SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
HEBOH


__ADS_3

Ditya mendatangi kelas adiknya, pria kecil itu satu kelas dengan Domesh dan Benua. Sedang Radit satu tingkat kelasnya di atas Sky, Bomesh dan Arfhan.


Mereka semua satu sekolah. Tentu saja pihak sekolah senang dengan kehadiran anak-anak itu. Kecerdasan mereka membuat sekolah menjadi sekolah unggul dan difavoritkan seluruh orang tua anak-anak.


Pihak sekolah dianggap mampu membina murid hingga secerdas keluarga kaya raya namun sangat sederhana itu.


"Dek," panggil Ditya pada adiknya yang baru saja keluar.


Ditya kelas lima SD, sedang Sky, Bomesh dan Arfhan kelas empat. Benua dan Domesh tak satu kelas dengan Ditya.


"Dit!" baik Ditya dan Radit menoleh.


Gio memang pindah dari perumahan di mana Arini tinggali dulu. Setelah berseteru dengan beberapa tetangga hingga membuat Aini trauma.


Gio menjual rumah itu dan pindah berdekatan dengan hunian pengawal lainnya yang telah menikah.


Aini yang dokter spesialis syaraf juga sangat sibuk. Dua putri kembarnya mereka titipkan di tempat yang terbaik. Di rumah Terra.


Nabila dan Sabila jadi salah satu tim rusuh bersama anak-anak lain.


"Sayang, kita buka day care aja yuk!' ajak Haidar sang suami.


Pria itu memang usil, terlebih ia kini lebih banyak di rumah. Ia menyerahkan seluruh kerjaan pada putra-putranya.


Sean, Al dan Rion. Rion memegang kendali penuh PT Bermegah Pratama Corp. Sedang Sean menjadi CEO di PT Pratama Corp. Sedang Al berkedudukan sebagai CEO di perusahaan Bram lainnya.


'Apaan sih sayang!' tegur sang istri tak suka.


"Nanti mereka diambil sama orang tua mereka. Kamu yang ngamuk!" lanjutnya mencibir.


Haidar berdecak, ia memang suka marah jika semua orang tua mengangkut putra dan putri mereka.


"Popa!" pekik Faza.


Putri bungsu Lidya ini memang super aktif. Haidar suka gemas, ia tak melihat satu pun sifat Lidya pada bayi berusia sepuluh bulan itu.


"Hai bayi ... mau apa kau teriak-teriak!" ujar pria itu gemas.


"Pa!" peringat Terra.


"Hai payi ... mo paa tamuh beliat-peliat!" tiru Fathiyya.


Horizon, putra bungsu Budiman dan Gisel sudah merusuhi para pengawal. Zora yang paling kecil di antara semuanya ikut mengacau ibu mereka yang memasak.


'Papa ih!" Terra suka kesal pada orang tua yang suka bicara sembarangan di depan anak-anak.


'Kemarin Nanat sisilan, lalu totat dunu ... lalu apa lagi?' ujarnya kesal.


Terra tak pernah bisa menjawab pertanyaan anak-anaknya itu. Otak-otak kecil mereka kadang tak bisa diprediksi orang tua. Terlebih sifat sok tau mereka.


"Nanti nambah anaknya Baby Nai dan Baby Rimbi," ujar Haidar sedikit sedih.


"Belum Satrio dan Adiba," lanjutnya makin tersenyum lebar.


"Kita jadi punya banyak cucu sayang," ujarnya lalu memeluk Terra.


Netra pekatnya menatap iris coklat terang di sana. Ia sangat bahagia punya anak banyak. Terlebih Terra memiliki bibit kembar.


"Banyak kolega papa iri karena keturunan papa yang banyak," ujarnya bangga.


"Rata-rata hanya punya satu bahkan ada yang tidak punya anak karena terlalu sibuk," lanjutnya lagi.


"Terima kasih telah melahirkan banyak keturunan untukku sayang," ujarnya lembut lalu mengecup pucuk hidung istrinya.

__ADS_1


Terra tersenyum, Haidar adalah pria yang ia cintai. Tanpa hadirnya Haidar, mungkin ia tak sanggup melewati semuanya.


"Sehat terus ya Pa ... Mama cinta banget sama Papa," ujarnya.


"Jangan sayang .... cintailah Allah lebih dibanding Papa. Karena Papa milik Allah," ujar Haidar.


Terra terharu, ia meletakkan kepalanya di dada sang suami. Keduanya tetap memilih mesra.


"Aku heran kenapa ada orang yang bisa hilang rasa pada pasangannya?" ujar Haidar ketika memeluk istrinya erat.


"Papa lagi ngomong apa?" tiba-tiba Rion datang dan menyela pelukan keduanya.


Bayi besar itu masih saja suka usil dan manja. Ia juga selalu ingin dinomor satukan.


"Baby," Terra cemberut karena Rion memisahkan pelukannya pada sang suami.


'Mama ... nggak boleh mempertontonkan kemesraan!" larang Rion.


Azizah menyusun makanan yang tadi ia masak dari rumah. Wanita itu hanya sesekali bekerja pada Darren. Karena posisinya digantikan oleh Adiba.


Adiba juga seorang IT. Wanita muda itu berhasil menembus level sembilan game turun-temurun yang diciptakan Terra ketika merekrut pegawai.


Salah satu ciptaannya adalah cleaning servis cyber. Sebuah sistem yang membersihkan sampah atau virus yang tertinggal akibat penyerangan.


Kafe bayi miliknya juga makin besar dan luas. Bahkan banyak tawaran untuk dijadikan sebuah merchandise.


Adiba menolak karena takut kualitasnya menurun. Rion masih asik mengganggu ayah dan ibunya itu.


"Mama ... Ion mau punya anak lagi boleh?"


"Baby ... kau boleh punya anak sebanyak yang kamu mau sayang," jawab Haidar.


"Tapi Azizah bilang satu aja dulu,' rengek Rion.


"Netnet!" pekik Sabila.


Bayi cantik itu berlari dan melempar sesuatu yang panjang. Semua berteriak.


"Astaghfirullah, ular!"


Semua tentu kaget, ular hitam berukuran kecil tampak menggeliat di lantai. Kepalanya putus, Sabila melempar kepalanya di sana.


"Baby ...."


Dian mengambil bayi itu. Excel menyingkirkan ular dan kepalanya yang terpisah. Semua orang tua shock.


"Periksa semua! Bersihkan jangan sampai ada sarang ular!" teriak Haidar.


"Apa dia digigit?" tanya Rion.


"Tidak Tuan, baby baik-baik saja," jawab Dian setelah memeriksa seluruh tubuh bayi montok itu.


Tangan Sabila sedikit berlumuran darah. Rupanya bayi cantik itu memotong ular dengan tangannya sendiri.


"Sini sama Papa baby," ajak Rion.


"Kamu nemu ular di mana?" lanjutnya bertanya.


"Pi tebun Papa!" jawab bayi cantik itu.


Karena temuan Sabila, semua bayi tampak penasaran dan ikut mencari keberadaan ular.


'Ulan ... ulan ... yuhu ... pimana tawu!' panggil Fael.

__ADS_1


"Ulan ... puss ... meong!" panggil Chira.


"Ulan tot meon?" tanya Zaa protes.


"punina pa'a don?" tanya Chira.


"Tinti ... punyi lulan padhaibana?" tanya Zaa.


"Bunyinya sssshhhh!' jawab Rosa.


"Janan pohon Tinti!" ujar Fael tak percaya.


"Iya baby!" ujar Rosa bersikeras.


Perdebatan antara bayi dan orang tua memang tak pernah.bisa dihindari.


Para pengawal terlatih ikutan merusuh karena mengasuh para perusuh.


"Apah ... Apah!' panggil Horizon.


"Iya Baby," sahut Rion.


"Apah Ojon Pisa teulpan!" aku bayi tampan itu memberitahukan.


"Oh ya bagaimana?" tanya Rion.


Horison naik ke atas meja dan loncat.


"Peulban!" Rion langsung menangkapnya dan melayangkan tubuhnya.


"Papa ... peunel tan Ojon pisa peulban!" pekik Horizon tergelak.


"Atuh judha!" teriak bayi-bayi lain.


Maka seluruh pengawal harus bersiap menangkap. Ryo dengan cepat menaiki tangga, lalu meloloskan diri dari pilar pegangan tangga.


"Auh eban!" teriaknya.


Fio menangkap bayi yang terjun bebas dari atas tangga. Bayi itu tergelak. Terra menahan nafas melihat tingkah Ryo.


"Baby!" keluhnya.


"Aku belum tua. Melihat kalian seperti ini, buat aku jadi cepat sakit jantung!" gerutu Haidar sambil mengelus dadanya.


"Jejel don dayi mamali!" teriak Angel.


"Baby!" pekik Maria.


Angel melompat dari atas bufet. Dian menangkap dan membalik tubuhnya untuk menjadi tameng. Karena bayi itu menjatuhkan dirinya beserta guci keramik yang ada di atas sana.


Prank! Huaaa! Angel menangis padahal bukan dia yang kena.


Tangisan Angel menular pada bayi yang lain. Terra dan Haidar menggaruk pelipis mereka. Keduanya saling tatap.


"Anak-anak kita sayang," ujar Haidar, lalu mereka tersenyum kemudian tertawa lirih.


Tamat.


Yuk saksikan kelanjutan mereka di The Big Families.


udah up satu episode loh!


makasih semuanya see you di novel selanjutnya.

__ADS_1


Ba bowu 😍😍😍😍😍


__ADS_2