SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
A HAPPY MOMENT


__ADS_3

Harun dan lainnya ngambek. Mereka masih penasaran dengan hewan yang saling menunggangi tadi.


"Yuk, waktunya makan siang!" ajak Haidar.


Kini mereka semua memenuhi rumah makan. Para pelayan sibuk melayani tamu yang rata-rata bule itu.


Anak-anak bayi disuapi oleh para remaja, Azizah menyuapi Aminah dan dirinya sendiri.


"Kak, nanti ke toko buku ya, Ajis buku tulisnya habis,"


"Iya sayang," sahut Azizah.


"Selain buku, apa lagi yang habis. Pensil, pulpen?" tanya Bart.


"Sepatu Amran bolong," cicit bocah itu.


Amran memperlihatkan ujung sepatunya yang sedikit berlubang. Kasus yang menimpa Azizah kemarin membuat ia tak memperhatikan keperluan adiknya. Dinar jadi sedih, mestinya ia yang memperhatikan anak-anak itu.


"Maafin Bibu sayang," ujarnya.


"Loh kok minta maaf Bibu?" tanya Azizah bingung.


"Mestinya Bibu yang memperhatikan keperluan kalian,"


"Sudah tidak apa-apa. Itu sudah menjadi kewajiban Azizah!" tukas gadis itu tenang.


"Habis ini kita ke mall, beli keperluan sekolah semua adik-adikmu Zah!" sahut Rion tak dapat dibantah.


"Tapi ...."


"Zah!" peringat Khasya lembut.


"Jangan menolak ya Nak," lanjutnya.


Azizah pun akhirnya mengangguk. Usai makan mereka bergerak keluar kebun binatang. Semua berceloteh tentang binatang yang mereka lihat.


"Ma ... yan peusal dan lada peulalaina ipu banana dajah ya?" tanya Maryam.


"Benar Baby, nah ... kalo hewan yang hitam putih apa namanya?"


"Wewan daman pulu!" sahut El Bara.


Bart nyaris tersedak mendengar jawaban cicitnya itu. Sementara Dominic tersenyum lebar. Sedang Lidya hanya menghela napas, jawaban putranya itu terilhami dari sang suami, Demian.


"Papa ipu wewan walnana baneh ... pitam syama butih!" tunjuk Al Bara kala itu.


"Ya itu hewan seperti warna televisi jaman dulu, hitam putih!" sahut pria itu jahil.


"Bukan Baby, itu namanya Zebra," sahut Lidya memberitahu yang benar.


"Oh ... debla. Pewan debla ipu teulbasut tuda pa'a tanbin Ma?" tanya Fathiyya kini.


"Termasuk kuda, sayang," jawab Lidya.


"Oh ... bedhitu!" sahut semua bayi kompak.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di mall. Lagi-lagi Reno dan Langit menggandeng Sky dan Bomesh. Dua raja perusuh itu sudah berjalan sendiri entah kemana. Herman sampai mengelus dadanya ketika melihat arah jalan dua anak itu yang berbeda arah dengan mereka.


"Kejar dua perusuh itu!' pekiknya pada pengawal.


Langit dan Reno berlari, keduanya kini sudah ada dalam gandengan dua pria besar itu. Sky dan Bomesh cemberut padahal tadi mereka menemukan benda lucu yang bisa buat hadiah ulang tahun.


"Kak Reno ... kita ke tempat tadi!" tarik Sky.


"Bilang Daddy dulu Baby," sahut pria tampan itu.


"Tuan, Tuan muda Sky ingin ke tempat yang lain, apa diperbolehkan?" tanyanya.


"Kean, ikuti adikmu!" titah pria itu.


"Oteh Daddy!" remaja itu menggandeng adiknya. Sedang Bomesh tentu bersama di mana Sky berada, Reno bersama mereka.


Mereka langsung menuju toko yang tadi ingin dituju oleh dua raja perusuh itu. Sky memilih beberapa barang yang tadi ia incar. Begitu juga Bomesh. Setelah dibungkus cantik. Kedua bocah itu menatap Kakaknya. Kean menghela napas panjang. Ia pun membayar barang yang dibeli oleh dua adiknya itu.


"Ayo kita kembali!" ajaknya.


Kini mereka berjalan mencari keberadaan ayah dan ibu mereka. Para ibu sekalian berbelanja kebutuhan pokok. Terra ingat jika daging di rumah habis.


Setelah membeli keperluan sekolah anak-anak, bahkan Nai merengek minta dibelikan sepatu boots warna pink pada Herman.


"Ayah ... belikan Nai ini,"


"Ambil sayang," ujar pria itu.


"Makasih Ayah!" seru gadis itu mengecup pipi Herman sayang.


Gadis itu menatap pria dari ujung rambut hingga ujung kaki. Reno sangat tersinggung dengan tatapan remeh gadis itu. Hingga.


"Belikan aku itu!" tunjuknya pada sebuah gelang perak dengan liontin bintang. Reno langsung bergegas ke toko itu dan membelinya. Ada satu cincin cantik bergambar hati dari besi monel.


"Ini Nona!" ujarnya.


"Pakaikan, tolong!" pinta gadis itu.


Reno begitu bahagia, ia langsung membuka kotak dan hendak memasangkan gelang itu. Hingga senyum hilang dalam sekejap karena sebuah tangan besar merebut kotak dan mengambil gelang itu dari tangannya. Satu sorot mata tajam milik David menatap pria tampan itu.


"Biar aku yang memakainya, Reno. Terima kasih!"


Reno menelan saliva kasar. Pemuda itu mengangguk hormat dan mundur dua langkah. Matanya memanas, sedang Arimbi hanya tersenyum pada kakak iparnya itu.


Semua pulang, Herman mengantar Azizah dan adik-adiknya ke panti. Sedang yang lain pulang ke hunian mereka masing-masing.


Safitri merebahkan dirinya di atas ranjang. Padahal usia kandungannya sudah memasuki waktu lahir. Tetapi, ia belum juga merasakan kontraksi.


"Baby, kamu kapan keluar?' usapnya pada perut yang besar.


"Uma ... Uma!" pekik tiga bayinya.


Maryam, Aisyah dan Al Fatih, duduk di sisi ibu mereka. Darren pun juga sama. Kini mereka mengelus perut ibu mereka. Seketika perut Saf terasa melilit.


"Uggh!" keluhnya.

__ADS_1


"Sayang?"


"Uma?"


"Mas ... sepertinya kita ke rumah sakit!" ujar Saf.


"Astaghfirullah! Ya sudah, ayo!"


Tiga anak kembali ikut dengan kedua orang tua mereka. Maryam, Aisyah dan Fatih tampak kelelahan, Darren iba. Ia pun menelepon, Nai adiknya.


"Assalamualaikum, Dik. Bisa ke rumah sakit sekarang, Kak Saf akan melahirkan, Kakak bawa anak-anak," ujarnya langsung.


"Wa'alaikumusalam Kak. Di rumah sakit Kak Iya kan?"


"Iya Dik, cepetan ya. Kasihan anak-anak," ujarnya.


"Oteh Kak. Nai ke sana sama Sean!"


"Oteh ... kakak tunggu assalamualaikum!"


Nai menjawab salam dari pria yang mestinya ia panggil paman itu. Saf sudah masuk ruang bersalin. Darren tak dapat masuk karena tiga anak anaknya di situ. Tak lama Aini muncul dengan setengah berlari.


"Mas masuk saja!" ujarnya. "Biar anak-anak sama Aini."


"Abah tinggal ya, babies," ketiga bayi mengangguk sambil menguap.


Karena buru-buru, ketiganya tak memakai kereta dorong mereka. Darren menggendong ketiganya dengan gendongan kangguru khusus. Aini tentu tak bisa membawa bobot tiga bayi montok itu.


"Babies ngantuk ya," ujarnya iba.


"Iya Mama," sahut ketiganya sambil menguap.


Aini mengusap peluh yang menitik di kening ketiganya. Tadi Aini tidak ikut ke kebun bintang, wanita itu memiliki tugas dinas. Sang suami yang ikut bersama dua adik dan juga putra mereka.


Tak lama Nai datang bersama Virgou. Ternyata pria itu yang ikut serta dengan anak gadisnya.


"Apa belum ada kabar?" tanyanya.


"Belum Daddy. Mas Darren baru saja masuk," jawab Aini.


Virgou mengambil alat gendong kangguru itu. Memasangnya dan mengangkat bayi itu satu persatu dan masuk ke kantungnya.


"Nai nanti yang setir mobil ya?" ujar pria itu.


"Beneran Daddy?" netra gadis itu membulat tak percaya.


"Iya sayang. Kami tinggal ya Aini, makasih sebelumnya," ujar pria itu dengan senyum.


"Sama-sama Daddy," sahut Aini.


Keduanya mengucap salam dan berlalu dari tempat itu. Tiga jam kemudian, anak ke empat Darren lahir dengan selamat.


bersambung.


welcome baby boy!

__ADS_1


next?


__ADS_2