SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENJELANG PERNIKAHAN ULANG


__ADS_3

Langit dan Reno telah mengurus data-datanya. Pernikahan ulang akan segera dilangsungkan dua minggu lagi.


"Kita nikah masing-masing atau dijadikan satu sayang?" tanya Reno.


"Jadi satu aja Kak, biar nggak kecapean," jawab Arimbi.


Remaja yang telah menjadi istri itu sedang mengenakan hijabnya. Reno memeluk istrinya, Arimbi tersenyum.


"Ada apa sayang?" tanyanya mesra sambil mengalungkan lengan di leher suaminya. Keduanya berciuman, Arimbi sudah tak polos lagi setelah bersuami.


"Rimbi harus berangkat sayang," elak wanita itu ketika tangan suaminya menggerayang.


Reno tersenyum, sebagai bodyguard istrinya. Pria itu pun kini mengikuti sang istri, bersama Riki dan Deo.


Sementara itu di tempat lain, Langit tengah mendampingi Satrio.


"Tuan saya minta cuti," ujarnya.


"Manggil apa kamu?" tanya Satrio sengit.


"Tuan ...."


"Kau suami adikku sembilan bulan, panggil aku Mas!" perintah Satrio tegas.


"Iya Mas. Minta ijin cuti untuk mengurus pernikahan," sambung Langit dengan senyum canggungnya.


'Ya udah, pastikan jadi satu dengan Arimbi!" perintah Satrio lagi.


"Baik Mas, makasih!" ujar Langit membungkuk hormat.


Sementara di Eropa, Andoro benar-benar pusing dibuat istrinya. Luisa tak mau ikut ke Indonesia.


"Ya sudah, kau sendiri saja di sini. Aku mau menghadiri pernikahan putraku!" sungut pria itu kesal.


"Papa, jangan kau buat anak itu makin besar kepala!" teriak Luisa berang.


"Tidak, aku justru mau ingin putraku benar-benar tak hilang dari tanganku!" teriak Andoro.


"Kau tau, Virgou menghadiahkannya sebuah hunian dengan nilai 350ribu dolar USA!" lanjutnya panik.


"Bahkan mungkin Virgou memberikan perusahaan pada putraku jika dia ingin!" lanjutnya lemas.


Luisa diam, ia lupa dengan siapa putranya menikah. Seorang pemilik gurita bisnis di Eropa.


"Kau tau, semua keluarga Dougher Young pindah ke Indonesia dan membangun investasi juga membuat perusahaan induk mereka berbasis di sana,"


Andoro duduk di tangga yang berlapis marmer dan karpet merah. Pria itu begitu kalah dengan keluarga kaya raya itu.


"Aku memang memegang sebagian kendali bisnis di Eropa. Tetapi untuk melawan Dougher Young?" lanjutnya menerawang. "Sama saja aku bunuh diri."


Luisa tak berkata apapun. Wanita itu hanya diam, bahkan ketika Andoro bangun dan masuk ke kamar mereka. Wanita itu masih melamun hingga bunyi dering di ponsel mengagetkannya.


"Ya halo!" sentaknya.


".......!"


"Apa katamu? Ada jual berlian mahal yang langka dijual murah?" tanyanya sampai berdesis.


".......!"

__ADS_1


"Kau yakin itu asli?" tanya wanita itu masih ragu.


"Ini asli, Nyonya Dewangga! Kau pasti tidak akan menyesalinya!" ujar seseorang di seberang telepon.


"Baik ... aku akan ke sana. Jangan mulai acara jika aku belum muncul!" teriaknya.


Luisa pergi begitu saja meninggalkan mansion mewah mereka. Andoro turun dengan membawa dua koper yang diangkat oleh dua maidnya.


"Ma!" panggilnya.


Tak ada sahutan. Para maid langsung bergerak mencari nyonya rumah mereka.


"Maaf Tuan, Nyonya baru saja pergi," lapor salah satu maid.


Andoro benar-benar marah. Rupanya sang istri pergi tanpa ijin bahkan berani membantah perintahnya.


"Baiklah jika itu maumu," gumamannya kesal dalam hati.


Andoro melangkah keluar hunian yang mewah itu. Dua kopernya sudah berada di bagasi mobil. Dengan menggunakan jet pribadinya. Pria itu akan terbang menuju Indonesia.


"Halo Langit, Papa akan datang!" ujar pria berusia lima puluh dua tahun itu.


"......!"


"Tidak ... Papa datang sendiri!" ujarnya lalu menutup sambungan ponselnya.


Satu titik bening menetes di pipinya. Ia sangat mencintai Luisa, tak ingin berpisah dari wanita yang telah memberinya satu putra. Bahkan wanita itu memaafkan dirinya yang dulu tergoda dengan sekretarisnya.


"Aku tau, aku banyak salah padamu sayang," ujarnya. "Makanya kau membangkang semua perkataanku."


Andoro sangat ingat, bagaimana raut kekecewaan istrinya. Luisa baru melahirkan putranya dua minggu. Wanita itu sangat bahagia setelah tiga kali keguguran. Luisa menjalani inseminasi buatan. Wanita itu menanggung semua kesakitan ketika menjalani hal itu.


Luisa membawa Langit dalam gendongannya. Andoro berciuman panas dengan Denara, sekretarisnya itu.


Luisa langsung mengajukan cerai saat itu juga. Berita sempat heboh, perselingkuhan di kalangan pebisnis memang hal biasa. Tetapi Luisa bukan anak orang biasa, ayah dan ibunya adalah seorang diplomat yang sangat berpengaruh.


Andoro tak boleh menemui putranya, Langit. Saham perusahaan langsung anjlok, Denara masih berusaha mencuri kesempatan itu sebagai bahan pelampiasan pria itu.


"Tuan, aku masih ada untukmu. Aku akan bersamamu sampai kapanpun," ujarnya lalu mengusap wajah Anggono.


"Pergi Denara!" usir pria itu.


"Tuan berkata sesuatu?' tanya sang supir membuyarkan lamunannya.


"Tidak ada, apa kita sudah sampai?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Belum Tuan, jalanan baru separuhnya," ujar sang supir.


Andoro menyandarkan punggungnya di jok mobil yang terbuat dari kulit lembu berkualitas. Begitu halus dan lembut.


Pria itu memejamkan mata sambil mengingat kesalahannya. Sedang di tempat lain, Luisa menampar dua wanita sosialita karena membohonginya.


"Akan kumasukkan kalian dalam penjara!" ancamnya.


"Luisa, kamu jangan seperti itu. Bukankah kita teman?" ujar salah seorang wanita berpakaian mahal di sana.


"Siapa kamu? Aku baru melihatmu?" tanya Luisa lalu memicingkan matanya.


"Oh kau pelakor itu!" teriaknya.

__ADS_1


"Pelakor? Siapa?" tanya yang lainnya.


"Katakan, siapa yang membawa berlian palsu ini?" tanyanya lagi. Semua menunjuk wanita yang disebut pelakor oleh Luisa.


"Denara Brown, kau mau apa dengan barang murah ini? Mau menjebak kami?" tanya Luisa sinis.


"Leona, panggil polisi, kita jebloskan penipu ini!" titahnya.


Luisa sangat berpengaruh dalam kalangan wanita sosialita. Bukan karena sang suami yang pengusaha terkenal tetapi dirinya juga seorang anak diplomat yang sangat berpengaruh.


"Kau tak bisa melakukan ini Luisa Hardoyo!" pekik Denara berang.


Dua petugas kepolisian datang dan menangkap Denara bersama barang buktinya. Wanita itu dituntut memperjual belikan berlian palsu dan penipuan.


Luisa pulang ke mansionnya, wanita itu tak menemukan sang suami.


"Kau ternyata benar-benar pergi," gumamannya.


Luisa memang menggunakan putranya untuk menekan Andoro. Wanita itu menyuruh maid membereskan koper miliknya juga.


"Kita pergi ke bandara biasa," perintahnya pada sang supir.


"Nyonya, Tuan masih ada di bandara. Penerbangan diley karena faktor cuaca," jelas sang supir.


"Biarkan dia pergi sendiri. Aku juga ingin sendiri," ujar Luisa.


Wanita itu menatap bangunan-bangunan bertingkat. Ia mengingat kejadian ketika Langit baru lahir.


"Kau tau, sayang. Perlakuan mu itu menyakiti aku. Maaf jika putramu berimbas akibat perlakuanku," gumamnya sangat pelan.


Sementara di sebuah bandara pribadi. Pesawat jet milik Andoro memang dititipkan di sana dan menyewa hanggar. Pria itu belum sanggup membangun bandara pribadi.


"Tuan, Nyonya pergi menggunakan pesawat komersil menuju negara yang sama!" lapor supir sekaligus ajudannya.


"Apa kita masih lama?" tanya Anggoro.


"Sekitar tiga jam lagi. Nyonya akan terbang dua jam lagi!" jawab supir sekaligus memberitahu.


"Kita susul Nyonyamu!" Anggono bangkit dari kursinya.


Pria itu sangat tidak suka jika sang istri berpergian sendirian. Ia cemburu setengah mati. Luisa memang berusia empat puluh delapan tahun. Tetapi, wanita itu sangat cantik dan tubuhnya juga seksi.


"Ngebut saja Zack!" titah pria itu.


Zack menyalakan sport mode pada mobilnya, hanya butuh lima belas menit. Andoro berlari menuju pembelian tiket, pria itu berharap satu kursi dengan istrinya.


Jodoh memang tak akan ke mana. Luisa tengah menyamankan duduknya, ia berada di kelas bisnis. Wanita itu duduk dekat jendela. Ia merasakan seseorang duduk di sebelahnya, wanita itu menoleh.


"Halo sayang!" Andoro langsung mengecup bibir istrinya.


Luisa terkejut, ia kemudian mendengkus kesal lalu memalingkan muka. Andoro menarik tubuh istrinya.


"Aku tak akan pernah membiarkanmu sendirian dan diambil pria lain!' bisik Andoro mesra.


Bersambung.


Bucin abis ... ada kisah terselip.


Next?

__ADS_1


__ADS_2