
"Uuuuhhhhhh"Santi mengepalkan tangannya.Ia sangat kesal dan gerram sekali dengan kejadian yang baru saja ia alami.
"Apa susuk yang diberikan Mbah Sumi tidak mumpuni?"Pak Sanusi duduk santai melihat tingkah putrinya.
"Bukan begitu Pa,tadi aku hampir berhasil membuat Zul bertekuk lutut di hadapanku.Tapi ada yang mengganggu "Santi menghempaskan pantatnya.
"Kalau gagal coba lagi jangan mudah putus asa,jika ingin menjadi orang sukses jangan pantang menyerah"Pak Sanusi memberikan wejangan.Santi menghela nafas panjang.
"Pa,kalau aku bisa menikah dengan Zul,aku takkan melepaskannya sampai kapanpun"Santi memantapkan niat.Pak Sanusi manggut-manggut sambil tersenyum.
Ia bangga melihat Santi yang sangat ambisius dalam segala hal,seperti dirinya.Kini hanya Santi yang sangat ia harapkan.Karena putranya sudah tiada disebabkan penyakit.
___Malam menjelang,keluarga Prasetyo Adjie berkumpul mengelilingi meja makan.
"Kak,Lusa aku kembali ke USA.Aku harus segera menyelesaikan studiku disana"Soraya mengutarakan niatnya disela ia mengunyah makanan.
"Emmm baiklah,sekarang apapun keperluan kamu harus beritahu aku.Karena kamu adalah tanggung jawabku."Jawab Zulkarnain.Soraya mengangguk.
"Dan kamu bisa beritahu aku juga,aku akan sisihkan gajiku untuk membantu biaya kuliahmu"Andika ikut bergabung dalam percakapan.
"Sebenarnya aku disana juga ambil kerjaan kok,tetap dibidang auditor.Jadi aku bisa mencukupi kebutuhan diriku sendiri"Sanggah Soraya.
__ADS_1
"Uangmu kamu tabung saja,kamu adik kecil kami jadi kami sudah sepatutnya bertanggungjawab"Titah Zulkarnain.Soraya tersenyum,ia sangat bahagia karena sekarang Keluarganya jadi akur.Andai saja Pak Hans masih hidup pasti ia sangat bahagia seperti dirinya sekarang.
"Lisa"Zulkarnain berpaling ke arah putrinya.Lisa mengangkat wajahnya."Andrew tadi ke kantor Ayah,dia meminta berhenti menjadi penjagamu"
"Hah??yang bener Yah"Lisa seperti tidak percaya dengan apa yang Ayahnya katakan.Zulkarnain mengangguk."Dan Ayah mengabulkannya?"
"Yah mau gimana lagi?Apa kalian bertengkar?"Zulkarnain yang memang sudah sangat penasaran sejak siang tadi.
"Ini semua gara-gara Lucy Ayah"
Lucy kaget namanya disebut,semua mata juga mengarah padanya"Kok aku?"
"Kalau kamu nggak deketin Andrew nggak mungkin dia minta berhenti menjadi penjagaku"
"Terus ngapain kalian duduk berdua di atap sekolah?"
"Tanya aja sama dia sendiri,ngapain dia dateng nyamperin aku ke atas"Lucy mulai kesal.
Nouval menarik tubuhnya hingga bersandar ke badan kursi.Ia takut pisau-pisau akan berterbangan jika Kakaknya marah.Laras yang duduk disebelah Nouval tersenyum melihat sikap yang diambil anak ingusan itu.
"Lucy takkan melakukan apapun meskipun semarah apapun dia kepada Lisa"Laras berbisik didekat telinga Nouval.
__ADS_1
"Yang bener?"Nouval juga berbisik ke Laras.Laras mengangguk.
WUSSSSSS
Sebilah pisau melesat cepat dan menancap didinding tepat didepan mata Laras dan Nouval yang sedang berbisik-bisik.Mata keduanya membeliak,Nouval langsung pingsan ditempat.
"Lucy kau ingin membunuhku??"Laras bangkit,ia begitu marah karena nyawanya seperti sebuah mainan bagi Lucy.
"Jangan ikut bicara jika ada orang yang lagi bicara"Lucy balas membentak dengan mata yang bersinar terang.Laras ciut,ia kembali duduk.
Soraya dan Andika yang belum tahu kemampuan sebenarnya keponakannya itu jadi ketakutan.Mereka mematung dengan nafas tertahan dan keringat dingin merembes disela pori-pori.
"Sudah,tolong tenang"Zulkarnain mencoba menengahi."Lucy,duduk Nak"Dengan suara lembut Zulkarnain meminta putrinya untuk tenang.Lucy memakai kacamatanya yang tanpa senjata jatuh,ia mematuhi permintaan Ayahnya.
"Lisa,tolong jangan sembarangan ambil kesimpulan.Belum tentu pendapatmu itu benar"Zulkarnain juga berusaha menenangkan Lisa.
"Terus ngapain dia dan Andrew duduk berdua di atas atap sekolah Yah?"
"Dia ngajak aku ke Pesta Dansa"Lucy menjawab dengan ketus.
"Hah??ngajak kamu?dia kan pasangan aku?ngapain ngajak-ngajak kamu?"
__ADS_1
"Tanya sendiri sama orangnya "
"Ihh kau ni"Lisa geram.Ia bangkit lalu pergi meninggalkan meja makan.Zukkarnain hanya mampu geleng-geleng kepala.