
Ulang tahun Dewi dimeriahkan. Semua atlit terkejut ketika mengetahui jika gadis yang mereka kenal selama pertandingan ini adalah anak pengusaha kaya raya.
Pooja melahap daging steak yang ada di meja dengan lahap. Rahmed dan lainnya juga demikian. Semua makan dengan penuh kenikmatan.
Dewi dimanja oleh Herman. Gadis itu benar-benar tak mau lepas dari pangkuan ayahnya.
"Baby!" Khasya kesal melihat tingkah putri bungsunya itu.
"Dewi jarang dipangku ayah!" rengeknya manja.
"Sudahlah sayang," bela Herman.
Karena perbuatan Dewi. Semua anak perempuan ingin dipangku ayah mereka. Maisya dan Kaila dipangku Virgou. Arimbi juga mau dipangku Herman, Nai dan Arraya berebutan Haidar. Bariana bersama Angel. Fathiyya bersama Budiman. Aliyah Rinjani bersama ayahnya Dav. Ella dan Martha dipangku Gabe,
"Apah ... Apah antu Yiyo!" pekik Ryo galak pada Darren.
Bayi itu menyingkirkan Maryam dan Aisya. Tentu dua batita itu menangis.
"Sini sama Papa Babies!" Rion menggendong keduanya.
Ryo menyuapi Darren. Bayi sebelas bulan itu memang paling aktif. Sedang Faza dipangku oleh Rio.
Bariana melirik Reno yang duduk sendiri. Dari dia bayi Reno adalah Abang pengawal tampannya. Bocah cantik itu menyambangi Reno dan minta pangku.
"Abang pengawal tampan ... Baliana minta pangku!"
Setelah drama pangkuan berakhir. Para atlit mengucap selamat ulang tahun untuk Dewi.
"Happy birthday Athena!" ujar semua atlit.
"Terima kasih!" sahut Dewi tersenyum.
"Mama ... pa'a pidat lada palotean?" tanya Arsh.
"Nanti di rumah sayang," jawab Terra.
"Teunapa talo pisyimi Mama?" tanya Dita.
"Di sini tidak ada musiknya," jawab Terra.
"Pita poleh atapela mama?" kali ini Rinjani yang bicara.
"Ah ... Ata' Halun Pisa patalepa!" tunjuk Zizam.
"Atapela Paypi!" ralat Maryam.
"Biya matsutna ipu!" angguk Zizam.
"Syulupup tetiwil ... syulupup tetiwil!" celetuk Azha bernyanyi.
Semua tersenyum lebar. Mengingat momen di mana para perusuh bernyanyi akapela di atas panggung.
"Ayo kita istirahat. Nanti malam kita pulang. Di rumah kita bisa nyanyi sepuasnya!" ujar Bart.
Akhirnya semua anak-anak dibawa ke kamar mereka. Masih ada delapan jam lagi untuk pulang.
Keberadaan keluarga super besar dan kaya raya membuat seluruh kota heboh. Para media hendak mencari berita, tetapi keamanan yang dibangun oleh keluarga itu sangat ketat.
"Ayolah ... kau bisa menikmati ini jika kau mau!" tawar seorang wartawati pada Fio.
__ADS_1
Wartawan wanita itu membuka dadanya yang membusung. Fio tertawa, ia menggeleng.
"Maaf ... saya tidak tertarik dengan dada silikonmu!" tolaknya pedas.
"Oh ayolah ... atau kau mau kuservis dengan mulutku?" tawar wanita itu lagi.
"Berhenti Nona sebelum aku mematahkan tanganmu!" tepis Fio ketika tangan wanita itu hendak menyambar area bawah pengawal tampan itu.
"Ck ... kau tidak tau rasanya nikmat Tuan," ujar wanita itu masih menggoda.
"Dian, Rosa, Tiana!" panggil Fio.
Dia adalah seorang laki-laki. Pantang baginya menggunakan kekerasan. Tiga pengawal wanita menangani wartawati itu.
Mengusirnya secara kasar dengan setengah menyeret tubuh gadis itu.
"Hai ... kau melawan hukum!" teriak wartawan seksi itu.
"Kau yang kamu hukum. Tindakanmu mencoreng instansimu Nona!" ujar Dian tegas.
Wanita itu terdiam, ia tentu tak mau dirinya dipecat hingga menjadi pengangguran. Menjadi wartawan memang bukan tujuannya. Ia ingin berdekatan dengan pria-pria kaya dan mencari berita sensasional mereka.
Waktu memang tak bisa dihentikan. Seluruh keluarga kaya itu pun beranjak meninggalkan negara pecahan uni Soviet itu.
Pesawat Airbus A380 meninggalkan bandara. Seluruh dunia heboh akibat perjalan singkat keluarga pengusaha itu.
"Mereka pasti jadi incaran pajak!" ujar salah satu menanggapi.
Sementara Bart tampak santai di tempat duduk exclusivenya. Pesawatnya bukan pesawat ekonomi. Seluruh kelas adalah kelas bisnis dan paling tinggi adalah kelas eksekutif.
Berangkat malam sampai di tanah air pun malam. Semua bergerak dalam sunyi. Tak ada yang mengetahui kepulangan keluarga kaya raya itu.
"Ide bagus. Anak kita banyak, usaha harus dikembangkan!" ujar Bart setuju.
Lastri dan Najwa hanya bisa menggaruk pelipis mereka. Seruni hanya bisa bengong.
"Orang pebisnis itu otaknya tak pernah berpikir selain bisnis ya?" celetuknya bertanya.
David mencium istrinya. Pria itu hanya tertawa menanggapi pertanyaan sang istri.
Akhirnya semua sampai mansion Bram. Semua masuk kamar dalam keadaan lelah.
Satrio menggeret istrinya dan masuk ke kamar. Ia merindukan tubuh istrinya. Adiba hanya bisa pasrah, sudah dua malam kemarin ia menyerahkan diri pada sang suami.
"Ternyata benar kata Kak Ion," ujar Satrio ketika berada di atas tubuh sang istri.
"Sayang," rengek Adiba manja.
Wanita muda itu tak tahan. Satrio benar-benar membuatnya melambung tinggi dengan sesi panas mereka di ranjang.
"Apa yang benar kata Papa baby sayang?" tanya Adiba dengan binaran gairah.
"Kalau bercinta itu enak dan senikmat ini!" jawab Satrio lalu membenamkan seluruh miliknya hingga Adiba memekik kaget.
Sementara itu, Rion tak kalah panas di ranjang. Pria itu juga menikmati percintaannya bersama sang istri. Jangan ditanya Ryo ada di mana.
"Sayang ... kenapa banyak kurcaci di sini?" tanya Darren ketika melihat ranjangnya penuh bayi.
Saf mengalungkan lengan ke leher suaminya. Ia mengecup cepat bibir sang suami.
__ADS_1
"Kau memancingku sayang?" tanya Darren menaikkan alis matanya sebelah.
Baru saja Darren hendak memagut bibir sang istri.
"Apah!' pekik Ryo terbangun.
Faza, Sabila, Nabila dan bayi seumuran lainnya ikut terbangun.
"Babies ... bobo lagi ya!"
Saf langsung mendatangi para bayi lalu merebahkan dirinya bersama mereka. Vendra memeluk wanita bongsor itu posesif.
"Apah .. zini!" titah Faza, putri bungsu Lidya.
Darren gemas ia pun tidur langsung memeluk keponakannya itu. Malam telah larut semua telah tidur dengan nyenyak.
Exel menatap jendela kamar yang masih terang. Ia sangat hafal jika kamar itu adalah milik gadis idamannya.
"Kau lihat apa?" tanya Rio.
Istrinya Ariya telah tidur bersama putrinya dan anak lain. Rio tengah berjaga.
"Ketua tidak lelah?" tanya Exel mengalihkan pertanyaan Rio.
"Jangan bertanya balik Exel. Aku yang bertanya duluan tadi!" sahut Rio melirik sebal anak buahnya itu.
"Saya memikirkan Baby Dew," jawab Exel jujur.
"Beruntung ayah tak segalak dulu," ujar Rio tersenyum.
"Aku masih takut!" aku Exel.
"Tapi ayah membiarkanmu mendekati Baby Dew," ujar Rio.
"Baby Dew sama menakutkannya dengan ayah Ketua!" ujar Exel yang membuat Rio tertawa.
"Minta lah pada sang khalik jika memang pilihanmu jatuh pada Baby Dew," ujar Rio menepuk bahu Exel.
"Fio juga melakukan hal itu," lanjutnya.
"Melakukan apa?" tanya Exel.
"Shalat istikharah!" jawab Rio yang membuat Exel terdiam.
Rio meninggalkan Exel dalam kegalauannya. Pemuda itu menatap jendela yang sudah gelap, bertanda si empunya kamar telah tidur.
"Athena Dewi Triatmodjo," panggilnya dengan suara pelan.
"Akan kuketuk pintu langit untuk mendapatkanmu!" lanjutnya bertekad.
Bersambung.
Mendapatkan keluarga inti itu butuh perjuangan Exel. Semangat!
Readers ... perjalanan cinta masih jauh. Kita akan bertemu di season kedua Sang Pewaris.
Soon ya!
__ADS_1
next?