SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
CINTA YANG POSESIF


__ADS_3

Nai, Arimbi dan Daud akan mempersiapkan wisuda mereka. Ketiganya sudah tidak lagi menjadi peserta koas karena sebentar lagi mereka akan disumpah dokter.


"Duh, aku kok deg-degan ya mau jadi dokter," ujar Nai.


"Iya sama," ujar Daud.


"Kamu akan langsung ambil spesialis jantung ya, Daud?" tanya Arimbi.


"Iya, aku nggak ambil ijin praktek karena langsung ambil spesialis. Kalo kamu Mbi?"


"Aku praktek sambil ambil spesialis, lumayan punya uang buat beli diktat atau jajan di kafenya Sean,"


"Nai?"


"Sama kek Arimbi. Aku juga praktek sambil ambil spesialis,"


"Aku bosan nih, kalo pulang, kita ke tempat Sean yuk!" ajak Nai.


"Bilang mama dulu, kamu mau kena marah papa kalo nggak bilang?" saran Arimbi.


"Ck ... sekali-kali badung yuk!" ajak Nai.


"Eh ... seru juga ya ngerjain sembilan pengawal kita," celetuk Arimbi.


"Gimana caranya? Kalian tau kan, mereka itu udah terlatih loh," peringat Daud.


"Ck ... iya juga ya. Lagi pula percuma ngumpet, gerakan kita pasti ketauan sama ponsel pintar itu," keluh Arimbi.


Belum mereka mulai untuk mengerjai para pengawal sudah menyerah kalah karena memang mereka minim pengetahuan.


Akhirnya ketiganya harus pulang ketika Terra melarang mereka ke kafe milik Sean.


"Mama sekali-kali kek bebasin kita. Dulu mama enak, bisa naik motor, mobil ke mana-mana sendirian!" protes Nai.


"Iya, masa kita udah gede gini, boro-boro bisa bawa motor kek Uma, bawa sepeda roda tiga aja nggak bisa kali," sahut Arimbi ikutan protes.


"Kalian mending cewe, apa kabar aku yang cowok, masa yang bisa bawa mobil cuma Satrio, Kak Darren sama Kak Rion!" timpal Daud ikut protes.


Terra menatap sedih ketiga anaknya protes. Sebagai ibu yang sangat protektif pada semua anak-anaknya, ia memang memastikan keamanan mereka. Makanya semua anak-anak ada di bawah kendali para orang tua kecuali Satrio dan Rion. Dua anak itu memang tak bisa dibendung keinginannya. Bahkan mereka ikut pelatihan secara diam-diam di markas mafia.


"Babies, mama kan sayang sama kalian dan tak mau terjadi sesuatu," ujarnya sedih.


"Ma ... tau nggak, kita tuh di antara semua teman. Kita bertiga kek Harun, Azha, Arraya, Arion dan Bariana. Para babies yang nggak tau apa-apa soal kehidupan bersosial. Kita hanya pinter di pendidikan tapi kami tak bisa memutuskan sesuatu tanpa mama yang memutuskan!" ujar Nai mengeluarkan uneg-unegnya.


"Lalu kalian mau apa, mau dibebasin?" sahut Virgou mulai tak suka nada bicara anak-anaknya.


"Bukan gitu daddy! Ah ... ya sudah lah kalau begitu, kami diam saja, biar toh memang kami tak memilih hak apapun atas hidup kami," sahut Nai begitu keras.


"Baby!" tegur Haidar.

__ADS_1


"Oke ... kalau itu mau kalian. Sekarang kalian mau apa?" tanya Virgou mulai tersulut emosinya.


Nai menangis juga Arimbi. Daud memilih diam. Virgou sedikit menyesal karena terlalu keras pada tiga remaja itu. Memang dia selaku ayah ikutan begitu protektif pada penjagaan seluruh anak-anaknya. Ia sama dengan Terra, tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada buah hatinya. Leon dan Najwa hanya menyimak para remaja yang curhat.


"Apa kalian tak berpikir sebesar apa tanggung jawab orang tua menjaga kalian?" tanya Virgou.


"Tapi daddy menjaga kami selayak barang antik yang tak boleh disentuh!" cicit Arimbi.


"Kemarin Nai patah hati untuk pertama kalinya karena pria yang Nai suka ternyata menyukai gadis lain, Daddy nggak bisa jaga itu kan?" sahut Nai dengan air mata berlinang.


"Siapa yang berani menyakitimu ..."


"Daddy please! Be wise!" seru Nai putus asa.


"Apa daddy mau bunuh semua laki-laki yang menyukai Nai?" Virgou diam.


Herman, Haidar dan Dav ikut diam. Bart hanya mencibir para pria posesif itu. Jika ada Budiman tentu akan pas terlebih jika ada Gomesh di sana.


"Ck ... sepertinya para pria di sini memang posesif termasuk aku," gumamnya lalu menggendikkan bahu acuh tak acuh.


"Kalo kek gini lama-lama Nai minta Om Hendra nikahin Nai deh!" gerutu gadis itu kesal.


"Baby!" kali ini Herman yang murka.


"Aku pastikan besok Azizah yang akan menjaga kalian bertiga!" seru pria itu.


"Tuh, Kak Azizah malah bisa berantem, kemarin juga bawa motor kek orang kesetanan waktu ambil tas bunda yang ketinggalan!" sambar Nai.


"Sekali-kali kek yah, kita pukul orang," sambar Arimbi membuat Khasya membola.


'Iya kek Dewi, Mbi yakin bentar lagi dia bisa bawa motor diam-diam!" sahut Arimbi.


Nai menyenggol saudarinya itu. Arimbi menutup mulutnya. Herman dan Haidar mulai gusar. Dua pria itu memang sangat posesif jika berurusan dengan semua anak gadisnya.


"Baby De!' panggil Virgou langsung.


Dewi yang tau jika kakaknya membocorkan rahasia tentang kebisaannya melotot pada Arimbi.


"Ck, mba nyebelin!" sungut gadis kecil itu.


"Kaila juga udah bisa bawa motor dad!" adu Dewi sekalian.


"Dewi!" teriak Kaila kesal.


"Baby!" peringat Haidar kini.


"Tuh kan ... kok kalian bisa sih nyuri-nyuri gitu!" sahut Daud kesal.


"Ck ... pake trik lah Kak, Mas Sat yang ajarin ... eh!" Kaila menutup mulutnya.

__ADS_1


"Baby Dim, Baby Affhan apa kalian juga sudah motoran?"


Keduanya saling pandang. Tak mau berbohong, mereka mengangguk.


"Tuh kan, awas kamu Satrio, nggak ngajarin aku!" umpat Daud kesal.


"Hachi!" Satrio bersin. "Alhamdulillah!"


"Yaharmukallah," sahut Langit.


"Spasa nih yang ngomongin gue!" gerutu remaja itu menggosok hidungnya yang gatal.


Kembali ke tempat Nai, Arimbi dan Daud yang kesal karena kebebasan mereka yang dibelenggu.


"Ketempat Sean aja nggak boleh!" gerutu Arimbi.


"Mama masak banyak baby, sayang kalo nggak dihabiskan. kalau emang gitu, besok-besok mama nggak masak deh," sahut Terra sedih.


"Tuh ... senjatanya kan enak tuh. Mama nggak masakin deh. Mama nggak bakal nanyain lagi deh ... kesannya kita anak durhaka banget ... huhuhu ... hiks ... hiks!"


Terra sedih, ia bukan ingin mengekang kebebasan putra dan putrinya. Tapi karena terlalu sayang hingga ingin semua anak selalu di rumah dan terlihat mata. Terkadang ia suka sedih ketika Darren dan Lidya tak tinggal bersamanya.


"Sekali-kali kek, nak ... sana nonton film di bioskop, sana belanja kebutuhanmu sendiri, sana jajan, sana nongkrong penuhin kafe saudaramu ... hiks ... hiks!" Arimbi masih mengungkapkan kekesalannya.


"Baby," Terra dan Khasya begitu juga Puspita jadi sedih.


Hanya Seruni yang diam saja. Ia menunggu para gadis melepaskan semua uneg-unegnya.


"Ketika semua temen kampus ngomongin Drakor dan film bioskop terbaru. Kita kek makhluk purba yang nggak tau apa-apa, mesti liat google dulu baru belaga pinter," sambar Nai juga terisak.


Haidar, Virgou, Herman, David. dan Bart menahan tawa mereka ketika mendengar protes anak-anak mereka.


"Sudah protes sama kesalnya?" tanya Seruni.


"Belum!" sahut ketiganya dengan bibir mengerucut.


Semua bayi dan adik-adiknya menonton kakak mereka yang curhat.


"Ata'Nai, Ata'Bimbi syama Ata' Baut tenapa?" bisik Bariana.


"Eundat pahu, buntin basalah wowan bulba!" bisik Arraya menjawab.


"Baby! rengek ketiganya pada dua bayi cantik itu.


"Pa'a syih Ata'!" sahut keduanya bingung.


bersambung.


lah ... kan gitu deh ...

__ADS_1


next?


__ADS_2