
Herman mendatangi rumah sakit milik Nai. Memang rumah sakit ini belum dibuka secara umum, tetapi sudah beroperasi setelah mendapat ijin setengah tahun yang lalu.
Adibah, Ajis, Amran, Alim, Ahmad, dan Aminah menangis ketika mendengar kakak mereka kecelakaan. Dinar dan Sari menenangkan mereka semalaman yang menangis dan meminta semua berdoa agar kakaknya tak kenapa-kenapa.
Haidar, Dav, Virgou dan Bart menemani Herman menjenguk Azizah.
Pria itu menahan tangisnya melihat kondisi gadis itu. Kaki kanan Azizah di balut perban, selang oksigen masih terpasang di hidungnya juga infus dan darah.
"Pagi semuanya," sapa dokter ke ruangan itu.
"Pagi Dok. bagaimana keadaan Azizah?" tanya Virgou langsung.
"Azizah baik-baik saja. Lukanya cukup besar hingga harus mendapat seratus jahitan dari tengah paha hingga betisnya. Darah yang keluar juga bisa diatasi. Sepertinya pasien memiliki imun sendiri untuk mengobati semuanya," jelas dokter.
"Maksudnya?" tanya Haidar tak mengerti.
"Pasien datang dalam kondisi luka sepanjang itu setengah kering dan tak lagi mengeluarkan darah. Kami sempat berpikir jika pasien kehabisan darah atau apa. Lalu beruntung juga darah yang pasien miliki cukup umum yakni A. Hingga sekarang darah itu tak masuk ke tubuh, dan tekanannya baik-baik semuanya!" jelas dokter panjang lebar.
"Tuan, bisa di katakan jika pasien seperti memiliki imun sendiri untuk mengobati semua lukanya. Kakinya tak ada yang retak atau patah,' jelas dokter itu lagi.
Kantong darah diambil kembali, infus dibuka dan juga selang oksigen. Perlahan netra gadis itu terbuka.
"Ugghh!' rintihnya.
"Sayang ... kau sudah bangun?" Herman langsung menggenggam tangan gadis itu. Azizah hendak bangkit namun ditahan oleh Herman.
"Ayah ...," panggilnya.
Herman menangis, ia menciumi Azizah dan mengucap terima kasih. Gomesh sudah menangani semuanya begitu juga soal motor yang dicuri oleh Azizah untuk mengejar penjahat.
"Nona Dewi?" gadis itu malah bertanya nona mudanya.
"Putriku selamat sayang, itu berkatmu," ujar Herman.
"Alhamdulillah," sahut Azizah.
"Oh soal motor yang Izah curi bagaimana?" tanyanya khawatir.
"Sudah beres sayang," jawab Virgou kini.
"Dokter meminta semua orang keluar dan membiarkan pasien istirahat. Semua pun menurut. Rion datang bersama semua adiknya. Kean, Calvin, Satrio, Sean, Al dan Daud. Mereka ingin menjenguk gadis pemberani itu.
"Jadi siapa yang mau sama Azizah sekarang?" tanya Herman.
"Satrio?"
"Duh ... yah, nggak deh ... serem kalo sama Kak Azizah," sahut remaja itu ngeri.
Begitu juga yang lain. Semua mengaku takut menjadi suami gadis itu.
"Kan keren istri kalian sudah seperti mama!' ketus Virgou kesal.
"Aduh ... papa, mama kalah serem ini mah!' sahut Kean.
"Kau kira Azizah hantu apa?" dumal Dav kesal.
"Andai Azha sebesar kalian, tentu aku paksa dia menjadi suami Azizah!' ketus David kesal.
__ADS_1
"Satrio kau adalah ShadowAngel, masa nggak mau jadi suami Azizah?" ledek Herman.
Satrio terdiam. Ia adalah bayangan dari BlackAngel dan juga DeathAngel. Remaja itu juga tak kalah menyeramkan dengan dua pria kesayangan semua anak itu.
"Eum ... maaf, Ion mau lihat Azizah dulu," sela pemuda itu lalu masuk kamar.
Wajah Rion yang sedikit mendung. Membuat semua mengira jika Rion masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
Rion menatap gadis yang kini memposisikan dirinya setengah duduk. Azizah tengah mengupas jeruk dan memakannya.
"Tuan baby," panggilnya ketika melihat Rion berdiri di ambang pintu.
Rion masuk dan langsung duduk, ia mengupasi jeruk dan menyuapkannya pada gadis itu.
"Nih, aaa ...!"
Azizah terbengong. Rion kesal bukan main.
"Ayo aaa!" paksanya.
Azizah akhirnya membuka mulut dan jeruk itu masuk ke dalamnya.
"Terima kasih tuan," ujar gadis itu.
Satu buah jeruk habis dimakan. Keduanya diam, Rion menawarkan buah lain dan Azizah menggeleng.
"Terima kasih dan maaf," ujar Rion pada akhirnya.
"Untuk?" tanya gadis itu tak mengerti.
"Untuk menolong baby Dee dan maaf karena aku tak bersamamu," jawab pemuda itu.
'Jadi kak, kita akan menikah secepatnya!" ujar remaja itu.
"Tapi saya belum mau menikah," sahut Azizah membuat Satrio malah marah.
"Ayah ... Kak Azizah menolak Satrio!" adunya kesal.
Rion berdecak dengan aduan adiknya itu. Pemuda itu menggeleng, semua masih berlaku anak-anak, tentu belum bisa menjadi seorang suami.
"Kalian itu masih kecil ... jangan mikirin mau kawin!" sela Rion sebal.
"Ih ... kan kecil-kecil jadi manten nggak apa-apa," sahut Satrio berani.
"Halah ... entar kalau kenapa-kenapa malah ngadu sama ayah lagi" ledek Rion.
"Ih ... nggak lah, Satrio udah dewasa kok ... ya kan yah?"
Herman hanya bisa menghela napas panjang, putranya masih terlalu polos untuk disuruh secepatnya menikah.
"Kalian memang masih terlalu kecil," ujar Herman mengakui.
Setelah para pria. Kini para wanita menjenguk Azizah. Khasya mengecup pipi gadis itu berkali-kali. Ia berhutang nyawa dengan gadis itu.
"Makasih ya sayang, andai kau tak nekat dan memiliki kekuatan seperti itu, entah apa jadinya putriku," ujarnya penuh rasa syukur.
"Sama-sama bunda. Oh ya, selama saya di sini, maaf jika merepotkan bunda dengan enam adik saya," ujar gadis itu tak enak hati.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu sayang, mereka juga adalah anak-anak kami sama sepertimu," ujar Khasya.
Banyak makanan enak tersaji. Saf begitu takjub akan kekuatan Azizah begitu juga Gisel dan Puspita.
'Aku yakin ayahmu dulu melatihmu dengan kuat sayang," ujar Gisel takjub.
"Oh ya sayang ... ada kabar bahagia yang mesti kau tau," ujar Puspita dengan senyum lebar.
"Apa itu nyo ...," Puspita berdecak kesal.
"Mommy," ralat gadis itu.
"Dahlan sudah menikah sayang," jawab Puspita.
Azizah tersenyum senang. Akhirnya ketua yang ia idolakan menikah.
"Alhamdulillah ... akhirnya ketua nggak jomlo lagi,' selorohnya yang ditimpali tawa semuanya.
Sementara di sebuah ruangan. Virgou, Haidar, Herman dan Bart menatap sosok laki-laki yang duduk di sana.
"Daddy hanya meminta padamu kali ini saja," ujar pria itu.
"Baby ... Azizah gadis luar biasa, kami tak mau dia diambil orang!' sahut Dav kini.
"Benar baby, apa kamu juga nggak merasa sayang melewatkan gadis sekuat Azizah?" kini Haidar yang bicara.
"Tapi, dia juga masih terlalu muda untuk menikah!" sahut Bart sedikit keberatan.
"Lagi pula belum tentu Azizah mau dipaksa!" lanjutnya.
"Azizah pasti mau menuruti kataku grandpa!" sahut Virgou.
"Ini pernikahan Virgou ... jangan memaksa!" teriak Bart kesal.
"Apa kau mau baby kita menikah dengan keadaan terpaksa juga karena menuruti kalian?"
"Lalu ... apa Daddy nggak mau punya cucu menantu seperti Azizah?' tanya Herman ikutan kesal dengan pria itu.
"Ya aku juga mau ... gadis hebat itu jadi milik salah satu keturunanku!" pekik Bart.
"Apa aku jadikan dia madu Puspita saja ya!" ketus Virgou.
"Anak sialan ... jaga ucapanmu!" teriak Herman.
"Udah please ... oke Ion mau ... tapi nggak mau nikah sekarang. Tunggu Ion cinta Azizah dulu!" sahut Rion lalu meninggalkan semua ayah juga kakeknya itu.
"Eh ... apa kata dia?" tanya Virgou tak mendengar.
"Baby setuju," jawab Dav enteng.
"Kau serius?"
Dav terkejut, ia juga tak yakin dengan jawaban bayi besar mereka.
'Baby ... tadi kamu bilang apa?!" teriak semua ayah mengejar Rion yang sudah pergi entah kemana.
bersambung.
__ADS_1
what ... baby setuju?
next?