SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PUNIA WALWAH


__ADS_3

"Sky!" peringat Rasya.


"Ih ... kakak!" sahut Sky sebal.


Kelima bayi saling pandang. Mereka paling tak suka jika keingintahuan mereka tak dijawab.


"Ata' punia walwah pa'a?" tanya Bariana sebal.


"Jangan dengerin baby, itu nggak ada!" sela Rasyid.


"Mending nyanyi yuk!" ajak Rasya.


"Eundat bawu ... pita posen banyi teulus!" tolak Azha.


Bayi tampan itu sama penasarannya dengan Bariana perkara dunia arwah itu.


"Ata' talo eundat pawu beunsyawab pita atan cali pahu beuldili!" ujar Harun.


Rasya dan Rasyid menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Keduanya memutuskan untuk memberitahu, tetapi Rasya melihat semua keluarga sibuk menggoda para bayi berusia lima, delapan dan sebelas bulan di ruangan lain. Rasya menoleh juga ibunya yang tengah bercakap-cakap dengan ibu-ibu mereka yang lain.


Ia menyenggol saudara kembarnya lalu menatap Sky yang tengah asik menggoda Arraya.


"Kalian mau tau apa itu dunia arwah?"


Sky berhenti menggoda adiknya. Ia menoleh dan langsung mengangguk. Lalu ia mencari saudaranya, Bomesh.


"Bom!" panggilnya.


Anak laki-laki itu datang menghampiri, lalu Benua dan Samudera ikut bersama.


"Pa'a? Eh ... apa?" tanya Bomesh.


"Kak Lasya mau celita tentang dunia lain," ujarnya memberitahu.


"Ah ... Sam punya temen yang bisa lihat hantu," sahut Sam menimpali.


Rasya yang tadinya hendak mengerjai adik-adiknya malah tertarik dengan cerita Samudera.


"Oh ya?" bocah laki-laki itu mengangguk.


"Ceritain dong," pinta Rasya kini.


Mereka pun duduk saling berhadapan dan berdekatan. Samudera sangat ingat bagaimana kisah itu dimulai dan semua anak menjadi takut akan salah satu temannya itu.


"Jadi waktu itu kita kan mau belajar sholat Jumat, terus temen aku cewe ini berhenti jalan pas mau ke lapangan batminton untuk shalat Jumat di sana," cerita Sam.

__ADS_1


"Beumana sewet poleh sholat bumat?" tanya Azha.


"Ih ... jangan ada yang motong dulu. Nggak seru ceritanya!" peringat Benua.


Domesh menempelkan telunjuknya pada semua adik agar diam dan tak banyak bertanya. Semua pun diam.


"Shalat Jumat itu boleh kali untuk perempuan, sesuai hadist Rasulullah SAW, Riwayat Bukhari, shalat Jumat itu fardhu (wajib) bagi setiap Muslim, kecuali empat golongan; orang sakit, hamba sahaya, orang musafir, dan wanita," jelas Samudera.


Semua mengangguk tanda mengerti. Sam kembali bercerita.


"Jadi pas masuk pintu, temen aku itu tiba-tiba berhenti. Pak Yunus itu sampai bingung ...."


Sam memberhentikan ceritanya, semua nampak serius menanti kisah yang menenggangkan itu.


"Ditanya sama Pak Yunus, Lalita kenapa berhenti? Gitu ... Lalitanya jawab .... Pak yang di pintu ada orang menghalangi gede ...."


Semua masih diam menyimak kisah yang dibawakan Samudera.


"Orang mana Lalita? Tanya Pak Yunus gitu, kita semua nggak ada yang liat kalo ada orang di depan pintu itu. Tapi Lalita tetep kekeuh kalo ada orang gede hitam menghalangi pintu masuk," cerita Samudera.


Semua masih menyimak apa berita Samudera. Kali ini ternyata bukan hanya anak-anak yang mendengar, Kean, Calvin, Sean, Nai, Al, Daud, Arimbi, Satrio, Dewa, Dimas, Affhan, Kaila, Dewi, Jac Darren, Demian, Lidya, Putri, Aini dan Safitri ikut mendengar cerita yang keluar dari mulut Samudera. Ternyata mereka begitu penasaran, kenapa para perusuh diam dan tengah serius menatap Samudera.


"Kamu jangan ngada-ngada Lalita! Pak Yunus sampe marah gitu ke temen Sam. Trus, deh Pak Yunus jalan ke pintu. Lalita udah jejeritan nutup mata ... kita pada panik dong dengar Lalita jejeritan!" Samudera melanjutkan ceritanya.


"Sam sampe teriak ke Pak Yunus jangan ke pintu ... eh belum nyampe ke pintu Pak Yunus kek ada yang ngedorong gitu dong, mundur dua langkah!"


Semua menahan napas mendengarnya. Semua ikut gelisah, semua tangan saling menggenggam karena takut mendengar kisah seram itu, kecuali para orang tua.


"Kita pada teriakkan, kepala sekolah, guru BP, guru olah raga sama guru-guru lain pada dateng semua, kan emang waktunya shalat jumat ... Lalita tetep nutup mata, guru-guru pada nanya ada apa, ada apa? Gitu ...."


"Si Nando jawab, Itu pak ... Pak Yunus kek ada yang ngedorong!"


"Semuanya pada nggak percaya dong, dikira kita itu bercanda. Pak Yunus maju lagi ... mental sampe lima langkah, baru pada percaya ...."


"Nah di situ kita pada baca ayat kursi, nggak tau kenapa pada nggak hapal ... susah banget buat diucap. Padahal kita lebih dari seratus orang ... semua nggak ada yang bisa baca itu ayat!"


"Pak Yunus nya juga?" sela Rasya bertanya.


"Pak Yunus sampe jatuh pas mau baca alfatihah!" jawab Samudera.


"Akhirnya Lalita dong yang ngomong ama itu mahkluk gaib, kalo kita semua percaya dia ada dan jangan mengganggu," lajut Samudera.


"Pergi tuh hantunya?" kali ini Herman yang bertanya.


"Nggak yah! Lalita pingsan mau ditarik sama itu makhluk ... sumpah Sam nggak liat siapa yang narik Lalita. Kita jerit takbir buat narik Lalita baru kecium bau ketela bakar sama asep tipis ...."

__ADS_1


"Jadi sekarang kita sering tuh ngaji rutin di lapangan indoor buat hilangin semua makhluk gaib di sana, soalnya Lalita bilang karena jarang digunakan jadi ruangan itu ada penunggunya,"


Samudera mengakhiri kisahnya. Semua bernapas lega.


"Tapi tadi mommy datang ke sana kok Pak kepala sekolah nggak bilang?" tanya Maria.


"Itu kan aib sekolah, lagian kalo cerita emang ada yang percaya?" jawab Sam lalu balik bertanya.


"Iya juga sih," sahut semuanya.


"Waktu kakak sekolah di sana emang gudang itu jarang dipakai kecuali ada even sekolah, atau buat shalat Jumat kek kamu bilang itu Sam. Cuma nggak sampai seram kayak gitu," sahut Kean diangguki Calvin dan lainnya.


"Ya nggak tau soal itu, tapi mau dibilang halusinasi ada seratus orang loh saksinya," sahut Samudera.


"Emang setelah kejadian itu Lalita nggak lihat apa-apa lagi?" kini Darren yang bertanya.


"Ya suka juga sih kak. Hanya dia bilang, nggak apa-apa dia cuma lewat aja, gitu," jawab Samudera.


"Wah ... Punia walwah selu judha ya!" celetuk Bariana.


"Oh ... walwah ipu wowan item!" sahut Arraya santai. "Peulalti pama don yan beupelti bi padalna Ayah Heyan!"


Semua menoleh pada Arraya. Herman berdecak kesal dengan kisah hantu ini. Ia yakin kemampuan dua dari anak Terra yang bungsu itu jadi lebih terasah gara-gara kisah dari Samudera.


"Nggak ada apa-apa di pagar rumah ayah!" timpalnya kesal.


"Ih ... lada ayah! Wowan peuldili bi bos sansip!" sahut Arraya.


"Oh ... punia walwah ipu beudithu?!" Arion seperti tercerahkan.


"Talo punia tayat dhitu, Ayi seulin pihat!" lanjutnya.


"Nggak boleh, itu hanya halusinasi!" sela Herman.


"Ayah Heyan tan pisa pihat judha!" sahut Arraya memberitahu.


"Ata' Iya pama Uma judha!" sahut Arraya.


"Baby Baliana judha mawu pihat don punia walwah!" rajuk bayi itu iri.


bersambung.


euh ... Baby Bariana ... jangan liat itu ... seram loh!


next?

__ADS_1


__ADS_2