok makin tinggi. Tapi yang kita kembangkan justru industri benda bukan bahan ... tunggu dulu," tiba-tiba Virgou menghentikan perkataannya.
"Ah ... kenapa kita tak memproduksi barang kebutuhan pokok saja ketimbang menghadirkan produksi benda?" melintas ide brilian di otak pria beriris biru itu.
"Kau benar juga ya, tapi apa kita bisa?" tanya Bram.
"Masalahnya di sini semua berbekal pendidikan bisnis sekunder bukan primer," lanjutnya.
"Kan banyak lulusan pertanian, pertambangan, perminyakan, peternakan," sahut Virgou enteng.
Terra, David, Haidar dan Seruni tersenyum mendengarnya. Lastri dan Najwa menjadi pendengar setia.
"Berarti kita harus mencari tanah atau sawah yang dijual, jika ingin padi dan memperkejakan petani dengan bayaran yang sesuai UMR dari pemerintah!" sahut Frans.
"Ya, kita juga bisa membeli tanah untuk menanam semua bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat," kini Leon yang bersuara.
"Indonesia memiliki tanah yang sangat subur, sepertinya kita tak perlu khawatir tentang hal itu. Terlebih memelihara hewan juga tak sulit di sana," ujar Bram menimpali.
"Kau genius sekali melihat peluang," puji Dominic.
Virgou hanya nyengir kuda. Pria itu terkekeh dan mulai bertingkah menyebalkan.
"Jangan menyebalkan Virgou!" bentak Herman marah.
Virgou cemberut. Pria itu memang suka sekali jahil dan menggigit gemas bahu pria tua itu.
"Itu tanda aku sayang padamu ayah!" seru pria itu.
"Kalau sayang itu aku dicium, bukan digigit!" sentak pria itu kesal.
"Oh ... baiklah, sini kucium!" ujar pria itu mulai memonyongkan bibirnya.
Herman kesal melihat tingkah pria beranak enam itu. Virgou berusaha keras mencium paman dari Terra itu sedang Herman mendorong kuat tubuh pria yang memeluknya erat.
"Ah, aku bantu kau mencium ayah!" seru David ikut memonyongkan bibirnya.
"Kalian gila!" pekik Herman.
__ADS_1
Cup! Dua bibir mendarat di pipi keriput Herman. dua pria bermanja padanya. Bart, Leon dan Frans jadi iri melihatnya.
"Kalian ini," gerutu ketiganya.
"Hei, sepertinya ada yang iri," sahut Najwa.
Virgou dan David bangun dari pelukan Herman. Pria tua itu menarik lagi dua pria dan memeluknya.
"Abaikan mereka ... abaikan mereka!" ujarnya.
"Herman!" seru Bart jadi kesal dengan pria tua itu.
"Ah, Grandpa juga mau dicium," ujar Demian lalu merentangkan tangannya.
"Jangan gila kau Demian!" seru Bart mulai tersenyum lebar.
Demian dan Darren berdiri mengikuti kelakuan Virgou dan David. Mereka memonyongkan bibir dan mencium pipi Bart.
Semua tertawa melihat tingkah para pria yang sama saja dengan para perusuh.
"Puspita, aku ingin Virgou tidur bersamaku malam ini," ujar Bart.
"Terus Ita bobo sama siapa Grandpa?" rengek wanita itu.
"Kau bisa SMA Harun!" jawab Bart kesal.
"Baby Harun sudah bersama satuannya. Dia tak mau diganggu," rengek Puspita lagi.
"Kalau begitu bawa Aaima bersamamu jika perlu Arsyad sekalian!"
"Kau ada Ditya dan Radit!" seru Bart lagi.
"Daddy, jangan pisahkan aku dengan suamiku!" rengek Puspita.
"Astaga aku hanya meminjamnya semalam saja!" seru Bart lagi.
"Sudah-sudah, ini bawa Aaima bersamamu Kak Ita," ujar Jac menyerahkan putrinya.
Aaima langsung memeluk Puspita erat, bayi itu sudah tertidur. Melihat saudaranya tidur bersama Puspita, Arsyad terbangun dan. ingin tidur bersamanya.
"Mommy ... mommy!"
Akhirnya dengan terpaksa, Aini membangunkan dua adiknya untuk tidur bersama sedang Puspita tidur dengan dua bayi tampan dan cantik.
"Kita bahagia sayang. Tak perlu pusing perkara anak. Arion dan Arraya juga tak mau tidur bersama kita jika sudah ada Harun, Azha dan Bariana," ujar Haidar memeluk istrinya ke kamar.
Terra mengangguk setuju. Tapi ketika di depan kamar, satu stroller berisi tiga bayi terletak di depan kamar mereka.
"Neh!" pekik Maryam memanggil Terra.
"Astaga ada anak bayi dibuang!" seru Haidar kesal.
"Pa ... ma," Darren mendekati dua orang tuanya.
"Titip ya," ujarnya lalu melarikan diri dengan menarik istrinya ke kamar.
__ADS_1
Sepasang suami istri muda itu terkikik geli ketika meninggalkan begitu saja tiga anak kembarnya.
"Astaga ... apa aku terlalu memanjakan mereka, sayang?" ujar Haidar kesal.
Terra langsung mendorong kereta bayi berisi tiga anak kembar yang mulai mengoceh tak jelas. Ketiganya saling berbincang satu dan lainnya.
"Dan mereka belum mau tidur?" keluh pria itu lagi.
Terra menidurkan ketiganya di atas kasur. Memberi botol susu dan menepuk-nepuk paha lalu menciumi ketiganya.
"Sayang," panggil Haidar penuh kekesalan.
"Sudahlah sayang, lihatlah. Te, jadi ingat Darren, Lidya dan baby kita dulu," ujar wanita itu.
Haidar menghela napas panjang. Ia menatap tiga bayi yang asik menghisap botol susunya. Mata mereka perlahan terpejam dan lalu tertidur setelah susu di botol telah kosong.
Terra mengambil perlahan botol-botol susu itu dan meletakkannya di atas nakas. Suaminya telah terlelap, bunyi dengkuran halus terdengar. Terra menatap pria tampan yang selalu ia cintai dengan senyum lebar.
"Dasar pria tua, belaga ingin padahal ditinggal sebentar saja sudah tidur," dumalnya pelan sekali sambil terkekeh.
Wanita itu mencium pelan bibir sang suami dan memagutnya perlahan.
"Jangan memancingku sayang," bisik pria itu.
"Papa belum tidur?" tanya Terra lalu memeluk suaminya.
Perlahan, wanita itu memberikan tanda di leher sang suami hingga pria itu menggeram.
"Ck ... kau sudah membangunkan singa yang tidur sayang," ujar pria itu lalu mencium bibir istrinya.
Perlahan Haidar memasukkan tangannya ke dalam piyama istrinya. Baru saja hendak meremas gundukan yang masih kencang itu. Tiba-tiba ....
"Ehek ... ehek ... ehek!" Maryam merengek.
Tangan Haidar langsung keluar dari dalam dan menenangkan cucunya dengan menepuk-nepuk paha montok bayi cantik itu.
Dua netra saling tatap. Terra tersenyum lebar, ia membuka satu persatu kancing piyamanya.
"Mama memudahkan papa melakukan keduanya," kedipnya menggoda.
"Oh ... Mama jadi makin binal ya ... papa jadi sukaa dan cintaa sekali!" ujar sang pria lalu membenamkan wajahnya di dua gundukan itu lalu memberi tanda di sana secara tiba-tiba hingga Terra nyaris terpekik.
Haidar membungkam mulut sang istri dengan bibirnya. Ia melepas tautannya. Napas keduanya menderu.
"Ba bowu my love!"
"Ba bowu pu my dearest sweet husband,"
keduanya pun kembali berciuman. Malam ini Terra dan Haidar bercinta diselingi menidurkan tiga bayi yang tiba-tiba rewel di tengah-tengah sesi percintaan mereka.
bersambung.
dasar Darren yaaa ...
next?
__ADS_1