
Kafe milik Adiba sudah lengkap, MOB akan dibuka sebentar lagi. Gadis yang sebentar lagi mau lima belas tahun itu akan lulus dari sekolah tsanawiyah.
"Apa yang kurang Mas Dewa?" tanya Adiba pada remaja yang hanya beda satu tahun darinya.
"Sepertinya cukup, para pekerja juga udah ada. Mama Iya, Uma juga udah bersedia menjadi mentoring dari healting kids," ujar Dewa.
"Kita buka?" Dewa mengangguk.
Akhirnya pembukaan MilkTime Out Baby dibuka untuk umum. Bangunan bekas sekolahan yang tadinya disewakan kini menjadi hak milik dari Adiba.
Bangunan itu dipenuhi oleh keluarga. Reno dan Langit sangat terkesan dengan ide usaha yang sangat baru itu.
"Kamu hebat sayang!' puji Reno pada Adiba.
"Makasih Kak!" ujar Adiba dengan senyum lebar.
Namanya juga kafe untuk para bayi. Maka yang diutamakan adalah para bayi. Maryam, Aisya, Fatih, Aminah, Ari, Della, Firman, Fathiyya, Arsyad, Aaima, Al - El Bara, Bariana, Harun, Azha, Arion dan Arraya.
"Apan!" pekik Alia.
Bayi itu juga mau ikut duduk sendiri. Hal itu diikuti oleh Zizam, Izzat, Fael, Angel dan Aliyah.
Bayi-bayi berceloteh ala mereka. Alia yang paling seru dengan bahasanya yang membuat semua orang tersenyum lebar.
"Kamu ngomong apa sih Baby?" tanya Azizah gemas.
Ajis, Amran, Alim dan Ahmad tentu berkumpul dengan Sky, Bomesh, Domesh, Benua juga Samudera. Lima puluh anak angkat Bart turut serta.
Banyaknya pengawal yang menjaga ketat tempat itu jadi sorotan para media cetak. Mereka bertanya ada apa gerangan di tempat itu.
"Pembukaan kafe milik Nona Adiba Sabeni, adik ipar dari Tuan Rion Permana Hugrid Dougher Young," jawab Juno.
Layla pun ikut serta berada di sana. Wanita itu juga memberi kabar gembira akan kehamilannya. Bart tentu senang mendengarnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi semuanya!" ujar Adiba memberi salam..
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" seru semua orang.
"Pertama-tama saya bersyukur atas hadirat Allah ...."
Adiba memberi kata sambutannya ketika memulai acara. Gadis itu begitu percaya diri dengan balutan gamis warna coklat pemberian Satrio dan hijab warna senada. Khasya sangat menyukai cara Adiba yang tampil begitu percaya diri.
"Program dari kafe khusus bayi adalah untuk memberi tempat para batita usia produktif dari satu hingga lima tahun. Kemungkinan kami juga akan membuka kafe ini untuk semua kalangan usia, walau yang ada adalah makanan yang disesuaikan dengan perkembangan dan kesehatan ... Nanti Chef Rangga dan Ahli gizi Bidan Safitri akan menjelaskan menu-menu yang menjadi menu utama!" lanjutnya.
Chef Rangga, seorang pemuda yang langsung tertarik melamar pekerjaan itu. Makanan untuk balita tentu menjadi tantangan sendiri baginya. Suatu saat ia akan menjadi seorang ayah, jadi ia harus tau apa saja makanan yang bagus untuk tumbuh kembang anak.
"Saya tertarik dengan konsep kafe ini. Jadi saya mengajukan diri untuk melamar pekerjaan di sini," jelas pemuda tampan itu.
Senyum Rangga pada Adiba membuat Satrio sangat kesal. Khasya menenangkan putranya.
"Beri kepercayaan gadismu sayang," ujarnya berbisik.
Satrio menatap Adiba. Gadis itu hanya memandang biasa pada pemuda yang tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Bun, emang beneran Baby Satrio dijodohkan untuk Adiba?" tanya Terra masih tak percaya jika ada perjodohan itu.
"Bukan, tapi Adiba untuk Baby Sat," ralat Khasya.
Acara berlangsung seru. Para perusuh tentu ingin menampilkan keahliannya. Della dan Firman tentu baru bergabung, tentu kegirangan.
"Keluargamu seru ya Sky!' uajr Arfhan.
Alia Bayi cantik yang kini sudah menunjukkan bobotnya itu juga tak kalah ingin mengajukan diri naik ke atas pentas.
"Baby ... pawu panyi pa'a?" tanya Harun sebagai pembawa acara.
"Tah ahu!" geleng Alia.
"Ata' acalin pawu?" Alia mengangguk setuju.
Alia di gendong oleh Juno, pria itu berkali-kali menciumi bayi cantik itu hingga membuat Harun marah.
"Badhaipana Baby Yiya pisa banyi talo Papa Puno dandutin tayat dithu!" protesnya.
"Auh nih!' Alia juga memarahi pria tampan itu.
"Sop nan ium-ium Yiya!" larangnya sambil menutup mulut Juno dengan tangannya.
"Pitutin Ata' ya Baby!" ajak Harun.
"Satu-satu ..." Harun mulai mengajari Alia bernyanyi.
"Atuh sayan Pipu," lanjut Harun.
"Uh anan mpu ...," ulang Alia.
"Duwa-duwa ... judha sayan Yayah!"
"Wawawa ... dada yayan payah," ulang Alia.
"Tida-tida sayan adit tata!"
"Nda-nda yanyam pit papa ...!
"Syatu, duwa, pida sayan pemuana.
"Holeee!" Alia bertepuk tangan.
"Banyi pulu Baby," suruh Harun.
"Dah lelai-lelai!" tolak Alia.
Bayi cantik itu pun mulai bosan dan meminta Juno membawanya pergi dari sana.
"Paitlah ... talena Baby Yiya pidat pawu pelansutan ladhuna ... padhaipana talo setalan pita doyan dandut?" tawarnya..
"Ayo Baby!" pekik Virgou tentu setuju.
__ADS_1
Akhirnya tempat itu pun heboh dengan musik dangdut. Semua bergoyang, bahkan Arfhan, Sky dan Bomesh juga bergoyang.
Lana, Leno dan Lino diajak berjoget oleh Kean dan Al. Semua anak heboh.
"Daddy ... sel ... poha!" seru Harun menggoyang pinggulnya.
"Mali tawan-tawan, deumbila peulsyamaan ... payo tawan-tawan beuljodet peulsyamaan ... hilantan deulisah yan lada denan ladhu Yan deumbila ...," Azha menyanyikan lagu dangdut dengan fasih.
Akhirnya acara pun selesai. Kafe milik Adiba viral di medsos. Nama dari Rion Hugrid Dougher Young, tentu membuat dampak baik dari pembukaan kafe tersebut, terlebih semua keluarga berkumpul di sana.
Kini mereka semua ada di hunian Rion. Pria itu masih merasakan Couvade Syndromenya. Walau tak separah awal, tapi niat untuk mengerjai semua pengawal benar-benar ia lakukan.
"Papa Juno ... kenapa sekarang Umi Layla nggak diajak ke rumah?" tanya bayi besar itu.
"Iya Tuan Baby ... nanti kalo anak sudah lahir, pasti sering di rumah Nyonya Terra," jawab Juno.
Layla tentu mengangguk antusias. Wanita itu juga mau berkumpul bersama keluarga besar atasan suaminya.
"Ayo tadi di kafe sudah makan siang, habis shalat dhuhur baru tidur siang ya!" teriak Dinar.
"Bibu ... pita bawu pain delopat sodol!' rajuk Fatih.
"Bobo Baby!" sahut Darren tak mau kompromi.
Akhirnya semua menurut, setelah dhuhur mereka pun tidur siang semua. Arfan yang baru merasakan tidur berkualitas membuat tubuhnya jadi lebih kuat. Gomesh datang dan bertanya tentang tangannya.
"Apa yang kau rasakan sekarang Sayang?"
"Udah nggak begitu sakit Papa," jawab Arfhan.
Gomesh mengusap kepala bocah pemberani itu. Ia sangat yakin jika Arfhan akan sekuat Sky, Bomesh dan anak laki-laki lainnya.
"Papa ... boleh Arfhan meminta sesuatu?" tanyanya hati-hati.
"Apa sayang? Jika Papa bisa beri Papa pasti akan beri!" ujar Gomesh meyakinkan Arfhan.
"Arfhan mau bobo dipeluk Papa boleh?" cicit bocah itu takut.
"Tentu sayang ... tentu saja!" jawab Gomesh lalu merebahkan tubuhnya.
Arfhan senang bukan main, empat tahun sudah ia tak merasakan pelukan ayahnya. Ayah yang ia sangat banggakan harus menyerah dengan penyakitnya setelah kepergian dua tahun sang ibu.
Gomesh menatap bocah kecil nan pemberani yang kini telah terlelap. Pria raksasa itu bukan tidak tau betapa kelam dan menyedihkan perjalanan hidup yang dilalui Arfhan.
"Aku yakin kau akan jadi pria terkuat sayang," ujarnya yakin
bersambung.
Ah ... ada air mata tapi bukan air mata kesedihan tetapi kebanggaan.
Ba bowu Readers ❤️😍😍❤️
next?
__ADS_1