SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DONOR


__ADS_3

"Tidak Bunda juga tidak setuju Deta!" tolak Khasya.


"Bunda ... tapi Mama dari Papa Gom butuh bantuan," rayu Deta.


"Kamu masih kecil sayang. Masa depanmu panjang. Bunda tetap tidak setuju!" sahut Khasya.


Deta diam, sudah lima orang dewasa menolak keinginan bocah itu untuk menolong wanita yang melahirkan pria besar kebanggaanya itu. Bocah itu juga ingin bercita-cita seperti Gomesh.


"Papa ...," kali ini Deta mendekati Haidar.


Pria itu bukan tidak tau apa maksud dari salah satu putranya mendatangi dirinya. Pria itu mendudukkan Deta di sisinya.


"Dengar sayang. Pendonor itu harus punya darah yang sama, sel-sel jaringan yang sama. Jelas semua itu tidak ada padamu," jelas Haidar.


"Mereka harus memiliki DNA yang sama, kalau kau memaksa maka hasilnya akan membunuhnya juga kamu sayang," lanjutnya.


"Jadi Deta kemungkinan tidak bisa membantu Mamanya Papa Gom?"


"Bantu doa sayang! Bantu dengan doa. Kami bisa kan?" Deta mengangguk.


Semua masih menunggu kabar dari rumah sakit. Semua remaja yang ikut Gomesh menenangkan pria besar itu.


"Papa, makan dulu Papa," pinta Rasya.


"Iya Papa. Nanti Mommy sedih," bujuk Dewa.


Diablo meminta putranya untuk makan.


"Daddy juga ya," ajak Gomesh.


"Ini Maria bawa makanan dari luar!"


Maria datang bersama Devita dan Kaila juga Maisya. Empat pengawal menemani mereka.


Maria dibantu anak-anak perempuan menyusun makanan. Diablo dan Gomesh juga yang lain makan walau tiada selera.


"Apa adik-adik tidak ada yang cocok dengan sel-sel Mama?" tanya Gomesh.


"Hanya Geomitha yang cocok. Tapi Mitha sedang hamil," jawab Diablo.


"Ketua, pengawal Helena cocok dengan Nyonya Anneth dengan kemiripan sel 97%!" lapor Felix yang ikut mengawal Gomesh.


"Alhamdulillah!" seru Gomesh tak sadar.


"Pa," peringat Maria.


"Ah ... maksudku Puji Tuhan!"


Tak ada yang mempermasalahkan hal itu. Terbiasa mendengar doa-doa islami, membuat Gomesh terbawa arus.


"Sudah, puji Tuhan jika memang ada pendonor untuk ibumu," sahut Diablo lega.


Pemeriksaan terhadap Helena dilakukan secara berkala. Mengingat dirinya sebagai pendonor. Gadis berusia dua puluh lima tahun itu baru bergabung di SavedLived setelah tak mendapat kerjaan di manapun.


"Nona Helena Spark?" gadis itu menoleh.


"Ketua!" gadis itu hendak bangkit.


"Sudah tenangkan dirimu. Aku datang hanya ingin memastikan jika apa yang kau lakukan ini bisa berdampak dengan kesehatanmu selanjutnya," ujar Gomesh yang datang bersama Maria.

__ADS_1


Helena mengangguk tanda mengerti. Tetapi, ia sudah memutuskan untuk mendonorkan diri.


"Saya tau Ketua!" jawab gadis itu tegas.


"Baik Mikhalia dan Angel akan menemanimu," ujar Gomesh begitu berterima kasih.


Pria itu melaporkan semuanya pada Virgou. Pria dengan sejuta pesona itu mengangguk.


"Siapkan bonus dan bayaran yang banyak untuk gadis itu!" perintahnya.


"Baik ketua!" sahut Gomesh di seberang telepon.


Virgou mendekati Deta yang dari kemarin diam. Ia mengabarkan agar bocah itu tak lagi menghawatirkan Anneth, ibu dari Gomesh.


'Bener Daddy?" tanya Deta dengan binaran mata bahagia.


Virgou mengelus kepala anak angkat kakeknya itu. Pria itu pun mengecup kening Deta. Ia bahagia semua anak begitu peduli pada saudaranya.


Kean dan lainnya benar-benar menurut pada Maria. Semua remaja mengikuti kemanapun perempuan itu berjalan.


"Kakak!" panggil Geomitha pada kakak iparnya.


Maria menoleh, ia tersenyum ramah. Keduanya saling berciuman pipi. Anak-anak remaja mencium punggung tangannya.


"Kalian sudah makan?"


"Sudah tadi. Oh ya, Mommy sudah ada pendonornya," lapor Maria.


"Iya, aku sudah mendengar kabar itu. Makanya aku datang ke mari, ingin bertemu dengan gadis baik hati itu," ujar Geomitha.


"Ada Kak Gomesh di dalam sana, kamu hati-hati ya, jaga kandungan!" peringat Maria.


"Kita pulang?" ajak Maria.


"Mommy ... kita jalan-jalan ya," rayu Satrio.


"Kita jarang-jarang boleh jalan-jalan keluar," lanjutnya.


"Iya Mommy, tadi Calvin liat ada carnaval di sebelum rumah sakit!"


"Baby ...."


"Mommy, please!" pinta Setya.


"Nanti baru ajak semua keluarga ke sana," kali ini Setya merengek.


Maria menatap semua anak-anak dari atasan suaminya. Mereka semua sudah seperti anak sendiri.


"Mommy, please," kali ini Gabriela memohon.


"Baiklah!"


Kean langsung mengangkat tinggi-tinggi wanita itu. Mereka bergerak keluar rumah sakit. Memilih menggunakan taksi daring. Mereka lepas dari pengawalan Felix, Rio, Hendra dan Rangga.


"Felix, mana anak-anak dan istriku?" tanya Gomesh yang keluar bersama adiknya.


"Tadi katanya pulang ketua!"


"Apa? Kau yakin?" tanya Gomesh setengah tak percaya.

__ADS_1


Tiba-tiba Hendra berlari dengan wajah pucat. Gomesh sangat yakin ada sesuatu.


"Tuan, semua menghilang!" lapornya dengan napas terengah.


Gomesh menghela napas panjang. Ia bukan tidak khawatir, tetapi pria itu akan membiarkan semua lolos hari ini.


"Rio dan lainnya?" tanya pria raksasa itu.


"Mereka mencari dengan Bravesmart ponsel!" jawab Hendra.


"Susul mereka, awasi dari jauh!" titah Gomesh.


Akhirnya Felix dan Hendra pergi dari rumah sakit mencari keberadaan anak-anak dan istri dari salah satu ketua mereka.


"Ini tempatnya Mommy!" seru Kean.


Maria diapit oleh Dewi dan Kaila. Semua menatap karnaval yang memang diadakan di setiap awal tahun.


"Bayar karcis hanya tiga euro!" seru Satrio yang langsung membayar semua karcis masuk.


Semua bergandengan. Hal itu menarik semua orang yang melihat. Wajah-wajah mereka yang tampan dan cantik, membuat semua kaum Adam dan hawa berdecak kagum.


"Halo Nona!" sapa seorang pemuda kepada Dewi.


Gadis itu hanya mengangguk dengan senyum tipis. Ibunya telah memperingati gadis itu untuk tidak berlaku bar-bar.


Satrio mengajak semua saudara laki-laki mengurung saudara perempuan mereka, agar tak ada yang mengganggu.


"Ih Kak, kita juga mau cuci mata!" sengit Zheinra.


"Sini keluarkan matamu!" seru Al keras. "Biar aku cuci!"


Zheinra menunduk, biasanya Raffhan membiarkannya bergaul dengan laki-laki. Usia Zheinra sama dengan Kaila, Dewi, Dewa, Rasya dan Rasyid.


"Kak tembak orang itu biar jatuh Kak!" pinta Kaila menunjuk orang yang duduk di tiang dan di bawahnya air berwarna. Ada target yang harus mereka tuju untuk melempar.


Semua menuju arah sana. Ternyata, mereka harus membayar 20 euro untuk permainan itu.


"Kak allow me!" pinta Billy.


Billy mendapat kesempatan. Hanya tiga kali lemparan. Remaja kelas dua SMP itu membidik target. Ia menekuk tangannya dan melempar kencang bola itu. Orang di dalam kotak menutup mata.


Tang! Byur! Orang itu jatuh ke dalam ember berisi cairan berwarna. Semua bersorak, Billy mendapat satu boneka panda.


"Aku satunya!" seru Kean.


"Maaf, hanya boleh satu orang saja!" sela penjaga.


"Kalau begitu aku beli karcisnya untuk semua saudaraku!" sahut Kean dengan seringai sadis.


Penjaga menelan saliva kasar. Ia padahal berbuat curang dengan menguatkan per target agar tak bisa bergetar sekuat apapun lemparan yang mengenainya. Siapa sangka, temannya jatuh dengan satu lemparan dari anak berusia empat belas tahun.


bersambung.


Beda lah ...


Maaf Readers ... othor kena diare, jadi nggak bisa fokus sama nulis. Nanti pasti di kasih kisah kejutan hingga tiga bab!


Ba bowu 😍❤️

__ADS_1


Next?


__ADS_2