SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
RUSUH ABADI 2


__ADS_3

Aksi panggung para perusuh membuat semua orang lemas karena menahan tawa mereka. Bahkan para bodyguard nyaris kebobolan jika saja tak sigap mengatasi situasi. Mall itu tentu banyak pengunjung yang bukan hanya orang asli Eropa tapi juga Indonesia. Mereka antusias mendengar lagu yang berubah liriknya semua di tangan bayi-bayi itu.


"Pita atan beulbanyitan ladhi sepuah ladhu puntut mama syemua ...," ujar Sky terkontaminasi bahasa bayi.


"Pa'a yan dudelita puntut mama ... puntut mama teulsyayan ... tat tulimiti besyuatu pelhalda puntut mama teulsyinta ....." Arraya dan. Bariana menyanyikan awal lagu.


"Hanya ini ... butanyitan ... penandun hatitu puntut mama ... banya sepuah ladhu seupelahna ... ladhu pintatu puntut mama ...."


"Mama ... entaulah pidadali tu ...."


Arion membaca puisi. Yang lain menyanyikan lagu dengan hanya "hmmmm".


"Entaulah batahali padhi tuh ...," lanjut bayi tampan itu dengan mimik muka serius.


Terra, Lidya, Aini, Najwa, Khasya, Kanya, Karina, Lastri, Puspita, Gisel, Seruni dan Putri menitik air mata haru mendengar puisi dari Arion itu.


"Mama ... entaulah sedalana badhituh ...."


"Hanya pini ... tubanyitan ... syenandun dali batitu puntut mama ... banya pebuah ... labu sepelahna ... ladhu pintatu ... buntut ... mamaa ...."


"Ba bowu mama, mommy, Bommy, Mami dan nini ... ba bowu pemuana!' sahut Arion menutup lagu.


Semua bertepuk tangan meriah. Para wanita menitik mata haru melihat persembahan para perusuh.


"Buat papa mana?" teriak Haidar iri.


Semua perusuh menggaruk kepala mereka. Semua nyaris tertawa melihat rambut pada bayi yang telah acak-acakan. Akhirnya Maisya, Kaila, Arimbi, Nai, Dewi, Zheinra dan Meina menyanyikan lagu untuk ayah mereka. Para ayah kini terharu mendengar suara indah dari putri mereka. Tentu bahasa mereka benar dan terlebih para gadis kecil itu menyaksikan secara akapela dengan benar.


Semua bertepuk tangan puas. Mereka kembali berbelanja. Hari ini semua anak dibelikan baju dan sepatu yang bagus sesuai dengan yang mereka inginkan.


Usai puas berbelanja. Mereka pulang ke mansion besar milik Dominic. Pria itu sudah memerintahkan semua maid masak yang banyak dan enak untuk tamu-tamunya.


"Benpa Poninit ... pita bawu matan dadin stit!' ujar Azhs bossy.


"Makan apa yang ada baby!" tegur Rion.


"Oteh Ata'," sahut bayi itu lemah.


Azha ingin sekali makan steak wagyu yang terkenal lembut itu. Dominic tentu menyanggupi permintaan bayi tampan itu.


"Jangan khawatir baby, grandpa sudah siapkan semua yang kau mau," ujar pria itu membuat Azha senang dan memberinya ciuman di pipi.


"Matasih benpa ... muuaacchh!"

__ADS_1


Dominic bahagia sekali pipinya dicium oleh bayi tampan. Ia meminta para maid menyiapkan makanan yang diminta oleh Azha. Hal itu disambut gerutuan salah satu maid.


"Ck ... menyusahkan!"


"Apa kau bilang?!" Dominic mendengar gerutuan maidnya.


Perempuan itu langsung terkejut setengah mati. Ia menepuk pelan bibirnya sambil menutup mata.


"Mati aku kali ini!" umpatnya sesal pada diri sendiri.


"Cepat, katakan sekali lagi tadi!?" sentak pria itu.


Hal itu membuat lima bayi menangis. Demian menenangkan ayahnya. Azha bingung dengan apa yang terjadi. Rion langsung menggendong bayi itu dan menjauh dari sana. Semua remaja membawa adik-adik mereka keluar dari ruang makan.


Sedang Dominic begitu marah dengan perkataan wanita yang telah bekerja di mansionnya cukup lama. Wanita itu gemetar ketakutan.


"Ternyata ini yang ditutupi kemarin oleh menantuku!' pungkas pria paru baya itu.


"Aku tak mau tau, segera kau buatkan apa yang semua cucuku minta dan setelah itu pergilah dari tempat tinggalku!"


"Tuan!" wanita itu langsung menyentuh kaki pria itu dan meminta ampun.


"Maafkan saya tuan ... tolong maafkan saya!" tangisnya pun pecah.


Pria itu pergi. Demian menatap maid yang masih menangis sesenggukan. Ia menatap yang lainnya masih berdiri mematung.


"Kenapa diam? Apa kalian mau bernasib sama dengan dia?" tunjuk Demian pada wanita yang menangis di lantai.


"Bawa rekan kalian dan kerjakan apa yang diperintahkan ayahku. Segera!" Demian menekan kalimatnya yang terakhir.


Semua maid bergerak. Sebagian membangunkan rekannya yang terduduk di lantai dan menangis. Perempuan itu yang kemarin berwajah kesal karena Harun memintanya mengambil buah yang sama dengan apa yang dimakan Satrio.


Wanita itu menatap nyalang pada Azha yang digendong oleh Rion. Wanita itu membereskan semua baju-bajunya dalam tas. Para maid ingin mogok kerja, tapi mereka takut diberhentikan oleh Dominic. Akhirnya mereka membiarkan salah satu rekannya dipecat.


Azha tengah duduk memakan steak yang dibuat oleh Lastri. Perempuan itu memintanya sendiri. Akhirnya, Najwa dan Seruni memasak untuk keluarga mereka tanpa bantuan maid. Para pelayan wanita itu hanya mencucikan semua peralatan dapur yang dipakai.


Bela melihat Azha duduk dan memakan steak dengan lahap. Bayi tampan itu sangat menggemaskan terlebih mulutnya celemotan saus barbeque.


"Dasar anak sialan, gara-gara kau aku kehilangan pekerjaan!" pekiknya pada bayi itu.


Tentu Azha bingung karena tak tau bahasa yang digunakan wanita itu. Bella hendak memukul Azha dan ....


Plak! Satu tamparan keras didapat Bella dari Safitri.

__ADS_1


"Kurang ajar ... kenapa kau me ...."


Plak! Satu tamparan keras sekali lagi mengenai pipi Bella hingga ia tersungkur. Azha diambil alih oleh Lastri. Bayi itu memang memakan makanannya sendirian. Jadi bayi tampan itu terpisah dari yang lainnya.


"Berani kau mau memukul bayiku!" tekan Safitri marah luar biasa.


Bella yang tersungkur di lantai menangis karena kedua pipinya perih dan sakit. Mungkin bibirnya robek dan mengeluarkan darah.


Dominic marah luar biasa. Ia meminta salah satu bodyguard menyeret wanita itu keluar dari mansionnya.


"Buat dia tak bisa bekerja di manapun!" seru pria itu dengan kilatan mata sadis.


Dominic mendatangi para maid yang tersisa.


"Ada yang mau menyusul Bella?" tanyanya dengan muka datar.


Semua maid menggeleng. Mereka langsung melakukan pekerjaan tanpa diperintah dan merubah muka jutek mereka.


Azha diciumi oleh semua wanita dewasa dan menanyakan keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa baby?" bayi tampan itu menggeleng.


"Bemana padhi tenapa?" tanyanya bingung. "Tenapa wowan ipu palah-balah?"


"Dia agak stress baby," ujar Virgou santai.


Pria beriris biru itu sangat tenang melihat bayinya hendak disakiti. Ada banyak orang di sana. Jika tidak bisa menangani satu nyamuk saja, ia bersumpah akan membakar mansion beserta isinya.


"Beruntung saja kau Dom!" bisiknya pada mertua Lidya.


Dominic menelan saliva kasar. Ia sangat tau siapa pria yang berbisik padanya. Seorang ketua mafia paling ditakuti, bahkan pebisnis paling banyak disegani para pebisnis lain.


"Virgou ... jangan nakutin seperti itu ah!" tegur Herman.


Virgou cemberut. Herman memang paling bisa menenangkan pria itu selain Lidya. Wanita bertubuh mungil itu memeluk pria kesayangannya.


"Daddy ... ba bowu," ujarnya manja.


Hati Virgou langsung tenang ketika Lidya memeluknya erat.


bersambung.


untung kamu Dom!

__ADS_1


next?


__ADS_2