SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
WOMEN VOICE 2


__ADS_3

Berbagai delegasi dari seluruh dunia berdatangan. Semua menyuarakan hal yang sama, yakni perlindungan pada kaum perempuan dan anak-anak.


Banyak wartawan yang berkumpul karena acara ini disponsori oleh perusahaan ternama di Eropa yakni Dougher Young Company. Bart yang datang dengan balutan formal mewah dan elegan didampingi oleh Virgou yang memakai pakaian yang sama.


"Tuan Virgou ... anda sudah lama tidak eksis bersama dengan keluarga anda. Apa benar kejadian masa lalu yang membuat anda sedikit menjauh?" tanya wartawan.


Virgou sangat tidak menyukai pertanyaan itu. Bart langsung merangkulnya dan mengajaknya ke dalam.


Azizah, Arimbi, Tika, Diah dan Anti sudah dikawal secara ketat oleh pihak keamanan dan juga bodyguard yang sangat tampan.


"Itu ... itu bukannya Reno Alejandro Sanz?" bisik-bisik para wartawan.


Reno memandang wartawan yang berbisik tadi dengan pandangan tajam. Netra hitam pekat milik pria itu membungkam semua wartawan.


"Oh ... hanya wajah saja yang mirip. Karena Tuan Sanz memiliki mata amber," bisik wartawan lagi.


Bukan hanya Azizah dan empat gadis yang bersamanya saja yang dikawal ketat. Tetapi ada yang lainnya, paling banyak dari delegasi India dan juga Afrika Selatan.


Satu botol berisi air dilempar dari arah wartawan dengan teriakan yang sangat tidak pantas.


"Hoer!" (Pel**r!).


Orang itu langsung diringkus oleh petugas keamanan. Pelempar itu ternyata seorang wanita.


"Sy is 'n hoer ... verdien nie om te erken dat sy 'n slagoffer van mishandeling is nie!" (Dia pela**r tidak pantas mengaku sebagai korban pelecehan!) teriak wanita itu.


Wanita itu tetap diseret oleh pihak keamanan. Sedang di dalam ruangan Azizah ditempatkan sebagai pion utama acara dengan dua perempuan. Hanya Azizah yang tidak memakai masker karena wajahnya sudah trending di mana-mana.


"Kami di sini Nak!' ujar Bart menenangkan gadis itu.


Delegasi Indonesia ada di bagian pinggir. Banyak perempuan di sana menyalami Azizah. Gadis itu akan duduk di depan bersama dengan delegasi lainnya.


"Baiklah ... kita akan memulai acaranya!" ujar ketua sidang.


"Harap semua tenang!" titahnya.


Semua hening seketika. Ada sekitar tiga ribu manusia hadir di acara itu. Ruang PBB begitu penuh dan rata-rata dihadiri oleh wanita.

__ADS_1


"Setelah bertahun-tahun kami menghimpun dan menjadi lembaga tersendiri UN Women, terus berupaya untuk melindungi kaum perempuan,' ujar kepala pendiri dari UN Women.


"Namun kejahatan terhadap perempuan makin turun melainkan bertambah. Kesetaraan gender menjadi peluang para pria menjadi malas dan menyerahkan semua beban hidup di pundak istri!"


"Ketika kami mengangkat derajat perempuan ada lagi perempuan-perempuan yang merendahkan dirinya sendiri dan menjadi perusak hubungan suami istri yang harmonis atas dasar cinta dan juga materi!' lanjutnya.


"Kita kesampingkan itu. Di sini kita akan mendiskusikan kembali tentang kasus-kasus pelecehan yang terjadi baru-baru ini!" pungkasnya.


"Paling viral adalah kasus yang terjadi di negara U. Seorang pelajar perempuan diperkosa lima guru laki-laki dan tiga murid yang juga laki-laki!" ujarnya.


Video sepanjang tiga puluh detik diputar di layar proyektor raksasa. Semua menahan napas. Terdengar teriakan-teriakan dari siswi malang itu. Semua menahan napas melihat kebiadaban delapan laki-laki yang mestinya melindungi perempuan. Setelah itu rekaman berhenti karena salah seorang guru menyeringai dan mengambil alat untuk merekam kejadian itu.


"Hal itu menyebabkan korban mengalami robek rahim dan koma selama dua belas tahun akibat pendarahan hebat!"


"Untuk korban silahkan berbicara awal mula kejadian," ujar ketua pimpinan.


Seorang wanita berusia tiga puluh tahun didorong dengan kursi roda. Kepalanya plontos dengan tubuh kurus. Wanita itu juga tak memakai masker.


"Perkenalkan nama saya Gebbah Longea," ujarnya menggunakan bahasanya.


Tampak ia menarik napas berulang-ulang. Para dokter ada di sana. Pemimpin meminta korban untuk tidak memaksakan dirinya.


Semua bertepuk tangan untuk memberi semangat pada Gebbah. Akhirnya wanita itu pun bercerita awal sebelum kejadian.


"Saya gadis paling jelek di kelas. Kulit saya hitam dan saya yang paling miskin di antara semuanya. Saya belum bisa melunasi sebuah iuran dan buku. Waktu itu salah satu guru memanggil saya mengatakan ...."


Gebbah menceritakan kejadiannya. Semua menitikkan air mata mendengarnya.


"Itu bukan pelecehan lagi tapi masuk ranah pemerkosaan!" teriak salah satu anggota sidang.


"Anda lihat videonya diawal tidak?" teriak wakil pimpinan yang duduk di depan.


"Korban dilecehkan dulu lalu diperkosa ramai-ramai!"


"Pelakunya hanya dihukum sepuluh tahun, sedang yang sekolah hanya diberi ganjaran wajib lapor!" geram wakil itu.


"Apa sepadan dengan penderitaan Gebbah seumur hidup?"

__ADS_1


Semua hening. Gebbah menangis karena teriakan orang tadi. Berpikir kasus perkosaan bukanlah kasus pelecehan. Wanita itu terpaksa dibawa keluar karena mengalami kondisi drop. Hal ini membuat saksi lain menolak maju. Mereka ketakutan dan merasa tersudut dengan kata-kata anggota tadi.


"Perwakilan Indonesia, Nona Azizah Putri Sabeni, silahkan anda adalah puncak dari semua suara!"


Azizah menghela napas panjang. Gadis itu menyerahkan satu flashdisk yang diberi oleh Arimbi.


"Selamat siang semuanya. Ketua pimpinan telah memperkenalkan saya tadi jadi saya tak perlu memperkenalkan diri!" tukas Azizah tegas.


"Saya juga korban dari pelecehan yang dilakukan oleh seorang oknum berkebangsaan J. Sungguh kasus saya tidak ada apa-apa dibanding dengan kasus yang dialami oleh Nona Gebbah," lanjutnya.


"Tetapi mau apapun itu pelecehan harus mendapat hukuman yang setimpal, karena seperti yang anda semua lihat tadi. Trauma kami seumur hidup!"


"Saya akan memperlihatkan sebuah riset yang dikumpulkan oleh adik saya Arimbi," ujar Azizah. "Adik saya juga korban dari pelecehan yang dilakukan oleh seniornya!"


Sebuah tayangan berjalan. Eksperimen kecil dilakukan terhadap para laki-laki, banyak pelecehan dari tingkat ringan hingga tingkat berat diperlihatkan.


"Saya juga membawa tiga saksi yang tidak mau disebutkan namanya. Mereka adalah korban exibisionis yang melakukan onani di dalam bus, kereta api juga di lift!"


"Pelaku masih melenggang bebas karena korban takut untuk melapor dan malu karena mengalami hal ini!" ujarnya sambil berurai air mata.


"Yang membuat kami takut adalah pandangan masyarakat yang banyak menyudutkan kami sebagai korban. Keluarga yang pastinya mengusir kami karena mencoreng nama keluarga!" lanjutnya dengan suara bergetar.


"Sudahlah masa depan kami hancur, kami dibenci masyarakat dan diusir oleh keluarga, belum lagi bayang-bayang kejadian buruk yang terus menghantui kami!"


Semua hening, Arimbi dan tiga temannya sudah berurai air mata. Bart dan Virgou menenangkan gadis itu.


"Jika mereka mengatakan pelecehan diakibatkan pakaian yang menggoda kaum pria! Adik saya berhijab, tapi tetap dilecehkan!" teriak Azizah berang.


"Apapun pakaian wanita, ia tak berhak mendapat perlakuan hina!' teriaknya lagi.


"Kami minta keadilan di sini! Jangan bungkam kami dengan. Binatang saja tidak pernah melecehkan binatang lain, padahal mereka semua telanjang! Kami masih memakai baju, sopan dan tak mengusik orang lain. Kenapa kami yang harus disudutkan dalam berbagai aspek!''


"Di mana hukum agar semua pelaku jera?! Kami terlindungi dan kami tidak disudutkan?"


bersambung.


Hidup Perempuan!

__ADS_1


Next?


__ADS_2