SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH RENCANA 2


__ADS_3

Sementara di taman belakang. Bastian, Billy, Lana, Leno dan Lino menoleh mencari keberadaan Sky, Bomesh dan Arfhan.


"Eh ... Kak Sam juga nggak ada?" ujar Lana.


"Kak Benua dan Kak Domesh juga!" sahut Leno.


"Tumben nggak ikut main," lanjutnya.


"Udah, biar aja mereka. Kita main lagi!" ajak Bastian.


Azlan kini jadi penjaga. Mereka main gerobak sodor, mereka melawan kakak-kakak paling senior mereka.


"Ayo Babies jangan kebanyakan bengong!" seru Kean.


"Wawo ain!" seru Arsh marah.


Bayi galak itu berkacak pinggang sambil menghela nafas kesal. Firman, Al, El Bara juga sibuk mengatur kakak-kakak mereka.


"Ata' janan pisyana!" seru Al Bara kesal.


Permainan masih imbang dua kubu tidak ada yang mau mengalah. Kembali di mana Samudera dan lima adiknya berhasil keluar dari mansion ayah mereka. Benar kata Arfhan, jika tidak ada penjagaan ketat di sana karena memang jalan keluar masuk para maid dan tukang kebun.


"Kita berhasil!" serunya tertahan.


"Ayo, Kak. Nggak jauh dari sini kita bisa ke toko beras. Hanya sepuluh meter aja kok!"


"Kamu tau dari mana Baby?" tanya Samudera lagi.


"Dari para maid yang ngobrol kakak," jawab Arfhan.


"Mommy selalu menyuruh Bi Suri untuk belanja keperluan dapur. Mommy lebih suka sayuran dan daging fresh dibanding ke mall," lanjutnya.


Samudera mengangguk tanda mengerti. Arfhan memimpin jalan, semua bergandengan tangan. Jalanan cukup ramai orang lalu lalang. Beruntung pakaian mereka bukan pakaian bermerek, hanya saja wajah-wajah tampan nan rupawan sangat kentara jika mereka anak orang kaya.


"Halo Dek ... pada mau kemana ini?" tanya salah seorang pria dengan pakaian rapi.


Samudera tentu waspada. Bocah berusia sebelas tahun itu langsung mendorong adiknya melewati pria itu. Arfhan hanya tersenyum menjawab pertanyaan pria itu.


Karena banyak orang, pria itu tak berani berbuat banyak. Terlebih melihat kewaspadaan Samudera.


"Ini Kak tokonya!" seru Arfhan.


"Toko Ashen?"


"Iya, tuh banyak karung berasnya!" tunjuk Arfhan lagi.


Semua masuk ke dalam. Seorang pria muda melihat anak kecil masuk hendak mengusirnya.


"Wah ... ada yang bisa kami bantu ha!" sapa Ko Ashen sendiri menyambut mereka.


"Ko, biar saya aja Ko. Anak kecil palingan cuma gangguin aja!" ujar pria muda itu.


"Eh ... lu nyuluh-nyuluh gue hah! Mau gue pecat lu?" ancamnya dengan dialek yang begitu kental.


Pria muda itu tentu tak berani. Arfhan langsung bertanya perihal keinginannya.


"Ko ada beras yang lima kiloan nggak?"


"Ada ... mau belapa?" tanya pria bermata sipit itu senang.

__ADS_1


"Halah ... ko .. ko ... anak kecil diladenin!" sungut pria muda itu masih kesal.


"Lu benel-benel ya!" dumal pria sipit itu kesal.


"Kelual Lu!" usirnya.


"Noto!" panggilnya pada seseorang.


Pria bernama Noto datang menghadap. Ko Ashen meminta Noto membawa rekannya pergi keluar.


"Jangan gue liat lagi sampai gue adem hatinye!" teriak pria itu.


"Ko!" Arfhan menenangkan Ko Ashen.


"Maap-maap ha ... owe meman sepelti itu. Jadi Adek mau beli yang lima kiloan ya?" tanya pria mata sipit itu.


"Iya Ko," jawab Samudera kini.


Ashen menunjukkan barang yang diinginkan mereka.


"Satu kalung gini halganya 70.000 lupiah,"


"Wah ... kalo seratus karung uang kita kurang Kak!" sahut Bomesh.


"Iya, separuhnya aja dulu," sahut Samudera menengahi.


"Tapi Kak. Masa beras aja kita beli," sahut Benua kini..


"Kakak ada sih bawa ...."


"Emang mau buat apa banyak-banyak?" tanya Ashen dengan logat kentalnya


"Ah ... mulia banget. Gimana kalo Owe jual mulah ke kalian, itung-itung Owe juga sedekah?"


"Benelan Ko eh ... beneran?" ujar Domesh dan Benua dengan mata berbinar.


"Iya owe jual modal aja, lima puluh libu, pel kalungnya!"


"Berarti uang kita pas dong?" sahut Sky.


"Nggak apa-apa, yang lain dari uang Kakak!" sahut Samudera santai.


"Uang Kakak berapa?" tanya Benua. "Kan tadi Bommy nggak bawa uang Kakak."


"Kakak lupa, kalo kakak simpen," jawab Samudera santai.


Uang lima juta diserahkan pada Ashen secara tunai. Pria itu tentu senang luar biasa. Walau ia tak mendapat untung, tetapi ia sangat yakin, jika usahanya akan sukses sebentar lagi karena telah ikut bersedekah.


"Telus bawanya kalian gimana?" tanya Ashen.


"Kita titip sini Ko. Mau beli yang lain. Bisa?" Ashen mengangguk setuju.


"Kalo mau beli bahan sembako lengkap ada di sebelang sana. Mesti pake jembatan penyeblangan!" seru Ko Ashen memberitahu.


"Makasih Ko!"


"Mau Owe antal?" tawar pria itu.


Ashen merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan enam anak itu. Ia seperti berhadapan dengan cucu-cucunya.

__ADS_1


"Tapi toko gimana Ko?" tanya Samudera.


"Didin!" panggil pria itu lagi.


Seorang bernama Didin datang. Ashen lalu memerintahkan untuk pria itu menunggu dan melayani pembeli.


"Ini selatus kalung udah dipesen jangan Lu jual!" tekan pria itu mengingatkan pada pekerjanya.


"Iya Ko!" sahut Didin mengerti.


Ashen beranjak dari tokonya bersama enam anak kecil. Perawakan Ashen cukup tegap dan kekar, walau sudah tua. Tapi pria ahli Wushu itu begitu tenang mengantar enam anak kecil.


Mereka sedikit berjalan menuju jembatan penyeberangan. Semua naik dan tak lupa bergandengan tangan. Sky, Arfhan dan Bomesh paling ceria di antara tiga kakaknya.


"Wah ... seru juga naik ini!" Bomesh begitu antusias.


Samudera tiba-tiba berhenti ketika ada di atas. Seorang pria berpakaian rapi yang tadi menyapanya ada di sana dengan pisau lipat yang ia mainkan di tangan.


Ashen langsung menaiki tangga yang tinggal beberapa undakan lagi. Pria tua itu menatap pria muda yang seakan ingin mencelakai anak-anak.


"Eh ... bawa pengawal ternyata?" kekeh pria itu meledek Ashen.


Samudera sudah berjaga-jaga, semua adiknya ia lindungi di belakang tubuhnya. Pria itu ternyata tidak sendirian. Ada empat lagi dengan pakaian yang sama.


"Udahlah pria tua. Serahkan mereka sama kami. Kamu bisa pulang dan berlaga nggak tau!" ujar pria itu dengan seringai sadis.


Wut! Wut! Wut! Bunyi benda tajam yang dimainkan, bertanda jika pria itu benar-benar mahir dengan senjata itu.


Sky memindai tempat itu. Ada sebilah besi panjang. Ia menarik tangan kakaknya.


"Kak," bisiknya. "Sebelah kiri Kakak."


Samudera melihat yang dikatakan adiknya. Perlahan, bocah itu mengambil bilah besi.


"Ko!"


Ashen menoleh, Samudera menyerahkan bilah itu padanya. Pria tua itu tersenyum, ia telah lama tak lagi mengencangkan otot-ototnya.


"Baiklah ... ayo sini!" tantang pria itu lalu maju tiga langkah.


"Kalian sedikit menjauh!" perintah Ashen


Pria itu memainkan bilah besi dengan begitu indah. Sky, Bomesh dan Arfhan bertepuk tangan meriah.


Rion dan lainnya baru sampai di bawah jembatan. Pria itu mengernyitkan keningnya lalu pandangannya melihat tatapan adik-adiknya.


"Keknya seru," gumamnya.


"Baby," panggilnya berbisik.


Ternyata, Rion datang menyusul bersama Budiman, Gio, Felix, Hendra, Langit, Reno, Gomesh, Haidar, Dav, Herman dan Remario.


Herman lebih dulu naik. Pria itu memerintahkan sebagian menuju seberang jembatan. Gio, Felix dan Hendra menyeberang tanpa disuruh. Semua penasaran dengan apa yang terjadi di atas jembatan.


Bersambung.


Wah ... seru ... seru!


Lanjut sekarang?

__ADS_1


Next?


__ADS_2