SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MINGGU SERU


__ADS_3

Semua bayi tengah bergulingan di rumput. Della yang wira-wirih mengambil beberapa benda yang menurutnya berbahaya.


"Ata'!" Faza mencebik matanya berkaca-kaca.


"Baby ... kamu kenapa?" tanya Della langsung berlari mendekati Faza.


"Nih ntit Ata' ... hiks!" Faza menunjukkan telapak kakinya.


Satu batu kerikil kecil masuk. Tidak sampai melukai tetapi, membuatnya sedikit terganggu.


"Oh ... tidak apa-apa Baby," ujar Della lalu membuang batu kerikil itu jauh-jauh.


"Masih sakit?" Faza menggeleng.


Bayi cantik itu kembali bermain. Semua bodyguard menjaga para bayi. Para orang tua memang tidak menyewa baby sitter akibat kejadian beberapa tahun lalu ketika Arimbi di cubit tangannya.


Akhirnya, SavedLived melatih para bodyguard harus ramah dengan anak-anak. Karena keluarga besar didominasi para bayi.


"Mama ... Nai mau ke indosenin ya," pamit Nai.


"Sama Bu'lek Dew," lanjutnya.


"Iya sayang," sahut Maria.


Langit bersama istrinya. Mereka bertiga pergi ke ke mini market dekat rumah. Dewi antusias melihat banyaknya pedagang untuk berbuka puasa.


"Baby, kenapa ya kita nggak pernah beli?" tanyanya pada Nai.


"Kan di rumah ada koki hebat. Nini Najwa, Nini Lastri belum Mami Seruni, Uma, Umi Layla, Umi Rahma ... semua ibu kita jago masak," jawab Nai.


"Ya sekali-kali bagi-bagi rejeki sama orang gitu," ujar Dewi yang sudah gatal ingin membeli takjil itu.


"Gimana kalo kita beli terus kita bagikan Bu'lek!" sebuah ide terlintas di kepala Langit.


"Wah ide bagus itu!" seru Dewi senang.


"Kita beli takjil buat buka puasa di masjid!" sahut Langit lagi.


"Ah ... iya!"


Akhirnya mereka bertiga membeli banyak makanan. Sebagian Langit bawa ke masjid dekat komplek rumah dan sebagian dibagikan pada pekerja, seperti penyapu jalanan, tukang asongan dan lain sebagainya.


"Nggak jadi ke indosenin nih?" tanya Langit yang mengingat tujuan mereka.


"Bentar lagi Maghrib, beli minuman aja kali ya," ujar Nai.


Akhirnya mereka bertiga membeli minuman untuk sekedar membatalkan puasanya. Sementara itu Arimbi masih berpuasa walau ia tengah berbadan dua.


"Jangan puasa kalo nggak kuat sayang," ujar Remario, sang mertua.


"Insyaallah kuat Pa," ujar Arimbi yang memang tak bermasalah dengan kehamilannya.


Reno yang mendapat ngidamnya. Pria itu mengalami couvade syndrom atau hamil simpatik. Tetapi hanya berlaku di pagi hari saja.


"Papa Bleno ... pa'a yan papa teuljatan!" tanya Fatih.


"Reno baby ... bukan Bleno!" protes pria itu.


"Biya ... pelno!" tukas Fatih meralat ucapannya yang malah salah.


"Re ...," Reno mencoba mengajarkan ejaan namanya.


"Pleee ...," ulang Fatih.


"Reee ... nggak pake Pe!" rengek pria itu frustrasi.


"Blee ... dat pate ep!" ulang Fatih.

__ADS_1


"Ck!" Reno berdecak.


"Papa peulani Pama atuh?!" tantang Fatih.


Fatih menerjang Reno diikuti banyak bayi hingga membuat pria itu tergelak. Fael yang semangat menimpa pria itu.


"Papa ... siyum ... siyum!" Fael memonyongkan bibirnya.


Reno memberikan pipinya dan langsung disosor oleh Fael. Semua tersenyum melihat keseruan itu.


"Imih bunya atuh!" teriak Zaa pada saudari kembarnya.


"Atuh unya!" teriak Nisa.


Zaa menarik pita dari rambut kakak kembarnya itu. Nisa menjerit, Rosa menangkap pelan dan melepas jambakan Zaa.


"Baby," Frans menghela napas panjang.


Nisa ditenangkan oleh Dian. Zaa cemburu dan minta gendong juga.


Rosa menggendong bayi itu dan mengajaknya berjalan-jalan di halaman.


Keributan dua bayi cantik membuat yang lainnya ikut berseteru. Hanya perkara kecil membuat mereka beradu pendapat.


"Atuh tan pilan talo banyut pidat pisa pitantap!" seru Arsh.


"Biya pahu ... banyut ipu sisemplot palu bati!" teriak Arsyad.


"Ata' bekeywhsbsgdbsjwkshshsbsusjsnuwiw!" Chira memakai bahasa planet yang harus diterjemahkan.


"Lilaunt ... kok ngomong gitu?" peringat Bariana.


"Teusel!" Chira melipat tangannya di dada.


Tingkah bayi-bayi gembul itu memang sangat menggemaskan. Terlebih mereka lebih sering menggunakan dengkulnya dibanding berjalan.


"Baby jalan dong!" keluh Leon pada putranya Aarav.


"Lil Papa ... sini sama Kean!"


Pemuda itu mengambil Aarav dan menggendongnya. Aarav berteriak kencang dan tergelak karena Kean melompat-lompat.


"Baby, jangan terlalu keras!" peringat Terra.


"Amah ... amah!" panggil Aaric.


Bayi dua tahun itu memanjat kursi dan menaiki meja. Tepung di plastik ditumpahkannya.


"Baby," Dinar terlambat mencegah.


"Bibu ... Alit au sisan lolen!" pinta bayi itu.


"Mana ada sayang, yang ada saja ya!" ujar sang ibu.


"Au sisan lolen!" pekik Aaric bersikeras.


"Baby!" peringat Dominic.


"Papa!" Aaric balik memperingati ayahnya.


"Astaga, apa dia melawanku?" tanya Dominic kesal.


Ia mengambil bayinya dan membawanya sebelum Aaric berulah merusak semua kegiatan para ibu.


"Kenapa Baby Nai, Langit dan Baby Dew ... belum pulang?" tanya Khasya lalu melihat jam di dinding.


"Bentar lagi buka. Ini sudah selesai semua Bunda," ujar Seruni memberitahu.

__ADS_1


'Iya sayang, tinggal disajikan perpiring ya," suruh Khasya.


Kue almond dipotong. Bau harum kacang almond dan mentega tercium dan membuat semua perusuh ribut.


"Buta Mami!" teriak Rinjani.


"Belum sayang, sebentar lagi ya," ujar Seruni menenangkan bayinya.


"Amih ... tue!" teriak Chira, Nisa dan Sena.


Piring-piring diturunkan dan diletakkan di karpet. Para bayi duduk mengelilingi piring berisi makanan untuk buka puasa itu.


"Hei ... ini punya Papa!" goda Andoro.


"Papa!" Zora memukul tangan ayahnya.


"Sayang ... papa juga mau!" rengek Andoro.


"Ini Papa!" Della mengambil dua piring besar dan diberikan pada Andoro.


"Ata' ... kita kulan!" protes Aaima.


"Lebih Baby!" ujar Della.


"Ata' syatu pilin suma isi beupuluh tue ... pita banat!" ujar Fael memutar mata malas.


Akhirnya berbuka pun tiba. Mereka minum terlebih dahulu dan memakan makanan yang manis. Kurma diserbu anak-anak lalu makanan lainnya.


"Ayo jangan makan berat dulu!" peringat Bart.


"Assalamualaikum!" Nai, Dewi dan Langit pun datang.


Semua mata perusuh menatap barang bawaan. Ternyata ketiganya hanya membawa shampo dan sabun muka yang habis.


"Ah ... teunapa eundat beuli matanan?" protes Rinjani.


"Kan itu banyak Baby!" sahut Langit.


"Beda Papa ... kita mau yang dari luar juga," sahut Samudera yang juga kecewa.


"Mashaallah ... tau tadi kita beli juga ya buat mereka," ujar Nai menyesal.


"Hei ... udah jangan ribut. Nanti Maghrib habis!" teriak Gomesh mengingatkan.


Semua buru-buru wudhu. Lalu merapatkan shaf. Leon menjadi imamnya. Selesai sholat. Semua makan berat.


"Jauhkan aku dengan nasi ... aku mau lemang yang kemarin!" ujar Reno.


"Pake rendang sayang?" tawar Arimbi.


"Iya sayang," sahut Reno mengangguk.


Mereka pun makan dengan lahap. Sambil menunggu waktu isya, anak-anak memilih mengaji dan menyetor hafalan pada Layla.


"Perbaiki lagi sayang," ujar Layla pada Benua.


"Iya Umi," angguk bocah delapan tahun itu.


"Mumi ... Alsh judha bawu pestolan!" seru bayi itu antusias.


"Surah apa Baby!" tanya Layla gemas.


"Itlas!" jawab bayi itu semangat.


Arsh pun membaca surah Al-Ikhlas dengan bahasanya. Tentu saja Layla harus membenarkan karena memang banyak kata-kata yang salah keluar dari mulut bayi itu.


Bersambung.

__ADS_1


Met buka puasa Readers ba bowu 😍❤️❤️❤️😍😍😍


next?


__ADS_2