
Pagi Menjelang,Di kediaman Zulkarnain sekeluarga terlihat begitu banyak orang datang.Karangan bunga berjejer memenuhi halaman sampai di bahu jalan depan Rumah.
Isak tangis terdengar bersahutan,hanya Lucy yang diam mematung tanpa ekspresi.
Sesekali Zulkarnain menatap iba ke arah putrinya itu.Jika kesedihannya tidak ia luahkan,maka luka itu akan selamanya ada.
"Pa...."Bu Lastri yang baru saja sampai di rumah duka menjerit histeris "Papaaaa"Ia menangis meraung-raung memeluk peti jenazah.
"Sabar Nyonya"Seseorang petakziah mengelus punggung Bu Lastri.Bu Lastri malah semakin menjadi-jadi.Andika tidak terlihat kelibatnya.Ternyata Bu Lastri hanya datang seorang diri.
Tak berapa lama seorang gadis cantik muncul,ia langsung menerkam peti jenazah dengan tangisan yang memilukan."Papa,kenapa Papa pergi secepat ini?Papa janji akan melihat Raya Sukses kan?"Air matanya semakin deras mengalir.Tubuhnya bergetar hebat.
Zulkarnain bangkit,ia menghampiri adik bungsunya itu dan memeluknya dari belakang."Sabar Raya..sabar ya"
Soraya memeluk lengan Abangnya dengan erat"Papa janji akan nunggu Raya Kak,tapi kenapa ?"
__ADS_1
"Ini Adalah takdir Raya"Zulkarnain berusaha menguatkan semangat adiknya.Soraya makin menjadi.Ia merasa tidak bisa menerima takdir.
Pandangan Lucy menyorot ke sosok Bu Lastri,ia tidak terpengaruh sedikitpun oleh keadaan sekitar.Seolah-olah tatapannya menandai sesuatu.Namun Bu Lastri tidak menyadari itu, karena Lucy tetap setia dengan kacamata hitamnya.
__Usai acara pemakaman,semua orang yang ikut mengantarkan jenazah Pak Hans keperistirahatan terakhir satu persatu meninggalkan area.Sehingga menyisakan keluarga terdekat saja .
Soraya masih menangis walau tak sehisteris tadi.Ia duduk berjongkok sambil meremas kuat gundukan tanah yang menyimpan jenazah Papanya.Zulkarnain terus mendekap adiknya itu.Sejengkal pun ia tak beranjak dari sisi Soraya.
Bu Lastri berdiri mematung,ia menghapus sisa-sisa air matanya.Walau tak begitu ketara,ada senyum tipis mengembang disudut bibirnya.Lucy menyaksikan itu semua.
"Raya,ayo kita pulang"Zulkarnain mengajak adiknya untuk kembali.
"Kini tinggal tugas kita sebagai anak untuk selalu mendoakan Ayah biar dosa-dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima.Ayah pasti akan sangat sedih melihatmu begini Raya"
"Ayo kita pulang "Sambung Zulkarnain.Meskipun terasa berat hati akhirnya Soraya bangkit.Ia masih memandang sendu pusara Sang Papa.Zulkarnain mengapit tubuh adiknya sampai masuk ke dalam mobil.Ia membawa Soraya ke tempat ia tinggal.
__ADS_1
__Bu Lastri membuang tasnya begitu saja ke atas sofa,ia menghempaskan tubuhnya ke busa empuk itu.
"Hmmm sekarang tinggal menunggu pengacara untuk membaca surat wasiat.Dan aku akan segera menikmati warisan itu hahaha"Bu Lastri tampak begitu sangat bersemangat.Andika dengan wajah yang kuyu dengan lingkaran mata yang menghitam datang menghampiri.
"Ma..."Suara Andika mampu mengagetkan Bu Lastri.
"Kamu ini ngagetin Mama aja"Bu Lastri menghardik putranya.
"Aku laper Ma...Kok Bibik nggak masak sih?"
"Bibik tadi ikut Mama ke pemakaman Papa"Jawab Bu Lastri ketus.
"Ke pemakaman Papa ?"Andika seperti tidak tahu apa-apa.Bu Lastri mengangguk."Mama jangan bercanda Ah"
"Buat apa Mama bercanda,dan dia meninggal di Villa tempat Zulkarnain tinggal.Mungkin dia yang bunuh Papa"Bu Lastri mengeluarkan kalimat seenaknya saja.
__ADS_1
Dengan sisa-sisa tenaganya, Andika pergi keluar mencari sopir pribadinya untuk mengantarnya ke kuburan Sang Papa.
"Hati-hati dijalan Dika,dan jangan lama-lama.Takut nanti dipanggil pengacara Papa untuk membaca surat wasiat"Bu Lastri berseru meskipun ia tak tahu, Andika mendengarnya atau tidak.