
"Bud ... katanya kamu mau pukuli dia sampai lumpuh!' ujar Herman.
Budiman yang memang sedang marah karena putranya ditusuk maju. Salvador yang mendengar hal itu tentu terkejut. Ia tak menyangka jika salah satu anak yang diculik adalah milik mafia ternama.
"Aku tidak ...."
Bug! Belum selesai Salvador bicara, Budiman sudah meninju mukanya. Pria berkulit kecoklatan itu sampai terpelanting ke lantai berikut kursinya.
"Bangsat ... seluruh anak yang kau culik itu anakku bodoh!" teriak Budiman lalu menendangi kaki Salvador membabi-buta.
Pria itu tentu berteriak kesakitan. Tak ada yang menolongnya, karena semua anak buah Salvador kini harus berjongkok dengan tangan di atas. Pengawal dan juga anak buah dari Virgou sudah melumpuhkan mereka.
Mayat-mayat bergelimpangan, Bangunan setengah hancur akibat selongsong peluru otomatis yang memberondong berbalik menyerang mereka.
Kekuatan dari The Hidden runtuh seketika. Distrik M jadi lumpuh total karena sudah dibongkar oleh tiga akun peretas. The ShadowViolet, RedRose dan juga AZR.
Banyak mafia mencari tiga peretas. Sayang, ketiganya menghilang tanpa jejak. Malah mereka menyerang bilik mereka sendiri karena baik Terra, Safitri maupun Azizah melimpahkan pada tiga titik yang berbeda.
Kaki Salvador patah. Budiman terengah-engah, ia mengusap peluh yang menetes di pelipisnya.
"Ayah, boleh nggak aku kasih ukiran di punggungnya?" pinta Remario.
"Dia dalang kematian istri dan putriku yang masih di dalam kandungan," lanjutnya penuh dendam.
"Silahkan!' Herman memperbolehkan Remario melakukan apa yang ia minta.
Salvador sudah hampir tak sadarkan diri. Ia tak bisa berontak, sungguh ia tak tau jika berurusan dengan klan terkuat yang pernah ada.
Remario mengambil pisau dalam saku celana Salvador. Ia membuka kemeja pria itu. Lalu perlahan menoreh luka menyayat.
"Aarrggh!" teriak Salvador kesakitan.
"Kau tau Salvador ... istriku sudah menghiba untuk membiarkannya ... tapi kau malah terus menyiksanya. Dia tak mau melayanimu karena memang kau bukan suaminya dan tengah hamil anakku!" geram Remario sampai meneteskan air matanya.
"Aaammmmpuun!" pekik Salvador sebelum tak sadarkan diri.
"Sudah ... dia sudah pingsan ...percuma!" ujar Virgou malas.
Pria itu mengira akan mendapat lawan yang sepadan. Akhirnya, Gomesh menyuntikkan sebuah zat yang menyembuhkan luka tercepat.
"Kita serahkan pada interpol. Jika ada kecurangan. Biarkan yang lain mengurusnya!" sahut Virgou lagi.
Semua pun pergi. Setengah jam kemudian kepolisian internasional datang. Deru helikopter berterbangan. Mereka memindai jalanan dan tentu saja tak akan menemukan rombongan yang menghancurkan Salvador.
"Letnan ... kami tidak menemukan siapapun kecuali Salvador dan anak buahnya!"
Sosok pria berpakaian seragam dinas menghela napas panjang. Ia tentu tak bisa gegabah mengatakan siapa yang memporak-porandakan tempat ilegal ini.
"Katakan pada media jika kita yang berhasil menyusup pada semua data ilegal The Hidden!" perintah pria itu.
"Siap Letnan!" pria ajudan memberi hormat.
Letnan mengedarkan pandangan. Bangunan yang hancur dan banyaknya barang bukti tercecer. Sebuah sistem yang membelot dan menyerang pemilik sendiri.
"Aku tau ini perbuatanmu BlackAngel!' gumamnya.
"Tapi kau selalu bersih dan tak pernah meninggalkan jejak. Entah dari mana otakmu berasal!" lanjutnya kagum sekaligus ngeri.
"Kau memudahkan kepolisian menumpas kejahatan besar. Andai kau jahat ...."
__ADS_1
Letnan Pierre tak berani melanjutkan kata-katanya. Pria itu tak mau berkhayal jika seseorang sekelas The BlackAngel akan mengkudeta negara.
"Aku sangat yakin ... sangat yakin ... kau adalah pemenangnya!' lanjutnya ngeri.
Sementara itu, Budiman, Gomesh, Dahlan, Remario, Virgou dan Herman sudah sampai di rumah sakit di mana Benua dirawat, Gio menunggunya.
"Ketua!" sapa Hendra yang berada di luar ruangan.
Enam pria beda usia itu masuk ke dalam. Benua memeluk Gio sedemikian rupa. Hanya infus terpasang di pergelangan tangannya.
"Gio?"
"Ketua!"
Gio perlahan melepas pelukan Benua. Bocah itu terlelap, Nai tadi memberinya obat tidur. Hingga anak itu tak lagi merasa gelisah.
"Apa kata dokter?" tanya Budiman lalu menggantikan posisi Gio tadi.
"Nona Nai bilang jika Tuan Baby Benua mengalami dehidrasi dan sedikit trauma. Pisaunya tak terlalu dalam kena organ vital. Tapi karena hari sudah malam jadi darah sedikit banyak keluar," jelas Gio panjang lebar.
Herman mengangkat baju pasien Benua. Ada perban yang menutupi lukanya. Pria itu mengecup luka itu.
"Kau anak hebat ... kau pasti cepat sembuh Baby," ujarnya lirih.
Benua menggeliat, ia terbangun lalu melihat sang ayah yang memeluknya, ia tersenyum lebar.
"Baba ... Daddy mana?"
Budiman berdecak mendengar pertanyaan putranya itu. Tetapi ia tersenyum simpul. Ia sangat paham jika Virgou jauh lebih dekat dengan semua anak-anak.
"Daddy ada di sini Baby!' sahut Virgou penuh kemenangan.
Bagi anak, seorang ayah tetaplah pahlawannya.
"Mau sama Baba aja!" jawab Benua lalu memeluk Budiman dengan erat.
Budiman meledek Virgou. Pria sejuta pesona itu kesal.
"Hei ... sudah!' lerai Herman.
"Ayo pulang!" ajaknya kemudian.
Akhirnya Budiman menunggui putranya. Semua pulang dan disambut para istri.
"Mana suamiku?" tanya Gisel.
"Sama putramu," jawab Virgou masih kesal.
Gisel terkekeh, ia memeluk kakak paling tua itu, lalu mengecupnya.
"Thanks,"
"Bahasa apa itu?!" tegur Virgou tak suka.
"Ba bowu kakakku sayang," ralat Gisel kembali mengecup pipi Virgou.
"Anytime dear," ujar Virgou membalas kecupan adik sepupunya itu.
Pagi menjelang, semua anak sekolah tetapi Benua tidak karena masih ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Dais ... dais!" panggil Fatih pada semua perusuh paling junior.
Semua anak bayi berkumpul. Bahkan Meghan, Xiera, Angel, Fael, Zizam dan Izzat yang baru bisa merambat ikut berkumpul.
Sementara bayi empat bulan adik minum susu mereka.
"Padhi palam selu ya!' lanjutnya.
"Pa'a yan sewu!" gerutu Arsh.
"Butan Alsh yan pisulit!" lanjutnya lalu melipat tangannya di dada.
"Pemanan teunapa talo tamuh yan pisulit Paypi?" tanya Rinjani.
"Alsh pendan tatina pampai batah!" jawab Arsh marah.
"Ata' Penua tatana teuna sipau woh!" sahut Fathiyya.
"Sipau? Peumsata yan tasam ipu?" tanya Maryam sampai membulat matanya tak percaya.
"Wiya ... tatana pundun Ata' Penua luta!' lanjut Fathiyya lagi.
"Tasyihan Ata'," sahut Della sedih.
Semua anak berubah murung. Sarapan tersedia, mereka makan dengan lahap.
"Amah ... Dedhan au pulpul yayam!" pekik bayi sembilan bulan itu ingin nambah makanan yang berbeda.
"Hei perut buncit ... kamu mau perutmu seperti Mama Baby ya!"
Azizah begitu gemas dengan bayi gembul itu. Meghan terpekik dan tergelak ketika Azizah menyembur perutnya.
"Peyut atuh punsit judha Mama Paypi!" tunjuk Ari menunjukkan perutnya.
Azizah juga menyembur perut balita itu hingga tergelak.
"Aamah ayi ... Alsh sudha au belbul puyutna Amah!" pinta bayi itu.
Azizah mendekatkan perut besarnya. Ia heran bayinya tenang saja ketika para kakak dalam bahaya.
"Ck ... sepertinya kau tau kalau kakak-kakak mu baik-baik saja sayang," ujarnya lalu mengusap perut besarnya.
"Paypi ... banti tamuh tayat Ata' Alsh ya!" ujar Arsh dan langsung direspon oleh janin.
"Uhh!" pekik Azizah tertahan.
Bersambung.
Ah .. jadi apa ya bayinya Rion.
Hay guys ..
level cerita sang pewaris turun dari 9 ke 8
othor lemes mau buat lebih.
apa di end aja ya?
__ADS_1
next or end?