
"Jadi kita akan berangkat besok ya," ujar Naslimah begitu yakin.
"Tidak Bu!" Adiba tetap pada pendiriannya.
"Nak?"
"Saya nggak mau ikut Ibu!" sahut Adiba begitu berani.
"Jangan egois Adiba!" teriak Naslimah mulai terpancing emosi.
"Siapa yang egois di sini. Saya punya hak untuk menolak seperti mereka yang berhak mencoret saya ketika awal pertandingan!" teriak Adiba.
"Kamu ingin mencoreng nama pesantren Adiba!"
"Saya tidak pernah mencoreng nama pesantren. Maaf Bu. Saya sudah memiliki mimpi lain!" tolak Adiba tetap bersikeras.
"Mimpi apa. Kamu baru tiga belas tahun. Mau jadi apa kamu jika melawan guru!" tantang Naslimah meremehkan Adiba.
"Saya tidak peduli Bu. Saya tak memiliki kewajiban lagi setelah dinyatakan tidak lolos tempo hari. Lagi pula kenapa saya harus menuruti ibu!" sahut Adiba menentang Ustadzahnya.
"Kamu saya keluarkan dari sekolah!" ancam Naslimah.
"Ibu tidak berhak mengeluarkan Adiba dari sekolah!" tentang Layla masuk dalam kantor wakil kepala yayasan itu.
"Siapa kamu berhak mengatur saya. Saya adalah pimpinan di sini!" teriak Naslimah sombong.
"Anda pimpinan sementara! Anda tetap tidak berhak mengeluarkan satu anak didik pun dari pesantren terlebih anda memaksakan Adiba mengikuti anda!" teriak Layla.
"Pihak televisi akan memberikan tuntutan jika Adiba menolak ikut!" sahut Naslimah masih mencoba peruntungannya.
"Saya akan hubungi pihak televisi!" sahut Layla tak kehabisan pikir.
Gadis itu mengambil ponsel. Naslimah panik ia mendekati guru tersebut dan dengan cekatan merebut ponsel milik Layla dan melemparnya ke lantai.
Prak! Hancur sudah ponsel guru cantik itu berkeping-keping.
"Apa yang ibu lakukan!" teriak Layla.
"Lihat Adiba. Kamu berkelahi karena keegoisanmu!" teriak Naslimah masih menekan anak didiknya yang bergeming menetap dua gurunya itu.
"Tidak Nak. Ini bukan salah kamu. Tapi salah ibu pemaksa ini!" sahut Layla sambil menunjuk wakil kepala yayasan.
Mendengar keributan di kantor wakil mereka. Semua murid diminta untuk tidak keluar kelas. Bahkan Alim dan Ahmad yang mestinya sudah pulang menunggu di kelas.
Supir yang menunggu Alim, Ahmad, Amran, Lana, Leno dan Lino sedikit heran. Semua anak belum ada yang keluar kelas mereka padahal bel berbunyi dari tadi.
Tak lama mobil yang akan menjemput Adiba dan Ajis datang. Juno keluar dari mobil ia bingung kenapa bus yang akan mengantar anak-anak pulang masih parkir di sini. Pria itu langsung masuk ke dalam bangunan itu.
__ADS_1
"Bu, Adiba kemarin sudah menolak lomba itu!" teriakan Layla terdengar oleh Juno.
Para guru hanya menonton tak bisa melakukan apapun. Mereka memang tidak tahu menahu perkara apa yang diributkan pemimpin sementara itu bersama salah satu rekan seprofesi mereka. Juno masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa ini!" bentaknya.
Adiba sudah menangis dipelukan Layla. Tiba-tiba Adiba jatuh tak sadarkan diri. Juno langsung menelepon Tuan mudanya.
"Tuan Muda, Nona Adiba jatuh pingsan!" lapornya.
"......!'
"Baik Tuan!"
Juno menepuk bahu Layla, ia pun mengangkat tubuh lemas Adiba. Naslimah terdiam melihat anak didiknya pingsan.
"Jika terjadi apa-apa pada Nona. Saya pastikan kalian akan mendapat ganjarannya!" sahut pria itu melirik tajam pada wakil kepala yayasan.
Layla mengikuti Juno yang menggendong Adiba. Guru cantik itu menangis melihat anak didiknya yang depresi disalahkan oleh Naslimah tadi.
Tak butuh waktu lama, Rion datang bersama Langit, Rio dan Lucky. Pria itu begitu geram dengan apa yang terjadi dengan adik iparnya.
"Apa yang anda lakukan pada adik saya!" tekannya pada Ustadzah Naslimah.
Wanita itu menahan semua ketakutannya. Jantungnya seakan melompat keluar dari tempatnya.
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai pendidik!" jawabnya begitu berani.
Sungguh, pria itu ingin menghajar orang di depannya jika orang itu adalah pria. Sayangnya, ia berhadapan dengan seorang ibu.
"Saya tak melakukan apapun. Saya hanya menekankan pada Adiba agar bertanggung jawab atas apa yang sudah dia kerjakan. Saya hanya memberi dorongan agar ia menyelesaikannya!" jawab Ustadzah Naslimah.
"Dia sudah ditolak dari perlombaan itu!"
"Pihak televisi mengatakan jika itu adalah keputusan sepihak dari promotor acara!"
"Saya tidak peduli!" teriak Rion. "Saya melarang adik saya ikut lomba itu!"
"Anda tidak berhak, anda bukan walinya di sini!" teriak Naslimah berani.
Azizah datang bertepatan dengan teriakan Naslimah. Wanita itu langsung mendekati perempuan paru baya itu dan menamparnya dengan kuat.
Plak! Kepala Naslimah sampai menoleh ke kiri.
"Aku adalah wali sahnya. Anda tidak berhak memutuskan apa yang terbaik bagi adik saya!"
"Kau sudah menikah. Seorang perempuan bukan wali dari seluruh adik perempuannya!" teriak Naslimah.
__ADS_1
"Saya akan menuntut Anda dengan tindakan kekerasan!" lanjutnya mengancam.
"Silahkan! Saya tidak takut!" teriak Azizah.
"Ada apa ini?" sebuah suara menginterupsi.
Semua menoleh, kini Naslimah berada di atas angin. Pemilik sah yayasan datang.
"Ustadzah Salma dan Ustadzah Aisyah pasti membelaku!" gumamnya dalam hati.
"Ustadzah, tolong saya, saya dikeroyok oleh wali. Padahal saya hanya memberi saran yang baik pada anak didik saya!' adunya berbohong.
"Bangsat!" maki Rion.
"Astagfirullah ... istighfar Tuan ... istighfar!" sahut ustadzah Salma menenangkan Rion.
"Kita bicarakan ini baik-baik!" ajaknya dengan suara lembut.
Belum mereka bicara telepon Naslimah berdering. Semua menoleh padanya.
"Angkat Bu, siapa tau itu penting," suruh Ustadzah Aisyah.
"Ini bukan apa-apa," jawab Naslimah mulai panik.
Teleponnya kembali berdering. Rion tak sabaran ia merampas telepon itu dan mengaktifkan pengeras suaranya.
"Assalamualaikum Ustadzah Naslimah, kami pihak pertelevisian membatalkan keikutsertaan dari Adinda Adiba sebagai peserta lomba!"
"Bisa dijelaskan kenapa Pak?" tanya Rion.
"Maaf ini saya bicara dengan siapa ya?" tanya orang di seberang telepon.
"Saya adalah wali dari anak yang anda sebutkan tadi!' jawab Rion tegas.
"Tuan Dougher Young kami minta maaf atas kesalahan ini. Pihak sekolah menyatakan kesediaan Adinda Adiba untuk ikut serta. Bahkan meyakinkan kami jika Adinda Adiba tidak memiliki wali yang bertanggung jawab," jelas pria di seberang telepon.
"Jadi kami mohon kesediaannya bagi Tuan Dougher Young untuk tidak memblok acara kami. Sungguh program acara ini sudah kami rancang sedemikian rupa, banyak tim yang terlibat dalam program ini. Belum sponsor yang sudah mengeluarkan dana banyak. Belum lagi para peserta lain yang berharap tampil dan mengikuti perlombaan ini," pinta pria itu memohon dengan sangat.
"Baik, saya akan membuka blok asal Adiba tidak disebut atau kejadian ini tidak disiarkan demi rating acara kalian!" tekan Rion.
"Kami berjanji Tuan. Kami akan melakukan apapun yang Tuan katakan!" sahut pria di sana berjanji.
Sambungan terputus. Naslimah kini menunduk di dewan kehormatan pesantren. Banyak pengaduan para ustadz dan ustadzah yang mengajar di pesantren setelah ibu dari Salma dan Aisyah meninggal dunia.
Rion menggandeng istrinya. Membiarkan hukuman Naslimah ditangani oleh petinggi wanita itu. Keduanya memilih pergi ke rumah sakit milik Lidya, di mana Adiba dirawat di sana.
Bersambung.
__ADS_1
Alhamdulillah... selesai!
Next?