SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KEJADIAN 2


__ADS_3

Rion kini bersama Sahira, gadis cantik bermata hijau. Keduanya tampak bersenda gurau dan berjalan bersisian.


"Jadi apa kau mau bekerja di sini dan mengadakan riset?" tanya Rion.


"Entah lah Rion, aku belum memutuskan apapun, lagi pula di sini pasporku hanya sebagai pengunjung biasa atau turis," jawab Sahira begitu lembut.


Sahira Sukoco, dua puluh empat tahun. Ayahnya Jawa sendang ibunya asli Eropa. Keduanya bercerai ketika usia Sahira sebelas tahun. Ibunya tidak menikah lagi sampai meninggal dunia setelah kelulusannya menjadi sarjana biotani. Rion mengetahuinya, karena Sahira menceritakannya.


Kini gadis itu datang ke tempat ayahnya yang telah menikah dan mendapatkan dua anak yang masih berusia remaja. Putro menemani kemanapun putri cantiknya inginkan.


"Om Putro, nggak capek diminta temani Sahira terus?' tanya Rion pada pria yang berjalan di belakangnya bersama tiga pengawal Rion.


"Sahira jarang ke Indonesia, sebagai ayah tentu ingin bersama putrinya," jawab Putro.


Rion mengangguk. Kini pemuda itu mengajak mereka untuk makan di sebuah restauran yang ada di mall tersebut.


Pandangannya menyipit ketika melihat sesosok yang ia kenali bersama sembilan anak kecil. Semuanya menoleh padanya.


"Kak, itu Kak Ion!" seru Amran menunjuk pemuda yang ia kagumi.


Azizah melihatnya bersama gadis yang sangat cantik, Amran hendak memanggil kakak panutannya tapi langsung dilarang Azizah.


"Kenapa?" tanyanya sedih.


"Kak Ion sedang bersama temannya, jangan diganggu ya!"


Gadis itu di sana hendak merayakan ulang tahun Lana, Leno dan Lino, tiga adik angkatnya. Rion melihat satu kue besar, ia baru tersadar jika melupakan ulang tahun salah satu adik asuhnya.


Azizah benar-benar berlaga tak mengenalnya, tatapan sedih sembilan bocah menatap Rion yang berlalu. Sahira menarik lengan Rion dan menjauhi kumpulan manusia itu.


"Eh ... kamu kan kaya, tentu bisa pesan ruang VVIP kan?" tanya Sahira sambil terkekeh.


Rion hendak menyahut, tetapi urung ketika melihat sosok pria tampan mendekati Azizah dan adik-adiknya.


"Sahira ... aku kenalkan sebagian dari saudaraku!" ajaknya.


Lalu ia kini berada bersama Azizah dan adik-adiknya serta sosok pria tampan yang memandangi Azizah penuh pemujaan.


"Ini Tuan Rurouni Kenshin," ujar Azizah memperkenalkan.


Keduanya saling berjabat tangan. Acara ulang tahun begitu meriah dengan celoteh anak-anak. Lana, Leno dan Lino bahagia karena makan makanan yang mereka inginkan.


"Kakak, dagingnya susah dipotong," rengek Ajis.


Rion membantunya, ia melihat pergerakan pria tampan yang hendak menolong Ajis. Akhirnya pria itu menolong Amran dan Iman memotong dagingnya.


Ketika pulang, Rion mengantar mereka. Padahal Azizah menolak.


"Aku disuruh ayah menjaga kalian!" seru Rion tak suka penolakan Azizah.


"Terima kasih Tuan Kenshin, aku akan mengantar Azizah dan semua adik-adiknya!" ujar Rion.

__ADS_1


"Rion!' panggil Sahira.


"Aku antar mereka, kau pulanglah," ujarnya.


"Mari Pak!" pamitnya pada ayah sang gadis.


Putro mengangguk, pria itu menatap punggung lebar pemuda yang menggandeng dua tangan kecil di sana. Kenshin pun menatap punggung kecil Azizah. Pria itu menghela napas panjang dan meninggalkan tempat itu begitu saja.


Tak lama, Rion menurunkan Azizah dan semua anak di panti asuhan. Mereka membawa banyak makanan untuk semua penghuni panti. Langit yang menurunkan makanan itu dan memberikannya pada salah satu ibu pengasuh.


"Terima kasih Tuan Baby ... ah maksud saya Tuan Muda!" sahut Azizah membungkuk hormat.


Rion mengangguk, ia pun masuk ke mobilnya dan segera pulang karena hari mulai menjelang petang.


Sampai rumah. Terra sudah menatapnya dalam-dalam. Perempuan itu bersidekap.


"Baby!" panggilnya.


"Ma ... Ion capek," keluh pemuda itu.


"Tidak Baby, ini harus kau pahami, kau tau Daddymu marah sekali, karena kau pergi seperti orang tak memiliki adab!"


Rion terdiam. Ia sedikit lupa dengan kejadian tadi, lalu ketika ia ingat, kini pemuda itu duduk dengan kepala tertunduk.


"Rion, Mama tak pernah mengajarimu kurang ajar pada orang tua!"


Untuk pertama kalinya Terra tak memanggil bayi besarnya dengan sebutan Baby. Ia benar-benar marah dengan pemuda yang sudah merasa besar ini.


"Apa-apaan tadi ... pergi pamit dan hanya bilang Bye?!' pekik Terra tertahan.


"Jika adikmu tau kau berkelakuan seperti itu, dan mereka mengira itu tidak masalah, apa kau mau!?" Rion menitikkan air matanya dan menggeleng.


Untuk pertama kalinya, ibunya marah luar biasa. Hanya kelakuan yang sangat tidak sopan tadi.


"Kau tadi ingin menemui siapa sampai seperti itu?" tanya Terra gusar.


"Menemui teman, Mama," cicitnya menjawab.


"Yang keras! Mama tidak dengar!" sentak Terra.


"Menemui teman, Ma ... hiks!" Rion mulai menangis.


Sungguh Terra tak tega memarahi bayi besarnya itu. Tapi tadi Virgou benar-benar marah besar karena kelakuan putranya ini.


"Apa begitu hebat temanmu itu hingga kau lupa mengucap salam?" desis Terra dengan suara bergetar.


"Nggak Mama ... hiks ... hiks ...!"


"Jawab, apa dia seorang perempuan?" tanya Terra lagi.


Rion mengangguk pelan sambil mengusap kasar air matanya.

__ADS_1


"Jawab! Mama tidak butuh anggukan mu!" teriak Terra.


"Iya ... Mama ... huuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"


"Lalu kau jalan-jalan dengan gadis itu dan melupakan gadis yang kau ikat?"


"Mama ... huuuu ... uuu ... maafin Ion ... hiks ... hiks!"


Terra berurai air mata. Ia benar-benar tak tega memarahi lagi putra itu. Ia pun memeluk Rion dan mengecup kepalanya.


"Jika kau masih ingin bebas, lepaskan Azizah nak ... Mama tidak mau kau menyakitinya," pinta Terra.


"Nggak mau ... hiks ... hiks ... please Mama!" tangis pemuda itu.


"Kamu masih muda, carilah kebahagiaanmu, Mama tak akan memaksamu dengan Azizah," ujar Terra.


"Mama ... huuu ... uuuu!"


Sedang di tempat lain. Azizah menatap cincin di jari manisnya. Ia memutar perlahan benda melingkar itu. Terlintas ingatannya dengan kejadian tadi sore. Di mana Rion berjalan berdua dengan begitu akrab dan pandangan penuh kekaguman pada sosok di sisinya.


"Gadis itu sangat cantik dan sangat sebanding dengan Tuan Baby," gumamnya pelan sekali.


Satu titik bening menetes. Azizah menekan dadanya yang mendadak ngilu. Ia meringis menahan sakit luar biasa.


"Apa aku sudah jatuh cinta pada Tuan muda Rion?"


Azizah menyandarkan kepalanya menatap langit yang gelap. Malam telah datang. Semua adiknya telah terlelap. Gadis itu menghapus cepat air matanya.


"Tidak pantas Azizah, berkacalah!" tekannya bermonolog.


Namun wajah Rion bukan menghilang, makin terpatri dalam ingatannya dan kini menggetarkan hatinya paling dalam. Azizah jatuh cinta pada tuan mudanya.


"Dia memiliki gadis yang lebih cocok ... Azizah ... berkaca lah!" ujarnya pada diri sendiri.


Sementara di kamar Rion. Ia menatap ponsel yang berdering. Nama Sahira di sana. Pemuda itu mengangkatnya.


"Halo Sahira!"


"Rion, besok aku harus pulang, maukah kau ikut denganku dan tinggal bersama di Eropa?"


"Kau melamarku?" tanya Rion.


"Oh ... ayolah ... kau masih muda. Adikmu begitu banyak dan pasti membuatmu penat. Tinggalkan mereka dan hidup bersamaku!" ajak Sahira.


"Maksudmu, kita kawin lari?" tanya Rion bodoh.


"Bukan .. jujur, aku tak mau menikah, karena aku juga tak mau memiliki anak," sahut gadis itu.


"Hah ... bagaimana?" tanya Rion bingung.


bersambung.

__ADS_1


Eh ... Sahira?


Next?


__ADS_2