SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
TAK UMPET


__ADS_3

Bagaimana jika satu kota dibuat mencekam oleh kegiatan beberapa keluarga penguasa kaya raya.


"Ayah ikut cari!" ujar Herman.


"Ikut juga!" Gabe dan Dav tak mau ditinggal.


"Ayo!" ajak Virgou.


Pria sejuta pesona itu melirik para pengawal. Reno dan Langit memberi kode pada Gomesh dan Budiman, jika ketua utama mereka hendak melakukan sesuatu.


"Ketua!" protes Gomesh.


"Papa, kita boleh ikut cari?" tawar Ella yang ketinggalan rombongan.


'Kalian di rumah ya!" pinta Seruni.


"Mami takut," lanjutnya sedih.


Semua anak akhirnya menunggu di rumah karena ibu-ibu mereka bermuka sedih. Hanya Terra yang ikut rombongan.


"Jangan lupakan aku!" seru Remario ikut menyusul semua orang.


"Kembali bodoh!" teriak Bart marah.


"Grandpa!" rengek pria itu.


"Aku bilang kembali!" teriak Bart lagi.


Remario cemberut, Andoro hanya melongo melihat bagaimana pria tampan itu begitu manja dengan keluarga menantunya itu.


Virgou bersama Gomesh, David dan Gabe. Sedang Budiman bersama Terra dan Haidar juga Herman.


Sementara di tempat lain, Darren dan Saf tengah berboncengan dengan sepeda motor matic. Keduanya tertawa tanpa ada pengawalan.


"Sayang," Demian menatap Lidya.


"Mas, lihat perutku. Kau mau kabur?" tanya wanita itu kesal.


"Tidak sayang," Demian langsung membujuk istrinya agar tidak ngambek.


Jac menatap istrinya. Putri langsung menggeleng cepat. Ia tak mau ikut-ikutan membuat seluruh keluarga khawatir.


"Ipu ... janan soba-soba tabun ya!" peringat Aaima.


"Biya ... pita aja pitindal!" gerutu Harun melirik kesal pada kakaknya yang tidak bisa kabur.


"Maaf Baby," ujar Daud dan Raffhan menyesal.


Dewi kesal pada Luisa yang menurutnya tidak asik. Gadis itu cemberut, hal itu membuat Luisa sedih.


"Sayang," peringat Khasya.


"Baby mau buat bunda sedih karena mikirin kalian kabur?" tanyanya lagi.


"Nggak Bunda," Setya lalu memeluk perempuan itu.


Sedang di tempat lain. Beberapa anak tengah berada di sebuah mall. Memilih naik angkutan umum dibanding taksi online.


"Babies!" Kean menoleh.


"Kakak?" Kean bingung Rion bisa menyusulnya bersama dengan Azizah.


"Kalian mau kemana?" tanya Rion.


Mereka berada di sebuah mall besar untuk mendinginkan suasana. Terlebih para bayi mulai kelaparan.

__ADS_1


"Mau cari food court dulu," jawab Kean.


Mereka masuk ke dalam. Semua memilih mematikan ponsel agar tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Al, Sean, Billy, Bastian, Arfhan, Sky, Bomesh, Azlan. Radit dan Ditya juga Satrio menyusun meja dan kursi jadi panjang. Rion mengambil alih Arsh dalam gendongan Billy.


"Papa ... Alsh wawus," keluh bayi itu.


'Uan nasnas Papa," keluhnya lagi.


"Ini susunya Baby," Satrio menyodorkan botol susu.


Bayi itu langsung mengambil dan menghisapnya kuat. Rion memesan beberapa makanan.


"Mba minta air panas satu termos dong!" pinta Sean.


Baby Arsh, Baby Maryam, Baby Fathiyya, Baby Bariana, Baby Della Baby Firman dan Baby Gino dipangku. Azlan,.Radit dan Ditya membuat makanan untuk Arsh, lalu memanaskan susu dalam botol dan menyerahkan pada semua bayi.


"Ata' Baliana sudah besal!' ketus Bariana yang menolak susu.


"Puat Dhino aja!' Bariana malah meraih botol susu itu dan meminumnya.


Gino tersenyum, Sean menyuapi Arsh dengan makanan khusus bayi. Sedang Rion menyuapi Gino dan Maryam.


"Papa Balyam dah teunyan," tolak bayi itu ketika disuapi Rion.


"Oteh!" bayi besar itu memasukan suapan terakhir pada mulutnya.


"Kita kemana sekarang?" tanya Rion lagi.


"Nonton bioskop!' ajak Azlan.


"Ada film Madagascar terbaru," lanjutnya memberi info.


"Kita ke sana!" ujar Rion setuju.


Mereka bergerak, Kean menggendong Bariana karena bayi itu paling besar. Walau Gino paling tua, tapi tubuh Gino jauh lebih kecil sama kecil dengan Della. Kean yang membayar tiket masuk bioskop. Al, Billy, Bastian, Sky, Bomesh, Arfhan, Azlan, Radit dan Ditya bertugas membawa makanan dan minuman. Mereka masuk bioskop.


"Kita ke mall!" suruhnya pada Gomesh.


Semua turun di sebuah mall besar. Virgou mengambil ponselnya. Warna khusus yang memang diperuntukkan pada keluarga tidak ada karena semua mematikan ponsel mereka.


"Kak!" Virgou menoleh.


Terra datang bersama Budiman, Haidar dan Herman. Mereka memasuki mall besar yang mendadak dibatasi oleh orang-orang berpakaian hitam. Tim Dahlan bergerak cepat sejak diberitakannya beberapa perusuh hilang.


"Ketua!" Dahlan datang bersama Deny dan beberapa pengawal lainnya.


"Andalkan insting kalian!" suruh Virgou.


"Mereka benar-benar main petak umpet!" sambungnya dengan senyum bangga.


Virgou benar-benar mengerahkan kemampuan otak para pengawal untuk mencari keberadaan semua anak-anaknya. Budiman menggandeng Terra dan Haidar.


"Bud, kita bukan anak kecil," sindir Haidar.


Budiman berdecak. Ia bukan tidak tau maksud dari suami kakak iparnya itu. Herman santai melangkahkan kakinya. Virgou mengikuti berikut yang lainnya.


Sementara di tempat lain. Darren harus putar balik karena tim pengawal mendapatkannya.


"Tuan!" keluh Rio menatap sepasang suami istri itu.


"Ih ... kakak!" rengek Saf.


"....."


Rio hanya menghela napas. Darren terpaksa turun bersama istrinya dari motor. Mereka naik mobil yang disupiri Rio. Sedang motor dibawa oleh Guntur.

__ADS_1


Herman melangkah ke food court. Ia menatap lama di sana. Virgou mengikuti apa yang dilakukan pria itu.


"Yah?"


"Mereka tadi di sini," ujar Herman.


"Sepatu Nona Baby Del!" Deny menemukan sepatu bayi.


"Kau belum membelikan Baby Del sepatu Boy?" tanya Herman kesal pada Virgou.


"Aku udah suruh Puspita Ayah!"


"Ini sepatu lamanya, siapa yang memakaikan ini padanya?" tanya Terra.


"Mungkin maid. Sudahlah jangan diributkan!" lerai Gabe bijak.


David mengangguk setuju, Gomesh sudah gelisah. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada semua anak-anaknya.


"Baby Ion juga hilang tau," celetuk David.


"Baby sama mereka," sahut Herman santai.


Pria itu bergerak lagi. Kali ini ia melangkah ke arah bioskop. Semua bergerak, Dahlan sudah menyusup ke sebuah studio teater yang menayangkan film untuk anak-anak. Ada tiga film kartun.


"Ayah, mereka nonton apa?" tanya Terra.


Wanita itu menarik tangannya dari genggaman Budiman dan bergelayut manja pada pamannya itu.


"Madagascar!' jawab Virgou, Herman dan Haidar berbarengan.


"Filmnya baru selesai dua puluh menit lalu!" jawab Dahlan.


"Mereka tidak jauh. Cari!" perintah Virgou.


Sementara itu, Arfhan dan Rion berjalan keluar melalui pintu darurat. Pintu yang tidak akan diperiksa oleh para pengawal. Sky yang memberi ide itu.


"Kita keluar pake pintu darurat Kak!" ajaknya.


"Ide bagus!" seru Rion senang.


"Iya, mereka tentu tidak menyangka kita akan menggunakan pintu itu!" sahut Satrio.


Benar dugaan para perusuh itu. Semua pengawal melewati pintu darurat. Herman menghela napas panjang.


"Anak-anak sudah tidak ada di mall ini," ujar Herman.


"Ketua, kami kehilangan jejak!" seru Deny dan lainnya. "Semua pintu kami periksa dan


"Aku yakin kalian melewatkan pintu darurat," sahut Gabe dan David.


Herman dan Virgou mengangguk setuju. Terra terkekeh mendengarnya, sedang Haidar malah membawa Budiman berbelanja di sana.


"Kak," keluh pria itu.


"Eh ... biar anak-anak, kita belikan ini buat Baby Gi dan lainnya. Lucu-lucu,"


Haidar memang berbeda dengan istrinya. Semua keperluan anak Haidar lebih perhatian dibanding Terra yang cuek dengan penampilan.


"Hei ... kok kalian malah belanja sih!" gerutu Herman pada dua pria yang sibuk mengambil baju-baju lucu.


"Ini lucu-lucu tau Yah?!" seru Budiman dan Haidar bersamaan.


Bersambung.


Lah ... kok malah belanja sih Baba, Papa? 🤦

__ADS_1


next?


__ADS_2