SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GONG XI FAT CAY


__ADS_3

Pagi menjelang, banyak toko sudah menghias cantik tempat usahanya. Tahun baru Imlek tiba, semua mendekorasi depan tempat usaha mereka dengan banyak lampion dan ornamen warna merah.


Dua ruko dari milik Ariya tengah memasang petasan. Banyak bodyguard menjaga tuan dan nona muda mereka yang antusias melihat pertunjukan barongsai.


"Wah ... Ata' ipu pa'a?" tanya Fathiyya.


"Itu barongsai Baby!" jawab Satrio sedikit teriak karena memang terlalu berisik.


Arsh yang sangat ingin tau berhasil maju ke depan dan melihat atraksi itu. Bomesh, Sky, Arfhan juga ada di sana dan langsung menggandeng adik mereka.


"Cacacacaca ... cacacacaca!" Arsh ikut berjoget di sana.


Semua orang menatap bayi tampan itu dengan senyum lebar. Barongsai mendekati empat bocah yang begitu berani. Arsh mengangkat tangan. Barongsai membuka mulut dan memasukkan tangan bayi itu.


Plak! Satu tendangan dilakukan oleh Sky. Tangan yang memegang kepala barongsai sedikit terlepas dan cekalan pada tangan Arsh juga terlepas.


"Wah ... tendangannya kuat sekali!" seru para pria di sana.


Barongsai meliuk-liuk seperti marah. Mereka melompat-lompat dan membuat gerakan untuk menakuti empat bocah kecil. Beberapa bodyguard merangsek ke depan dan melindungi keempat anak atasannya.


"Ayo Baby!' ajak Dahlan.


"Alsh au ihat Api!" pekik bayi itu marah.


Dahlan mengangkat ringan Arsh dan menciumi perutnya. Arsh tergelak, semua anak akhirnya mengikuti para pengawal pergi.


Dewi masih di sana menonton dengan setia. Gadis itu memperlihatkan gerakan barongsai yang menari. Rio menarik lengan Dewi lembut.


"Baby,"


"Bentar lagi Papa," pintanya sedikit memohon.


Rio melihat tatapan Dewi. Ternyata mengarah pada kaki barongsai.


"Mereka berlatih bertahun-tahun sayang," jelas Rio.


"Papa bisa?" tanyanya.


"Bisa kalo dilatih!' jawab Rio yakin.


"Papa beliin kue keranjang sih!' pinta Dewi.


"Ayo beli," ajak Rio menuju salah satu ruko yang menjual makanan itu.


Dewi memilih rasa original dan durian. Karena ukurannya besar maka, gadis itu hanya membeli lima kue keranjang saja.


"Hanya itu Baby?" tanya Rio setelah membayar makanan yang dibeli.


"Iya Papa,"


"Nggak mau cakwe, kue bantal?" tunjuknya pada satu gerobak.


"Itu kita borong semua Papa. Kita kan satu kelurahan!' sahut Dewi.


Rio terkekeh, pria itu akhirnya mengajak anak dari atasannya ke toko Ariya.


"Lasana banis ya," ujar Aaima ketika mengigit kue keranjang.


"Kek dodol," sahut Kean.

__ADS_1


"Enakan dodol Garut," celetuk Samudera.


"Baba ... kita jalan-jalan sih!' ajak Benua pada ayahnya.


"Mau kemana Baby?" tanya Budiman.


"Mumpung dekat kota, kita bisa lihat even Imlek di sana!' sahut Deta semangat.


Akhirnya semua pun ikut termasuk Ariya. Gadis itu menutup tokonya. Semua pesanan telah selesai dibuat karena bantuan adik-adiknya.


Matanya mengedar mencari sosok lain yang tak kelihatan. Rupanya sosok itu memang tidak hadir. Remario dan Andoro sedang sibuk mengurus perusahaan yang akan dipindah ke Indonesia. Frans dan Leon sudah selesai karena bantuan perusahaan Dominic dan juga perusahaan Virgou.


Luisa bersama para ibu lainnya. Mereka memanjakan diri menuju outlet baju.


"Ini dipakai Babies perempuan lucu banget!" seru Luisa ketika mengambil satu baju tongsan warna merah ukuran bayi.


"Belikan saja Nak," ujar Mia antusias.


Fery juga ikut memilih baju di sana. Para pengawal hanya menjaga anak-anak yang banyak itu. Terutama Bomesh, Sky dan Arfhan.


"Ata'!" Arsyad memanggil Arfhan.


Lana, Lino, Leno menjaga Gino dan empat adiknya. Della bersama pantauan Reno dan Arimbi juga Nai serta Langit. Semua bayi dalam stroller mereka.


"Baby mau naik itu nggak?' ajak Della pada Firman dan Alia.


"Au Ata'!" angguk Alia senang bukan main.


Della melihat para pengawal yang mengitari mereka. Mereka ada di kereta dorong. Della bisa turun dari tempat itu lalu mendorong kereta adiknya sekuat tenaga.


"Mau kemana Baby?" tanya Sari.


"Mawu nait ipu Mama," jawab Della menunjuk bianglala.


Felix mendorong kereta dan Sari mendorong kereta putrinya. Xiena tampak antusias.


Kereta boleh disimpan di bawah. Felix menaikkan semua bayi, lalu ia naik bersama istrinya.


Arsh kembali menonton pertunjukan barongsai. Bayi itu melihat anak-anak kecil menangis didekati barongsai.


"Ata'!" panggilnya.


"Iya Baby," sahut Arfhan.


"Pisa yayat pitu ndat?" tanyanya.


"Eum ... pisa sih!" sahut Bomesh mengangguk.


"Obain yut!" ajak Arsh antusias.


Sky mengangguk setuju. Keempat anak itu tentu akan berpasang-pasangan. Mereka membeli baju barongsai. Jangan ditanya dari mana uangnya. Arfhan selalu membawa uang kemanapun mereka berada.


"Biar Sky yang bawa Baby Arsh, Bomesh angkut Arfhan aja!" seru Sky.


"Oteh!" sahut Arfhan dan Bomesh mengangguk kompak.


Rupanya ada perlombaan barongsai di sana.


Arsh memegang kuat kepala barongsai. Sky mengangkat bayi itu. Pertunjukan dimulai. Para bodyguard kehilangan empat bayi. Virgou nyaris membakar tempat itu jika saja tak melihat Rio berada di tempat pertunjukan barongsai.

__ADS_1


"Saudara semuanya. Kita tampilkan barongsai termuda!"


"Sky dan Arshaka!" seru pembawa acara.


Gerakan tanpa latihan tentu membuat lucu dan mengundang tawa. Terlebih Arsh yang tampan selalu terlepas kendali kepala barongsai yang ia pegang.


"Oke! Beri tepuk tangan meriah!"


Semua bertepuk tangan. Seorang pria memberi lima angpau pada Arsh. Bayi itu tentu terpekik senang.


Semua keluarga ada di sana menonton atraksi terakhir.


"Ini dia pertunjukan selanjutnya, Bomesh dan Arfhan!"


"Yeeeaaaa!" pekik Gomesh bertepuk tangan riang.


Bunyi genderang musik terdengar gaduh. Keduanya memang tidak latihan sama sekali. Tetapi, ingatan Bomesh dan Arfhan dengan semua gerakan sangat diingat oleh kedua bocah itu.


"Wow ... ini adegan berbahaya!" seru pembawa acara.


Arfhan dan Bomesh melompat dari satu tiang kayu pendek ke tiang kayu panjang. Gerakan itu membuat semua orang menahan napas.


"Aahhh!" teriak Maria sambil menutup Mata ketika Arfhan melompat tinggi ke tiang yang lain.


Riuh tepuk tangan membuat keduanya semangat. Kini Arfhan dan Bomesh memanjat tiang dan merobek lampion yang tergantung di atas.


"Babies ... hati-hati!" teriak Virgou.


Arfhan melompat diiringi Bomesh. Tali lampion masuk mulut barongsai. Arfhan menarik tali itu.


Semua bertepuk tangan ketika ada tulisan gong xi fat cay dengan tulisan Mandarin.


"Woh ... selamat ... gong xi fat cay!" seru pembawa acara.


Semua orang memberi angpao pada Arfhan yang meliukkan kepala barongsai.


"Selamat untuk Arfhan dan Bomesh. Kalian berhak mendapat hadiah!" seru pembawa acara.


Satu tropi kecil berada di tangan Bomesh dan Arfhan. Semua keluarga memuji mereka.


"Hebat kalian. Satu pertunjukan mendapat dua juta, padahal tidak sampai setengah jam!' puji Bart.


"Kalau begitu, aku tak perlu kerja!' kekeh pria gaek itu.


Semua kembali pulang ke rumah masing-masing. Ariya ikut dengan Herman. Gadis itu hanya diam sepanjang hari. Tadinya ia mau pulang ke panti. Tetapi jaraknya terlalu jauh dengan toko.


"Nona, sudah sampai," ujar Rio.


Gadis itu tersentak, ia pun turun dengan wajah lesu. Rio bukan pria kemarin sore yang melihat perubahan wajah sang gadis.


"Apa kau menyukai Tuan Sanz Nona?" tanyanya gusar dalam hati.


Bersambung.


Ah ... cinta bertepuk sebelah tangan ini.


Gong xi fat cay bagi yang merayakannya.


Next?

__ADS_1


__ADS_2