
Lidya mendatangi kamar yang berisi lima anak kecil dengan berbagai umur. Wanita itu mengelus dan mencium satu persatu anak-anak tak berdosa tersebut.
"Tamuh spasa?" tanya Lilo, ia terbangun dan menatap wanita cantik mencium keningnya.
"Halo Baby, aku Mama Lidya,"
"Mama?" Lidya mengangguk.
Wanita itu ikut merebahkan diri dan memeluk semua anak. Menyalurkan cintanya, mengobati semua luka hati ke lima anak itu.
"Mama ... hiks ... Mama teumana aja?" tanya Lilo lirih sambil terisak.
Verra, Dita, Seno dan Gino terbangun. Tubuh mereka bereaksi ketika Lidya memeluknya. Demian masuk, ia menatap semuanya tampak berebutan memeluk istrinya.
"Mama ... janan tindalin tamih ladhi Mama ... hiks ... tamih bohon," pinta Seno.
"Mama nggak akan ninggalin kalian lagi sayang," ujar Lidya menenangkan semua anak-anak.
Demian ikut merebahkan diri. Ia juga menyalurkan cinta pada semua anak yang tak berdosa itu. Gino menatap pria bermata biru.
"Pistel spasa?" tanyanya lirih.
"Ini Papa sayang," ujarnya lalu mencium sayang balita itu.
"Holee atuh bunya Papa pule don!' Gino bertepuk tangan.
Semua anak ikut senang, kini tubuh kelimanya tak lagi gemetaran. Pengobatan Lidya sangat membuat Gino, Seno, Lilo, Verra dan Dita tak lagi ketakutan.
"Kasihan mereka Mas," ujar Lidya.
"Mereka sama diperlakukan seperti Iya kecil dulu," lanjutnya sedih.
"Sayang," Demian mengusap titik bening yang hendak jatuh dari pelupuk mata istrinya.
"Jangan menangisi masa lalu," pintanya.
"Kita beri mereka kasih sayang ya," lanjutnya disertai anggukan Lidya.
Lidya membuatkan susu dalam botol untuk semua anak. Mereka menerimanya dengan senang.
Zhein menatap sepasang suami istri itu yang memeluk lima anak kecil. Tidak ada darah dan kaitan darah sama sekali.
"Mereka bisa menyayangi anak, bahkan tidak ada pertalian darah sama sekali," gumamnya pelan.
"Kau lupa dengan banyaknya anak angkat kami Zhein," sahut Virgou.
Lidya dan Demian bangkit dari ranjang. Melihat ada dua pria di sana. Virgou mendekati keduanya lalu mengecup Lidya dan juga Demian kemudian bergantian dengan lima anak yang sedang menghisap botol susu mereka.
"Perkembangan Gino makin baik Daddy, luka di lututnya juga sudah mengering," lapor Lidya.
"Iya sayang," sahut Virgou senang dengan laporan itu.
Zhein mendekati mereka. Lima anak sudah habis botol susunya dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
"Mereka tidak salah Pa," ujar Lidya.
"Mereka malah dihina oleh ayahnya sendiri sebagai anak haram," lanjutnya lirih.
Zhein bergeming, ia sedikit setuju dengan hinaan yang didapatkan lima keponakannya itu. Semua lahir di luar pernikahan hanya Dita yang lahir setelah ayah dan ibu mereka menikah.
"Tidak ada anak haram!" tekan Virgou.
"Jika tak ada yang mau mengakui mereka. Akan kuubah sebagai Black Dougher Young!" lanjutnya sambil melirik tajam Zhein.
"...." Zhein tak bisa berkata apa-apa.
Virgou kesal setengah mati. Ingin sekali ia menghajar sampai babak belur pria itu.
'Kemari kau!" sentak Virgou kasar dan menarik tubuh Zhein.
Pria itu benar-benar marah luar biasa. Lidya sampai bangkit dari ranjang dan mengejar salah satu ayahnya itu. Demian menahan istrinya.
"Tapi Mas!"
"Sudah ... biar jadi urusan Daddy," ujar Demian menenangkan sang istri.
Lidya menatap suaminya dengan pandangan menuntut. Demian menghela napas panjang. Sungguh ia juga kesal dengan wajah Zhein yang tak berempati sama sekali dengan lima anak itu. Pelukannya lepas dan Lidya lalu pergi mencari Virgou.
Di koridor rumah sakit yang sedikit sepi. Virgou meninju wajah Zhein begitu kuat hingga tubuh pria itu sampai tersungkur ke lantai.
"Apa-apaan kau Zhein!" bentak Virgou lagi.
"Tak punya empati. Aku ini mafia berdarah dingin. Tapi jika menyangkut anak-anak, aku akan melawan siapapun itu!" lanjutnya berang.
Gomesh melihat Virgou hendak memukul lagi pria yang sudah nyaris tak berdaya. Pria raksasa itu menahan ketuanya. Lidya datang setelah Virgou berhasil ditenangkan oleh Gomesh.
"Papa ... Daddy!" pekiknya.
Lidya berlari terlebih dulu ke Virgou. Ia memeluk erat pria sejuta pesona itu. Virgou yang masih marah akhirnya tenang setelah dipeluk sedemikian rupa oleh Lidya.
Zhein terkapar di lantai dengan wajah bengap. Lidya membawanya ke ruang rawat. Raka yang kebetulan datang sedih melihat wajah ayahnya yang babak belur.
"Papa kenapa?" tanyanya lirih.
"Tidak apa-apa, Papa memang harus seperti ini sayang," jawab Zhein.
Raka menghela napas panjang. Lalu ia menatap Virgou dengan buku tangan memerah.
"Daddy," keluhnya.
"Maaf sayang," ujar Virgou menyesal.
Raka mendatangi juga kamar lima adiknya. Pria itu membawa kue dan gorengan yang banyak.
"Ata' Lata!" sapa Gino.
Sedang yang lain hanya menatap pria tampan yang baru mereka kenali. Raka mencium semua anak-anak bayi itu.
__ADS_1
Semua makan dengan lahap. Kelimanya baru makan dengan puas ketika tak bersama lagi dengan kedua orang tuanya.
"Halo Assalamualaikum!" seru Putri masuk ke ruangan itu.
"Wa'alaikumusalam!"
Putri memeriksa keadaan lima anak itu. Semua sudah menunjukkan perkembangan lebih baik.
Sedang di ruangan lain. Keempat wanita itu belum juga sadar, mereka masih dalam keadaan koma. Dokter terus melakukan serangkaian pengobatan.
"Kita beri rujukan pada Dokter bedah syaraf. Dokter Aini!" ujar salah satu dokter yang menangani.
Tak butuh waktu lama, Aini sudah memeriksa Weni, Sania, Hapsa dan Sista.
"Kita harus melakukan treatment theraphy pada otak yang trauma," ujarnya.
"Kita harus menggunakan Brainolin untuk mengobati hemiplegia pasca apoplektik, stroke, gangguan gerakan tubuh yang disebabkan masalah pada otak, mengatasi gangguan kesadaran pasca operasi otak atau pasca trauma di kepala," jelasnya lagi.
"Benturan yang dialami sangat keras Dok. Bahkan mencederai salah satu syaraf penting. Kemungkinan pasien mengalami amnesia bahkan cacat mental," Aini mengangguk.
"Kita usahakan sebaik mungkin. Laksanakan operasi jika masa komanya sudah lewat," ujarnya lagi.
Setelah memeriksa keadaan empat wanita malang tersebut. Virgou menyerahkan empat pria pelaku pemukulan istrinya hingga menyebabkan luka parah.
Virgou bersama Raka sebagai pelapor kejahatan keempatnya.
"Raka ... Nak. Kamu ingat Paman kan. Ini Paman Findan Nak!" seru Findan.
Raka hendak menyahut. Virgou menahannya. Hati Raka yang lembut membuat dia diperalat oleh semua saudaranya.
"Nak ... pria itu jahat Nak. Jangan dekat-dekat! Pak mestinya kalian menangkap pria itu!" teriak Prapto.
Keempatnya diseret ke jeruji besi. Persidangan telah dilimpahkan. Berkas perkara sudah naik ke meja hijau. Berkat cctv yang terpasang, hukum sudah bisa menjerat empat pria itu dengan pasal berlapis.
"Ayo sayang," ajak Virgou.
Raka menggandeng pria sejuta pesona itu dengan erat. Ketika ia jatuh dan terpuruk, ayah ibunya nyaris saja bercerai begitu juga dirinya. Keluarga toxit nyaris saja membuat dia terlunta-lunta.
"Daddy, ba bowu!"
"Ba bowu pu baby," ujar Virgou mengecup kening Raka.
Sementara itu Zhein mendatangi kembali kamar lima keponakannya. Pria itu mengusap pelan. Gino membuka mata.
"Pa, janan pawa pita teumbali ya ... Pita bawu syama Mama Iya syama Papa Pemian," ujarnya lirih.
Zhein menangis, mestinya kelima anak itu memilih Keluarga di banding orang lain.
"Cinta yang membawa mereka memilih siapa yang lebih menyayanginya," ujar Haidar.
Kelima anak itu bersorak ketika Haidar membawa banyak mainan. Mereka bisa pulang hari ini. Haidar akan membawanya pulang ke rumah di mana semua saudaranya sudah ribut ingin bertemu dengan mereka.
Bersambung.
__ADS_1
Love Familly.
Next?