SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MERDEKA!


__ADS_3

Pagi menjelang, semua sudah sibuk. Di ,mansion Bram penuh dengan manusia. Anak-anak masih pada ngantuk, mereka merengek karena dibangunkan pagi-pagi sekali. Bahkan para remaja juga masih setia memejamkan matanya.


“Hei ... bangun!” teriak Terra pada semua anak-anak.


“Kalian ada tugas!” lanhurtnya.


“Ma ... sebentar lagi,” rengek Sean.


“Ayo bangun!” Terra menarik putra tampannya itu.


“Kalau kalian tak bangun, Mama bilang ke Daddy kalau tugas kalian digantikan saja!” ancamnya.


“Jangan!” pekik Sean langsung bangkit dari ranjang.


Terra mencium putranya, yang masih malas itu. Akhirnya semua pun mandi. Adik-adik Azizah sudah siap. Mereka memakai pakaian terbaik, Rion membantu istrinya mempersiapkan semua adik-adiknya. Ari dan Aminah masih memejamkan mata padahal sudah wangi dan bersiap sarapan.


“Oh ... sayang, kalian masih ngantuk ya?” ujar Kanya mencium dua bayi itu.


Aminah dan Ari membuka mata dan tersenyum walau kemudian memejamkan mata lagi. Kanya terkekeh, Bram datang dengan pakaian jas formal dan pecinya. Ia tampak gagah dan tampan.


“Kakek tampan sekali,” puji Azizah.


Wanita itu menaruh dua mangkuk besar nasi goreng sosis. Bram tersenyum dan mengucap terima kasih. Lalu ruang makan penuh dengan semua orang anak-anak dan remaja makan di ruang tengah.


Usai sarapan, baru lah mereka semua bergerak menuju mobil dan pergi ke perusahaan Bram.


Semua sudah bersiap. Detik-detik proklamasi akan segera dilaksanakan. Jantung semuanya berdetak kencang terutama yang bertugas. Azizah pembawa baki bendera berkali-kali mengatur napas panjang dan berdoa agar semua dilancarkan.


Pukul 07.30. semua sudah bersiap. Safitri telah maju dan memegang mik, ia juga tengah menenangkan jantungnya. Ia pun mengucap basmalah sebelum memulai semuanya.


“Upacara pengibaran bendera merah putih untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia akan segera dimulai. Para hadirin dan tamu undangan harap mensunyikan ponsel anda selama upacara berlangsung agar tidak menganggu ketertiban!” ujar Saf menggunakan mikrofon.


Semua tampak tenang mengikuti. Virgou, Budiman, Haidar, Demian, Jack, Gomesh, Herman, Darren dan David menjadi ketua barisan. Ada tiga ratus pegawai ikut dalam upacara ini sedangkan para petingginya hadir sebagai tamu undangan.


“Komandan upacara memasuki lapangan upacara!” Rion tampak bersiap dan berlari menuju tengah lapangan.


Dengan menggunakan baju serba putih dan juga peci hitam, pemuda itu sangat tampan. Pagi hari ini matahari cukup terik hingga membuat semua kening berpeluh. Jantung Rion juga sama degubnya dengan petugas lain.


“Seluruh pasukan, komando saya ambil alih. Siap di tempat ... grak!” teriaknya.


Semua berdiri dengan posisi sempurna. Kedatangan inspektur upacara akan segera hadir. Bram dikawal dengan tiga orang, yakni Gio, Dahlan dan juga Rio. Semua petugas memakai seragam serba putih.


“Inspektur upacara memasuki podium upacara!”


Bram melangkah dan maju ke depan podium, ia akan berdiri sampai upacara selesai. Dahlan dan Gio membawa map berisi teks proklamasi, teks pancasila dan UUD 45. Mereka sama gugupnya dengan petugas upacara yang lain. Setelah sekian lama tak berlatih upacara.

__ADS_1


“Kepada, inspektur upacara ... hormat grak!”


Semua peserta upacara memberi hormat, bahkan para perusuh yang duduk di kereta dorong mereka juga ikut memberi hormat, walau ada yang memakai tangan kiri dan tangan kanan bahkan kedua tangan mereka angkat ke pelipis mereka. Bram membalas hormat lalu menurunkan tangannya.


“Tegak ... grak!” semua menurunkan tangan mereka.


“Laporan komandan upacara kepada inspektur upacara!” Rion melangkah tegap maju delapan langkah.


“Lapor, upacara pengibaran bendera, segera dilaksanakan!”


“Laksanakan!”


“Siap laksanakan!” Rion balik kanan dan kembali ke posisi semula.


“Pembacaan teks proklamasi yang akan dilakukan oleh inspektur upacara, hadirin dimohon berdiri!” semua berdiri.


GIo menyerahkan teks proklamasi pada Bram. Pria itu membuka dan mulai membacakannya, di depan mik.


“Kami bangsa Indonesia dengan menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta tujuh belas agustus tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta!”


"Hadirin dimohon duduk kembali!"


“Pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia raya!” seru Saf.


Pasukan pengibar bendera bersiap. Azizah pembawa baki bendera, Kean sebagai kepala barisan memberi aba-aba. Mereka jalan di tempat terlebih dahulu, lalu Kean memberi perintah.


Semua bergerak, derap langkah terdengar, gerakan begitu serasi. Di deretan penonton, para perusuh mengikuti petugas. Maryam, El Bara, Fathiyya, Aisa, Fatih. Hanya mengangkat satu kakinya berulamg kali. Al Bara, Arsyad, Aaima dan Arshaka melompat-lompat, sedang Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana mengikuti sesuai kakak-kaka mereka berjalan.


Kini Azizah, Kean dan Satrio sudah ada di depan tiang bendera. Kean berada di sebelah kanan sebagai pemegang bendera nantinya. Kean mengikat tali bendera. Jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya. Semua berdoa agar ikatan sempurna dan bendera tidak terpelintir atau lebih parah, terbalik.


Kean memegang ujung bendera, secara perlahan ia mundur dan langsung membentangkan kain segi empat itu dengan sempurna, tidak terpelintir apalagi terbalik. Semua bernapas lega, terdengar riuh tepuk tangan dari para perusuh.


“Bendera siap!” pekik Kean.


Mata biru remaja itu menjadi soroton semua mata yang memandang, Puspita begitu bangga menatap putranya yang berhasil mengikat bendera dan membentangkannya dengan sempurna.


“Hadirin dimohon berdiri!” semua berdiri.


“Kepada bendera merah putih ... hormat grak!” pekik Rion.


Semua hormat, para perusuh kembali mengangkat tangan mereka. Sama seperti tadi, ada yang benar dan ada yang salah. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan berupa rekaman instrument diikuti para hadirin yang ikut menyanyikan lagu tersebut.


Bendera perlahan naik, Satrio menariknya dengan begitu hati-hati. Hingga tepat lagu selesai, bendera berkibar di ujung tiang paling tinggi. Kean dan Satrio mengikat tali kuat di tempat nya. Mereka kini berdiri sejajar.


“Kepada bendera merah putih ... hormat grak!” pekik Kean, Azizah dan Satrio memberi hormat.

__ADS_1


“Tegak grak!” ketiganya menurunkan tangan.


Pasukan bendera kembali, para perusuh melompat-lompat kecuali, Harun, Azha, Bariana, Arraya dan Arion. Sedang yang lain hanya diam berdiri dan menyimak acara.


“Mengheningkan cipta dipimpin oleh inspektur upacara!”


“Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur! Mengheningkan cipta, mulai!”


Semua menunduk, lagu mengheningkan cipta terdengar. Para perusuh juga mengikuti apa yang orang tau mereka lakukan. Lagu mengheningkan cipta usai.


“Selesai!” semua menegakkan kepala.


“Pembacaan teks pancasila diikuti seluruh peserta upacara!” Dahlan maju satu langkah dan menghadap ke Bram lalu menyerahkan map berisi teks pancasila.


“Pancasila!” ucap Bram diikuti seluruh peserta.


“Satu, ketuhanan yang maha esa ....”


Semua mengikuti pembacaan pancasila hingga sila ke lima. Selesai membaca pancasila, kini berganti membaca UUD 45 yang dibaca oleh Rio. Semua hadirin upacara masih berdiri. UUd 45 telah selesai dibacakan.


“Hadirin dimohon duduk kembali!” semua duduk.


Rangkaian demi rangkaian acara pun bergulir, hingga dipenghujung upacara. Rion kembali melapor jika semua acara selesai dan pasukan siap dibubarkan.


“Lapor, pengibaran bendera peringatan tujuh belas agustus telah dilaksanakan. Laporan selesai!”


“Bubarkan!”


“Siap laksanakan!” Rion kembali ke tempat.


“Inspektur upacara meninggalkan lapangan upacara!”


“Kepada Inspektur uapacara ... hormat grak!” Bram membalas hormat dan meluruskan tangannya.


“Tegak grak!”


Bram pun meninggalkan podium dan kembali ke tempat. Upacara selesai, para pasukan pengibar bendera berpelukan karena berhasil mengibarkan bendera. Hingga ketika sore hari penurunan bendera juga berhasil dilakukan dengan sempurna.


“Alhamdulillah ... akhirnya semua sudah selesai!” pekik Al senang luar biasa.


Bersambung.


Selamat kalian semua!


__ADS_1


Dirghayau Indonesia yang ke 77 tahun! Merdeka!


Next?


__ADS_2