SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HABISI!


__ADS_3

"Daddy!"


"Baby ... kau tidak apa-apa?" tanya Virgou pada Nai.


Nai shock. Gadis itu terkejut bukan main dengan penyerangan mendadak. Tangan Gomesh terluka akibat menepis bom molotov yang dilempar gerombolan bermotor tadi.


"Daddy ... tangan Papa Gom terluka!" pekik Nai.


Gomesh baru merasa perih. Tangannya terkena luka bakar. Nai langsung mengobati luka raksasa itu.


"Auh!"


"Jangan manja kau!" decak Virgou kesal.


Gomesh cemberut. Pria itu. Ia juga mau dimanja oleh anak gadis atasannya itu. Nai terkekeh, walau ada genangan di kelopak matanya, gadis itu terhibur akan kelakuan dua pria itu.


"Jangan takut Baby. Cecunguk-cecunguk itu bukan tandingan seorang Pratama sepertimu!" ujar Virgou mengusap genangan dengan jemarinya..


Nai mengangguk. Gomesh sangat mengerti akan ketakutan gadis itu. Nai yang tak pernah berpetualang seperti saudara laki-lakinya. Gadis yang hanya ada di rumah saja. Tak memiliki teman, bergaul hanya sekita saudara-saudaranya.


"Jadikan ini pengalaman anda Nona," ujar Gomesh.


"Iya Papa!"


Akhirnya, penyuluhan dihentikan dan Nai diminta pulang. Pihak kepolisian meminta maaf atas insiden ini.


"Kami sudah melihat semua cctv, tak yang aneh. Mereka hilang begitu saja," ujar kepolisian.


Virgou berdecih. Ia bukan tak percaya dengan kinerja para polisi. Gerak lambat dan harus kejadian dulu baru bertindak. Tidak ada gerakan pencegahan.


"Sudah tau kota itu tengah konflik. Tapi saya tak melihat pergerakan anda menangkap salah satu perusuh itu. Bahkan mediasi selama ini hanya cuma pemanis di layar televisi!" ketusnya sinis.


"Kami sudah melakukan apa yang sudah menjadi prosedur hukum. Kami tak bisa bertindak gegabah," ujar kepala polisi.


Virgou diam, ia tak mungkin menyagah perkataan polisi yang memang bergerak jika ada pelanggaran tercipta. Mereka sudah menjaga seusai prosedural yang ada.


"Mencegah kejahatan bukankah lebih baik ketimbang kejahatan harus ada terlebih dahulu," dumal pria dengan sejuta pesona itu.


"Kami sudah berusaha Tuan!"


Virgou lalu beranjak bersama Gomesh, Nai dijaga oleh Langit dan dua rekan lainnya. Pemuda itu menatap nona mudanya yang sudah mulai menguasai dirinya.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanyanya khawatir.


Nai menoleh pada manik pekat. Tinggi Langit 183cm dengan berat 80kg. Begitu proposional, tubuh tegak dan lengan berotot juga wajah yang tampan.


"Saya tidak apa-apa Kak. Makasih," jawab gadis itu dan tersenyum begitu manis.


Langit terpana, sungguh hatinya bergetar hebat menatap kecantikan alami nona mudanya. Pria itu sudah mengabdi selama empat tahun di keluarga Terra, menggantikan Robert yang mengundurkan diri.


"Ehem!"


Langit langsung tegak. Sebuah tatapan tajam meliriknya. Gomesh tak menyukai pandangan pemuda itu pada nona kesayangannya.


"Jaga matamu!" tekannya penuh intimidasi.


Nai menghela napas panjang. Ia akan terus dikelilingi oleh pria-pria posesif dan gadis itu tak keberatan sama sekali.

__ADS_1


"Ba bowu Papa!' Nai memeluk pria raksasa itu.


"Ba bowu pu Nona," sahut Gomesh dengan senyum lebar.


"Ayo pulang!" ajak Virgou.


Mereka pun bergerak pulang. Sedang di markas. dua puluh orang habis jadi bulan-bulanan para anggota mafia asuhan BlackAngel.


"Suruhan siapa kalian!" teriak Leo geram.


Teriakan kesakitan terdengar. Semuanya tak ada yang tak disiksa.


"Kalian melanggar hukum!" teriak salah satu pelaku pelempar bom molotov.


Leo menoleh pada teman-temannya. Lalu semua terbahak mendengar perkataan pria yang mereka siksa.


"Di sini tak ada hukum, bodoh!"


Leo melayangkan pukulan keras ke wajah pria yang sudah babak belur. Rupanya keduapuluh orang itu setia menutup mulut.


"Apa sudah tau siapa keluarga mereka?" tanya Leo pada salah satu rekannya.


"Sudah Tuan. Pria ini memiliki istri cantik dan satu anak tampan," jawab rekannya.


"Tidak ... jauhi istri dan putraku!" teriak pria itu kalang kabut.


"Tergantung, sepertinya tubuh istrimu sangat nikmat!" seringai Leo begitu menakutkan.


"Bangsat! Jangan sentuh istriku!" teriak pria itu.


"Aku ... aku akan mengatakannya!" lanjutnya lalu menangis.


"Dia punya kekasih cantik, Tuan Leo!"


"Bawa kekasihnya dan kita telanjangi dia!"


"Bangsat apa kau mau mati!" teriak pria itu.


Dug! Aaahhh! Pria itu mengerang kesakitan dan bergulingan di lantai yang dingin. Perutnya baru saja kena tendangan keras dari salah satu anggota mafia.


"Berisik sekali mereka. Bawa dan culik semua keluarganya!" titah Leo.


"Kalian berengsek!" maki salah satu dari perusuh.


"Kalian yang berengsek. Apa salah nona kami hingga kalian merusak acaranya!" teriak Leo marah.


"Dia ingin mencerdaskan warga. Kami disuruh untuk menekan warga!" akhirnya salah satu mengaku.


"Siapa yang menyuruh kalian!" sentak Leo lagi.


"Kalau tidak jangan salahkan kami jika keluarga kalian akan kami habisi satu persatu di depan mata kalian!" ancamnya.


Setelah mendapatkan nama. Leo langsung menelepon Virgou. Pria sejuta pesona itu melacak pria yang disebut oleh pengawalnya. Seorang anggota dewan pemerintahan. Banyak deking yang melindungi pria itu.


"Ah ... ada mafia juga bermain di sana," gumamnya.


Kini Virgou sudah ada di ruang kerjanya. Nai kembali dengan selamat. Berita penyerangan tak masuk televisi dan semua memutuskan untuk tak mengatakan apapun. Nai juga tak mau semua khawatir, terlebih gadis itu juga baik-baik saja.

__ADS_1


"Bagaimana jika semua bukti ini ada di komputer kepolisian pusat. Apa akan langsung diusut?"


Virgou sedikit ragu untuk melampirkan bukti itu. Ia akan mencobanya, satu berkas ia kirim ke dua divisi keamanan negara. Kepolisian dan juga TNI.


"Aku ingin tau, siapa yang paling sigap mengusut kejadian ini!" ujarnya dengan seringai menakutkan.


"Gomesh!"


"Saya Tuan!"


"Kunci pergerakan Salvador Allende!" titahnya. "Kirim salah satu anak buahnya dalam keadaan pingsan dengan ukiran tato salam dari BlackAngel!"


Gomesh membungkuk hormat. Pria raksasa itu pun menuju markasnya. Bukan hal sulit bagi Virgou untuk mengetahui siapa dalang pelempar bom molotov tadi siang di acara putrinya itu.


"Akan kuhabisi, siapapun yang berani mengusik keluargaku!" kilat mata sadis memercik.


Pria itu mengingat wajah pucat putrinya ketika mendapat serangan. Nai yang berusaha menenangkan dirinya dari ketakutan. Virgou mengepal tangannya kuat-kuat hingga memutih.


"Aku harus ke tempat Lidya!" ujar pria itu lalu berdiri mengambil kunci mobil.


Ia bergegas menuju rumah putrinya. Hari sudah beranjak malam, ia menelepon Lidya.


"Assalamualaikum Baby, jangan tidur dulu ya. Daddy butuh pelukanmu," pinta pria itu.


"......!"


"Iya Baby, Daddy meluncur!"


Mobil bergerak hanya butuh sepuluh menit sampai di rumah sederhana milik Lidya dan Demian. Pria itu menunggu bersama istrinya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam!"


Pintu terbuka. Virgou langsung masuk ke dalam dan memeluk Lidya. Tubuh pria itu bergetar hebat.


"Daddy ... Daddy kenapa?" tanya wanita itu khawatir.


Demian mengelus punggung pria tua itu. Ia juga sangat mengkhawatirkan salah satu mertuanya.


"Daddy hanya butuh pelukan sayang," jawab Virgou mengeratkan pelukannya.


Lidya mengelus dan mengecup pipi pria kesayangannya itu. Ketenangan langsung menyergap di hati kelam Virgou. Pria itu sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Makasih sayang, ba bowu!" ujarnya lalu pamit.


"Daddy!" panggil Lidya cemas.


Pria itu menoleh. Ada tatapan yang sangat dimengerti oleh Lidya.


"Hati-hati jangan sampai Daddy terluka!" pintanya lirih.


"I will dear!" ujar pria itu lalu masuk mobilnya.


bersambung.


Wah ... ada penangkapan besar-besaran nih!

__ADS_1


next?


__ADS_2