
POV AIDA
"Sah?? "
"Sah!! sah!! " sahut para saksi.
"Alhamdulillah.. " dengan penuh khidmat pak penghulu melafazkan Do'a.Para undangan yang tak berapa banyak ikut menengadah kan tangan dengan berucap 'Amiiin'secara bersahut-sahutan.
Aku tak mampu menutupi kepedihan hatiku, air mata terus mengalir mengikuti ucapan lirih lafaz Amiin yang hampir tak terdengar.
Mbok Darmi dan Mumun tak henti-hentinya mengusap punggung ku dan meminta ku untuk sabar.
Aku lihat kedua mempelai sangat bahagia, lalu kenapa begitu berat hatiku untuk ikhlas melihat orang yang aku cinta bahagia?? Ya ALLAH..... rintihku pilu.Dadaku terasa sesak, pandangan ku gelap.Sekujur tubuhku tak bermaya, dan.....
Aku tak ingat lagi apa yang terjadi, ketika membuka mata aku sudah berada dikamar yang bernuansa putih. Aku merasa asing sekali.Ku lihat sekeliling, ada Mbok Darmi dan Mumun sedang setia menunggu ku.
"Mbok" panggil ku lirih.
"Eh Non udah sadar"
"Gimana keadaannya Non?? "tanya mumun
" Yo jangan ditanya gitu, udah keliatan Non lemes gitu"timpal Mbok Darmi. Ia memijit kakiku.Si Mumun ikut-ikutan mijit kaki sebelah.
"Aku dimana?? "
__ADS_1
"Dirumah sakit Non habis operasi Caesar" jawab Mumun
"Operasi??? maksud mu anakku sudah lahir" secara naluri aku jadi semangat.
"Iya Non, anak Non kembar twin.. cantik-cantik.. tapii... " Mumun tak meneruskan
"taypi kenapa Mun? " tanyaku jadi penasaran.
Mumun menatap Mbok Darmi. Mbok Darmi manyun karena Mumun banyak bicara.
"Mbok jawab anakku kenapa? " aku berpaling ke Mbok Darmi.
"Ti-tidak apa-apa Non... Nona twin kecil sehat, sempurna jasmani dan rohani"
"Mmmmm hanya saja salah satunya mempunyai mata perak... Awalnya dikira buta sama Tuan Besar, ternyata twin kecil istimewa.Dia bisa melihat dalam gelap"
aku terdiam, aku bingung, bayiku.....
Tiba-tiba daun pintu terbuka, muncul lah Ayah mertuaku beserta Pak Wira asisten pribadi nya.
Beliau tersenyum lebar melihat ku.
"Aida... terimakasih, kamu telah memberikan aku cucu yang sangat spesial" ayah memegang tangan ku. Aku tersenyum tipis.
"Aku boleh melihat bayiku Ayah.... " pintaku
__ADS_1
"Boleh... tapi nanti dulu kamu belum bisa banyak gerak, sabar ya" jawab Ayah mertua.
Aku setuju, memang aku belum bisa apa-apa. Sebagian tubuhku dari perut ke bawah terasa ngilu. Tapi tak sabar rasanya hatiku untuk melihat bayiku.
"Mmmm... Mas zul tahu aku sudah melahirkan Ayah? "
"Tahu... dia yang mengantar kamu kesini. Tapi setelah kamu ditangani dokter, dia pergi dan tak datang lagi"
Aku menghela nafas, *kuatkan aku Tuhan... * lirih ku dalam hati.
"Jujur aku tak percaya dengan keputusan Zul menikahi Niken adalah kemauannya sendiri. Pasti ada yang tidak beres" sambung Ayah mertua.
"Aida... "dengan lembut ayah meremas tangan ku. " kamu harus sabar ya... kamu harus kuat... aku yakin Zulkarnaen hanya mencintai mu"
"Kalau dia hanya mencintai ku ayyah... tak mungkin dia menikahi Niken" jawab ku.
"Kalau dilihat secara mata manual, memang pasti akan menilai begitu... Tapi kalau kita rasakan secara batin, pasti kamu percaya apa kata Ayah"
aku bungkam
Sejujurnya memang benar, perasaanku bergejolak kalau Mas Zul tidak pernah mencintai Niken Ayu.Rasanya sangat aneh jika dalam 1hari setelah kepulangan Niken dari Rumah sakit,Mas Zul akan langsung menggilai nya.
Padahal semasa Niken Ayu dirawat, aku mengajak nya beberapa kali untuk menjenguk Niken, tapi selalu ada saja alasan untuk menolak.
Entah lah.... antara hati dan pikiran ku tidak lah sejalan.
__ADS_1