
Herman akhirnya mengikhlaskan semua anak angkatnya untuk menikah, pria itu memang berat ditinggalkan semua putra dan putrinya itu. Khasya terharu akan kelapangan hati sang suami.
Melihat peluang besar Hendra salah satu pengawal Terra juga menyatakan keinginannya meminang Anyelir, ia sudah jatuh hati dengan gadis pemilik outlet butik khusus gamis itu.
Semua anak angkat Herman sudah sukses. Pria itu mendukung semua pendidikan anak-anak ke jenjang yang mereka inginkan. Herman selalu mengajukan syarat pada semua putra putrinya ketika memilih pendidikan mereka.
"Ayah tak mau ada istilah gagal!" tekannya tegas dan tak mau kompromi.
Karena takut gagal dan malu pada ayah mereka. Kini semua berkembang dan sukses di bidangnya masing-masing.
"Sejak kapan kau memacari putriku?" tanya pria itu gusar ketika mengetahui Hendra menyukai putrinya.
"Ya, nggak pacaran sih, tapi kalo ayah suruh pasti Anyelir mau!" jawab pria itu begitu percaya diri.
"Cis ... jika ia menolak aku langsung menendangmu!" desis Herman mencibir.
"Jangan dong yah ... Ayah ... aku kan lelaki sejati dan setia. Ayah pasti tak mendapat menantu seperti ku!" ujar Hendra mempromosikan dirinya.
Hendra menyingkir dari sana. Dominic terkekeh melihatnya, ternyata inilah yang membuat Herman berbeda dengan pria lainnya, seperti Frans, Leon dan Bart bahkan Bram sendiri. Herman penuh kasih sayang dan cinta. Makanya semua pria manja padanya bahkan Virgou sang mafia tunduk atas perintah Herman.
"Ah ... dia ayahku ... Herman adalah ayahku!" tekan Dominic dalam hati.
Pria itu lalu memburu calon mertuanya. Putranya pasti senang jika mengetahui dirinya telah mendapat restu untuk mempersunting Bibu Dinar-nya.
Melihat sang suami dikejar oleh para bodyguard jomlo membuat Khasya mengerutkan kening.
"Ayah, kenapa mereka seperti itu?'
"Lihatlah, pria-pria malang ini. Terra mengekangnya hingga tak bisa pacaran dan kini mereka meminta anak ayah yang masih gadis!" jawabnya sinis.
"Ih ... Te nggak pernah gitu ke mereka ayah!" protes wanita itu cemberut.
"Ayah, anak gadismu banyak dan layak menikah," sahut Haidar.
"Iya makanya kuijinkan mereka menikah ... kecuali!' pria itu menekan kata terakhir.
Semua menoleh, Reno sangat yakin jika nama itu yang disebut.
"Arimbi!"
__ADS_1
Bahu Reno langsung turun. Sang gadis tengah istirahat. Jadi tak mendengar percakapan ini.
Para perusuh sudah tidur. Mereka diangkut oleh orang tua mereka. Lidya dan Darren menginap bersama pasangannya, Dominic memilih pulang. Ia mengajak Al, Sean dan Daud untuk ikut Terra mengijinkannya. Ketiga remaja itu mengikuti ayah dari Demian itu.
Sampai di mansion. Herman yang lelah dengan semuanya merebahkan diri. Arimbi menginap di rumah Terra, gadis itu kelelahan setelah memimpin rapat untuk masalah management rumah sakit. Safitri yang berprofesi bidan tak bisa banyak membantu di rapat tadi, jadi ia keluar rapat setelah penyusunan divisi internal rumah sakit dibentuk.
"Ayah," panggil Khasya.
Wanita itu berbaring di sisi sang suami yang setia memejamkan matanya. Perempuan itu cukup tau pergolakan hati suaminya. Ia mengecup dada sang suami. Pria itu memeluk istrinya dan memberikan kecupan ringan di bibir Khasya.
"Apa mas menyesal, melepas semua putra dan putri angkat kita?" tanyanya halus.
Netra Herman membuka dan menatap istrinya. Ada genangan air di sana. Khasya terharu, suaminya belum mengikhlaskan tetapi pria itu harus melakukan itu.
"Sayang, mereka semua sudah besar, terutama Dinar, lagi pula bunda setuju jika Dinar bersama Dominic," ujar wanita itu.
"Iya sayang aku tau, yang ku khawatirkan bukan itu!" ujarnya gusar.
"Apa mas?"
"Kedua orang tuanya masih hidup. Mereka dulu membuang Dinar karena gadis itu gemuk dan tak memiliki kontribusi pada keluarga," jelas pria itu dengan nada geram.
"Ya, makanya aku bingung, bagaimana hukumnya jika aku yang menjadi wali, sedang kedua orang tuanya masih hidup?" tanyanya gusar.
Khasya diam.
"Jika aku beri tahu pada kedua orang tuanya jika Dinar menikah dengan pria kaya raya, aku takut mereka menuntut segala macam mahar yang membuat Dominic mundur dan hati Dinar kembali tersakiti," lanjutnya resah.
"Apa sampai sebegitunya sayang?" tanya Khasya tak percaya.
"Mereka kini sedang susah, sayang ... sungguh aku tak mau mengungkap kebenaran ini dan membiarkan Dinar lupa semuanya. Tapi bagaimana pertanggungjawaban ku pada Allah?"
Khasya diam membisu. Ia juga bingung harus apa. Ia hanya menyerahkan semua pada Tuhan.
Pagi hari menjelang. Semua kembali sibuk dengan aktivitas.
Herman tengah mempersiapkan pernikahan putra angkatnya—Bima. Pria itu semakin tampan menjelang hari pernikahannya. Memang masih dua bulan lagi, tetapi pria itu kini membeli barang-barang hantaran untuk gadisnya. Ia membawa Lana, Leno dan Lino bersamanya, sang kekasih juga sangat menyayangi tiga anak itu. Bahkan calon mertuanya itu marah jika Bima membawanya pulang.
"Emang nggak boleh nginep apa?" tanya sang ibu.
__ADS_1
"Maaf Bu, ayah hanya boleh bawa saja tapi tidak menginap," jawab Bima.
Sang ibu cemberut, ia sudah jatuh cinta dengan tiga anak yatim piatu kembar itu.
"Jadi anak Bapak dan ibu aja ya," pintanya sambil merayu.
Ketiganya menolak. Mereka lebih menyayangi Herman dan Khasya, maka itu ketiganya tak mau berpisah dengan ayah dan ibu barunya itu.
Setelah membeli untuk hantaran dan uang untuk resepsi. Mertua hanya meminta 25 juta rupiah untuk semuanya. Bima menyanggupinya. Pria itu menyerahkan uang 50juta untuk keperluan pernikahan.
Bimo membawa tiga adik yang sama dengannya. Hanya saja nasib Lana, Lino dan Leno lebih beruntung. Bima diselamatkan Khasya dari sang ayah yang menjual dirinya, untuk melunasi utang judinya. Khasya membelinya dengan catatan pria itu tak mengganggu lagi. Ayah penjudi itu tewas dihakimi massa karena kedapatan mencuri sedang ibunya entah pergi ke mana Bima tidak tau.
Dinar belum tau jika Herman menyetujuinya berhubungan dengan Dominic. Kesibukan pria itu dengan perusahaannya.membuat pria itu jarang menghubunginya. Gadis itu bersabar, ia yakin dengan ketentuan Allah untuknya.
Dua pasang mata menatap sosok tambun yang sedang berjalan bersama seorang anak perempuan.
"Mas ... apa Dinar sudah menikah?" tanya perempuan itu.
Si pria hanya diam. Sejuta penyesalan merasuk dalam sukmanya sekarang. Demi keuntungan bisnis, ia membuang anaknya yang tak bisa membuat bisnisnya naik. Dua puluh lima tahun berlalu. Kini semuanya habis, sepasang suami istri kini menelan karma yang mereka tanam sendiri. Sang ibu meninggal dunia setelah perusahaan putranya bangkrut.
"Mas ... andai waktu itu kita tak membuang Dinar ... apa kita bahagia sekarang?' tanya wanita itu sedih.
"Bisa iya bisa juga tidak, ma," jawab pria itu lirih.
Keduanya bergandengan tangan. Mereka naik angkutan umum dan akan melanjutkan naik bus antar kota.
"Papa merelakanmu nak, semoga kau hidup bahagia," ujarnya mendoakan putri yang ia buang hanya karena alasan sepele.
"Putrimu gemuk, siapa yang mau berjodoh dengannya, terlebih anak gadismu tak memiliki kemampuan apapun!" ketus salah satu kolega menghina putrinya.
"Perusahaanmu masih kecil dan belum maju, buang saja putrimu itu. Menyusahkan dan tak bisa dibuat barter perjodohan bisnis!" sungut almarhum ibunya.
Ibunya sendiri yang menyuntikan cairan penghilang ingatan pada anak gadisnya. Ibunya sendiri yang mengantarkan anak perempuannya itu ke tengah pasar dan meninggalkannya begitu saja.
"Bu ... ini bukan salahmu ... tapi salahku yang memang menjadi pria tak becus dan pengecut!"
bersambung.
eh ...😱😭
__ADS_1
next?