
Rommy menggelar selamatan seratus hari kepergian sang ayah. Pria itu menatap bangga foto mendiang yang terpajang di ruang tengah.
"Pa, apa kabar? Udah ketemu Mama belum?" tanyanya lirih.
Sang istri menggendong putra bungsunya. Bayi yang tak direncanakan tiba-tiba hadir.
"Mas," panggilnya lirih.
Rommy mengusap pelan jejak basah di pipinya, lalu tersenyum ketika menoleh pada sang istri.
Wanita itu meletakkan bayi dalam gendongan suaminya. Ikut mengusap jejak basah di sana.
Cup! Sebuah kecupan berlabuh di pipi Rommy. Pria berusia empat lebih itu tersenyum bahagia.
"Papa sudah bahagia di sana Mas," ujar sang istri lembut.
Tak lama beberapa tetangga datang. Memang rumah kediaman Rommy bukan perumahan elite. Putri dan putranya menyambut tetangga yang hadir.
"Wah Mba Rematha udah besar. Cantik lagi!' puji salah satu tetangga.
"Makasih Pak!" Rema tersipu dipuji sedemikian rupa.
Rematha Putri Sofyan Adi, sembilan belas tahun. Putri pertama Rommy. Memang anak Rommy tua satu tahun dari anak-anak Terra.
Acara dibuat dua sesi. Untuk tetangga yang pertama sedang yang kedua untuk keluarga atasannya.
Setelah acara pertama selesai. Semua tetangga pulang membawa goodie bag cantik berisi makanan dalam kotak makan yang mewah.
"Pa, jam berapa Papa Aden sama Mama Jhenna datang?" tanya Roby, putranya.
"Kemungkinan setelah ashar sayang. Kenapa? Kangen sama Devina ya?' tanya Rommy menggoda putranya.
"Apa sih Pa!" dumal Roby kesal, walau sesaat kemudian pipinya merona karena malu.
Aden dan Jhenna memang hanya memiliki anak sepasang, laki-laki dan perempuan. Keduanya dari anak tunggal. Tentu saja memiliki anak lebih dari satu itu merupakan anugerah terbesar dalam hidup keduanya.
Tak lama Aden datang bersama istri dan dua anaknya. Mereka langsung masuk ke ruang tengah setelah memberi salam. Rommy mendapat kabar jika keluarga atasannya sebentar lagi akan sampai.
"Assalamualaikum Mama!" pekik Devina.
Gadis berusia enam belas tahun itu langsung mencomot makanan. Jhenna memperingati putrinya.
"Sayang! Cuci tangan dulu!"
Devina hanya tersenyum lebar, tapi tetap memasukkan makanan itu ke mulut.
"Jorok!" ledek Roby.
"Biarin! Week!" balas gadis itu menarik bawah kelopak matanya pada Roby.
Devina bertubuh gembul. Gadis itu sangat gesit dan doyan makan. Ia tak peduli dengan bentuk tubuhnya.
"Gampang, tinggal olah raga seminggu. Udah kurus lagi kok!" sahutnya enteng ketika diperingati.
Devina memang mudah gemuk dan juga mudah kurus. Sedang Harry Aden Saputra. Putra pertama Aden itu sangat diam. Pemuda itu seusia dengan Affhan, tujuh belas tahun.
__ADS_1
"Matha, tolong siapin banyak bantal untuk ibu-ibu hamil sayang!' perintah sang ibu.
"Iya Ma ...," sahut Rematha menurut.
Gadis itu mengambil banyak bantal. Roby membantu kakaknya. Sang adik bungsu digendong Jhenna.
"Hai bayi, kau tampan sekali!" pujinya.
Bayi itu menggeliat lucu sambil monyong bibirnya. Tak lama beberapa pria dan wanita berbaju hitam datang mengamankan lokasi. Rommy sudah terbiasa.
"Pak Dahlan!' sapanya.
"Tuan Rommy!" balas Dahlan membungkuk hormat.
Rombongan datang dengan dua bus besar. Banyak mata begitu antusias dengan kedatangan keluarga itu.
"Eh, bossnya Bu Sis datang!" seru beberapa tetangga mulai kepo.
Penjagaan yang ketat membuat semua orang kesulitan untuk melihat rupa rupawan keluarga pengusaha kaya raya itu.
"Assalamualaikum!" Terra masuk terlebih dahulu.
Wanita itu memeluk Rommy. Ada tangisan kecil di sana. Haidar ikut memeluk keduanya. Tentu saja Haidar tau betapa pentingnya mendiang pengacara hebat itu.
"Kak ... Te nggak nyangka kalo Papa udah seratus hari nggak ada ... hiks!" isaknya..
Rommy tak dapat berkata apapun. Pria itu sibuk meredakan tangisnya. Bart memeluk Rommy. Ketika Sofyan dikabarkan meninggal dunia. Mereka semua shock.
"Te, Papa udah nggak ada!" pekik Rommy ketika menelepon wanita itu.
Subuh pagi, Sofyan dipanggil sang maha kuasa ketika ruku. Pria itu roboh dalam keadaan sujud.
Sofyan meninggal dunia di masjid. Rommy yang sholat di sebelah ayahnya menahan tangis sampai shalat selesai.
"Ayo kita langsung berdoa yuk!" Bram membuyarkan lamunan Terra dan Rommy.
Mereka langsung melakukan pengajian. Calvin dan Daud adalah seorang qori. Suara keduanya begitu indah didengar.
Sintia duduk disebelah Terra. Kedua wanita itu saling menguatkan satu dan lainnya.
Terra mengusap foto wajah yang tengah tersenyum. Sofyan Hadi meninggal diusianya tujuh puluh lima tahun.
"Pa ... makasih ya Pa. Papa selalu ada ketika Te terpuruk dan tak tau harus apa," ujarnya lirih.
Terra mengenang sosok pria yang mendatanginya dengan kejutan-kejutan. Pria itu yang membantu Terra dalam masalah hukum dari tiga adik yang menjadi anaknya. Darren, Lidya dan Rion.
"Ma," Darren duduk di sisi Terra, lalu disusul Lidya dan Rion.
Keempat manusia itu menatap foto tampan Sofyan yang tersenyum bahagia. Tugas pria itu sudah selesai di dunia. Tinggal keturunannya yang melanjutkan dan mendoakan pria baik itu.
"Kakek ganteng ya Ma," puji Lidya pada foto yang diusap ibunya.
"Iya sayang. Papa ganteng," sahut Terra.
Rommy membagikan goodie bag pada semua orang. Hal itu disambut semua perusuh terutama pada bayi yang terus berceloteh.
__ADS_1
"Papa ... teunapa wowan meunindal ipu halus dilayain pampai selatus hali?" tanya Arsyad bingung.
"Bukan dirayain Baby," ralat Seruni.
"Tapi sebagian umat muslim mengadakan selamatan yang artinya memberikan doa pada almarhum hingga seratus harinya," jelas wanita itu.
"Piyayain petiap hali Mami?" tanya Aisya dengan suara kecilnya.
"Tentu tidak sayang, hanya tujuh hari pertama saja diadakan selamatan secara terus menerus," jawab Seruni.
Tentu saja semua bayi belum mengerti. Arsh membuka kue lapis yang lengket. Bayi itu kesulitan makan-makan dari tepung beras itu.
"Imih dimana syih matana!" dumalnya kesal.
"Badahal nenat!" lanjutnya menggerutu.
"Makannya kek gini Baby!" ujar Kean mencontohkan.
Pemuda berusia sembilan belas tahun itu memisahkan perlembar kue dan memakannya satu persatu. Arsh menirunya.
"Nenat Ata'!" seru bayi itu.
Semua tersenyum melihatnya. Acara selesai. Semua pamit pulang.
"Kak Kean!" panggil Rematha.
Kean menoleh, pemuda polos itu memang jauh dari perihal asmara atau lainnya. Berbeda dengan anak-anak Rommy dan Aden yang tentu sudah paham akan jatuh cinta.
"Ini buat Kakak," ujarnya malu-malu.
Gadis itu memberikan bingkisan indah. Kean menatap ayahnya. Virgou mengangguk.
"Makasih ya," ujar Kean tersenyum.
Rematha mengangguk. Rona merah menyeruak di pipi gadis itu. Keluarga besar Terra naik bus. Kendaraan besar itu pun bergerak meninggalkan tempat kediaman Rommy.
Haidar memeluk istrinya yang masih larut akan masa lalu. Pria itu tak mau Terra bersedih sangat lama.
"Papa sudah tenang sayang. Kita memberinya doa yang terbaik agar diterima di sisi-Nya,"
"Aamiin ya rabbal alaamin!' sahut Terra memeluk suaminya erat.
Flashback.
Sofyan menatap gadis delapan belas tahun bersama tiga anak kecil dan seorang wanita berusia tiga puluhan.
"Kamu adalah Terra Arimbi Hugrid Dougher Young. Ayah kamu memberikan warisan sebuah perusahaan besar yang harus dibenahi managementnya!'"
bersambung.
Innalilahi wa innailaihi radjiun
Papa Sofyan!
Next?
__ADS_1