
Hari ini Dahlan, Felix, Hendra, Juan, Juno dan Fendi menjaga semua anak-anak mereka.
Jangan ditanya kelakuan anak-anak mereka. Baru kali ini Dahlan dan Felix harus mengurut dada karena melihat putra-putri mereka.
"Apih ... Adhan au wewat!" pekik bayi satu tahun itu merangkak dengan dengkulnya.
Dahlan harus setengah melompat untuk menggapai bayi itu sebelum menyeburkan diri ke kolam.
"Apih ... Adhan au lelenan!" pekik bayi itu meronta.
"Baby ... kamu ngapain sayang!" pekik Felix ketika melihat putrinya hendak naik ke lemari.
"Teuzal sisat Apah!" jawab bayi cantik itu.
Nouval putra Hendra juga tak kalah gesit mengerjai ayahnya. Bayi itu belum bisa bicara. Tetapi semua benda akan dilempar jika ada di tangannya.
"Sayang!" Hendra mengambil sepatu milik Terra yang ingin dibuang.
"Aaahh!" teriak Nouval memarahi ayahnya.
"Sini sama Papa yuk!" ajak Hendra.
Para ibu bersantai. Mereka membiarkan suami-suami menjaga semua anak-anak. Itu belum Arsh yang memberi komando.
"Paypis!"
"Ata'!" semua anak berkumpul.
Bahkan paman dan bibi kecil mereka ikut serta.
"Pita bain yut!" ajak Arsh.
"Pain dobat sodol!" ajak Della.
"Bayo!" sahut Maryam semangat.
"Au ain ... au ain!" teriak Fael.
Dua kubu berdiri berhadapan. Tim Arsh melawan tim El Bara.
"Atuh pabun mama Ata'Alsh!" sahut Angel ikut tim Arsh.
"Atuh mama Ata' El Pala!" sahut Fael.
Satu tim menjadi delapan bayi. Bayi-bayi itu berhadapan. Arsh dan El Bara menjadi ketua tim. Della menjadi wasit.
"Pita halus suwit pulu lah!" ujar Al Bara yang ada di tim saudara kembarnya.
Fatih, Lilo, Fathiyya, Fael, Meghan, Al Bara, Aaima, bersama El Bara. Sedang Arsh didukung oleh Angel, Aisya, Seno, Arsyad, Dita, Nouval dan Xierra.
"Atuh menan!" sahut El Bara.
Jangan harap akan ada yang mau mengalah. Arsh kesal karena gajah yang kalah sama semut.
"Sejat tapan peumut talah pama dajah!" gerutunya.
Akhirnya. Arsh berjaga. Bayi tiga tahun itu berada di lini tengah. Lini tengah adalah lini bebas yang bisa menerjang kemana pun.
"Siyap!" teriak Della.
El Bara mengacungkan jempolnya.
"Bulai!"
El Bara dan Maryam bergerak bersama mengecoh Al Bara yang ada di lini depan. Seno masuk kotak pertama tanpa kendala.
Permainan awal sudah seru. Para ayah bersorak memberi semangat pada anak-anak mereka.
'Jangan ke situ Nouval!' pekik Felix memperingatkan.
__ADS_1
"Janan sulan Apah!' teriak Fathiyya kesal.
"Ayo Arsh itu hadang Seno di sana!" pekik Gomesh.
"Tena!" seru Arsh menyentuh Seno.
Seno keluar, bahkan Fathiyya mampu membakar Aaima dan Nauval juga El Bara bersamaan dalam satu kotak.
"Batal!" seru bayi cantik itu.
Pertandingan makin seru. El Bara membalas kekalahannya dan menyamakan angka karena Arsh salah strategi.
"Ata' pian atuh yan tolban tan diyi!" seru Fael mengorbankan dirinya.
"Dol!"
"Bagus Baby!" seru semua ayah bertepuk tangan.
Permainan imbang hingga Harun dan lainnya pulang sekolah. Semua anak makan siang dan diminta tidur.
Gomesh duduk menghela napas panjang. Dua bayi cantik Dougher Young mengerjai pria raksasa itu.
"Aku dong!" ketus Hendra.
"Triple Starlight itu memang juaranya!' lanjutnya mengeluh.
"Itu baru sehari kalian menjaganya!' ketus Terra.
"Kami dari mereka bayi hingga kemarin!" lanjutnya kesal diangguki semua perempuan di sana.
Sore menjelang, semua anak sudah rapi. Xierra pulang dibawa ayah ibu mereka, begitu juga Nouval. Walau ada drama tangis karena mereka tak mau dipisahkan.
"Besok ke sini lagi sayang," bujuk Felix pada putrinya itu.
Akhirnya rumah Terra sepi dengan para bayi yang dibawa pulang oleh orang tua mereka.
"Jadi sepi!" rengek Terra.
"Ma, besok libulan puasa suluh meleka nginep sih!" pinta Arion yang masih cadel.
"Iya Ma," sahut Arraya.
"Besok bilang Daddy ya," ujar Haidar.
"Nggak ada peer?" tanyanya lagi.
"Nggak ada,"
"Ada!"
Dua jawaban berbeda keluar dari mulut dua bocah kembar itu. Terra menghela napas panjang. Dua bayinya yang sudah berusia enam tahun ini masih saja usil.
"Mama nggak tanggung jawab jika belum kerjain peer ya!" peringat Terra.
"Ada Ma!" jawab mereka berdua kompak.
"Ayo kerjakan!" perintah Terra.
"Iya Ma!" sahut keduanya menurut.
Arraya dan Arion mengambil buku dan membawanya ke ruang bermain. Sean sudah pergi ke kafenya. Al belum pulang dari luar kota, Daud ada dinas jaga malam.
"Ngapain Dek?" tanya Rasya keluar dari kamarnya.
Ruang bermain memang ada di lantai dua. Ruangan besar itu juga dipakai untuk belajar. Jika berkumpul mereka lebih sering berada di lantai satu.
"Puat peel," jawab Arion.
"Eh ... kok masih pake bahasa bayi?" sindir Rasya.
__ADS_1
"Kan tau artinya Kak!" sahut Arion memutar mata malas.
Rasya gemas, ia mencium salah satu adik kembar bungsunya itu. Arion sampai kesal.
"Mama Kak Rasya nih!" adunya.
"Baby!" peringat Terra.
"Gemes Mama," kekeh Rasya masih mengganggu adiknya.
"Mama!" Arion makin kesal karena sang kakak masih mengganggunya.
Maka tak ayal, bocah enam tahun itu memukul kakaknya. Rasya melarikan diri.
"Sayang!" peringat Terra pada putranya itu.
Rasyid juga keluar karena bising. Ia sampai kesal pada saudara kembarnya itu.
"Berisik tau!" sungutnya.
"Maaf," kekeh Rasya.
"Sudah itu bantu adiknya kerjain peer sana!" perintah Haidar.
Rasya dan Rasyid akhirnya membantu adik mereka. Haidar memeluk erat pinggang istrinya.
"Kita belum punya cucu ya Ma?"
"Sudah banyak Pa!' jawab Terra kesal.
Haidar tertawa lirih, pria itu tau sang istri mengerti apa maksudnya. Tetapi baik Nai atau Arimbi belum juga menunjukkan tanda-tanda hamil.
"Mungkin Allah belum percaya mereka jadi ibu sayang," ujar Terra menghela napas.
"Reno dan Langit juga sibuk dengan perusahaan ayah mereka yang ada di sini!" jelas Terra lagi.
Pagi menjelang. Anak-anak masih masuk sekolah. Kini para ayah kembali menjaga putra dan putri mereka.
"Baby ... kenapa nggak bisa diam?" Gio harus menurunkan salah satu putrinya yang naik tangga.
"Talo piyam meuleta boneta Papa!" sahut Maryam.
"Atuh putan poneta-poneta!" sahut Chira menggoyangkan pinggulnya.
"Bain tetempat netnetna Mima don Mama!" rengek Fael pada ibunya.
"Biya tatana Pibu Buteli satit ... pita tenot!" ujar Angel lagi.
"Baiklah kita ke rumah Ibu Putri!' ujar Maria.
Gomesh mengangguk setuju. Akhirnya mereka semua berangkat menuju rumah Nania, ibu dari Putri.
Rumah itu sudah besar Jac yang membangunnya. Rumah sederhana dulu kini sudah megah dan besar. Septian juga sudah menikah dan memiliki putra.
"Sasayamutatattitum!" seru anak-anak masuk rumah.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!' Sapto tersenyum melihat anak-anak bergerombol datang.
Aaima dan Zizam juga senang melihat saudara mereka datang. Mereka ribut di teras depan. Hingga tiba-tiba.
"Nia ... Nia ... kembali kau istri durhaka!"
semua bayi yang ribut tiba-tiba terdiam. Di depan pagar halaman tampak sepasang suami istri cekcok.
"Ceraikan aku Mas ... aku mau cerai!" teriak wanita itu.
Bersambung.
Wah ... bakalan heboh anak-anak ini?! 😅🤦
__ADS_1
next?