SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEHEBOHAN


__ADS_3

"Kak, belum kasih nama?" tanya Adiba ketika menggendong putri dari Demian.


"Belum," jawab Demian.


"Aku nggak tau kasih nama apa," lanjutnya.


"Almeda Mafaza Starlight?" Adiba memberi ide sebuah nama.


"Wah nama yang bagus artinya apa sayang?' tanya Lidya.


"Almeda itu dataran kalau Mafaza itu kesuksesan besar, ada di surah Al Imran ayat 188 dan surah Az Zumar ayat 61," jawab Adiba.


"Baik namanya Almeda Mafaza Starlight, panggilnya Baby Faza!' putus Demian.


Rion tentu mencatat nama-nama itu. Pria itu sangat antusias dengan nama-nama bayi.


"Nama dari Ion kecil dulu sampe Ion punya bayi," kekehnya.


"Banyak ya Mas Baby?" sahut Azizah tersenyum.


"Paling banyak anak Mama karena banyak yang kembar," ujar Rion lagi.


"Nama anak ayah juga banyak!' sahut Azizah.


"Iya!"


"Sudah, jadi kapan kita aqiqah?" tanya Bart.


"Iya, aku juga belum mengaqikah Zora dan Vendra," jawab Andoro.


"Padahal anakmu sudah mau dua bulan loh!" ketus Bram.


"Habis gimana Pa, kan emang aku lupa!" sungut Andoro keki.


Luisa hanya menghela napas panjang. Wanita itu sudah mengingatkan berkali-kali suami. Tetapi Andoro sepertinya sengaja agar tidak melakukannya dengan cepat.


'Lagian pas empat puluh hari lebih satu minggu kok!' tukasnya santai.


Bram berdecak mendengar mertua dari cucunya itu. Akhirnya sepakat meng-akikah bayi baru lahir dua minggu mendatang.


"Jangan lupa mereka juga ya," tunjuk Kanya pada semua perusuh yang tengah bermain dengan bayi yang baru lahir.


"Aaahh!' pekik Ryo.


Plak! Muka Kean kena pukul bayi baru tiga hari itu. Kean tertawa. Ia menciumi lagi bayi galak itu.


"Kau baru tiga hari berani memukul Son of the BlackAngel!' sahut pemuda itu.


"Oeeee!" Ryo menangis hal itu membuat Arsh marah.


"Ata' ... janan dandutin Paypi!"


Arsh menerjang Kean, terdengar gelak tawa dari mulut Arsh karena Kean menggelitiknya.


"Baby turun Baby!' pinta Rosa pada Fael yang tiba-tiba di atas lemari.


Maria mau menangis melihat kelakuan putranya. Entah bagaimana bayi belum satu tahun itu bisa naik atas lemari.


Fio datang mengambil kursi. Belum sempat pria muda itu meletakkan kursi. Fael melompat dan langsung ditangkap oleh Rosa.


Brugh! Aaah! Jeritan banyak orang dan dua orang jatuh dengan bayi di tangan Rosa. Gadis itu berada di atas Fio yang tengkurap.


"Baby!" Gomesh mengambil bayinya.


Lalu Michael membantu dua rekannya yang bertindihan. Rosa meminta maaf pada ketuanya.


'Sudah tidak apa-apa," ujar Fio menenangkan bodyguard cantik itu.

__ADS_1


Dua insan saling tatap. Semua bayi tentu menatap keduanya.


"Ehem!' dehem Remario kesal.


Pria itu belum juga mendapat tambatan hatinya. Sekalinya ia suka seseorang. Ternyata malah masih istri orang.


"Papa nili ya!' ledek Harun.


"Papa nili teumana Ata'?" tanya Maryam.


"Papa lulus tot eundat milin?" lanjutnya mengamati Remario.


Harun yang memang belum bisa menjelaskan tampak garuk-garuk kepala. Balita itu tentu hanya asal bicara tadi.


"Iya ya sayang. Papa kan lurus nggak ngiri atau kanan," ujar Remario tertawa.


Fio dan Rosa langsung pergi dari sana. Dua insan itu diikuti oleh Meghan dan Xiera. Putra Dahlan dan putri dari Felix itu memang tak ada hentinya mengerjai pengawal. Begitu juga Fael dan Angel.


Bayi tujuh bulan itu merangkak cepat. Melewati keduanya hingga Rosa nyaris saja terjatuh jika saja Michael tak menahan laju rekan sekerjanya.


"Mama ... Papa Cicel sasalan!" adu Fatih.


"Saya tidak ...."


"Papa Cicel!" amuk Angel.


Padahal pelaku utama yakni Xiera dan Meghan tertawa sambil tepuk tangan. Gomesh hanya melongo melihat bayi-bayi ajaib itu.


"Apah ... mih!' tiba-tiba Angel menarik cacing dari tanah yang ada di pot.


Jangan tanya bagaimana bayi itu bisa ada di sana. Pergerakan mereka kadang tidak bisa dilihat semua orang dewasa.


"Kak ... sepertinya harus tambah personil penjaga," ujar Terra pada Virgou.


Pria sejuta pesona itu hanya mengurut pangkal hidungnya. Semua bayi sepertinya sudah terkontaminasi dengan perusuh yang lain.


Akhirnya anak-anak sudah tidur siang. Tak ada lagi yang buat sibuk. Para pengawal tampak berjaga-jaga.


"Iya ... aku suka sport jantung kalo baby udah lari ke kolam," sahut Juan.


"Apa tuan Bram akan marah jika rumputnya kita rusak?" tanya Angga melihat rumput sintetis milik Bram.


"Tunggu tuan muda bangun, kita ajak main gobak sodor!' seru Juan tercerahkan.


"Mainan keras itu?" decak Michael.


"Kau belum pernah kan?" pria itu menggeleng.


"Tapi Tuan Bram udah tidur. Kita rusak saja sekarang!" ujar Exel ikut-ikutan.


"Palingan kita dimarahin dan disuruh ganti kan?' sahut Michael masih ragu.


"Iya ... tapi kalo melibatkan tuan muda ... pasti selamat!" lanjut Juan.


Juan adalah pengawal seri kedua berbarengan dengan Juno. Pria itu sudah menikah dengan Anyelir anak angkat Herman.


Dahlan datang membawa banyak makanan. Pria itu langsung diberitahu perihal kelakuan putra tunggalnya itu.


"Abi sesekali jagain putranya deh!" keluh Rahma.


"Tidak apa-apa sayang. Berarti dia sama pintarnya dengan kakak-kakaknya," ujar pria itu tersenyum.


Rahma menghela napas panjang. Wanita itu memang kehabisan cara mengajari putranya. Tetapi sepertinya sang putra lebih mirip kelakuannya dengan anak-anak dari atasan suaminya.


"Aku jadi penasaran bayi-bayi itu bagaimana kelakuannya," celetuk wanita itu.


"Pastinya buat kamu lebih banyak mengelus dada sayang," kekeh Dahlan.

__ADS_1


Sementara itu, Nai dan Arimbi baru saja memberi treatment terakhir untuk Zora. Bayi kecil itu kini sama besar dengan bayi lainnya.


Nai mengelus perutnya yang masih rata. Arimbi menatap keponakannya itu.


"Bu'lek juga menantikan itu," sahutnya pelan.


"Usia kita baru sembilan belas tahun. Dulu kata Mama, beliau hamil usia dua puluh," lanjutnya.


"Aku udah program hamil loh. Tapi belum jadi juga," sahut Nai menerawang.


"Sudah ... ikhlas aja. Yang penting udah usaha kan?" Nai mengangguk.


"Lagian, Mama sepertinya belum siap nerima cucu dari kita," ujar Nai lirih.


"Hehehe ... Mama menolak tua sayang," sahut Arimbi terkekeh.


Nai juga terkekeh mendengarnya. Semenjak Maryam, Aisya dan lainnya memanggil ibunya nenek. Semua bayi pun memanggilnya nenek.


"Padahal Mama paling muda di antara semuanya!' kekeh Nai.


"Yuk!" Arimbi mengajak keponakannya itu.


"Kemana Bu'lek?" tanya Nai.


"Kita ke mini market," ajak Arimbi.


"Emang bisa keluar?" tanya Nai yang membuat langkah Arimbi terhenti.


"Bisa lah!" senyum usil terbit dari bibirnya.


"Bu'lek?" Nai tiba-tiba berdebar karena terpacu adrenalin.


"Kita juga bisa berpetualang kan?' bisik Arimbi yang disertai anggukan Naisya.


'Yuk!" ajaknya antusias.


"Sabar ... pelan-pelan aja!' sahut Arimbi menenangkan Nai.


"Kamu jalan duluan ke dapur. Nanti Bu'lek nyusul!" suruh Arimbi lagi.


Nai pun ke dapur, ada Rahma dan Anyelir di sana. Nai biasa manja pada keduanya.


'Bikin apa Mi, Bu?'


"Mau buat bolu pisang sama puding mangga," jawab Anyelir.


"Wah enak dong!"


Arimbi datang, lalu mengambil beberapa sampah di tong. Sunggu perbuatannya tak ada yang curiga.


"Nai ... coba kamu bawa sampah yang itu?!" suruhnya.


"Biar saya aja Non!" seorang maid hendak mengambil sampah di tangan Arimbi.


"Ya sudah, bibi ambil yang ada di setiap ruang, bawa beberapa kawan ya!' perintah Arimbi lagi.


"Baik Nyonya!"


Arimbi dan Nai keluar mansion. Arimbi menghentikan taksi yang kebetulan lewat.


"Aman!" keduanya terkikik geli.


Sementara itu Virgou berteriak.


"Gomesh ... susul dua anak sialan itu!'


bersambung.

__ADS_1


Hadeuh


next?


__ADS_2