SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DIGERUDUK KELUARGA BESAR


__ADS_3

Bagaimana jika satu stadiun diduduki oleh sebuah keluarga yang besar.


Bahkan pihak panitia begitu terheran-heran. Bagaimana warga negara asing mampu membeli nyaris keseluruhan tiket.


Hari ini Dewi akan bertanding. Ia melenggang ke final karena babak semi ia menang Walk Out karena lawannya koma.


Pooja tak diskorsing, ia malah mendapat pujian banyak netizen dunia. Rusia kini yang makin menunduk karena nyaris seluruh atlitnya kalah dan hanya meninggalkan satu lawan.


Dewi ditangani oleh Tiana. Di tribun tampak kehebohan balita berteriak dan memasang spanduk.


"Pidup Butlet Pewi!" pekik Arsh mengomando.


"Lole ... lolelolelole ... lole ... loleeee!" seru semua perusuh paling junior.


Rion ikut bersemangat di sana. Ia berteriak-teriak menyemangati adiknya.


"Ayo Bu'lek ... hajar sampai babak belur!"


"Baby!" peringat Terra.


Rion hanya meringis. Khasya sangat khawatir, ia takut putrinya justru grogi karena kedatangan seluruh keluarga itu.


"Ayo Nona ... aku akan menikahimu jika kau kalah!" teriak Exel yang mendapat jitakan dari David.


"Jangan membuat adikku terbebani anak sialan!" bentaknya.


"Papi ... aku cuma semangati!" kilah Exel.


"Papa Pecel ... anan sitsit!" sentak Ryo marah.


Dewi menatap tribun yang penuh dengan keluarganya. Virgou datang memakai seragam beladirinya. Ia bergelar shimpai dan 4.


"Daddy,"


"Sayang ... tenang ya ... kali ini Daddy yang akan menanganimu. Tiana kau boleh kembali ke sana!"


"Baik Ketua!" angguk Tiana.


Gadis itu pun pergi menuju di mana semua keluarga berada. Ia duduk di sebelah Remario.


Semua fokus ke tengah matras. Hanya ada satu pertandingan hari ini. Lawan Dewi adalah atlit Underdog. Tak pernah terekspos dan jarang mengikuti event besar. Tetapi langkahnya menuju final juga diwarnai banyak drama.


Elena Christin Herzegovina, delapan belas tahun dengan tinggi 177cm berat 66kg. Gadis jangkung yang tidak diunggulkan oleh negaranya sendiri.


Dewi tak mengenal bagaimana teknik beladiri yang digunakan oleh Elena.


"Baby ... dengarkan Daddy," ujar Virgou.


Sebagai seorang ayah, tentu hati pria dengan sejuta pesona itu sangat takut. Ia begitu mengkhawatirkan putrinya yang bertanding.


"Daddy percaya kamu bisa menenangkan pertandingan ini. Tapi perlu kamu ingat. Jikapun kamu kalah. Kau adalah kebanggaan ku!" tekan Virgou.


Netra pekat Dewi menembus iris biru Virgou. Di sana kekuatan tatapan dari sang ayah, Herman ada di sorot mata Dewi. Virgou percaya jika Dewi bisa mengatasi semuanya.

__ADS_1


Virgou mengecup kening putri dari paman sepupunya itu. Lalu menepuk kedua lengan Dewi.


Di sana tampak Elena mendapat tekanan besar dari pelatih dan negaranya. Ia satu-satunya wakil yang tersisa dan masuk final.


"Tapi pinggangku sudah cedera melawan Nguan kemarin Sir!" keluhnya.


"Jangan perlihatkan kesakitanmu!" bentak pelatih marah.


Nguan menang melawan Chilia. Gadis asal Vietnam itu menang tipis karena Chilia benar-benar tak mau mengalah, terlebih Chilia pernah menghadapi atlit besar dari China.


Elena juga menang tipis dari Nguan. Gadis bertubuh mungil itu mampu membuat Elena jatuh bangun akibat serangan yang dilancarkan. Elena menang karena Nguan yang terlalu berambisi menghabisinya.


Dua gadis berhadapan, tinggi Dewi hanya berada di dada Elena. Semua bersorak. Suara suporter dari Rusia tentu lebih menang. Tetapi bukan perusuh namanya jika mereka kehilangan akal.


"Kita buat tarian!" teriak Sky.


Barisan Sky dan lainnya membuat gelombang dan menular kepada penonton lainnya. Banyak negara yang menjagokan tuan rumah. Tetapi, negara-negara yang kemarin menerima diskriminatif mendukung Dewi penuh.


Kebijakan panitia membatasi dukungan lawan di banding tuan rumah pun disoroti media.


Awalnya 70% stadium diisi oleh warga lokal. Tetapi sebuah tekanan besar membuat sistem berubah. Kini isi sama rata antara pendukung tuan rumah dan tim lawan.


"Ya Allah ... tenangkan putriku!" doa Khasya.


Terra dan Puspita tentu sangat antusias. Puspita yang telah lama berada di rumah. Ia sangat bahagia menatap lagi arena pertandingan.


"Dulu kakak pernah masuk kelas berat," ujarnya mengingat masa lalu.


"Kakak pernah tanding?" tanya Terra.


"Kakak nyesel?" Puspita terdiam sesaat lalu menggeleng.


"Jika kakak teruskan, kakak tak akan bertemu kakak sepupu mu yang sok ganteng itu!" cibirnya sambil memancungkan bibir.


Virgou di tengah arena dengan gaya yang memang sangat tampan. Pria itu membuat semua mata kaum hawa menoleh padanya. Bahkan kamera hanya menyoroti dirinya.


"Tapi Kakakku itu memang sangat tampan!" bela Terra.


"Ck ... dan aku cinta mati sama kakakmu itu!" dengkus Puspita.


Terra terkekeh, sedang Azizah, Saf, Lidya mereka menatap arena pertandingan itu dengan binaran berbeda.


"Azizah nggak pernah merasakan arena pertandingan karena sibuk mencari uang buat adik-adik," Saf menoleh pada adik iparnya.


"Kalian tau, kakak lawan Bu'lek Dewi itu pernah melawan Uma," ujar Saf memberitahu.


Hal itu membuat Lidya dan Azizah menoleh sosok bongsor itu. Saf mengangguk, ia tersenyum penuh arti.


"Uma akan bantu Baby untuk memenangkan even ini!" ujarnya dengan seringai misterius.


"Iya nih yang kek sapi ompong!" gerutu Lidya.


"Eh?" Saf dan Azizah bengong.

__ADS_1


"Kok gitu Kak?" tanya Azizah.


"Iya nggak pernah boleh ikut beginian sama Mama. Alasannya nanti kamu sakit sayang, Mama nggak terima jika ada yang nyakiti kamu," cerocosnya kesal.


"Mama gitu kan karena Kakak kesayangan semua orang!" sahut Azizah tanpa beban.


"Ladies and gentleman ...."


Seorang narator tengah memperkenalkan dua atlit. Sorak-sorai penonton riuh.


"Kita akan perkenalkan di sudut hijau atlit dari Indonesia ... Athena Triatmodjo!"


Semua berteriak ada yang menyoraki gadis itu untuk menjatuhkan mentalnya.


"Bwuuuuu! Pulang kau ke negaramu!"


Tentu dengan bahasa yang tidak dimengerti para perusuh. Tetapi baik Kean dan seluruh anggotanya malah membuat yel-yel yang viral.


"Bu'lek Dewi ...Bu'lek Dewi emang cantik ... Bu'lek Dewi ... Bu'lek Dewi emang manis!" seru Kean mengomando ala suporter bola.


"Kalahin aja lawan bikin nangisin lawan bikin lawan kencing di celana!" koor Kean dan seluruh saudaranya.


"Putlet ... pitin wawan teunsin pi selana!" teriak Faza.


"Biya .... puwat pawan polpol lana!" teriak Angel juga.


"Pawan polpol ... pawan pispis ... pawan polpol ... pawan pispis!" seru perusuh paling junior.


Jika lawan tau artinya. Tentu mereka akan kena mental, entah tertawa atau menangis karena dikatain anak-anak yang masih pakai popok anti bocor itu.


Dewi menatap Elena. Gadis itu begitu tenang, Elena mau menangis menatap ketenangan lawannya itu.


"Baby ... incar lengan kirinya!" teriak Saf.


Dewi mendengar hal itu. Lidya menatap bagaimana pertahanan kiri Elena sangat lemah.


"Baby ... hati-hati!" teriak Lidya.


"Mulai!" teriak Wasit.


Dewi bergerak memutar dengan kuda-kuda biasa. Elena banyak menghindar, gadis itu sudah kena mental dengan ketenangan Dewi.


"Lawan dia bodoh jika ibumu mau hidup!" teriak pelatih dari Rusia.


Elena menyerang, satu tendangan cepat dan ....


"Uughh!"


"Baby!" teriak Khasya.


bersambung.


Eh?

__ADS_1


next?


__ADS_2