SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RENCANA


__ADS_3

Hari minggu semua anak berkumpul di rumah Reno dan Arimbi. Reno berulang tahun hari ini. Pria itu sebenarnya ingin berduaan saja dengan istri kecilnya.


"Sayang," rengeknya manja.


"Bangun Mas!' perintah sang istri.


Arimbi adalah sosok yang sangat disiplin. Wanita muda itu dari gadis memiliki jadwal yang harus ditepati.


Seperti, sarapan tepat waktu, mandi tepat waktu dan semua harus tepat waktu. Reno adalah pengawal yang terlatih. Tentu hal itu tidak memberatkannya.


"Untuk hari ini sayang," pinta pria itu malas.


"Jangan pelihara kemalasan Mas!" peringat Arimbi.


"Allah tidak suka dengan makhluk-Nya yang pemalas!" lanjutnya tegas.


Reno harus bangun dari tidurnya. Arimbi tidak segan menyeret kaki suaminya jika tak mau beranjak dari tempat tidur.


"Istriku galak sekali!" gerutu pria itu.


"Papa ... Mama!" pekik duo Bara dan Arsh.


Tiga bayi masuk dalam kamar dan langsung naik ranjang kemudian melompatinya.


"Mahmah ... Alsh au palapan sasi dolen pama cosis!"


"Pala sudha Mamah!" sahut duo Bara ikut-ikutan.


"Oteh Baby, tunggu di bawah ya! Nanti Mama Rimbi masakkan!" suruh Arimbi sekaligus mengiyakan permintaan anak-anak.


"Papa peulum bandi?" tanya Arsh.


"Papa hari ini ulang tahun loh!' ujar Reno memberitahu.


"Pa'a bubunanna wuwan pahun pama pidat pandi Papa?" tanya El Bara ingin tahu.


Arimbi menahan tawa, ia meledek suaminya. Reno kesal dan gemas dibuat tiga bayi yang kembali melompat di atas kasur itu.


"Ayo ... turun!" perintah Arimbi menghentikan aksi tiga bayi itu..


Duo Bara dan Arsh turun. Mereka pun keluar kamar karena Seno memanggil mereka.


"Paypi pandhil Mama!"


Arimbi membenahi ranjangnya. Ia memang seperti itu. Kekayaan sang ayah tak membuatnya jadi sosok manja begitu juga semua saudaranya.


Para ibu tetap menugaskan semua anak membereskan kamar mereka masing-masing. Bahkan pakaian dalam mereka cuci sendiri.


Arimbi turun setelah membereskan kamarnya. Ia langsung menuju dapur membantu para ibu memasak sarapan. Nai ada di sana ikut membantu.


"Sarapan siap!" ujar Arimbi.


Semua anak sibuk, mereka kini mau makan sendiri-sendiri tanpa disuapin. Selesai makan, semua anak kembali bermain.


"Gimana kemarin?' tanya Nai pada saudara kembarnya.


"Apa?" tanya Sean.


"Enak ya, kalian bisa ke markas mafia!" jawab Nai ketus.


"Salah sendiri kebelet kawin!' ledek Sean.


"Baby!' peringat Terra pada putranya.


"Maaf Ma," cicit Sean menyesal.

__ADS_1


Terra menggeleng melihat kelakuan semua anaknya. Ia merasa dulu tak sebrutal anak-anak itu.


"Eh, Buklek ... kan Paklek bodyguard, ajak dia buat lolos dari pengawalan yuk!" ajak Daud tiba-tiba tercerahkan.


"Ngadi-ngadi kamu Baby!' sungut Arimbi kesal.


"Jika Mas Ren ngelakuin, itu sama saja ia berkhianat pada kesatuan walau hanya bercanda!" lanjutnya memberitahu.


Daud tersenyum kecut. Rencananya gagal. Ternyata dampaknya akan bisa seberat itu jika pengawal berani meloloskan klien mereka dari pengawalan.


"Emang mau ngapain lagi sih? Kurang puas yang kemarin?" tanya Nai.


"Puas sih," jawab Sean.


"Mama Baby aja ikut loh Kak!'' lanjutnya antusias.


Nai berdecak, ia memang lahir lebih dulu dari semua tiga saudara kembar yang laki-laki.


"Aku nggak pernah bandel loh dulunya," ujarnya lirih.


"Emang kita kemarin bandel gitu?' tanya Al tak terima.


"Mengkhawatirkan Mama itu bandel namanya Al!" sungut Nai disertai anggukan Arimbi.


"Kenapa sih kalian punya ide gila di saat kita sudah punya suami?" ujar Arimbi ketus.


"Iya aja kali kita ngajak kalian?" sungut Al lagi.


"Ih ... nyebelin!'


"Hei ... kenapa kalian ini?!' tegur Darren menatap adik-adiknya yang adu mulut.


Semua diam, memang Darren jarang sekali menegur adik-adiknya.


Darren hanya menggeleng, Rion di sana hendak membela adik-adiknya.


"Baby, kamu juga salah!" tekan Darren langsung mencegah keinginan Rion.


"Kakak, Ion kan hanya menuruti kata baby yang ada di perut istri Ion!" sangkalnya.


"Nggak ada hubungan Baby! Nggak ada ngidam pengen pergi ke markas mafia!" sahut Darren keras.


"Tapi ini beneran Abah!" sahut Azizah membela suaminya.


"Nggak ada itu ngidam yang membahayakan janin?! Apa kalian tau perbuatan kalian itu berbahaya?!"


Azizah dan Rion pun terdiam, sepasang suami istri itu tak bisa membela diri. Saf, menenangkan suaminya.


"Awas saja kalian jika berani melakukannya. Sebelum Ayah, Papa, Papi atau Daddy yang bergerak menghukum kalian. Abah yang akan melakukannya!" ancam Darren.


"Arfhan, di taman kota ada karnaval ke sana yuk!' ajak Sky.


"Ayuk!" angguk Arfhan semangat.


Arfhan menatap semua saudaranya yang banyak. Akan kesulitan membawa semua adik-adiknya.


"Kamu tau jalan tikus mansion buyut nggak?" bisik Bomesh.


Arfhan adalah anak yang keingintahuannya sangat tinggi. Bocah delapan tahun itu sudah menyusuri hunian besar dan memeriksa jalan-jalan yang bisa ia lalui jika ingin pergi dari mansion tanpa diketahui semua orang.


"Ada," angguknya pelan.


Ketika Darren mengomel panjang pendek pada semua adiknya. Arfhan, Bomesh dan Sky sudah merencanakan pergi ke sebuah pertunjukan besar di pusat kota.


Samudera, Bastian, Billy, Setya mendengar rencana tiga adik mereka.

__ADS_1


"Eh ... ikutan dong!' sela Setya.


"Kita ajak Kak Ella, Tinti Zheinra dan Davina," sahut Billy mengingat saudaranya yang tak bisa keluar rumah sama sekali.


"Kenapa mesti kabur sih? Kita bilang aja yuk!' saran Zheinra ketika diajak kabur untuk pergi menuju karnaval.


"Takutnya nggak boleh Kak!' sahut Sky.


"Kita minta dulu. Kalo nggak dikasih, baru opsi kedua itu!' sahut Ella tercerahkan.


"Oke!' sahut semuanya setuju.


Sky mengutarakan keinginannya pergi ke karnaval. Terra adalah ibu paling posesif diantara semua ibu. Tentu saja ia melarang langsung.


"Ma ... kita banyak libur loh selama tiga hari ini!" ujar Sky mencoba bernegosiasi.


"Dengan pengawal juga boleh kok Ma!' rayunya lagi.


"No!" tolak Terra.


"Kamu pake pengawal aja hilang Baby!"


Akhirnya Sky menurut. Bocah itu menggeleng kepada semua saudaranya. Terlihat wajah-wajah sedih dan kecewa.


"Kalo sama Uma mau nggak?"


"Sayang!" peringat Terra.


"Kita berangkat nanti sore ya!' ajak Saf langsung.


"Itut!' semua perusuh langsung bersuara.


"Ayo, kita serbu karnaval itu!' seru Saf lalu mengacungkan kepalan ke udara.


"Wayoo!' seru semua anak bersemangat.


Terra kalah suara, Najwa dan Lastri hanya ikut saja semua perempuan di rumah ini.


"Gomesh!'' teriak Virgou.


"Saya Tuan!"


"Borong semua tiket masuk karnaval. Kosongkan untuk jadwal lusa!' perintah Virgou.


Gomesh membungkuk hormat. Terra tak bisa mengatakan apapun. Semua anak bersorak, mereka akan punya pengalaman baru.


"Pesot atuh atan beulmain pombie-pombiean!' seru Azha semangat.


"Pa'a ipu pompi Ata'?" tanya Maryam.


"Zombie Baby," ralat Sky.


"Biya paksudna ipu!' sahut Maryam.


"Zombie adalah mayat hidup yang akan memakan otak kita," jawab Sky.


"Wow ... pa'a lada yan peubelti ipu?"


"Ada Baby, tapi ini hanya bohongan kok," sahut Sky menenangkan semua saudaranya.


bersambung.


wah akan ada kejadian seru nih!


next?

__ADS_1


__ADS_2