SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
SEBUAH KISAH LAIN


__ADS_3

Pesta masih berlangsung meriah. Semua adik Azizah diajak tidur siang oleh Dinar bersama para perusuh dan juga Lana, Lino dan Leno. Para orang tua tak pernah keberatan dengan anak-anak yang tidur bersama di panti.


"Jadi, kamu ingin pindah rumah?' tanya Virgou.


"Iya tuan, kasihan adik-adik saya ketakutan jika ditinggal terlalu lama," jawab gadis itu.


"Memang kenapa sih dad?" tanya Rion penasaran.


"Itu yang punya rumah suka datang dan mengambil belanjaan Azizah dalam kulkas. Jika tak dibuka pintu, mereka malah menggunakan kunci cadangan," jawab Haidar.


"Loh kok bisa, itu bisa dituntut!" sahut pemuda itu marah.


"Saya mau mengamankan adik-adik saya tuan, makanya saya bawa ke sini," ujar Azizah.


"Titip semua adikmu di sini, nak," tawar Herman.


"Kau tau, kasus panti itu dan sebagian anak-anak ada yang ditaruh di sini," ujar pria itu lagi.


"Kasusnya udah selesai kan?" Herman mengangguk.


"Ketua yayasan hanya dihukum lima tahun penjara," jawab Herman..


Rion menghela napas panjang. Sungguh tak adil. Anak-anak tersiksa dan yang menyiksa hanya dihukum ringan.


"Apa bisa tuan?" tanya Azizah.


"Bisa sayang, bunda yang menjamin terlebih sekarang ada Dinar dan empat ibu lainnya, anak-anak bisa dimasukkan ke pesantren untuk sekolah," jelas Khasya panjang lebar.


Azizah lega. Ia sangat bersyukur mendapatkan keluarga baik hati ini.


"Kalau begitu, saya akan langsung pindah hari ini, apa bisa?"


"Bisa, sebentar lagi pesta juga sudah selesai," sahut Herman.


Azizah beranjak ia menitipkan semua adiknya.


"Jangan khawatir sayang, pergilah!' ujar Khasya.


"Aku ikut!' sahut Haidar.


"Te juga!"


"Aku ikut juga!" sahut Virgou.


Empat orang pergi. Semua masih melanjutkan pesta. Memang pesta ini hanya sebentar karena bukan dengan resepsi. Felix akan mengadakan resepsi besar nanti sesuai permintaan Herman. Sari dan Felix beranjak ke kamar gadis itu. Rona merah menjalar di pipi sang gadis ketika suaminya sangat tak sabaran ingin melihat mahkota istrinya.


Sari melepas hijabnya. Rambut hitam tergerai panjang. Wajah gadis itu bulat, dengan kulit putih bersih. Felix mendekat, gadis itu mundur.


"Jangan lari sayang," ujar pria itu lalu memeluk sang istri.


"Bang ...," rajuk gadis itu dengan rona merah di pipi.


Felix benar-benar bahagia. Entah kebaikan apa yang pernah ia perbuat hingga mendapat gadis secantik dan sesoleha Sari.

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di kening gadis itu. Sari hanya pasrah dan menutup mata ketika ciuman Felix turun ke hidung lalu memagut pelan bibirnya.


Sari meremas kemeja suaminya. Felix memperdalam ciumannya, ia menahan tengkuk sang istri agar lidahnya bebas masuk ke dalam dan mengeksplorasi semua gigi dan lidah Sari.


Sari merasa pasokan udaranya makin menipis, ia memukul dada sang suami untuk menghentikan ciumannya. Felix melepas pagutannya. Dengan rakus Sari menghirup oksigen banyak-banyak.


"Jika tau menikah seenak ini, dari dulu aku nikahi kamu sayang," ujar pria itu dengan napas menderu.


"Emang dulu Abang suka sama Sari?"


"Iya, suka aja belum cinta, tapi sekarang cinta banget," jawabnya lalu kembali mencium bibir istrinya itu dengan rakus.


Di tempat lain. Azizah telah sampai di rumah yang ia sewa. Kebetulan istri dari sang punya rumah keluar dari rumah gadis itu.


"Loh ... kok ibu main masuk. Orangnya yang nyewa lagi nggak ada loh?" tanya Azizah mulai tersulut emosi.


"Eh ... Zizah ... ini, di rumah lagi nggak ada telur, jadi ambil dari sini deh,' jawab wanita itu.


Azizah mendengkus kesal. Tak lama mobil bak terbuka datang. Si ibu kaget.


"Loh ... loh ... mau ngapain kalian masuk seenaknya rumah orang?" tanya wanita itu dengan mata melotot.


"Rumah apanya Bu. Ini masih rumah saya loh, untuk tiga bulan ke depan rumah ini masih rumah yang saya sewa!" sahut Azizah lagi.


"Iya bener, tapi buat apa kamu bawa orang banyak lagi. Terus ini bule-bule siapa?" Azizah tak menjawab.


Ia mengkodekan agar mengangkut semua barang. Beruntung gadis itu telah menyusun semua baju adik-adiknya dalam beberapa koper dan tas.


"Ini barang yang saya beli bu, saya mau pindah hari ini!" sahut wanita itu.


"Eh sejak kapan kamu bisa ambil, apa yang udah dalam rumah ini sudah jadi milik saya!" teriak wanita itu menahan laju petukang yang mengangkat barang.


"Kapan peraturan itu?" sahut Virgou mulai gatal untuk ikut campur.


"Eh ... mister ... mister kan udah punya uang banyak, suruh gundiknya jangan ambil barangnya," ujar wanita itu kurang ajar.


"Apa katamu tadi?" tanya pria itu dengan kilatan mata sadis.


Wanita itu menelan saliva kasar. Lalu ketika kulkas mau diangkat dia histeris jika itu adalah miliknya.


"Saya yang beli Bu!' teriak Azizah.


"Pokoknya itu punya saya!" teriak wanita itu.


"Rampok!' teriaknya hingga membuat warga berduyun-duyun.


Ketua RT jadi penengah. Azizah tak terima jika dia yang harus mengalah.


"Itu saya beli dengan hasil keringat saya sendiri!' teriak gadis itu.


"Ya keringetan aja lagi buat belinya ... kan enak, tinggal buka paha lebar-lebar!" ketus pemilik rumah.


Azizah meradang. Ia hendak menampar keras wanita itu, tapi Terra menahannya.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu sayang!" ujarnya.


"Tuh gigilo mu bilang tenang ... emang harus tenang,"


Plak! Satu tamparan keras hingga membuat wanita itu pingsan. Virgou pelakunya pria itu marah luar biasa. Sang suami tak terima.


"Saya akan adukan ke polisi!' teriaknya.


"Silahkan! Saya adukan kalian atas nama pencemaran nama baik, pemaksaan dan juga pencurian!" tekan Virgou.


Pria itu langsung menelepon.


"Gomesh!"


Pria itu menutup ponselnya. Tak lama empat polisi datang dan menangkap sang suami. Istri yang tersadar langsung menjerit minta maaf pada Azizah.


"Jangan bawa suami saya pak! Zizah ... kamu harus ingat kebaikan saya!" teriak wanita itu.


"Bapak ... bapak ... jangan pergi paaak!' teriak tiga anak masih kecil.


Azizah luluh, ia meminta Virgou untuk melepas pria itu.


"Saya mohon tuan, saya akan menurut apapun perintah tuan," ujarnya memohon.


Akhirnya pria itu dilepas. Azizah tak jadi membawa kulkas dan televisi. Gadis itu akhirnya mengikhlaskan semua barang itu. Terra yang menyuruhnya.


"Kamu bisa beli lagi sayang," ujarnya.


"Tapi itu dari pendapatan pertama saya di perusahaan nyonya," rajuknya manja.


Terra mengusap wajah cantik gadis itu.


"Relakan, yakin Allah akan menggantikan jauh lebih besar dari itu," nasihat wanita itu.


Akhirnya yang dibawa gadis itu hanya lemari dan kasur juga koper berisi pakaian. Adik-adiknya sudah bangun dan sudah bersih. Dinar dan para ibu panti membersihkannya.


"Loh kak, kulkas sama televisi mana?" tanya Ajis.


"Dik, di sini kan ada televisi, jadi nggak perlu lagi," sela Dinar..


"Kulkas juga ada," sahut Dinda.


Lemari sudah di letakkan di salah satu kamar besar. Mulai hari ini Azizah dan enam adiknya menjadi penghuni panti.


"Kak, kita tinggal di sini?" tanya Adibah.


'Iya dik ... kita tinggal di sini, nanti kamu daftar di pesantren dekat situ ya?' Adiba mengangguk ia senang akhirnya bisa bersekolah setelah sekian lama berhenti karena kekurangan biaya. Kemarin sempat didaftarkan tapi, urung karena sikap pemilik rumah yang seenaknya masuk ke rumahnya tanpa permisi.


bersambung.


duh ... ada aja kelakuan orang ya.


next?

__ADS_1


__ADS_2